Brain-Friendly Strategies For The Inclusion Classroom

PENDAHULUAN

Secara historis, guru-guru di dalam kelas reguler tidak merasa siap untuk mengajar siswa yang luar biasa, mereka lebih memilih meninggalkan pekerjaan dan menyerahkannya kepada para ahli untuk dilatih. Tapi zaman dan hukum telah berubah, dan sebagian besar ruang kelas saat ini, setidaknya memiliki beberapa aspek inklusif untuk mereka. Penelitian otak telah memberikan pemahaman yang lebih baik kepada para pendidik tentang praktek-praktek pengajaran yang tidak hanya sangat penting bagi siswa-siswa yang berkebutuhan khusus, tetapi juga bermanfaat bagi teman-teman mereka. Alat-alat baru ini akan sekaligus membantu guru menghadapi tantangan mengajar pada kelas berkebutuhan khusus (kelas inklusi) dan membuat pengajaran lebih berhasil dan bermanfaat.

PEMBELAJARAN OTAK

Baru-baru ini secara relatif para ahli saraf kognitif (cognitive neuroscientists) mulai mempelajari bagaimana struktur otak kita mendukung fungsi mental. Pada akhir 1960-an para ahli saraf melihat konsepsi aksial tomografi terkomputerisasi (juga disebut CT atau CAT scan), yang menawarkan kesempatan pertama mereka untuk melihat ke dalam kehidupan otak (living brain). CT scan tersebut menggunakan berkas cahaya sempit dari sinar-X untuk memperoleh beberapa gambar dua dimensi dari otak dalam bentuk serangkaian irisan, atau lintas-bagian (cross-sections). Dari gambar ini, sebuah komputer dapat menghasilkan gambar tiga dimensi otak, sehingga memungkinkan untuk menganalisis struktur internal otak. Hari ini, tiga alat paling penting yang digunakan dalam penelitian otak adalah positron emission tomography (PET) scan, functional magnetic resonance imaging (fMRI), dan quantitative electroencephalo-gram (qEEG).

PET scan menghasilkan gambar tiga dimensi proses fungsional dalam tubuh berdasarkan deteksi radiasi dari emisi positron (partikel kecil yang dipancarkan dari zat radioaktif yang diberikan pada subjek di kombinasikan dengan glukosa). Sebagai subyek yang terlibat dalam berbagai kegiatan kognitif, tingkat catatan/ rekaman pemindaian (scan) pada daerah-daerah tertentu dari otak, menggunakan glukosa. Rekaman ini digunakan untuk menghasilkan peta wilayah aktivitas otak tinggi (high brain) dengan fungsi kognitif tertentu.

fMRI mengukur perubahan-perubahan metabolik yang terjadi pada bagian aktif dari otak. Teknologi fMRI memanfaatkan fakta bahwa darah yang mengandung oksigen (oxygenated) akan muncul gambar pada MRI lebih baik daripada darah yang tidak mengandung oksigen (nonoxygenated). Karena daerah aktif dari otak menerima lebih banyak darah dan oksigen, ilmuwan dapat menggunakan foto fMRI untuk menentukan wilayah otak yang menunjukkan aktivitas lebih.

qEEG menggunakan teknologi digital untuk mengukur pola listrik pada permukaan kulit kepala, terutama yang mencerminkan aktivitas listrik kortikal, atau gelombang otak. Pemantauan gelombang otak ini menyediakan data pemetaan otak berdasarkan lokalisasi dan waktu yang tepat dari pola gelombang otak yang berasal dari bagian otak aktif yang terlibat dalam memproses informasi.

Semua alat ini dapat membantu pendidik memahami serangkaian langkah-langkah yang terjadi ketika siswa belajar. Jalur informasi ini dimulai ketika siswa menerima data indrawi (sensory data). Otak mereka menghasilkan pola yang berhubungan antara materi baru dengan materi belajar sebelumnya atau dengan mengintegrasikan materi ke pola sistem yang telah digunakan sebelumnya. Data yang berpola kemudian melewati daerah respons sensorik melalui sistem penyaringan limbik emosional. Sistem limbik-kelompok yang saling berhubungan dalam struktur otak yang terlibat dalam penciuman (olfaction), emosi (emotion), motivasi (motivation), perilaku (behavior), dan berbagai fungsi otonom-memiliki pengaruh kuat pada pembentukan memori. Setelah melewati sistem limbik, data dibawa ke memori penyimpanan neuron (jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang). Dari penyimpanan memori neurons, seluruh lapisan luar otak (cerebral cortex) [lapisan permukaan otak kecerdasan dari otak besar (cerebrum) yang mengkoordinasikan informasi inderawi dan motorik], informasi ini dapat diaktifkan dan dikirim ke daerah fungsi eksekutif lobus frontal. Daerah ini adalah tingkat tertinggi  terjadinya manipulasi kognisi dan informasi-membentuk penilaian (forming judgments), memprioritaskan (prioritizing), menganalisis (analyzing), pengorganisasian (organizing), dan konseptualisasi (conceptualizing).

Otak Kecerdasan (Gray Matter)

Dasar dari semua memori adalah perubahan kimia yang terjadi di neurons. Sebagian besar saraf otak yang terletak di serebral korteks, lapisan terluar otak. Daerah ini juga dikenal sebagai otak kecerdasan (gray matter) karena warna gelap (darker color) neuron, dibandingkan dengan materi putih (white matter) yang lebih ringan terutama terdiri dari sel-sel, akson dan dendrit yang terhubung dan saling mendukung yang membawa informasi ke dan dari neuron. Setiap lobus dari otak ditutupi oleh serebral korteks yang dikemas dengan neurons. Lobus otak yang mengelilingi korteks akan menengahi penentuan Aktivitas sadar saraf korteks, seperti bahasa, pidato, persepsi, atau aktivitas motorik. Neuron mengendalikan proses fungsi eksekutif sebagai perencanaan (planning), pemecahan masalah (problem solving), dan analisis (analyzing) yang terkandung pada lapisan korteks yang mencakup lobus frontal.

PENELITIAN OTAK YANG MENJANJIKAN

be continue ……………………………!

 

(Judy Willis MD. Brain-Friendly Strategies For The Inclusion Classroom. ASCD publishing. 2007.)

=semesta brain=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: