Kausalitas Hukum Termodinamika

Hukum termodinamika merupakan salah satu alat konseptual yang berguna dalam memahami sains. Termodinamika, dalam arti luas, adalah pengkajian hubungan kuantitatif antara kalor dan bentuk lain energi, seperti energi yang dikaitkan dengan gejala elektromagnet, permukaan, dan kimia. Konsep termodinamika merupakan hal mendasar yang penting bagi insinyur, ahli fisika dan ahli kimia. Sementara insinyur mungkin terutama berkepentingan dalam masalah pembakaran dan tenaga, ahli fisika dengan masalah radiasi dan elektromagnet, maka ahli kimia mempunyai sasaran utama untuk menentukan kelayakan atau kesemertaan suatu perubahan kimia (Keenan, et.all., 1999: 473) Paradigma utama termodinamika adalah kesemestaan hukum-hukumnya sehingga banyak kesimpulan fisik dapat direduksi dari beberapa hukum termodinamika. Bahkan keabsahan hukum II termodinamika atau hukum entropi yang telah terbukti secara eksperimen maupun teoritis mendapat sambutan hangat dari Albert Einstein yang menyatakan bahwa hukum entropi akan menjadi paradigma yang sangat berpengaruh di periode mendatang. Ilmuwan terbesar di masa kita ini mengakuinya sebagai “hukum utama dari semua ilmu pengetahuan”. Sir Arthur Eddington juga menyebutnya sebagai hukum utama metafisika tertinggi di seluruh jagat (Jeremy Rifkin dalam Harun Yahya: 109).

Hukum konstanta-konstanta dasar alam harus sedemikian persisnya untuk menghasilkan kehidupan ini. Proses entropi, bagaimanapun juga adalah yang memberi arah temporal pada semesta, dan membedakan masa lampau dari masa depan. Jadi, proses itu mempunyai tujuan yang jelas (teleologis). Itu bukanlah kemenangan hukum kehancuran dan ketiadaan tujuan. Proses itu memberikan keterarahan pada waktu, dan dari riak-riak serta pusaran perkembangannya, memungkinkan konsentrasi lokal energi untuk membentuk struktur-struktur yang sangat kompleks dan rumit dibutuhkan agar kesadaran dapat mencuat. Memandang entropi sebagai proses kehancuran tanpa motif hanya akan menghilangkan karakter yang sesungguhnya sebagai yang memulai dan memungkinkan konsentrasi debu-bintang, bentuk-bentuk kehidupan yang didasarkan pada karbon, yang akhirnya memahami dan mengatur setidaknya sebagian dari hakikat ruang dan waktu itu sendiri.

Pandangan tentang ruang dan waktu telah berubah karena cakrawala pengetahuan manusia telah meluas. Kata “ruang” (space) dan “waktu” (time) mempunyai dua arti. Ruang yang terasakan (perceptual space) adalah ruang di mana kita hidup dan bergerak, seperti berbagai sistem dalam kesetimbangan termodinamika. Waktu yang terasakan (perceptual time) adalah waktu yang kita alami sehari-hari. Ruang dan waktu yang konseptual adalah ruang dan waktu matematis yang diidealkan, yakni ruang dan waktu yang dimaksud para filosof (Titus, 1984:276).

Segala proses yang terjadi dalam ruang dan waktu yang terasakan memerlukan penyebab. Prinsip kausalitas adalah dasar tumpuan segala usaha pemaparan dalam segala bidang pemikiran manusia. Ini karena pemaparan dengan  bukti “tentang sesuatu” berarti bahwa jika bukti itu benar, maka adalah sebab bagi mengetahui “sesuatu” itulah yang merupakan objek pemaparan. Ketika kita membuktikan suatu kebenaran tertentu dengan eksperimen ilmiah atau dengan suatu hukum filsafat atau dengan persepsi inderawi sederhana, sebenarnya kita hanya berusaha agar bukti tersebut menjadi sebab diketahuinya kebenaran itu (Muhammad Baqir Ash Shadr, 1995:211).

Kalau membuang hukum-hukum kausalitas dan tidak mempercayai keniscayaan adanya sebab-sebab tertentu bagi setiap kejadian, tentu tidak akan ada hubungan antara bukti yang disadari dan kebenaran yang diusahakan untuk mendapatkannya dengan bukti ini. Tetapi kemungkinan bahwa bukti itu benar tanpa memandu ke hasil yang dikehendaki, karena hubungan kausal antara bukti dan hasil, antara sebab dan akibat, itu telah terputus.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) prinsip kausalitas tidak mungkin dibuktikan dan dipaparkan secara empirik, tapi adalah prinsip yang niscaya dan rasional. 2) prinsip kausalitas bukanlah teori ilmiah eksperimental, tetapi ia adalah hukum filsafat rasional di atas eksperimen. Hal ini didasarkan pada: pertama, kausalitas tidak terbatas pada fenomena-fenomena alam yang tampak di dalam  eksperimen. Tetapi ia adalah hukum umum keberadaan pada umumnya, yang mencakup fenomena-fenomena alam (materi) serta apa yang ada di balik materi, yaitu macam-macam keberadaan. Kedua, “sebab” yang keberadaannya dikukuhkan oleh prinsip kausalitas tidak memerlukan [di] eksperimen. Ketiga, tidak adanya pengungkapan eksperimen mengenai sebab tertentu bagi perkembangan tertentu atau fenomena tertentu, tidak berarti gagalnya prinsip kausalitas.

Tidak mengherankan apabila dari prinsip kausalitas terjadinya perulangan sebab dan akibat. Akibat memerlukan penyebab, penyebab memerlukan penyebab lagi, begitu seterusnya. Mengapa segala sesuatu membutuhkan sebab?

Kausalitas adalah hukum umum mengenai wujud (ada), sebagaimana dikukuhkan eksperimen-eksperimen ilmiah. Berasumsi bahwa wujud (dalam hal ini energi dan massa materi) tidak memiliki sebab (ada dengan sendirinya serta tidak dapat dimusnahkan) bertentangan dengan hukum tersebut. Karena itu, asumsi seperti itu adalah semacam kepercayaan terhadap adanya “kebetulan” (sebagaimana yang diyakini kaum materialis) yang tidak ada ruang dalam sistem umum alam semesta.

Teori penciptaan menganggap bahwa butuhnya segala sesuatu akan sebabnya itu bersandarkan pada penciptaan hal-hal itu. Energi dan massa menuntut adanya sebab bagi keberadaannya. Berdasarkan teori tersebut, prinsip kausalitas menjadi terbatas pada peristiwa-peristiwa tertentu. Jika sesuatu itu “ada” secara terus menerus dan permanen, dan tidak mengada sesudah tidak ada, maka padanya tidak terdapat kebutuhan akan sebab, serta tidak masuk ke dalam alam khas kausalitas.

2 Responses to “Kausalitas Hukum Termodinamika”

  1. thanks ats sharingnya…

  2. sama-sama. smoga bermanfaat..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: