Kesalinghubungan

Hukum termodinamika yang mengingkari keterciptaan energi dan materi bertentangan dengan prinsip kausalitas dan teori penciptaan, baik secara argumen filosofis maupun saintis. Alam semesta yang sedemikian teratur menandakan adanya pengatur. Prinsip kausalitas mengakui adanya penyebab dari segala sebab. Aristoteles menyebutnya sebagai adanya penyebab pertama (causa prima). Sains mutakhir berargumen bahwa awal penciptaan alam semesta yang berupa energi dan massa dimulai pada titik singularitas yang disebut big bang. Dalam keyakinan penulis, pencipta sebab adalah sesuatu yang immateri yakni Allah Swt. sebagaimana banyak termuat dalam berbagai ayat qouliah sebagai teks suci penanda adanya semesta.

Dalam hal ini penulis berbeda pandangan dan keyakinan dengan kaum materialis yang bertauhidkan bahwa keterciptaan alam semesta merupakan kebetulan semata, tidak terencana serta tidak direncanakan. Ada begitu saja sebagaimana adanya. Bukankah konsep dan teori kebetulan lebih rumit serta lebih abstrak daripada mengakui adanya pencipta energi dan massa ini? Bukankah energi, massa, panas dan sebagainya memerlukan media ruang yang tidak terlepas dari konteks alam semesta?
Krisis persepsi manusia modern dalam memandang alam semesta telah mengakibatkan banyaknya kerusakan habitat dan ekosistem. Secara langsung atau tidak dampaknya akan berakibat pula pada manusia. Dalam hal ini teori dissipative structures dan paradigma holistik lebih manusiawi dalam memandang alam. Alangkah bijaknya apabila memandang alam laksana satu kesatuan tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit maka yang lain juga akan mengalami kesakitan. Kesaling terhubungan antar satu elemen semesta ini akan memperkokoh cara pandang dan kegiatan manusia selaku pemegang amanat Allah Swt. yang dibebani kewajiban mengurus alam semesta.

Interpretasi-interpretasi kandungan isi (contents) dalam berbagai buku teks pelajaran secara filosofis dan saintis yang mendalam laksana konsep kromatografi yang harus memisahkan galat (pengotor) yang menempel zat murni. Oleh sebab itu interpretasi tidak dimaksudkan anti terhadap pandangan sains mengenai fenomena alam. Kekhawatiran penulis adalah menempelnya berbagai macam aliran filsafat terhadap kemurnian sains, atau meluruskan sains yang berkecenderungan menjadi saintisme.

Agama, sains, dan filsafat adalah juru bicara Tuhan di muka bumi ini.

=semesta kimia=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: