FILSAFAT PERIPATETIK

Definisi Peripatetik*

Istilah peripatetik muncul sebagai sebutan bagi pengikut Aristoteles. Secara historis, Aristotelianisme terbagi ke dalam tiga periode: pertama, peripatetik masa-masa awal yang dimulai sejak Aristoteles hingga meninggalnya Strato (322 – 270 SM); Kedua, sejak Strato sampai Andronicus (270 – .. SM); Ketiga, periode pasca Andronicus dan generasi berikutnya yang mengedit dan mengomentari karya-karya Aristoteles.[1]

Derivasi peripatetik berasal dari bahasa Yunani, peripatein, yang berarti berkeliling, berjalan-jalan berkeliling. Kata ini juga menunjuk pada suatu tempat, berada, dan Peripatos.[2] Dalam tradisi Yunani, kata ini mengacu pada suatu tempat di serambi gedung olah raga di Athena, tempat Aristoteles mengajar sambil berjalan-jalan. Dalam tradisi filsafat Islam, peripatetik disebut dengan istilah masysya’iyyah. Kata ini berasal dari akar kata masya-yamsy-masyyan wa timsya’an, yang berarti melangkahkan kaki dari satu tempat ke tempat lain, cepat atau lambat. Dari akar kata tersebut kemudian tersusun kata al masysya’un, yaitu para pengikut Aristotetels; dinamakan al  masysya’un karena mereka mengajarkan dengan cara berjalan-jalan. Sedangkan al masysya’iyyah mengandung arti falsafah Aristoteles.[3] Penggunaan istilah masysya’iyyah mengacu pada metode mengajar Aristoteles yang dikenal dengan metode Peripatetik. Aristoteles menggembleng mahasiswanya dengan cara berjalan-jalan, baik diserambi gedung maupun di taman-taman yang indah. Melalui metode tersebut, proses belajar mengajar akan disampaikan secara alami, langsung, menarik, mengusir rasa beban. Sebenarnya metode ini diadopsi dari Protagoras, namun orang lebih mengenal Peripatetik sebagai metode belajar Aristoteles sekaligus semua bentuk pengajaran yang mengembangkan pemikirannya. Aristotelianisme merupakan istilah  yang mengacu pada  ajaran Aristoteles yang dilestarikan oleh murid-muridnya, seperti Theophrastus.[4]

Di tangan para filsuf Muslim, peripatetisme (masysya’iyyah) mengalami perluasan objek pembahasan, tidak terbatas hanya pada Aristotelianisme. Hossein Nasr mengatakan, prripatetisme (masysya’iyyah) merupakan sintesa antara ajaran-ajaran Islam, Aristotelianisme dan Platonisme, baik Alexandrian maupun Athenian, juga ajaran-ajaran Plotinus dengan perpaduan wahyu Islam.[5] Peran filsuf Muslim adalah memasukan warna Islam kedalamnya sehingga selaras dengan ajaran Islam yang berdasar wahyu diturunkan kepada RasulNya.

Penetrasi intelektual sebagai hasil dari sikap pro-aktif dari para cendekiawan muslim terealisir dengan mapan, dan hal ini menunjukan sikap toleransi yang tinggi dari ilmuwan Islam terdahulu. Mereka mau menerima metode untuk mencapai kebenaran dengan sikap positif. Harus diakui bahwa tradisi falsafah sudah ada jauh sebelum Islam muncul dan berkembang. Tradisi falsafah yang sudah mapan itu sesuai dengan semangat dan spirit ajaran Islam. Istilah falsafah indetik dengan istilah Hikmah dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk menuntut dan menyebarkan hikmah seluas-luasnya dan kita menyaksikan peran penting para khalifah, sahabat, tabi’in, penguasa, dan mujahidin sebagai pelopor dalam kegiatan itu.[6] Dari sudut pandang ini, maka pernyataan Hossein Nasr di atas dapat dipahami. Pemikiran Falsafah yang masuk dan  berkembang di dunia Islam bermuara pada tiga aliran utama, yakni Platonisme, Aristotelianisme, dan Neo-Platonisme.

Mengacu pada pendapat Hossein Nasr di atas maka penulis memusatkan perhatian pada tokoh peripatetik yang mempengaruhi para filsuf Muslim, yaitu Platonisme, Aristotelianisme, dan Neo-Platonisme. Sebab pada dasarnya mayoritas filsuf dan sufi dalam Islam, baik di dunia Islam belahan Barat maupun Timur, berhubungan dengan ketiga filsuf Yunani di atas. Parviz Morewegde menegaskan, Plato, Aristoteles, dan Plotinus diakui sebagai bagian dari tradisi  Islam, seperti halnya pengakuan tradisi Islam terhadap Ibrahim yang disebutnya sebagai Nabi Umat Islam.[7]Pesan penting yang terkandung di dalam penegasannya adalah umat Islam tidak perlu ragu mengakui kebenaran yang dibawa oleh para filsuf Yunani, sejauh tidak keluar dari ajaran Islam.


*    Sumber; Dr. Amroeni Drajat, M.A, Suhrawardi; Kritik Filsafat Peripatetik, 2005. LKiS Yogyakarta. Hlm. 75.

[1]     R.D. Hicks, “Peripatetics”, dalam James Hasting (ed), Encyclopedia of Religion and Ethics, Vol IX. (Great Britain: T & T. Constable Limited, 1974), hlm. 739.

[2]     Majid Fakhry, “al Masya’iyyah al Qadimah”, dalam Ma’in Ziyadah (ed), al Mausu’ah al Falsafiyyah al Arabiyyah. Cet. I Jilid II, (T.kp.: Ma’had al Inma al ‘Arabi, 1988), hlm. 1274.

[3]     Louis Ma’luf, zsl Munjid fi al Lughah wa al ‘Alam. Cet XXVI. (Beirut: Dar al Masyriq, 1997), hlm. 764

[4]     Ibid. hlm.1275

[5]     Seyyed Hossein Nasr, ‘Teologi, Philosophy and spirituality”, dalam Seyyed Hossein Nasr (ed). Word Spirituality Islamic Spirituality; Manifestations, Vol XX. (New York: The Crossroad Publishing Company, 1991), hlm 411.

[6]     Muhammad Lutfi Jum’ah, Tarikh Falasifah al Islam fi Al Masyriq wa al Maghrib, (Tnp, 1345), hlm v

[7]     Parviz Morewedge, Neoplatonism and Islamic Thought, (albany; State University of New York Press, 1992). Hllm.1

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 863 other followers

%d bloggers like this: