orisinalitas berpikir sains

“………..agar buah ciptaan dari pemikiran kita merupakan berkah, dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan.  Janganlah kau lupakan hal ini di tangan tumpukan diagram dan persamaan.(Einstein kepada muridnya, 1938)

Itulah wasiat [ajengan] Einstein  kepada muridnya, yang telah membuat asimtot [ketersinggungan] tersendiri baik secara individual (unsur) maupun sosial (senyawa), horizontal maupun vertical (transenental), dengan bahasa yang lugas, sederhana tetapi sarat akan makna, yang tentunya masih relevan untuk kita renungkan kembali melihat kondisi kultur sosial yang telah menjejali berbagai ilmu pengetahuan tanpa adanya filtrasi, sehingga mengharuskan kita untuk me-rekristalisasi (menjernihkan kembali) nilai–nilai moralitas yang telah terkontaminasi oleh entropy peradaban ini. Sedikitnya mampukah kita untuk mengkonfigurasikan ide, gagasan pemikiran-pemikiran kreatif, sebagai upaya awal menemukan kembali ‘jatidiri’ maha-siswa sebagai kaum intelek yang selama ini ‘tergadai’. Sebagai “kader intelektual akademik”, tua atau pun muda sama saja, hanya berbeda pada tingkat relativistik, mari bergegas bersama, mempertanyakan kembali posisi strategis sebagai insan intelektual akademik yang senantiasa berpikir ilmiah, progresif dan inovatif serta mengedepankan nalar dan intelektual kita khususnya dalam menoreh Orisinalitas berpikir sains.

Sebab itulah yang sehari-hari kita dengungkan dalam pembelajaran kimia sebagai satu kode etik ilmiah [metoda ilmiah] yang senantiasa menjadi pijakan pengembangan integritas keilmuan [integrity of knowledge] dalam merepleksikan pemikiran yang selalu merujuk pada pilar kajian teoritis dan kajian empiris yang merupakan pertautan antara  akal (intelektual) yang dapat membedakan nilai-nilai baik dan buruk dan bebas dari peniruan buta serta me reka-reka [tidak bebas nilai] dengan akurasi data, fakta yang dilakukan oleh indra-indra eksternal (melalui pengamatan dan ekpserimentasi). Sebagai upaya mencari sinkronisasi rasionalitas berpikir.

Pertama. Kajian teoritis,  pertanda awal muncul suatu ilmu pengetahuan tidak terlepas dari penalaran logika (teori) sebagai suatu kerangka berpikir alamiah yang melepaskan penjejalan mitos-mitos yang mendahuluinya. Sebuah teori mutlak harus dimiliki, masalahnya adalah apakah sebuah teori memilki kebenaran yang mutlak ?

Maka ada Prinsip penting yang diterapkan dalam teori “Kita tidak menyatakan bahwa terdapat lebih banyak hal dalam teori kita selain keterangan minimum yang diperlukan untuk memberikan jawaban atas suatu penomena”. Inilah yang dikenal dengan prinsip penghematan [principle of parsimony] atau pisau cukur ockham. Diambil dari nama Seorang filsup abad pertengahan William of Ockham (1285-1349).

Landasan teoritis dalam pembelajaran sains [Bilkhusus Kimia], berusaha mengungkapkan suatu sifat serta gejala alam menggunakan hukum-hukum fisika dan matematika, yang merupakan sebuah aksioma penalaran ‘berhitung’ sebagai pengejawantahan teoritis yang ilmiah dan rasional. Untuk itu suatu teori perlu memilki konsistensi secara internal atau konsisten dalam suatu kelompok tertentu  serta bersifat umum dan meliputi semua bukti. Artinya bahwa penguasaan suatu teori mutlak adanya karena hal ini mengindikasikan bahwa ketika seseorang berteori berarti orang itu sedikitnya memiliki ilmu tentang teori tersebut serta penalaran intelektual (supra sensori) dalam mempersepsi realitas [baca : Q.S 16 :10-11, QS 6 : 97, Q.S 16 :2, QS 39 : 21, Q.S 6 : 98).  [Mehdi Golshani :78]

Akhirnya aku terbawa kepada kesimpulan bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan dengan formulasi-formulasi teori yang isinya adalah pengertian dan bentuknya adalah alat-alat intelektual. [Ibn abi usaybiah, thabaqat Al-Thibba, 522].

Kedua , Kajian Empiris: upaya untuk menemukan keteraturan data berdasarkan fakta yang ada dialam. Hal ini dapat dilakukan dengan pengamatan (observasi) dan eksperimentasi melalui indra indra eksternal sebagai alat untuk mendapatkan pegetahuan serta validitas dalam mengungkap realitas eksternal (baca : QS. 29 : 20, QS. 88 : 17, QS. 26 : 7).[Mehdi Golshani :75]. Itulah kunci berpikir sains yang selalu melihat fakta objektif yang kemudian merenungkannya (kontemplasi) melalui penalaran akal. Oleh karena pengetahuan sains merupakan pernyataan-pernyataan yang hanya dapat diverifikasi dengan metoda-metoda eksperimental (pemahaman awal), disisi lain bahwa realitas eksterrnal (data, fakta hasil pengamatan) hanyalah sebuah daftar atas representasi dari reaksi-reaksi yang terjadi pada fenomena fisis yang mumungkinkan terjadi suatu ‘pergeseran’ maka pemaknaan akan fenomena fisis yang belum tentu mengandung informasi secara ekspilisit, masih memerlukan suatu penafsiran tentunya menggunakan nalar dan intelektual.

Ada nilai-nilai filosofis penting yang dapat kita ambil dari kajian teoritis dan empiris ini bahwa tatkala banyak orang yang  men-justifikasi kebenaran sebuah pemikiran (teori) tanpa melihat realitas (data kongkrit secara empirik) dilapangan atau membenarkan sebuah pendapat tanpa memperhatikan nilai-nilai akademik (academical value) dalam arti moral dan etika [bebas nilai]. Maka bagi kita sebagai kader intelektual pendidikaan kimia, senantiasa terbiasa melakukan langkah-langkah ilmiah dan rasional  [metoda ilmiah] dalam mengungkapkan sutau permasalahan yang ada dalam pikiran kita, setidaknya setiap tindakan dan sikap dalam mengambil keputusan akan selalu ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pemahaman terhadap kedua pilar tersebut diharapkan mampu menciptakan equilibrium (kesetimbangan) antara pengamatan, observasi (menghasilkan data, fakta,  yang akurat) dengan intelek (supra sensori) dalam mendeskripsikannya, sehingga tercipta sebuah paradigma berpikir [paradigm of thinking] baru yang tepat sasaran, tingkat rasionalitas yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Akselerasi intelektaul-pun (kognitif, supra sensori) akan selalu diimbangi dengan kemampuan sikap (afektif), dan spiritualitas sebagai pengendali kepekaan analyisis terhadap suatu pengamatan . Penilaian tehadap Ilmu pengetahuan (sains) pun tidak terbatas pada penilaian fakta-fakta akan tetapi menyangkut juga masalah penilaian atas ‘value’. Sebuah ilmu pengetahuan adalah hal yang ‘tidak bebas nilai’, ilmu pengetahuan perlu dibingkai dengan nilai-nilai moral atau kemausiaan sehingga dapat mempertimbangkan ‘manfaat, kebaikan, keburukan dan juga bagaimana memperbarui serta menyempurnakannya’ (realitas internal) [baca : ESQ].

2004
=semesta kimia=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: