Sains; Jantung Peradaban Modern

Sains dan teknologi itulah kata kunci peradaban modern, kemenangan demi kemenangan diraih, kejayaan dan ‘kebenaran’ pun terlihat jelas secara rasional dengan pembuktian ilmiah yang empiristik-positivistik tak terbantahkan, sehingga menggeser paradigma secara revolusioner (meminjam istilah Kuhn).

Penggunaan empiristik-postivistik hasil pemikiran barat sebagai universalitas metodologi menjadi bias ideologi. System imperialisme modern tidak hanya menyerang dengan kekuatan jumlah melainkan dari metoda-metoda analitis sains modern menjadikan kaum agama terperosok, bingung dan tidak memiliki kepercayaan diri. Agama semakin tertekan dan terpuruk, pemikiran semakin tumpul, kejumudan mengkerangkeng kaum Agama (abad pertengahan). Akhirnya, kejayaan kebudayaan dan peradaban pun beralih dari Timur ke Barat.

Di Barat, Descartes dianggap sebagai bapak filsafat modern yang memahami ilmu pengetahuan secara analitik dengan memberi pendasaran filosofiss seluruh jenis ilmu pengetahuan melalui sebuah metode kesangsian (dubium methodicum)-nya yang disebut “kesangsian metodis universal”, sehingga menghasilkan diktumnya Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Descartes menempatkan rasio atas segala yang “Ada” dengan kata lain, memosisikan ‘aku’ sebagai subjek yakni substansi atau penopang yang berperan sebagai fondasi segala yang ‘ada’ (being). Descartes berusaha menganalisis secara matematis dalam mereduksi seluruh jenis pengetahuan kedalam matematis yang pasti. Sampai disini terlihat bahwa pendulum pengetahuan beralih pada subjek, objektifitas pun luput dari pandangan. Massifikasi peradaban modern memuncak pada Newton sebagai bapak sains modern. Newton dengan hukum mekanikanya [Hukum Newton I, II dan III] mampu mengembangkan formulasi pandangan-dunia mekanistik-reduksionistik yang matematis dan lengkap, sehingga menghasilkan suatu sintesis agung karya-karya Copernicus, Kepler, Bacon, Galileo, dan Descartes. Pandangan Descartes dan Newton [paradigma Cartesian-Newtonian] telah menghegemoni cara pandang manusia modern yang membawa peradaban modern di Barat pada puncaknya yang bertahta ± 300 tahun hingga akhir abad ke-19, secara tidak langsung telah memberikan corak, warna, serta arah terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai aspek praktis kehidupan. Kedua tokoh tersebut menjadi mesin penggerak yang menghegemoni peradaban modern. Husain Heriyanto menulis:

Hegemoni paradigma Cartesian-Newtonian terhadap pandangan-dunia manusia terkait erat dengan kenyataan sejarah bahwa peradaban modern memang dibangun atas dasar ontologi, kosmologi, epistemologi dan metodologi yang dicanangkan oleh dua tokoh penggerak modernisme, yaitu Rene Descartes dan Isaac Newton. (Husain Heriyanto:26)

Perkembangan lebih lanjut, Paradigma CartesianNewtonian mendapat pendasaran filosofis yang empiristik-positivistik dan materialistik. Secara alamiah dan logis, paradigma CartesianNewtonian akan bermuara pada materialisme ilmiah, positivisme atau budaya saintisme, yang secara langsung menjadikan budaya saintisme sebagai ideologi dunia modern. Positivisme merupakan titik kulminasi dari semakin independensinya sains dari filsafat, sains dari nilai-nilai dan sains dari segenap prinsip-prinsip kearifan manusia.

Paradigma CartesianNewtonian ini menjadi kerangka berpikir yang khas era-baru di abad modern [abad ke-19]. Akan tetapi, menjelang abad ke-20 pandangan tersebut semakin melemah serta secara global tidak membawa pada struktur tatanan kehidupan sosial yang lebih baik, bahkan menimbulkan berbagai patologi modernitas, yang menjadi salah satu kritik yang dilakukan para pemikir postmodern. Pauline M. Rosenau (dalam Medhy Aginta Hidayat) mencatat setidaknya lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme: pertama, modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu.

Meskipun begitu, tak dapat dipungkiri paradigma Cartesian-Newtonian yang dianut oleh materialisme ilmiah, positivisme atau budaya saintisme, pada kenyataannya tetap menjadi wabah yang menjangkiti pelbagai dimensi kehidupan kita, baik dunia ilmiah, dunia pendidikan, praktik medis, psikiatri, maupun kehidupan sosial.

Sekedar kekhawatiran bagi pemikir “posmo” adalah adanya semacam kemalasan intelektual di komunitas akademi tertentu, yang terlalu gampang takluk pada imajinasi dan kecurigaannya sendiri, dan tak secara metodologis membenturkannya pada kenyataan atau secara langsung melompat ke kesimpulan yang mengabaikan korespondensi, verifikasi dan falsifikasi. Namun, perlu diingat bahwa sampai batas tertentu, postmodernisme telah memberi sumbangan penting berupa demistifikasi dan penyingkapan topeng-topeng filsafat dan rasio, dan karenanya telah menunjukkan pula ilusi-ilusi dan keterbatasannya. Seluruh spesies pemikiran postmodernisme adalah kritik terhadap semua pengetahuan yang melupakan watak fiktifnya, sekaligus penegasan akan watak fantastik kenyataan. Karena pengetahuan itu fiktif dan kenyataan itu fantastik, maka sebenarnya rasio yang notabene menjadi genre modernism tak boleh mundur dan harus dipaksa untuk terus membuntuti kenyataan. Sampai di sini menggejalanya pandangan filosofis, menimbulkan ekses yang begitu besar terhadap perubahan cara pandang dalam memaknai realitas dengan landasan epistemologis yang berbeda.

Di sisi lain, pandangan religius pun angkat bicara tatkala melihat kejayaan sains modern yang telah mengusik akar historisitas agama, sehingga mengungkap amarah Huston Smith sebagai seorang juru bicara agama dengan melontarkan tesisnya “Ajal Agama di Tengah Kedigjayaan Sains”, bahwa yang menjadi persoalan ternyata pendefinisian saintisme rawan dirasuki penilaian filosofis. Hal ini malah menambah perdebatan sengit antara agama dan sains, bahkan menimbulkan konfrontasi dan kritik keras dari banyak kalangan sains dan teolog misalnya Ian G. Barbour, Ursula Goodenough, dan Peterson. Konfrontasi antara Barat yang industrial dan kapitalis dengan masyarakat (Timur) yang tradisional dan pra kapitalis tak dapat dielakan lagi. Lantas mungkinkah sains melampaui agama ataukah sebaliknya? Dapatkah sains berdialog dengan agama? Dimanakah peranan sains dan agama? Melihat hal tersebut Keith Ward (2002:27), mengungkapkan masalah mendasar yang perlu di ingat adalah bahwa yang dilawan bukan sains, melainkan interpretasi ideologis yang membungkusnya dan paradigma filosofis yang mendasarinya. Dilain pihak, para pastor, pendeta, ulama sebagai juru bicara agama dan penyambung lidah Tuhan terkadang menjadi boomerang para saintis dengan otoritasnya bertindak atas nama kebenaran dan Tuhan. Hal ini memperlihatkan bahwa baik sains ataupun agama ternyata ‘berjalin kelindan’ dengan ideologi, inilah polemik yang mesti diantisipasi. Hingga kini, sains dan agama menjadi tema sentral yang belum terselesaikan.

Konflik antara sains dan agama secara filosofis tak dapat dihindarkan lagi, semuanya membawa misi ideologis dan kepentingan masing-masing. Ada satu hal yang dilupakan, Alquran sebagai mu’jizat dan wahyu revolusioner yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw., yang secara historis telah mengubah peradaban dan kebudayaan serta tatanan sosial dunia, tak pernah di retas ‘maknannya’ sampai pada realitas yang selaras dengan kontekstual. Bahkan Analisis Michael H. Hart menyimpulkan bahwa diantara seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah menempatkan Muhammad pada urutan pertama. Ini mengindikasikan adanya ‘sesuatu’ yang telah terungkap tetapi belum diketahui secara menyeluruh di era kontemporer dewasa ini bahwa ada satu ajaran yang secara rasional bisa diterima meskipun sekilas nampak ‘harus berhadapan’ dengan pembuktian secara ilmiah pada perkembangan sains modern. Alquran sebagai pegangan ummat Islam dan sumber rujukan abadi ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah kering dan akan selalu mengisi kehausan para peminum intelektual.

Dr. Maurice Buccaille membuktikan atas analisis tajam perbandingan mengenai Bibel, Quran dan Sains Modern, dengan kesimpulan yang mengejutkan bahwa Alquran memuat soal-soal ilmiah yang dapat di ketahui di akhir abad 18, 19, dan 20, sedangkan pada Bibel itu sendiri terdapat kesalahan-kesalahan secara ilmiah. Akan tetapi, ada satu catatan [kalau bukan kekeliruan pundamental] dari tesis Maurice bahwa karena kebenaran-kebanaran secara ilmiah akan selalu mengalami perubahan, begitu pula Alquran akan mengikuti perubahan tersebut artinya Alquran akan berubah pula mengikuti pembuktian secara ilmiah. Maurice Bucaille, mengadopsi filsafat proses Whithead menjadi teologi proses dalam menemukan kebenaran ilmiah dan inilah salah satu bentuk varian integrasi yang oleh Barbour disebut sebagai teologi alam (theology of nature) yakni bahwa pandangan teologis tentang alam justru harus diubah, disesuaikan dengan penemuan sains mutakhir tentang alam. Dimana Barbour (2005) mengungkapkan bahwa ada dua varian integrasi yang menggabungkan antara agama dan sains. Pertama, teologi natural (natural theology) dan Kedua, teologi alam (theology of nature). Pada varian teologi natural, menurut Barbour, teologi mencari dukungan pada penemuan-penemuan ilmiah, sedangkan pada varian teologi alam, pandangan teologis tentang alam justru harus diubah, disesuaikan dengan penemuan sains yang mutakhir tentang alam. Barbour lebih menganggap varian kedua, teologi alam yang paling  benar.

Analisis Maurice tersebut begitu mengiris ruang sensivitas agama dihadapan sains, boleh jadi sebenarnya keterbatasan pengalaman yang membatasi persepsi serta pemahaman akan tafsir makna Alquran, sedangkan Alquran itu sendiri akan tetap utuh sebagai sebuah sumber genuine atas kebenaran mutlak wahyu ilahi, yang tak dapat disandingkan dengan kebenaran tentatif dari sains. Sains lebih menunjukan pada kinerja untuk mempermudah mekanisme pemahaman nalar, sehingga pembenaran sains pun mesti diterima dalam kapasitas penjelasan atas keberlangsungan realitas fisik yang dapat ditangkap secara rasional, dalam pengertian sesuatu yang dapat diverifikasi dan di falsifikasi. Sampai disini kebenaran dalam sains bersifat tentatif. Walaupun begitu, analisis Maurice Bucaille tersebut, setidaknya menunjukan pemahaman mendalam serta pengakuannya atas kebenaran wahyu ilahi dihadapan sains dan kemajuan teknologi.

Begitu cepatnya perkembangan ‘sains’ sampai-sampai merambah pada wilayah ekonomi, sosial, politik bahkan gaya kepemimpinan pun beralih pada kecanggihan teknologi. Prodak sains yang efektif dan efisien berada di garda depan menjadi remot kontrol, dan processor (meminjam jargonnya computer) dalam mengoperasikan peradaban ini.  Bertrand Russell mengungkapkan bahwa:

Sains, sebagai faktor yang menentukan terhadap keyakinan kalangan terdidik, baru terjadi selama 300 tahun; sebagai sumber teknik yang bernilai ekonomi, sekitar 150 tahun. Selama masa yang pendek ini, sains terbukti merupakan kekuatan revolusioner yang bukan main hebatnya. Mengingat betapa barunya sains berkuasa, tidak boleh tidak kita percaya baru berada pada awal bekerjanya sains dalam mengubah kehidupan manusia. (Donald B. Calne, 2005:304)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: