Hukum Pertama Termodinamika; Abadi?? No…!

a. Argumentasi Filosofis Materialisme terhadap Hukum Pertama Termodinamika

Hukum pertama termodinamika menegaskan bahwa energi tidak diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi energi hanya dapat berubah dalam bentuk energi yang lain (DU = q + w). Sesuai ungkapan Einstein yang terkenal bahwa energi adalah massa yang mengalami percepatan sehingga menimbulkan konversi (E = m c2). Dari sini dapat ditarik benang merahnya bahwa massa sebagai kualitas materi sekaligus juga merupakan energi tidak terciptakan dan tidak dapat termusnahkan. Oleh sebab itu, materi dan energi adalah abadi.

Argumentasi kekekalan materi-energi dapat terlihat seperti pada contoh pembentukan H2O. Kalau molekul air itu tercipta dengan susunan H2O, maka unsur H dan O tidaklah musnah, sehingga terciptalah molekul air. Sesungguhnya, materi itu tidak dapat musnah dan tidak dapat diciptakan. Yang musnah dan yang diciptakan adalah bentuk aksidensi dari materi berdasarkan perubahan kimia dan fisika saja. Atau dengan kata lain, bahwa unsur materi-energi lah yang berubah dari suatu bentuk menjadi bentuk yang lain serta berganti dari suatu struktur menjadi struktur yang lain, sehingga karakteristik dan elemen fisiknya juga berubah. Namun hal itu tidak membuat karakteristik atomik aslinya (esensi) hilang dalam situasinya yang baru, tidak berubah dari ada menjadi tiada, lalu dari tiada menjadi ada, dengan kembali kepada proses awalnya.

Hal ini menunjukan bahwa yang terjadi dalam setiap peristiwa dan perubahan materi adalah bentuk aksidensial dari materi. Sedangkan materi dalam esensi aslinya terdapat dalam jati diri materi tersebut dan bukan dalam bentuk aksidensialnya. Pandangan tersebut tidak lain merupakan konsep dasar substansi-aksiden dari perubahan (gerak) metafisika Aristotelian (peripatik) bahwa perubahan (gerak) itu hanya terjadi pada kategori aksiden atau atribut dari suatu substratum yang tetap. Perubahan (gerak) pada aksiden ini tidak dapat menciptakan perbedaan esensi materi yang bergerak. Tidak jauh berbeda dengan Descartes (meskipun pendekatannya berbeda) bahwa ontologis Aristoteles berangkat dari entitas-entitas konkrit sedangkan Descartes dari entitas cogito sebagai satu corak pandangan yang mewakili paradigma mekanistik bahwa keseluruhan itu identik dengan jumlah dari bagian-bagiannya. Sehingga secara esensi, materi itu abadi.

Apabila penjelasan hukum pertama termodinamika ini menunjukan sisi filosofisnya, maka inilah argumentasi ilmiah dari keabadian materi-energi yang menjadi pendasaran filosofis bagi materialisme yang menyatakan bahwa materi-energi itu abadi, ada dengan sendirinya, terjadi secara kebetulan atau dengan kata lain tidak membutuhkan pencipta.

Kaum materialis memandang bahwa kepercayaan tentang keabadian dari Hukum Pertama Termodinamika tidak lebih sulit daripada kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan yang Maha Abadi. Akan tetapi, Hukum Kedua Termodinamika dari rangkaian teori dinamika panas menetapkan kesalahan dari argumen ini.

b. Argumentasi Filosofis Atmositik Asy’ariyah terhadap Hukum Pertama Termodinamika ; Materi tidak diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan

Bukti ilmiah dalam ilmu kimia menunjukan bahwa asal-usul materi tidaklah bersifat lambat atau bertahap, namun ia lahir dalam bentuk spontan dan  ilmu pengetahuan yang ada mampu untuk menentukan batasan waktu pertumbuhan materi tersebut. Dengan kata lain materi memiliki proses awal. Karena materi memiliki proses (batas) awal, maka dapat dipastikan materi memiliki batas akhir. Keberakhiran itulah yang menjadi tanda keterbatasan. Sedangkan kekekalan yang tidak berawal adalah tanda ketidak terbatasan atau membatasi aturan-aturan yang melingkupinya. Adanya proses awal menunjukan bawah materi tercipta dari ketiadaan dan adanya batas akhir menunjukan bahwa materi musnah setelah ada. Hal ini dapat disimpulkan bahwa perkembangan dan perubahan substansial dari materi menunjukan bahwa suatu esensi dari materi tercipta (ada) setelah ia musnah (tiada) dan musnah (tiada) setelah ia tercipta (ada), dengan kata lain materi tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi tercipta dari ketiadaan maka proses penciptaan itu haruslah dijalankan oleh kekuasaan zat pencipta yang immateri (terlepas dari materi).

Materi-Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, yang terjadi hanyalah perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Apabila di analisis, kata “perubahan” menunjukan adanya gerak dari satu titik ke titik yang lain dalam waktu tertentu. Hal ini dapat terjelaskan dengan sifat atomik dari waktu dan gerak sebagai karakteristik khas dari atomisme Asyariyah. Pandangan umum Asy’ariyyah tentang gerak adalah bahwa gerak dan diam adalah “modi” substansi. Sebuah substansi yang berpindah dari satu titik dalam ruang ke titik lain adalah diam menurut titik yang kedua, tetapi bergerak menurut titik yang pertama. Hal ini karena gerak tiba-tiba hilang pada benda itu ketika ia telah sampai pada posisi keduanya. Pada tingkat atomik kita tidak dapat berbicara tentang perpindahan (intiqal) atom yang sama dari satu titik ke titik yang lain. Tetapi kita harus berbicara tentang penciptaannya kembali pada titik yang kedua, karena ia hilang ketika berada di antaranya. Hal ini berati bahwa konsep jarak menurut fisika Newtonian tidak berlaku di sini. Kelanjutan dari teori gerak ini adalah penegasan eksistensi ruang hampa atau ketidaan. Hal ini menunjukan bahwa selang waktu perubahan bentuk materi-energi adalah waktu “keterputusan” (diskontinuitas) wujud atau kemusnahan (ketiadaan), sebelum tercipta (ada) lagi dalam bentuk materi-energi yang lain.

Atom (materi-energi) dapat lenyap secara fitrah. Asy’ariyyah berpendapat bahwa atom tidak dapat bertahan untuk dua saat. Pada setiap momen waktu atom itu mewujud dan melewati eksistensi. Durasi setiap atom (baqa’) adalah sekejap. Eksistensinya yang sementara ini dimungkinkan melalui keterlibatan Tuhan padanya melalui aksiden durasi, yang seperti aksiden-aksiden lainnya, tidak bertahan lama, dalam kata-kata al Baqilani, aksiden “hilang pada sekejap kedua keberadaannya”. Ketidakmampuan atom-atom dan aksiden-aksiden untuk bertahan lama merupakan konsekuensi langsung dari keyakinan teologis mereka bahwa Tuhan terlibat secara langsung bukan hanya dalam mewujudnya sesuatu, tetapi juga dalam kehadiran mereka dalam bentuk wujud dari satu saat ke saat lain.

Jika atom-atom dan aksiden-aksiden tercipta dan lenyap setiap saat, maka bagaimanakah kita menjelaskan fakta-fakta bahwa sejauh yang diperoleh lewat pengalaman kita, dunia seperti itulah yang esksis? Jawaban kalam terhadap pertanyaan ini diringkaskan dengan baik oleh Profesor Al-Attas:

Dunia, setelah eksistensi awalnya, tidaklah kekal atau senantiasa ada (baqa’), tetapi meninggalakan eksistensi (fana’); ia lenyap setiap saat, dan apa yang  kita amati sebagai keberadaannya adalah realitas pembaruan secara terus menerus dari bentuk yang serupa. Jadi pada setiap saat dunia membutuhkan eksistensi dan apa yang kita amati sebagai alam semesta adalah ketergantungan selamanya bagi eksistensinya pada Tuhan yang Maha Agung, yang TindakanNya tidak henti-hentinya menghadirkan dunia yang sama dari non-eksistensi ke eksistensi. Dengan cara ini kita membayangkan keberlanjutan eksistensi dunia yang sama, sementara dalam realitasnya tidaklah seperti itu (Osman Bakar, 1994:101).

c. Argumentasi Filosofis Gerak Tran-substansial Mulla Shadra Terhadap Hukum Pertama Termodinamika; Materi tidak diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan

=semesta kimia=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: