Meretas arah Masa Depan Sains-Agama

Tak kalah menarik dan mengejutkan dunia di sela kejayaan sains modern, orang pun mulai keteteran dan terseret oleh kecanggihan mereka, sains malah ‘meruntuhkan fundamen sains’ itu sendiri, darah ilmu pengetahuan menetes kedalam menusuk tajam mata teropong ilmiahnya. Beberapa perkembangan pengetahuan mutakhir misalnya; teori relativitas, teori kuantum, fisika bootstraf, teori disipative structure, biologi molekuler,  teori genetika dan teori evolusi; telah meruntuhkan dasar-dasar pijakan ilmiah. Sains mutakhir disadari atau tidak telah memberikan gagasan-gagasan baru yang menggangu, yang nampak sekilas sebagai negasi langsung pikiran awam. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya krisis pengetahuan. Bagi Husain Heriyanto krisis ini berawal dari krisis tunggal yakni gejala timbulnya krisis persepsi, sedangkan Hidayat Nataatmaja memandang sebagai krisis global ilmu pengetahuan, lebih jauh sampai pada krisis keyakinan. Krisis pengetahuan tersebut semakin nampak lagi dan menggemparkan dunia baru-baru ini, ketika John Horgan melontarkan tesisnya “The End of Science” bahwa ternyata ilmu pengetahuan akan berakhir dengan sendirinya. J. Horgan (2005: xvi-xvii) menyimpulkan bahwa yang ada hanyalah pengetahuan ironis:

Ilmu pengetahuan-sebagai wahana menemukan berbagai ‘kebaruan’ (news) dan pengalaman baru di masa depan berakhir karena ia berkerja terlalu sempurna. ‘……Meski demikian ilmu pengetahuan tidak benar-benar ‘mati’ dalam pengertian sebenarnya. Akan tetapi,  ia hidup dengan ‘cara ironis’ (ironis science), atau dengan cara ‘fatalistik’ (fatalistic science)’. Maka yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan adalah mencampuradukan segala hal yang ada, dalam sebuah turbulensi atau chaotic.

Sains keluar dari rel kehidupannya, melintas batas, menerobos celah ruang gelap, berbaur dengan dimensi baru yang sama sekali berbeda, sebuah teka-teki perjalanan menguak misteri alam yang menimbulkan pertanyaan prinsipil akan eksistensi sains itu sendiri. Semua kehilangan makna, inilah yang oleh Nietzche disebut sebagai nihilisme yakni runtuhnya seluruh nilai dan makna meliputi seluruh bidang kehidupan manusia. Hal ini menunjukan bahwa krisis mendasar bukan pada cara pandang manusia terhadap alam, tetapi kekompleksan krisis secara epistemologis, aksiologis, ontologis, dan metafisis. Kedigjayaan paradigma Cartesian-Newtonian[1] misalnya, teraplikasikan secara massif setelah dibungkus oleh filsafat empirisme, positivisme, dan materialisme. Hal inilah yang memperlihatkan bahwa kejayaan sains nampak semakin kokoh ketika secara filosofis dilegitimasi oleh aliran filsafat yang menjadi ciri khas argumentasi sains.  Apabila di analisis lebih comprehensip ternyata sains modern tidaklah bersifat independen, ia tetap memerlukan pemahaman filosofis dalam memaknainya. Dalam periode-periode krisis, diakuilah para ilmuwan berbalik kepada analisis filosofis sebagai piranti untuk membuka kunci teka-teki dari bidangnya. Seyyed Hosein Nasr (Husain Heriyanto, 2003:30) mengatakan:

Meski sains modern mendeklarasikan independensinya dari aliran filsafat tertentu, namun dirinya sendiri tetap berdasarkan sebuah pemahaman filosofis partikular baik tentang karakteristik alam maupun pengetahuan kita tentangnya, dan unsur terpenting di dalamnya adalah Cartesianisme yang bertahan sebagai bagian inheren dari pandangan-dunia ilmiah modern (modern scientific world-view).

Mungkin penting untuk ditekankan bahwa hal ini merupakan teori yang bersifat filosofis. Ini bukanlah sains yang pasti, tetapi salah satu interpretasi data yang diberikan sains. Inilah kisah misteri terbesar sains, sebagaimana Einstein dan Infield (D. B. Calne, 2005: 315-316) ungkapkan:

Kisah itu telah memberi kita banyak hal; telah diajarinya kita dasar-dasar alam; telah dibuatnya kita mampu memahami banyak petunjuk, dan telah menjadi sumber kegembiraan dan kegirangan kala terjebak jalan buntu seperti yang sering terjadi dalam perkembangan sains. Tapi kita menyadari bahwa kendati sudah membaca dan mengerti sebanyak itu, kita masih jauh dari penyelesaian yang tuntas, jika memang hal seperti itu mungkin. Pada setiap tahap kita coba mendapatkan penjelasan yang sepadan dengan petunjuk-petunjuk yang sudah kita ketahui. Teori-teori yang diterima untuk sementara sudah menjelaskan banyak fakta, tetapi belum terlihat adanya gelagat penyelesaian umum yang cocok dengan semua petunjuk yang tersedia. Sangat sering teori yang tampak sempurna ternyata tidak memadai dilihat dari pembacaan lebih lanjut. Fakta-fakta baru muncul, yang bertentangan dengan teori atau tak terjelaskan olehnya. Semakin banyak kita membaca, semakain bulat penghargaan kita terhadap susunan kisah itu, walaupun penyelesaian tuntas masih sama jauhnya.

Terbukanya penafsiran baru yang tak terduga terhadap sains sering kali di hampiri penilaian filosofis serta keyakinan tak bersyarat akan sains [saintisme dengan sokongan kuat materialisme ilmiah][2] selalu mengarah ke konflik dengan agama. Kecerdikan fantastik sains ini sebenarnya, memberikan gagasan unik akan peran agama di masa depan. Stent  mengungkapkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan akan memberi kepada agama peran yang lebih jelas di masa depan, ketimbang melenyapkan agama secara keseluruhan, seperti yang diharapkan banyak ilmuwan. “manusia adalah hewan, tapi kita juga adalah moral”. Tugas agama lebih pada wilayah moral. Dengan begitu, agama jelas tidak bertentangan dengan keyakinan mendasari sains. Sebaliknya, agama dapat menghidupkan keyakinan atau kepercayaan akan realitas yang diperlukan sains sebagai syarat agar dapat melakukan eksplorasi atas dunia ini [J. Horgan, 2005:20].

Mengingat peran agama, Einstein sendiri mengakui bahwa sains harus menjangkau keluar dari dirinya sendiri untuk mendapatkan energi agar bisa mencari kebenaran secara konsisten. Menurutnya, sains diam-diam bergantung pada sesuatu semacam iman:

“…..sains hanya dapat diciptakan oleh orang-orang yang benar-benar dikaruniai aspirasi ke arah kebenaran dan pemahaman. Tetapi, sumber perasaan ini memancar keluar dari wilayah agama. Dia jugalah yang menjadi asal-usul kepercayaan akan adanya kemungkinan bahwa pengaturan-pengaturan yang absah bagi dunia eksistensi adalah rasional, yaitu yang dapat dimengerti oleh akal budi. Saya tidak dapat memahami seorang ilmuwan murni tanpa iman yang mendalam seperti itu.” [John F. Haught, 2004:65]

Hal ini memperlihatkan bahwa secara filosofis ternyata sains dan agama mewakili dua sistem besar pemikiran manusia. Agama memberikan pengaruh yang dominan terhadap kehidupan manusia. Ketika sains berdampingan dengan kehidupan mereka, ia berhimpitan tidak pada tingkatan intelektual, namun secara praktis melalui teknologi [Paul Davies, 2006:13]. Seperti terlihat bahwa secara praktis, perkembangan teknologi telah mampu mengatasi problem sosial, ekonomi, politik bahkan pergeseran kebudayaan sekalipun.

Secara metodologis upaya untuk merumuskan percumbuan antara sains dan agama sebagai grand idea corak pemikiran, kebudayaan serta peradaban manusia dapat terus dilakukan, setidaknya dengan analisis tajam dan sistematis atas pandangan terhadap krisis global ilmu pengetahuan yang melanda Barat dan Timur, Hidayat Nataatmaja (1982:80) berusaha mendamaikan keduanya bahwa dengan landasan konsep filsafati yang di gali di Timur, dapat menjabarkan keadilan secara operasional dalam bentuk pemerataan dengan menggunakan analisa Barat. Agama [Islam] sebagai representasi Timur diharapkan mampu memberikan solusi alternatif dan dapat memberikan bingkai, nilai, corak, warna, dan arah terhadap perkembangan sains modern yang analitis representasi Barat dengan pijakan positivis-empiristik-materialistik berdasarkan metodologi yang ketat, yang harus di verifikasi dan di faslifikasi.

Secara spesifik gagasan tersebut mesti diapresiasikan dan di cari metodologinya secara lebih comprehensip sehingga diperoleh tafsir sains yang lebih sesuai dengan kerangka nilai agama (Islam). Salah satu gagasan berkenaan masalah tersebut pernah diurai oleh beberapa intelektual muslim sejak tahun 1960-an hingga sekarang, yang diwujudkan dalam wacana ‘islamiasasi ilmu pengetahuan’ sebagai langkah mengawali era baru dalam menjembatani konflik Sains-Islam (agama), meskipun masih bersifat kontroversial. Berberapa tokohnya seperti; Seyyed Hossein Nasr, Maurice Bucaille, Ziauddin Sardar dan Naquib Al-Atas cukup mendapat perhatian menonjol, disamping mendapat lawan tangguh dari Abdus Salam dan Pervez Hoodbhoy. Dalam bukunya, Islam and Science, Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality, Hoodbhoy menyebut upaya pengislaman pengetahuan ilmiah tak saja telah melanggar rasio dan logika, tetapi juga melanggar penafsiran tercerahkan atas ajaran Islam. Meskipun begitu tanpa adanya tendensi dan pretensi apapun, hemat penulis, upaya Islamisasi pengetahuan (dalam pengertian tafsir sains yang Islami) setidaknya masih efektif selama dipahami dan berada dalam kerangka filterisasi atas adaptasi budaya modern yang rawan dirasuki isme-isme atau keyakinan atas sains [saintisme] serta materialisme ilmiah, sebagaimana Peter Moore dalam Mehdi Golshani ungkapkan bahwa “…apa yang khas pada budaya modern adalah menyempitnya lapangan sains dan berkembangnya suatu ‘saintisme’ yang menafsirkan data sains dengan suatu ‘materialisme’ yang dipaksakan daripada diambil dari data ini”.

Baberapa catatan penting berikut dari beberapa ilmuwan diungkap Mehdi Golshani [2004:48-64] dalam bukunya; Issues in Islam and Science, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains: Tafsir Islami Atas Sains, bahwa diakui atau tidak, penafsiran dan peramalan ilmuwan terhadap fakta eksperimen sangatlah berpengaruh. Gambaran fenomenologis dari fenomena yang dilakukan oleh seorang eksperimentalis boleh saja sama, tetapi dalam penyusunan teroi-teori universal, praanggapan-praanggapan filosofis ikut bermain.

Dalam semua sains, terdapat dua aspek. Satu aspek terdiri dari realitas alam, yakni fakta. Aspek lain adalah pandangan manusia yang mengklasifikasikan fakta tersebut, menyusunnya menjadi teori dan konsep. Kedua aspek ini perlu dibedakan. Sejauh menyangkut fakta, sains adalah universal; sains adalah kumpulan fakta-fakta semata. Tetapi, mentalitas seorang Marxis akan mengorganisasi fakta ini menurut pandangan Marxis. Anda mungkin pernah mendengar seperti sains Rusia atau filsafat Komunis. Komunisme memiliki pandangan khas tentang alam semesta dan manusia; ia juga memiliki teori sendiri tentang sejarah….dengan demikian setiap anak di masyarakat komunis mempelajari sains yang dikembangkan menurut ideologi komunis. Demikian pula halnya dalam kasus para saintis Barat. Mereka memiliki konsep mereka sendiri yang khas tentang alam semesta, Tuhan dan Manusia….Dari contoh-contoh ini, kita bisa melihat bahwa tiap-tiap ideologi membentuk ilmu pengetahuan dan sains menurut sudut pandangnya masing-masing. Manakala kaum Muslim mempelajari berbagai cabang seni dan sains, mereka mengislamkannya dengan pengertian bahwa mereka merenungkannya dengan Pikiran Muslim…, begitu kata Al-Maududi.

Selain praanggapan-praanggapan metafisik [filosofis], pandangan nilai religius pun sangatlah menentukan. Sejarah sains telah menunjukan bahwa sistem-sistem nilai memengaruhi orientasi sains. Sejarahwan sains Inggris, John Brooke berkata bahwa arah dan apliaksi penelitian ilmiah dengan jelas berbeda dalam sistem nilai yang berbeda. Dan karena nilai-nilai manusia sering secara organis berkaitan dengan keyakinan-keyakinan agama, yang disebut belakangan ini masih bisa dipandang relevan dengan orientasi sains dan teknologi.

Jelaslah bahwa, yang menjadi perbedaan utama antara Sains Islami dan Sains Sekuler hanyalah tampak pada wilayah: 1] Praanggapan-praanggapan metafisik dalam sains sering kali berakar pada pandangan-dunia religius; 2] Pandangan religius efektif dalam memberikan orientasi yang layak dari penerapan sains.


[1] Paradigma Newtonian-Cartesian adalah bertambahnya kepemilikan manusia terhadap alam. Alam dapat direkayasa sesuai dengan kehendak dan kepentingan manusia.

[2] Dalam jargon filosofis, saintisme adalah komponen epistemologis, dan materialisme adalah unsur metafisis dari “kredo” modern yang berpengaruh, yang bagi banyak ilmuwan berfungsi dengan cara yang sangat mirip dengan fungsi agama bagi para penganutnya yang setia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: