Shalat Tasbih

Posted in Uncategorized on November 9, 2018 by jamiludin

Shalat tasbih adalah salah satu shalat yang dipandang oleh para ulama memiliki keutamaan yang sangat besar bagi siapa saja yang mengamalkannya. Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki di dalam kitabnya Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah menuturkan, bahwa sebagian dari kemuliaan umat Nabi Muhammad adalah Allah mengkhususkan shalat tasbih bagi mereka.
Besarnya kemuliaan yang ada pada shalat tasbih tersurat dalam sebuah hadits yang banyak dijadikan rujukan para ulama dalam menetapkan status hukum shalat tasbih. Hadits tersebut—salah satunya—diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ «النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: ” يَا عَبَّاسُ! يَا عَمَّاهُ! أَلَا أُعْطِيكَ؟ أَلَا أَمْنَحُكَ؟ أَلَا أحبوكَ؟ أَلَا أَفْعَلُ بِكَ؟ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ، غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ: أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ، قُلْتَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ تَرْكَعُ، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ، فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ، إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ، فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمْرِكَ مَرَّة
Artinya: “Dari Abdullah bin Abbas radliyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abbas bin Abdul Muthalib, “Wahai Abbas, pamanku, tidakkah aku memberimu? Tidakkah aku memberi tahumu? Tidakkah aku  lakukan kepadamu? Sepuluh perkara bila engkau melakukannya maka Allah ampuni dosamu; yang awal dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang tak dilakukan karena kesalahan dan yang disengaja, yang kecil dan yang besar, yang sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan. Lakukanlah shalat empat rakaat, pada setiap rakaat engkau membaca Al-Fatihah dan surat lainnya. Ketika engkau telah selesai membaca di rakaat pertama dan engkau masih dalam keadaan berdiri engkau ucapkan subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar lima belas kali. Kemudian engkau ruku’, ucapkan kalimat itu sepuluh kali saat kau ruku’. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’ (i’tidal), engkau baca kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau turun bersujud, kau baca kalimat itu sepuluh kali dalam bersujud. Kemudian engkau angkat kepalamu dari bersujud, egkau baca kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau bersujud (yang kedua), engkau baca kalimat tu sepuluh kali. Kemudian engkau angkat kepala, engkau baca kalimat itu sepuluh kali. Itu semua ada tujuh puluh lima dalam setiap rakaat. Engkau lakukan itu dalam empat rakaat. Bila engkau mampu melakukannya setiap sehari sekali maka lakukanlah. Bila tidak maka lakukan setiap satu jum’at sekali. Bila tidak maka setiap satu bula sekali. Bila tidak maka setiap satu tahun sekali. Bila tidak maka dalam seumur hidupmu lakukan sekali.”
Secara tekstual dari hadits di atas Rasulullah telah menjelaskan keutamaan yang begitu besar dalam shalat tasbih. Dengan empat rakaat shalat tasbih semua dosa yang dilakukan oleh orang yang mengamalkannya diampuni oleh Allah. Ini bisa disimpulkan dari ungkapan Rasulullah yang memerinci secara detail sifat-sifat dosa yang diampuni; awal dan akhir, sengaja dan tidak sengaja, kecil dan besar, sembunyi dan terang-terangan. Bahkan Sayid Muhammad Al-Maliki menyebutkan bahwa dosa besar pun dapat terampuni hanya dengan melakukan shalat tasbih ini. Hanya saja beliau juga menggarisbawahi bahwa pengampunan itu apabila pelaksanaan shalat tasbih tersebut dibarengi dengan pemenuhan syarat-syarat bertobat yang terdiri dari istighfar (meminta ampun), penyesalan, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi.
Dalam kitab Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah Sayid Muhammad Al-Maliki menyatakan:
يدل بظاهره على ان الكبائر تغفر بمجرد فعل هذه الصلاة. وهو محمول على ما اذا اقترنت ببقية شروط التوبة من الاستغفار والندم والعزم على عدم العود
Artinya: “Secara dhahir hadits itu menunjukkan bahwa dosa-dosa besar terampuni hanya dengan melakukan shalat tasbih ini. Itu bisa dipahami apabila shalat tasbih itu dibarengi dengan syarat-syarat bertaubat yang terdiri dari memohon ampunan, menyesali, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi.” (Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki, Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah, 1985, tanpa penerbit, hal. 101)
Hanya saja—masih menurut beliau—dosa-dosa yang diampuni ini tidak mencakup dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak sesama hamba, hanya dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-haknya Allah saja.
Besarnya keutamaan shalat tasbih juga bisa dilihat dari kalimat Rasulullah dalam menganjurkan melakukan shalat sunah ini. Secara runtut beliau menganjurkan agar shalat tasbih ini dilakukan sehari sekali, bila tidak mampu maka seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, hingga setidaknya sekali seumur hidup.
Imam As-Subki—sebagaimana dikutip Al-Haitami—menyatakan bahwa tidaklah orang yang mendengar tentang keutamaan shalat tasbih namun ia meninggalkannya (tidak melakukannya) kecuali orang itu adalah orang yang merendahkan agama (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhâjul Qawîm, Beirut, Darul Fikr, tt., hal. 203).

Doa shalat Tasbih

Doa shalat Tasbih dibaca sesudah selesai tahiyyat dan sebelum salam. Adapun doanya sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ أَهْلِ اْلهُدَى وَ أَعْمَـالَ أَهْلِ اْليَقِيْنِ وَ مُنَاصَحَةِ أَهْلِ التَّوْبَةِ  وَ عَزْمَ أَهْلِ الصَّبْرِ وَ جِدَّ أَهْلِ اْلخَشْيَةِ وَ طَلَبَ أَهْلِ الرَّغْبَةِ وَ تَعَبَدَ أَهْلِ الْوَرَعِ وَ عِرْفَانَ أَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى أُخَافَكَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ مَخَافَةَ تُحْجِزُنِيْ عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى أَعْمَلَ بِطَاعَتِكَ عَمَلاً أَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ وَ حَتَّى أُنَاصِحُكَ فِى التَّوْبَةِ وَ خَوْفًا مِنْكَ وَ حَتَّى أُخْلِصَ لَكَ النَّصِيْحَةَ حُبًّا لَكَ وَ حَتَّى أَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فِي اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَ أُحْسِنَ الظَنِّ بِكَ سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ. رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْلَنَا إِنَّكَ عَلَى كُّلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

“ Ya Allah, aku memohon kepada-Mu taufiq Orang-orang yang mendapat petunjuk, amalan Orang-orang yang mempunyai keyakinan kuat, ketulusan Orang-orang yang bertaubat, keteguhan hati Orang-orang yang sabar, kesungguhan Orang-orang yang takut kepada-Mu, permohonan Orang-orang yang mengharapkan-Mu, Ibadah ( ketaatan ) ahli wira’I dan kebijakan ahli ilmu, sehingga aku takut kepada-Mu. Ya Allah aku memohon kepada-Mu perasaan takut yang dapat menhalangiku berbuat maksiat, sehingga aku dapat melakukan suatu amalan untuk mentaati perintah-Mu, yang dengan amalan itu aku berhak mendapat ridho-Mu, hingga aku sanggup memurnikan taubatku karena takut kepadamu. Mengikhlaskan nasihat-Mu karena cintaku kepada-Mu. Dan aku bertawakkal kepada-Mu dalam segala urusan karena persangkaan baikku kepada-Mu Maha Suci Dzat yang menciptakan cahaya. Ya Tuhan kami sempurnakanlah cahaya untuk kami dan ampunilah kami sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Penyayang.”

3. Hikam – Kekuatan Taqdir – Ulasan H. Ma’mun Zahrudin

Posted in Hikam, Hikam H. Ma'mun Zahrudin on October 16, 2018 by jamiludin

٭ سَوَابِقُ الهِماَمِ لاَ تَحْرِقُ اَسْوَرَالاَقْدَارِ ٭

“Kerasnya himmah /semangat perjuangan, tidak dapat menembus tirai takdir”

 

Kekeramatan atau kejadian-kejadian yang luar biasa dari seorang wali itu, tidak dapat menembus keluar dari takdir, maka segala apa yang terjadi semata-mata hanya dengan takdir Allah.”

Hikmah ini menjadi ta’lil atau sebab dari hikmah sebelumnya (Iroodatuka tajriid) seakan akan Mushonnif berkata: Hai murid, keinginan/ himmahmu pada sesuatu, itu tidak ada gunanya, karena himmah yang keras/ kuat itu tidak bisa menjadikan apa-apa seperti yang kau inginkan, apabila tidak ada dan bersamaan dengan taqdir dari Allah. Jadi hikmah ini (Sawa-biqul himam) mengandung arti menentramkan hati murid dari keinginannya yang sangat.

SAWAA-BIQUL HIMAM (keinginan yang kuat): apabila keluar dari orang-orang sholih/ walinya Allah itu disebut: Karomah. Apabila keluar dari orang fasiq disebut istidroj/ penghinaan dari Allah.

Firman Allah subhanahu wata’ala: “Dan tidaklah kamu berkehendak, kecuali apa yang dikehendaki Allah Tuhan yang mengatur alam semesta.” [At-Takwir 29]. “Dan tidaklah kamu menghendaki kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah, sungguh Allah maha mengetahui, maha bijaksana.” [QS. Al-Insaan 30].

1-3 Tekad (Himmah) – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

Posted in Hikam, Hikam - Syaikh Ahmad Zarruq on October 15, 2018 by jamiludin

  1. سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَحْرِقُ أَسْرَارَ الْأَقْدَارِ.

 “Tekad (himmah) yang tinggi tidak bisa menembus benteng takdir.”

 

Segala sesuatu di semesta ini berjalan sesuai dengan taqdir Allah, sebagaimana ditunjukkan oleh akal, syariat, dan nash-nash agama. Allah berfirman: “Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.[1]

Nabi s.a.w. bersabda: “Segala sesuatu terjadi dengan qadha’ dan qadar-Nya, termasuk yang lemah dan cekatan.[2]

Tekad (himmah) terbagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama, tekad yang rendah, yaitu tekad yang melahirkan keinginan dan semangat tetapi tidak disertai upaya nyata (taaqquq).

Kedua, tekad yang pertengahan, yaitu tekad yang melahirkan keinginan dan perbuatan, entah disertai dengan semangat realisasi atau tidak.

Ketiga, tekad yang tinggi, yaitu kekuatan dalam diri yang terus muncul dan aktif menggerakkan tanpa pernah berhenti. Himmah seperti inilah yang dimiliki para pendengki yang tidak berhenti melakukan keburukan, juga para tukang sihir yang terus meniupkan buhul, para perindu Tuhan yang terus membersihkan diri dari gejolak nafsu, serta para wali Allah yang terus menegakkan dan mewujudkan keyakinan mereka. Semangat golongan ini terus aktif seraya tetap menetapi qadhā’ dan qadar Allah. Namun, setinggi apa pun himmah mereka, ketetapan dan keputusan ada di tangan Allah: “Mereka tidak bisa menimpakan bahaya kepada siapa pun kecuali dengan idzin Allah.[3]

Suatu tekad disebut tinggi dan menembus dilihat dari sisi keagungannya, bukan dilihat dari waktu terwujudnya tekad itu. Sementara, keagungannya terkait dengan efektivitas pengaruhnya yang mewujud tanpa membutuhkan sebab tertentu. Apabila tekad yang tinggi saja tidak bisa menembus tirai taqdir apalagi pengaturan dan kehendak hamba. Sama halnya, perilaku dan tindakan hamba yang paling luhur dan paling mulia sekalipun tidak akan menembus apalagi mengoyak tirai taqdir. Karena itu, Ibnu ‘Athā’illāh melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan: (lihat Ḥikam # 4)

[1] Q.S. al-Kahfi [18]: 45.

[2] H.R. Muslim dalam Shaī-nya dan H.R. Aḥmad dalam Musnad-nya.

[3] Q.S. al-Baqarah [2]: 103.

2. Hikam – Ulasan Syekh Abdullah Asy-Syarqawi

Posted in Hikam, Hikam - Syekh Abdullah Asy-Syarqawi on October 11, 2018 by jamiludin

Sikap Orang ‘Ârif ketika dianugerahi Ahwal Tajrîd dan Ahwal Isytighâl

 

Keinginanmun untuk lepas dari kesibukan duniawi, padahal Allah telah menempatkanmu di sana, termasuk syahwat yang tersamar. Dan keinginanmu untuk masuk ke dalam kesibukan urusan duniawi, padahal Allah telah melepaskanmu dari itu, sama saja dengan mundur dari tekad yang luhur.

Your desire for isolation, even thought God has put you in the world to gain a living, is a hidden passion. And your desire to gain a living in the worl, even thought God has put you in isolation is a comedown from lofty aspiration.

 

Tajrîd adalah sebuah kondisi dimana seseorang tidak memiliki kesibukan duniawi. Sebaliknya, Isytighâl adalah sebuah kondisi dimana seseorang memiliki kesibukan duniawi. Dan yang dimaksud dengan kesibukan duniawi adalah kesibukan-kesibukan yang tujuan akhirnya bersifat keduniaan, seperti bekerja atau berdagang.

Keinginanmu untuk menjauhi semua sarana penghidupan duniawi dan tidak mau berpayah-payah dalam menjalaninya, padahal Allah telah menyediakan semua sarana itu untuk kau jalani, bahkan saat menjalaninya pun agamamu tetap terjaga, sifat tamak tetap jauh darimu, ibadah lahir dan keadaan batinmu juga tidak terganggu, maka keinginan semacam itu termasuk syahwat yang tersamar.

Dianggap “syahwat” karena kau tidak mau menjalani kehendak Tuhanmu dan lebih memilih kehendakmu sendiri. Disebut “tersamar” karena sekalipun pada lahirnya keinginanmu ialah menjauhi dunia dan mendekatkan diri kepada Allah, namun keinginan batinmu yang sebenarnya ialah agar mendapatkan popularitas dengan ibadah dan kewalianmu supaya orang-orang mendatangimmu dan menjadikanmu panutan. Untuk itulah, kau pun rela meninggalkan apa yang telah menjadi kebiasaanmu, yaitu mencari penghidupan duniawi.

Orang ‘Ârif menyatakan bahwa kedekatan manusia dengan seorang murîd yang belum mencapai kesempurnaan bisa menjadi racun bagi diri murîd itu. Karena bisa jadi, murîd itu akan terdorong untuk menjauhi kewajiban-kewajiban ibadah dan zikirnya karena ia lebih suka mengharap apa yang akan diberikan oleh manusia.

Sebaliknya keinginanmu untuk bekerja dan berusaha keras mencari penghidupan duniawi, padahal Allah telah menyediakannya untukmu dengan mudah tanpa harus bersusah payah, misalnya dengan dipenuhinya semua sandang dan panganmu dan kau pun tetap merasa tenang dan damai meski kekurangan, bahkan kau tetap bisa terus beribadah dengan tekun, maka sikap seperti itu sama saja dengan mundur dari tekad luhur. Karena, kau sekarang cenderung bergantung kepada makhluk, padahal sebelumnya kau bergantung kepada sang Khalik.

Sebenarnya, berbaur dengan orang-orang yang sibuk mengurusi dunia saja sudah cukup membuat tekad luhurmu ternodai. Oleh karenai itu, yang wajib bagi para sâlik (peniti jalan menuju Allah) ialah tetap diam di tempat yang telah ditetapkan dan di ridlai Allah untuknya, sampai Allah sendiri yang mengeluarkannya dari tempat itu. Hendaknya ia tidak keluar sendiri dari sana atas kehendak sendiri atau karena bisikan setan sehingga ia akan tercebur ke lautan keterasingan dan jauh dari Allah, Naudzubillâh.

 

2. Hikam – Ulasan H. Ma’mun Zahruddin

Posted in Hikam, Hikam H. Ma'mun Zahrudin on October 11, 2018 by jamiludin

2.“TAJRID dan KASAB”

 

٭ إرادَتـُكَ التَجْرِيْدَ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى الاَسْبَابِ مِنَ الشَهْوةِ الخفِيَّةِ، وَإرادَتـُكَ الاَسْبَابِ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى التَجْرِيْدَ اِنْحطاط ٌ عن الهِمَّةِ العَليَّةِ ٭

 

“Keinginanmu untuk tajrid [hanya beribadat saja tanpa berusaha untuk dunia], padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha [kasab], maka keinginanmu itu termasuk nafsu syahwat yang samar [halus]. Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha [kasab], padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang harus beribadat tanpa kasab [berusaha], maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat yang tinggi”.

 

Sebagai seorang yang beriman, haruslah berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat Allah, dan beribadah serta harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah (menghamba) kepada Alloh, sesuai tuntunan Al-qur’an.

 

Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja (kasab). Lalu berkeinginan lepas dari kasab/ usaha dan hanya ingin melulu beribadah.

Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi/ samar.

Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah Allah yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hambanya.

Dan tanda-tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain.

Dan tanda bahwa Allah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.

Syeikh Ibnu ‘Athaillah berkata : “Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas al-mursy. Aku  merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: Ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu.

1.2 al-Hikam – Ulasan KH. Sholeh Darat

Posted in Hikam, Hikam - KH. Sholeh Darat, Uncategorized on October 11, 2018 by jamiludin

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدُ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ وَ إِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

Keinginanmu unutk tajrīd (melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia),  padahal Allah masih menempatkan engkau pada asbāb (harus berusaha untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari), termasuk syahwat nafsu yang samar. Sebaliknya keinginanmu untuk asbāb (berusaha), padahal Allah telah menempatkan dirimu pada tajrīd (melulu beribadah tanpa berusaha), maka demikian itu berarti menurun dari semangat yang tinggi.

 

Hendaknya orang yang sudah mencapai makrifah Allah mau menerima apa pun yang ditentukan oleh Allah baik (tingkatan) usaha atau lainnya.

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī berkata:

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدُ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ

Keinginanmu untuk tajrīd (melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia),  padahal Allah masih menempatkan engkau pada asbāb (harus berusaha untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari), termasuk syahwat nafsu yang samar.

Keinginanmu untuk meninggalkan kasab (usaha) mencari ridhā’ Allah, padahal Allah telah menempatkanmu pada maqām[1] kasab itu termasuk syahwat nafsu yang samar.

Boleh jadi, keinginanmu untuk meninggalkan kasab (usaha), padahal Allah telah menempatkanmu pada (maqāmkasab itu adalah keinginan nafsu agar engkau dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang zuhud. Dengan demikian, engkau termasuk orang yang tidak mempunyai tata-krama kepada Allah s.w.t. karena tidak mau menerima apa yang sudah ditentukan oleh Allah untukmu. Engkau menjadi orang yang melampaui kehendak Allah. Adapun tanda bahwa engkau ditempatkan pada maqām kasab itu adalah dengan wujud selamatnya agamamu. Engkau tetap berusaha, tetap melakukan ibadah, shalat berjamā‘ah, mengaji, memperbanyak ketaatan, serta bekerja memenuhi nafkah keluarga.

Berubahnya keinginanmu untuk meninggalkan kasab itu temasuk bujuk rayu iblis. Maka sesungguhnya iblis terkadang berucap kepadamu: “Jila engkau meninggalkan kasab niscaya engkau menjadi golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah, menjadi golongan orang-orang yang ber-tawakkal kepada Allah, bisa dekat dengan Allah, dan semakin taat kepada Allah. Jika engkau mau menurutinya maka setelah meninggalkan kasab engkau akan dilanda kegalauan dalam imanmu, hilanglah ketauhidanmu, bersandar diri pada makhluk sebab sempitnya rezekimu, dan selalu mengharapkan pemberian makhluk. Pada akhirnya, engkau yang asalnya menyembah Allah berbalik menjadi menyembah makhluk. Dengan begitu, hilanglah keimananmu, dan bergembiralah Iblis.

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī berkata:

وَ إِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

Sebaliknya keinginanmu untuk asbāb (berusaha), padahal Allah telah menempatkan dirimu pada tajrīd (melulu beribadah tanpa berusah), maka demikian itu berarti menurun dari semangat yang tinggi.

Keinginanmu untuk asbāb (berusaha), padahal Allah sudah menempatkanmu untuk meninggalkan usaha itu bisa menurunkan dirimu dari semangat yang tinggi pada semangat yang lebih rendah. Karena setelah engkau mengharap hanya kepada Allah disertai dengan keayakinan iman, bahwa hanya Allah-lah Dzat yang Maha Memberi Rezeki, maka engkau akan kembali berharap kepada makhluk. Angan-anganmu akan menjadi hina.

Alhasil, wajib bagi orang yang sudah makrifah Allah rela menerima apapun maqām (tempat) yang ditentukan oleh Allah dan menetapinya, hingga Allah memindahkannya pada maqām yang lain. Adapun tanda engkau ditempatkan pada maqām tajrīd (melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia atau meningalkan usaha) adalah mudahnya engkau mendapatkan penghidupan dari manapun datangnya rezeki tersebut. Dengan begitu, engkau tidak mengharap-harapkan pemberian makhluk, tidak tamak terhadap haknya makhluk, dan hati pun tetap tenang meskipun rezekinya sulit. Ketika hatimu telah terpatri hanya kepada Allah, istaqamah dalam beribadah, tidak meninggalkan ibadah karena sulitnya rezeki, jika engkau sudah mendapatkan hal-hal tadi pada dirimu maka, wajib bagimu untuk meninggalkan kasab (usaha) dan menerima anugerah yang diberikan Allah.

Wallāhu a‘lam.

[1]

Maqām adalah sebuah istilah dunia sufistik yang menunjukkan arti tentang suatu nilai etika yang akan diperjuangkan dan diwujudkan oleh seorang sālik (seorang hamba perambah kebenaran spiritual dalam praktik ibadah) melalui beberapa tingkatan mujāhadah secara gradual dari satu tingkatan laku batin menuju pencapaian tingkatan maqām berikutnya dengan sebentuk amalan (mujāhadah) tertentu. Tegasnya, ia adalah pencapaian kesejatian hidup dengan pencarian yang tak kenal lelah. Syaratnya berat, beban kewajibannya pun juga berat. Ketika itu, seseorang yang sedang menduduki atau memperjuangkan untuk menduduki sebuah maqām (proses pencarian) harus menegakkan nilai-nilai yang terkandung dalam maqām yang sedang dikuasainya. Karena itu, dia akan selalu sibuk dengan berbagai riyādhah (latihan jiwa). Seseorang tidak akan mencapai suatu maqām dari maqām sebelumnya selama dia belum memenuhi ketentuan, hukum dan syarat maqāmyang hendak dilangkahinya atau yang sedang ditingkatkannya. Orang yang belum mampu bersikap qanāah (kepuasan batin terhadap pemberian Allah, meski amat kecil), maka tawakkal-nya tidak sah. Orang yang belum mampu berpasrah diri kepada Allah maka penyerahan totalitas dirinya (kemuslimannya) tidak sah. Orang yang belum taubat maka penyesalannya tidak sah. Orang yang belum wirāi (sikap hati-hati dalam penerapan hukum), maka ke-zuhud-annya tidak sah. Berarti, maqām zuhud, umpamanya, tidak mungkin tercapi sebelum pelakunya itu sudah mewujudkan maqām wirāi. Secara bahasa “al-maqām” berarti “al-iqāmah”, yaitu penegakan atau aktualisasi suatu nilai moral. Hal ini seperti kata “al-madkhal” yang berarti “idkhāl”, yaitu proses pemasukan atau memasukkan. Sebaliknya, term “al-makhraj” berarti “al-ikhrāj”, yaitu proses pengeluaran. Karena itu, keberadaan maqām seseorang tidak dianggap sah kecuali dengan penyaksian kehadiran Allah secara khusus dalam nilai maqām yang diaktualkannya, mengingat sahnya suatu bangunan perintah Tuhan hanya berdiri di atas dasar yang sah pula. Lihat: Abul-Qāsim ‘Abd-ul-Karīm Hawāzin al-Qusyairī an-Naisābūrī, ar-Risālat-ul-Qusyairiyyah, al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet. ke-1, Libanon, 2001, hal. 56-57.

1-2 Tajrid Dan Asbab – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

Posted in Hikam, Hikam - Syaikh Ahmad Zarruq, Uncategorized on October 11, 2018 by jamiludin

  1. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدُ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ وَ إِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

“Hasratmu untuk menetapi tajrīd sedangkan Allah menempatkanmu pada kedudukan asbāb adalah syahwat yang samar. Sebaliknya, hasratmu terhadap asbāb padahal Allah telah menempatkanmu pada posisi tajrīd adalah wujud penurunan semangat dari tekad yang tinggi.”

Masing-masing dari keduanya mengutamakan pilihannya. Kedudukan mereka bergangtung pada/ kepada siapa dan kepada apakah ia bersandar dalam meraih tujuan. Sebab, ketika seseorang bersandar kepada sesuatu, maka ia akan mengabaikan yang lainnya. Berkaitan dengan hal ini manusia terbagi tiga golongan:

Pertama, orang yang ditempatkan pada wilayah asbāb (menetapi sebab-sebab yang mengantarkannya pada tujuan). Mereka yang ditempatkan di sini harus rida, sabar, dan pasrah. Tanda kelompok ini adalah istiqāmah menetapi asbāb serta istiqāmah menegakkan berbagai kewajiban syariat.

Kedua, mereka yang ditempatkan pada wilayah tajrīd (mengabaikan asbāb). Orang yang ditempatkan di wilayah ini harus bersyukur, banyak beramal, serta tidak lalai. Tanda mereka adalah menunaikan kewajiban dan berpaling dari makhluk.

Ketiga, mereka yang tidak termasuk dalam salah satu dari keduanya. Orang yang berada di wilayah ini harus berusaha memastikan dengan berpindah dari satu sebab ke sebab yang lain. Ketika tidak istiqāmah pada satu sisi, ia bisa berpindah pada kebalikannya. Sebab, tanda bahwa Allah memberikan posisi tertentu kepada seseorang adalah ketika ia bisa istiqāmah dalam posisi itu. Jika ia masih berpindah-pindah dari satu posisi ke posisi lainnya berarti ia belum ditempatkan pada posisi yang kokoh.

Dalam kitab at-Tanwīr Ibnu ‘Athā’illāh mengatakan: “Allah menuntut darimu untuk berada di tempat yang Dia tetapkan hingga Dia sendirilah yang mengeluarkanmu sebagaimana Dia memasukkanmu. Hal yang penting bukanlah bagaimana kau meninggalkan asbāb, melainkan bagaimana kau ditinggalkan oleh asbāb.”

Seorang sufi mengatakan: “Beberapa kali aku meninggalkan asbāb (sebab-sebab menuju suatu tujuan), tetapi aku selalu kembali kepadanya. Namun, ketika ditinggalkan oleh asbāb, aku tidak pernah kembali kepadanya.”

Ketika ditinggalkan asbāb, seseorang tidak lagi menetapi asbāb sehingga ia pada akhirnya ditempatkan pada posisi tajrīd. Pengertian tajrīd adalah keadaan seseorang yang meninggalkan asbāb. Sebaliknya, pengertian asbāb adalah keadaan seseorang yang melakukan berbagai upaya lahiriah untuk mencapai tujuan.

Syahwat adalah gejolak nafsu untuk meraih apa yang diinginkan. Dikatakan di atas bahwa itu merupakan syahwat yang samar karena gambaran sesuatu yang diinginkan, yaitu tajrīd, secara lahiriah memang tampak menyakitkan karena harus meninggalkan kebiasaan dan melawan keinginan, tetapi di dalamnya terdapat keinginan untuk mendapatkan ketenangan, kelapangan, dan kebabasan dari taklif.

Makna inithāth adalah turun dari keadaan atau tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Himmah adalah tekad atau cita-cita dan semangat diri untuk mencapai tujuan tertentu. Tinggi rendahnya tekad tergantung kepada tinggi rendahnya tujuan yang ingin dicapai.

Penyebab ahli tajrīd mengalami penurunan himmah adalah karena ia mengganti keadaan lapang dengan penat, ketenangan dengan kekacauan, serta menjatuhkan diri pada sesuatu yang bisa merusak dengan bergaul bersama makhluk dan menjauhkan diri dari Cahaya. Karena itu, dikatakan bahwa orang yang masih tetap bersama musuh di wilayah asbāb, berarti ia memiliki tekad yang rendah.

Selanjutnya, penting diingat bahwa kehendak hamba tidak memiliki nilai apa-apa karena ia sangat bergantung pada kehendak Tuhan. Maka, jika seorang hamba sibuk menghendaki kedudukan yang tidak diberikan Tuhan, berarti ia telah berlaku buruk (sū-ul-adāb) kepada-Nya. Sikap dan perilaku seperti itu tentu saja tidak memberinya manfaat sedikit pun. Penjelasan tentang hal ini disampaikan oleh Ibnu ‘Athā’illāh dalam hikmah berikutnya: (lihat Ḥikam # 3)

 

%d bloggers like this: