Metodologi Sains Islam-Barat

Metode merupakan langkah-langkah sistematis yang digunakan dalam ilmu tertentu yang tidak direfleksikan atau diterima begitu saja. Metode lebih bersifat spesifik dan terapan. Sedangkan, metodologi adalah bidang penelitian ilmiah yang berhubungan dengan pembahasan tentang metode-metode yang digunakan dalam mengkaji fenomena alam dan manusia, atau metodologi merupakan bagian dari sistematika filsafat yang mengkaji cara-cara mendapatkan pengetahuan ilmiah. Oleh karena itu, penentuan kekuatan metode ilmiah adalah tugas metodologi. Maka, metodologi adalah bidang penelitian ilmiah yang membenarkan, mendeskripsikan, menjelaskan aturan-aturan, prosedur-prosedur sebagai metode ilmiah. Objek kajian metodologi adalah ilmu pengetahuan, sedangkan sudut pandangnya adalah cara kerja ilmu pengetahuan.

Metodologi bertujuan melukiskan dan menganalisa cara kerja ilmu pengetahuan yang sudah berlaku, dan menentukan cara kerja yang absah untuk ilmu pengetahuan, serta kemudian dapat melihat kemungkinan merancang metode baru sehubungan adanya gejala-gejala yang belum terpahami (Donny Gahral A, 2002:30).

Dalam praksisnya penerapan metodologi pada berbagai penyelidikan seringkali mengahadapi benturan-benturan pemahaman yang dilematis antara kebutuhan praktis dan kerangka nilai ideal ilmu pengetahuan. Sebelum perumusan metodologi yang lebih substantif dilakukan, perlu untuk mengkaji penyelidikan metode-metode yang dibangun baik oleh sarjana Islam maupun sarjana Barat modern.

1. Metodologi Sains-Islam

a] Merekam Ulang Islamisasi Sains

Dalam perkembangannnya tarik ulur pemahaman ilmu pengetahuan [sains klasik-sains modern] menjadi satu arena perdebatan sengit dikalangan sains-agama, seperti halnya salah satu kasus Galileo sebagai martir. Akan kah peristiwa tersebut terulang kembali? Tidak adanya pretensi apapun dalam menganalisis sains-agama, selain untuk memperoleh keyakinan atas kebenaran yang sesungguhnya. Secara spesifik perjalanan panjang perkembangan ilmu pengetahuan menunjukan bahwa bagi sains, kebenaran dicari lewat metode induksi. Sesuatu dikatakan benar dan nyata apabila dapat terukur [positivistik], tidak ada yang ‘Ada’ selain materi [materialistik] pada kebanyakan fenomena dapat direduksi, sangat mekanis dan adanya kekuatan generalisir serta abstraktif [empiristik]. Bagi sains, hal-hal yang berbau metafisik adalah hanya omong kosong belaka, sedangkan bagi filsafat ada kualitas metafisik yang ultimate dan transenden.

Menyikapi, hal tersebut kaum agama [Islam] berusaha memfilter sains yang rawan dirasuki isme-isme yang belum tentu sesuai dengan tarikan nafas, dan ‘nadi peredaran darah’ kita, dengan mengajukan gagasan “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Dimulai sekitar tahun 1930-an, seruan pertama kali tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan dikemukakan Sayyid Abu Al-A’la Al-Maududi :

Karena itu, telah tiba waktunya bagi kaum muslim untuk membuang sistem pendidikan yang sudah lapuk dan sistem modern yang berorientasi sekuler, untuk kemudian menciptakan sistem pendidikan mereka sendiri, yang bersifat semodern mungkin, dengan menggunakan sains dan teknik-teknik modern, tetapi dengan orientasi Islam yang kental. Rencana ini harus dilaksanakan dan diimplementasikan melalui orang-orang  yang tidak saja ahli di dalam islam, tetapi juga memiliki iman dan keyakinan yang kukuh dan penuh semangat dakwah (Mehdi Golshani, 2004:40).

Seruan tersebut diikuti oleh S.H. Nasr, Naquib Al-Attas dan Ja’far Syaikh Idris tahun 1960-1970-an; Ismail Al-Faruqi tahun 1980-an; konferensi pendidikan Muslim pertama diadakan di Makkah [April 1977]; dua dasawarsa terakhir, International Institute of Islamic Thought bermarkas di Virginia; Beberapa Jurnal yang diterbitkan di dunia Islam dan Barat: the american Journal of Islamic Social Sciences (Amerika), Islamic Studies (Pakistan), Journal of Islamic Science (India), Muslim Education Quarterly (Inggris); Konferensi di Kanada selama tahun 1990-an oleh Pascal Center dengan Tema “Sains dalam Konteks Teistik.”

Ketertarikan akan sains Islam, yang dianggap lebih integratif dalam memahami perkembangan ilmu pengetahuan, terlihat jelas dari beberapa buku yang ditulis oleh beberapa ilmuwan seperti, Mulyadi Kartanegara tahun 2003, “menyibak tirai kejahilan: pengantar epistemologi Islam”, yang dilanjutkan dengan bukunya “integrasi Ilmu, sebuah rekonstruksi holistik” 2005. Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam: ‘Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami’,  2004. Mehdi Golshani, melacak jejak Tuhan dalam sains; tafsir islami atas sains, 2004. Agus Purwanto. Ayat-ayat Semesta; Sisi-sisi Alquran yang Terlupakan, 2008, dan masih banyak buku yang lainnya. Di universitas-universitas Islam pun banyak yang menerbitkan buku-buku bertemakan integrasi antara sain dan agama. Semuanya, menguraikan secara gamblang berbagai problematika dalam menyikapi perkembangan sains modern, dengan menawarkan solusi alternatif pemaknaan atas sains yang Islami (kalau tidak holistik) dalam menjembatani dikotomi ilmu yang lebih akut.

Mengingat gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh ummat Muslim, secara umum Ziauddin Sardar (2005:178-181) mengungkapkan bahwa ada tiga aspek realitas kontemporer yang harus diapresiasi oleh siapapun yang terlibat dalam gerakan Islamisasi atau pembaharuan hukum, sosial dan ekonomi dalam masyarakat Muslim antara lain:

Aspek Pertama adalah yang paling jelas, dan mungkin paling menyakitkan. Pemikir Muslim sepenuhnya terpinggirkan dari dunia modern. Karena ia tidak menghasilkan masukan bagi dunia filosofis dan intelektual kontemporer, ia tidak bisa berangan-angan akan diterima atau berpartisipasi dalam industri pengetahuan dunia. Karakteristik kedua yang menonjol pada zaman kita sekarang adalah kesalingterkaitan dan kesalingterhubungan. Dalam dunia modern-posmodern, segala hal terkait dengan hal lainnya dan bergantung pada perkembangan bidang lain. Karakteristik ketiga dari dunia kita ini adalah keragaman merupakan inti dari sebuah kelangsungan hidup.

Apa arti semua ini bagi gerakan pembaharuan dan Islamisasi? Hal ini berarti bahwa pendekatan monolitik terhadap pembaharuan akan menemui kegagalan. Semangat kesalehan dan fanatisme akan berakhir dengan sebuah tirani. Untuk melakukan Islamisasi, keragaman realitas modern memiliki signifikasni khusus. Ini berarti bahwa jika disiplin keilmuan yang telah di Islamkan menjadi apendiks dari displin keilmuan barat, ia akan dikuasai dan ditelan oleh sesuatu yang monolitik. Sehingga disiplin itu senasib dengan disiplin keilmuan yang dominan dan tidak akan memiliki masa depan.

Meskipun gerakan Islamisasi ini diharapkan melahirkan kaum intelektual, cendekiawan serta ilmuwan sejati[1], bahkan bisa saja menjadi sebuah gerakan ideologi Islam. Akan tetapi, Ziauddin Sardar (2005:192-193) melihat ada tiga karakteristik utama kaum ideologi gerakan Islam yang berpotensi menindas pemikiran dan menghalangi kemunculan kaum intelektual sejati. Pertama, kecenderungan mereka untuk mendominasi dan mengendalikan; mereka bisa memonopoli pikiran dan keputusan. Sikap kedua, terkait dengan yang pertama adalah mentalitas guru. Sikap ini tercermin dari diktum bahwa mentor, guru, atau pemimpin spiritual selalu benar, bahkan ketika ia jelas-jelas berbuat keliru, dan pengalaman menunjukan bahwa dia salah. Sikap ketiga, ketidakmampuan mereka menerima kritik.

Berbeda dengan Ziaudin Sardar yang mengkhawatirkan ekses negatif dari gerakan Islamisasi tersebut, dengan opitimis Isma’il Raji al-Faruqi mengemukakan secara rinci lima sasaran rencana kerja untuk Islamisasi Ilmu Pengetahuan:

  1. Menguasai disiplin-disiplin modern.
  2. Menguasai khazanah Islam.
  3. Menentukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern.
  4. Mencari cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
  5. Mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan pola-rancangan Allah.

Menurut Faruqi, sasaran di atas bisa dicapai melalui 12 langkah sistematis yang pada akhirnya mengarah pada Islamisasi ilmu pengetahuan.

Langkah 1: Penguasaan terhadap disiplin-disiplin modern. Al-Faruqi mengatakan, bahwa disiplin-disiplin modern harus dipecah-pecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi-metodologi, problem-problem dan tema-tema—pemilah-milahan yang mencerminkan “daftar isi” suatu buku teks klasik.

Langkah 2: Survei disipliner. Jika kategori-kategori dari disiplin ilmu telah dipilah-pilah, suatu survei menyeluruh harus ditulis untuk setiap disiplin ilmu. Langkah ini diperlukan agar sarjana-sarjana muslim mampu menguasai setiap disiplin ilmu modern.

Langkah 3: Penguasaan terhadap khazanah Islam. Khazanah Islam harus dikuasai dengan cara yang sama. Tetapi di sini, apa yang diperlukan adalah antologi-antologi mengenai warisan pemikiran muslim yang berkaitan dengan setiap disiplin.

Langkah 4: Penguasaan terhadap khazanah Islam untuk tahap analisa. Jika antologi-antologi sudah disiapkan, khazanah pemikiran Islam harus dianalisa dari perspektif masalah-masalah masa kini.

Langkah 5: Penentuan relevansi spesifik untuk setiap disiplin ilmu. Relevansi ini, kata Faruqi, dapat ditetapkan dengan mengajukan tiga persoalan: Pertama adalah, apa yang telah disumbangkan oleh Islam, mulai dari Alquran hingga pemikiran-pemikiran kaum modernis, dalam keseluruhan masalah yang telah dicakup oleh disiplin-disiplin modern? Kedua, seberapa besar sumbangan itu jika dibandingkan dengan hasil-hasil yang telah diperoleh oleh disiplin-disiplin modern tersebut? Sampai di mana tingkat pemenuhan, kekurangan, serta kelebihan khazanah Islam itu jika dibandingkan dengan visi dan scope disiplin-disiplin modern? Ketiga, apabila ada bidang-bidang masalah yang sedikit diperhatikan atau bahkan sama sekali tidak diabaikan oleh khazanah Islam, ke arah manakah kaum muslim harus berusaha mengisi kekurangan itu, juga untuk mereformulasi masalah-masalah, dan memperluas visi disiplin tersebut?

Langkah 6: Penilaian kritis terhadap disiplin modern. Jika relevansi Islam untuk semua disiplin sudah disusun, maka ia harus dinilai dan dianalisa dari titik pijak Islam.

Langkah 7: Penilaian kritis terhadap khazanah Islam. Sumbangan khazanah Islam untuk setiap bidang kegiatan manusia harus dianalisa dan relevansi kontemporernya harus dirumuskan.

Langkah 8:  Survei mengenai problem-problem terbesar ummat Islam. Suatu studi sistematis harus dibuat tentang masalah-masalah politik, sosial, ekonomi, intelektual, kultural, moral dan spiritual dari kaum muslim.

Langkah 9: Survei mengenai problem-problem ummat manusia. Suatu studi yang sama, kali ini difokuskan pada seluruh ummat manusia, harus dilaksanakan.

Langkah 10: Analisa kreatif dan sintesa. Pada tahap ini para sarjana muslim harus sudah siap melakukan sintesa antara khazanah Islam dan disiplin-disiplin modern, serta untuk “menjembatani jurang kemandegan berabad-abad”. Dari sini khazanah pemikiran Islam “harus tetap sinambung dengan prestasi-prestasi modern, dan harus mulai menggerakkan tapal batas ilmu pengetahuan ke horison yang lebih luas daripada yang sudah dicapai oleh disiplin-disiplin modern”.

Langkah 11: Merumuskan kembali disiplin-disiplin di dalam kerangka Islam. Sekali kesinambungan antara khazanah Islam dan disiplin-disiplin modern telah dicapai, buku-buku teks universitas harus ditulis untuk menuang kembali disiplin-disiplin modern dalam cetakan Islam.

Langkah 12: Penyebarluasan ilmu pengetahuan yang sudah di islamisasikan. Karya intelektual yang sudah diproduk dari langkah-langkah sebelumnya harus digunakan untuk membangkitkan, menerangi dan memperkaya ummat manusia.

Ismail Raji Al Faurqi sebagai salah satu pelopor proyek Islamisasi ilmu pengetahuan menguraikan berbagai problematis sistem pendidikan yang berkembang dengan menawarkan lima sasaran kerja dan 12 langkah sistematis Islamisasi pengetahuan sebagaimana disebut di atas. Hal ini didasari oleh pendekatan-pendekatan ilmiah kepada syariah dan sekuler yang membawa pada dualisme pendidikan dan budaya dalam masyarakat Muslim. Dalam Islamization of Knowledge: General Prrinsciples and Work Plan, Al Faruqi menyebut sebagai malaise ummah yakni arus dualitas sekuler-religius sistem pendidikan dalam masyarakat muslim dan tidak adanya pandangan yang jelas untuk menunjukan dan mengarahkan tindakan-tindakan umat Islam.

Tugas yang diemban umat pada abad XV H adalah memecahkan persoalan pendidikan. Tidak ada harapan atas kebangkitan umat yang sesungguhnya kecuali jika sistem pendidikan diubah dan dikoreksi kesalahan-kesalahannya. Maka, apa yang dibutuhkan adalah membentuk pendidikan sekali lagi. Dualisme yang ada dalam pendidikan muslim saat ini, percabangan-percabangannya dalam suatu sistem Islam dan sekuler harus  dibentuk kembali dan dihapuskan untuk penghabisan kalinya dua sistem harus disatukan dan di integrasikan.

Alfaruqi tidak berspekulasi pada wilayah metodologi yang sebenarnya, tetapi membatasi dirinya dengan mengidentifikasi beberapa prinsip epistemologis. Di bawah judul “prinsip-prinsip pertama metodologi Islam”.

Di samping menghindari perangkap dan kelemahan metodologi tradisional, Islamisasi pengetahuan seharusnya menemukan sejumlah prinsip yang merupakan esensi Islam. Menata kembali keilmuan di bawah kerangka kerja Islami berarti menjadikan teori, metode, prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan pada prinsip-prinsip berikutnya.

Begitu menglobalnya, gagasan dan interpretasinya Islamisasi ilmu pengetahuan, Ziauddin Sardar (1987) mengkritik ide Al-Faruqi dengan pemikiran :

  1. Karena sains dan teknologilah yang menjaga struktur sosial, ekonomi dan politik yang menguasai dunia.
  2. Tidak ada kegiatan manusia yang dibagi-bagi dalam kotak-kotak: “psikologi”, “sosiologi”, dan ilmu politik.
  3. Menerima bagian-bagian disipliner pengetahuan yang dilahirkan dari epistimologi Barat berarti menganggap pandangan dunia Islam lebih rendah daripada peradaban Barat.

Secara metodologi, gagasan Islamisasi sains ini pun kerap kali menimbulkan kekeliruan berpikir di kubu Islam sendiri karena belum adanya standar definitif serta parameter yang lengkap, hal ini mengharuskan pemaknaan lebih lanjut mengenai istilah “islamisasi ilmu pengetahuan” sehingga tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

b] Apa “Islamisasi Sains”?

Secara historis, interpretasi atas sains terjadi karena adanya kekhawatiran terhadap ilmu pengetahuan yang datang dari luar sehingga terjadi proses akulturasi budaya antara budaya yang datang dan yang beradaptasi terhadapnya. Islam misalnya mengadapatasi budaya barat memunculkan istilah ‘islamisasi sains’. Ungkapan tersebut menimbulkan prespektif yang negatif terhadap sains, permasalahan lain misalnya, yang mengadaptasi budaya tersebut adalah kristen maka yang terjadi adalah ‘kristenisasi sains’, bahkan budha, hindu, konghucu, akan mengadaptasi dengan istilahnya masing-masing.

Istilah tersebut sangat kontroversial karena banyak ilmuwan mengungkapkan bahwa sains itu bekerja dengan sendirinya dan bersifat netral. Inilah salah satu kekeliruan mendasar yang kerap kali menjadi permasalahan substansial, yang sebenarnya hanya merupakan permasalahan definitif, keterbatasan bahasa dalam menterjemahkannya. Sebagaimana Kuntowijoyo menolak Islamisasi sains, dalam bukunya ‘Islam sebagai ilmu’ mencoba merekonstruksi pemahaman bahwa sains tak dapat di Islam-kan (Islamisasi sains), melainkan Islam-lah yang harus dijadikan ilmu. Meskipun begitu, kuntowijoyo, (2004:8) pun tetap memberikan ‘kerangka definisi’ bahwa Islamisasi pengetahuan berarti mengembalikan pengetahuan kepada Tauhid [dari tauhid ada tiga macam kesatuan yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah] atau konteks kepada Teks. Maksudnya supaya ada koherensi (bahasa latin cohaerere “lekat bersama”), pengetahuan tidak lepas dari iman. Kekritisan Kuntowijoyo sebenarnya selaras dengan batasan dan kriteria Islamisasi sains yang diungkapkan Mulyadi dan Golshani.

Awalnya definisi Islamisasi sains merupakan sebuah proses naturalisasi ilmu. Istilah naturalisasi ilmu dipakai oleh Prof. Sabra misalnya, untuk merujuk pada proses akulturasi ilmu yang datang dari luar terhadap budaya yang berlaku di ranah baru. Oleh karena itu, naturalisasi bisa dipakai dalam arti “mempribumikan” ilmu asing sehingga cocok dengan nilai-nilai budaya atau pandangan keagamaan sebuah negeri atau peradaban. Prof. Sabra mengemukakan tiga “naturalisasi” yang kadang disebut “Islamisasi” ilmu Yunani.

Pada Tahap pertama, kita menyaksikan perolehan ilmu dan filsafat kuno, khususnya Yunani, melalui upaya penerjemahan karya-karya dari bahasa Yunani dan Suriah kedalan bahasa Arab.

Pada tahap kedua, kewaspadan dan pengambilan jarak ini [sikap orang Islam terhadap ilmu Yunani memasuki dunia Islam] telah memberi jalan pada rasa ingin tahu yang tinggi dan eksperimentasi intelektual.

Pada tahap ketiga, kita menemukan asimiliasi penelitian filosofis dalam batas-batas preskripsi/ rambu-rambu agama: “Praktik Falsafah, semacam pemikiran dan wacana yang ditemukan dalam tulisan-tulisan para filosof seperti al-Farabi, dan Ibn Sina, mulai dipraktikan dalam konteks kalam, dan dokter-filosof (yang diwakili oleh Ibn Al-Nafis), ahli matematika (ta’limi) oleh sang Faradi, dan astronom-astrolog  oleh al-Muwaqqit.

Jadi, apapaun istilah akulturasi dan adaptasi oleh sesuatu yang baru tidak lain hanyalah sebuah naturalisasi ilmu, dan itu harus dilakukan. Istilah Islamisasi ilmu Pengetahuan atau Islamisasi sains sebagai satu bentuk naturalisasi ilmu tetap digunakan dengan kerangka dan batas-batas yang diungkapkan oleh Mulyadi Kertanergara dan Golshani. Mulyadi Kartanegara, (2003:130) menggunakan “islamisasi” sains dengan catatan:

Pertama, unsur Islam dalam kata Islamisasi di atas tidak mesti dipahami secara ketat sebagai ajaran yang harus ditemukan rujukannya secara harfiah dalam Alquran dan hadis, tetapi sebaiknya dilihat dari segi spiritnya yang tidak boleh bertentangan dengan ajaran fundamental Islam.

Kedua, Islamsisasi sains yang saya usulkan tidak semata berupa pelabelan sains dengan ayat-ayat Alquran atau hadis yang dipandang cocok dengan penemuan ilmiah, tetapi beroperasi pada level epistemologis ketika saya mencoba pertama mengadakan “dekonstruksi” terhadap epistemologi barat yang berkembang sekarang dan kemudian merekonstruksi epistemologi alternatif dengan meramu secara kritis bahan-bahan yang ada pada “tradisi intelektual Islam” yang telah dibina selama lebih dari satu milenium oleh para pakar filosof dan ilmuwan Muslim klasik. Konstruksi ulang epistemologi ini akan meliputi pembahasan status ontologi ilmu, klasifikasi dan metodologi.

Ketiga, islamisasi sains didasarkan pada asumsi bahwa sains atau ilmu, tidak pernah sama sekali terbebas dari nilai.

Pendapat Mulyadi tersebut sebenarnya selaras dengan apa yang diungkapkan Mehdi Golshani bahwa definisi-definisi tentang sains Islami yang tidak dibenarkan antara lain:

  1. Kegiatan-kegiatan ilmiah (eksperimentasi, observasi dan teoretisasi) harus dilakukan dengan cara baru yang khas “Islami”.
  2. Bahwa untuk penelitian fisika-kimia, orang harus merujuk pada Alquran atau sunnah.
  3. Penekanan harus diberikan pada apa yang disebut mukjizat-mukjizat ilmiah Alquran.
  4. Bahwa untuk kerja ilmiah, kita harus secara eksklusif berpaling pada teori-teori dan eksperimen-eksperimen ilmiah lama.
  5. Bahwa kita harus mengesampingkan semua capaian ilmiah dan teknologis umat manusia pada beberapa abad terakhir

Adapun Ciri-ciri Sains Islami menurut Mehdi Golshani: 1] Memandang Tuhan sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta; 2] Tidak membatasi alam semesta pada ranah materi saja; 3] Menisbatkan Tujuan kepada alam semesta; 4] Menerima tertib moral bagi alam semesta.

Sedangkan Mulyadi Kertanegara, [2003:133-138] menawarkan corak Islamisasi yang sederhana, tetapi yang bekerja pada level epistemologis: 1] pada sistem klasifikasi ilmu dan 2] metodologi ilmiahnya.

  1. Sistem Klasifikasi Ilmu. Asumsi sains bahwa realitas fisik merupakan realitas akhir yang independen tidak pernah akan diterima karena dalam perspektif Islam, semua yang ada adalah ciptaan yang bergantung pada serta terkait erat dengan kekuasaan ilahi dan ayat-ayat yang menunjukan keberadaan dan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Hukum-hukum alam bisa diterima selama tidak berjalan secara independen yang menggantikan peran Tuhan. Gerak evolusi geologis, dibenarkan dan dikembangkan oleh Muslim Syi’ah, Mulla Shadra, dalam sebuah ajaran yang kita kenal sebagai perubahan “gerak atau perubahan tran-substansial” [al-harakah al-jauhariyyah] yang mengandaikan bahwa alam itu tidak bergerak secara linear [horizontal], tetapi secara vertikal kearah yang lebih tinggi dengan tidak meninggalkan unsur-unsur sebelumnya. Rumi menemukan daya fundamnetal dalam apa yang disebut ‘isyq [cinta]. Dalam Islam, entitas-etnitas supernatural tidak pernah dilepaskan dari ilmu, bahkan dipandang sebagai bagian integral darinya. Entitas-entitas ini dalam Islam berpuncak pada Sebab Pertama, yaitu Tuhan.
  2. Metodologi Ilmiah. Ilmuwan Muslim berusaha mencipatakan metode yang tidak hanya digunakan untuk meneliti benda-benda fisik, yaitu metode observasi atau eksperimen [tajribi], tetapi juga metode yang digunakan untuk meneliti objek-objek non-fisik, baik yang bersifat rasional seperti metode demonstratif [burhani] atau yang bersifat intuitif [‘irfani]. Oleh karena itu, metoda ilmiah yang digunakan dalam ilmu-ilmu Islam, menurut saya, harus juga mengakui metode burhani [demonstratif] atau logika, dan metode ‘irfani atau intuitif.

2. Metodologi Sains-Barat


[1] Kehancuran dalam masyarakat muslim kontemporer umumnya merupakan akibat dari kelangkaan kaum intelektual yang benar-benar independen dan berdedikasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: