Hukum Pertama Termodinamika; Abadi?? No…! =2=

c. Argumentasi Filosofis Gerak Tran-substansial Mulla Shadra Terhadap Hukum Pertama Termodinamika; Materi tidak diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan

Untuk memahami gerak trans-subtansial Shadra, alangkah baiknya menyimak ulasan cermat Fazlur Rahman yang menyatakan bahwa:

Teori gerak shadra merupakan suatu hal yang baru dalam sejarah pemikiran Islam, yang didasarkan pada konsep struktur peristiwa-peristiwa ruang waktu yang kontinu (a continuous structure of spatiotemporal event). Badan-badan dapat dicairkan dan di analisis ke dalam suatu faktor potensialitas gerak murni yang disebut materi dan suatu faktor mengaktualisasikan, yang disebut “forma fisika” atau “hakikat jasmani” yang secara terus menerus berubah dan menimbulkan suatu kontinum ruang waktu, dalam arti bahwa tidak ada ruang dan juga tidak ada waktu yang eksis secara independen, melainkan keduanya merupakan fungsi-fungsi atau aspek-aspek gerak kontinu yang terintegrasi (Husain Heriyanto, 2003:164).

Bagi para filosof sebelum Shadra, terutama Tradisi Aristotelian (kaum peripatik) berpendapat bahwa perubahan atau gerak itu hanya terjadi pada empat kategori aksiden, yaitu kuantitas (quantity), kualitas (quality), situasi dan tempat (place). Dalam perubahan-perubahan itu, substansinya tetap. Perubahan aksidental pada dasarnya hanyalah pergantian dari satu aksiden ke aksiden lain, yang sebenarnya sudah ada secara potensial dalam substansi itu sendiri seperti diktumnya hukum pertama termodinamika bahwa unsur materi-energi lah yang berubah dari satu bentuk atau struktur ke bentuk atau struktur yang lain, sedang karakteristik atomik aslinya (esensi-nya) tidak hilang dalam situasinya yang baru (kekal). Jadi sebenarnya substansi itu sendiri tidak mengalami perubahan. Namun Shadra menolak gagasan ini. Baginya, gerak bukan transformasi atau perubahan bentuk, melainkan trans-substansi atau perubahan substansi. Alasan Shadra di dasarkan pada dua prinsip ontologi sebelumnya bahwa realitas itu adalah eksistensial sehingga substansi realitas atau eksistensinya sendiri haruslah dalam gerak. Gerak dari potensialitas ke aktualitas sesuatu (thing) hanyalah sebuah gagasan abstrak dalam pikiran, sementara eksistensinya sendiri dalam keadaan perubahan terus-menerus mengalami perubahan substansial.

Shadra menyatakan bahwa karena gerak (motion) itu berarti perpindahan (moving) sebagai kata kerja, yakni suatu “kebaruan dan kemenjadian yang kontinu”, dari bagian-bagian gerak, maka adalah tidaklah mungkin bahwa sebabnya yang langsung harus sesuatu yang tetap atau wujud yang abadi. Karena suatu entitas yang tetap atau abadi mengandung pada dirinya fase-fase gerak yang dilalui sebagai kenyataan saat ini (as a present fact), dan kebersamaan melewati fase-fase itu sama dengan stabilitas, bukan gerak. Oleh karena itu gerak tidak dapat dibangun atas entitas yang tetap. Entitas seperti itu memiliki esensi yang tetap, tetapi bukan eksistensi yang tetap yang sama sekali terdiri dari perubahan dan mutasi. Jadi, di bawah perubahan aksiden-aksiden, terdapat suatu perubahan yang lebih fundamental, yaitu perubahan-dalam-substansi (change-in-substansi), yang melalui perubahan pada forma-forma material, maka semua perubahan pada aksiden semuanya dapat dilacak. Semua badan, baik langit (celestial) ataupun material (dunia sublunar), merupakan subjek perubahan substansial ini dalam wujud mereka. Hal ini membuktikan bahwa seluruh ruang-waktu secara temporal berawal sejauh eksistensinya terus diperbarui setiap saat (Fazlur Rahman dalam Husain Heriyanto, 2003:166).

Jadi, dalam gerak trans-substansial eksistensi materi-energi itu selalu bergerak tercipta terus menerus ke satu arah menuju kesempurnaan.

Melalui prinsip gerak trans-substansial, wajah alam semesta Aristotelian sama sekali berubah. Menurut prinsip ini, alam sama dengan gerak. Waktu tergantung pada ukuran kekuatan gerak trans-substansial ini. Mulla Shadra membuktikan bahwa substansi alam raya senantiasa bergerak; tidak pernah ada kekonstanan sesat dan keseragaman dalam subtansi alam. Aksiden-aksiden, sebagai fungsi dari substansi, juga berada dalam gerak. Alam sama dengan gerak, dan gerak sama dengan penciptaan (creation) dan pemusnahan (extinction) yang tak henti-hentinya, terus menerus (Muthahari dalam Husain Heriyanto, 2003:167).

Menurut Fazlur Rahman, “sesuatu” (thing) bagi Shadra adalah sebuah “struktur peristiwa” (structure of event) partikular. Kontinuitas gerak memungkinkan pengelompokan sistem-sitem peristiwa tertentu  ke dalam konsep mental atau esensi. Dalam realitas tidak ada sesuatu kecuali aliran forma-forma dan, karena aliran ini satu arah dan tidak dapat dibalik, masing-masing forma yang berurutan ‘mengandung’ seluruh forma sebelumnya dan melampaui mereka. Gerak terjadi dari yang lebih umum dan tidak menentukan, berkat kemunculan diferensia yang berurutan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa “perubahan” materi-energi pada hukum pertama termodinamika dalam pandangan Shadra itu terjadi bukan pada aksidensialnya tetapi pada perubahan substansial. Karena perubahan (gerak) materi-energi itu sama dengan penciptaan (creation) dan pemusnahan (extinction) secara terus menerus. Jadi, materi-energi itu mengalami perubahan (gerak) atau keterciptaan dan kemusnahan secara terus menerus, maka materi tersebut setiap saat tercipta dari ketiadaan, dan musnah setelah ia ada. Oleh karena itu, materi membutuhkan penyebab immaterial (di luar materi).

d. Titik Temu Argumentasi Filosofis Atomistik Asyariyah dan Gerak Tran-substansial Mulla Shadra

Terdapat persamaan antara gerak trans-substansial Shadra dan gerak pada atomisme Asyariyah terutama dalam memandang keterciptaan dan kemusnahan materi-energi yang menolak gagasan hukum kekekalan materi-energi. Atau dengan kata lain materi-energi itu tercipta dari ketiadaan dan musnah setelah ada.  Hal ini berarti bagi Shadra dan Asyariyah, materi-energi itu tidak lah abadi sehingga membutuhkan penyebab atau pencipta.

Perbedaannya, argumentasi filosofis gerak trans-substansial shadra melihat gradasi otologis itu bersifat kontinu (tidak terputus) membentuk jenjang-jenjang eksistensi, yang tak terhingga, tak terhitung, membentang dari ketiadaan hingga Ada sempurna. Sehinga Shadra memandang penciptaan materi-energi sebagai kontinuitas evolusioner. Sedangkan pada metafisika atomistik Asyariyah, perubahan (gerak) antar dua titik mengalami diskontinuitas (keterputusan) karena hilang (lenyap) ketika berada diantara keduanya sebelum tercipta kembali pada titik yang kedua. Sehingga teologi atomisme asy’ariyah memandang penciptaan materi-energi sebagai diskontinuitas.

Penjelasan tersebut menggugurkan argumentasi materialisme tentang keabadian materi-energi dari hukum pertama termodinamika. Dengan demikian berarti bahwa materi tercipta dan musnah secara terus menerus mengharuskan adanya sang creator yang bekerja tanpa henti dan tentunya harus yang immateri (diluar materi). Itu adalah Allah swt, dzat yang Maha Kuasa, penyebab utama (Causa prima) atas keber-ada-an segala sesuatu.

=semesta kimia=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: