berpikir kimia

‘Ketika Pendidikan Hanya Menghasilkan Air Mata’ untaian kata ini merupakan kritik lembut tapi pedas, sarat akan makna filosofis, sepenggal kalimat yang diambil Andreas Harepa [2001], dalam merefleksikan pergeseran makna ‘pendidikan’ sebagai satu konsekuensi atas hilangnya proses ‘pembelajaran’ yang begitu mengiris universalitas pendidikan global sekarang ini.

Sebuah entropi [kekacauan] pendidikan ini telah mengotori serta merubah kemurnian suatu makna dan etika pembelajaran sehingga lepas dari kadar kemanfaatan [nilai dan tujuan] yang sesungguhnya. Di sinilah letak kemerosotan nilai-nilai proses pembelajaran yang tidak mengena pada esensinya, pendidikan disamakan dengan pengajaran, belajar disamakan dengan sekolah. ‘Kecerdasan’ sekaligus sebuah kebodohan yang sangat eksklusif [tertutup], bahkan pendidikan hanya sebuah komoditi ambivalensi dalam mengimplementasikan gagasan intelektual. Belajar berputar arah 1800 menjadi sistemik education yang dinamakan sekolah,  sebuah distorsi pemaknaan yang telah memperkeruh kesucian proses pembelajaran. Sadar atau tidak secara holistik [pendekatan humanis] pembelajaran telah terkikis, tergilas serta telah melemahkan ‘syahwat’, ‘kelamin’ dan entalpi [energi] pembaharuan akal. Terlepas dari itu semua, mau tidak mau, kita harus mampu merumuskan  kembali paradigma baru [new conceptual paradigmatic] serta memulihkan kejernihan pemikiran pendidikan [rethinking of education]. Seberapa besar ruhiyah/spirit [kekuatan] intelektual memberikan kontribusi [menyerap] energi sehingga menambah ‘kekuatan entalpi’ [endoterm] atau malah kehilangan [melepaskan] energi yang dapat ‘melemahkan entalpi’ [eksoterm] pembelajaran. Inilah yang perlu untuk kita analisis, mampukah kita me-rekristalisasi [memurnikan kembali orisinalitas pemikiran] neraca berfikir dengan kekuatan entalpi [semangat baru dengan memberdayakan potensi] pembelajaran yang masif.

Entalpi itulah yang akan terus membakar spirit [semangat] ‘belajar’ yang mampu meretas  mentalitas ketajaman nalar dan intelektual sebagai refleksitas berfikir ilmiah yang rasional sebagai pengejawantahan makna “berfikir kimia” yakni pemahaman konseptual paradigmatik yang didasarkan pada ketajaman analisis secara kritis dalam mengungkap realitas eksternal maupun internal, serta mampu mengungkap problematika kehidupan berdasarkan data, fakta, yang dideskripsikan dengan sketsa intelektual, pengendalian nilai-nilai moral dan etika yang ‘tidak bebas nilai’. Hal inilah yang akan melahirkan sebuah integritas spirit mentalitas [nalar dan intelektual] bepikir kimia.

Sept 2003

=semesta kimia=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: