penggenggam

Seperti biasa langit teteskan air matanya diwaktu senja iringi perjalanan pulang menuju tempat peristirahatan setelah seharian penuh beraktivitas tanpa lelah. Air mata yang selalu ingatkan semesta dalam duka hadirkan bencana dimana-mana, banjir bandang wasior di papua barat 4 oktober 2010 lalu bukti nyata duka semesta, entah karena serakahnya manusia ataukah marahnya alam raya. Alam seolah sudah tak bersahabat bak tak bersahabatnya laku congkaknya manusia mengeksploitasi alam semesta sesuka rasa. Inikah balasan semuanya?? alam telah ajarkan manusia tuk senantiasa cerminkan hati dalam laku langkah nan bijaksana bahwa mereka pun hidup sempurna bukanlah benda mati yang terkubur dalam peti. Air mata,, ya air mata, bahkan bagi para remaja air mata itu telah ingatkan suka cita dan cinta masa lalu secepat kilat ia gelindingkan hati terpesona akan indahnya kenangan masa lalu laksana taburan bintang yang hiasi langit-langit sehingga nampak seperti lukisan picasso, van gogh, affandi atau davinci yang penuh warna guratan seni misteri yang terpancar dari hati. Kini ia hadir cinta pun melesat berganti pilu. Air mata pun menampakkan keagungannya, bagi sebagian orang memaknainya dengan penuh haru karena air mata itu tandai rindu setelah lama tak bertemu antara aku dan dia yang dulu sempat menyelinap dalam benak dan kini hadir tuk hilangkan rasa penat. Atau bahkan sang ibu dengan kesabaran, ketelatenan dan kebijaksaannya, tak pernah ada goresan sedikitkpun di pikiran dan hatinya tuk sakiti atau bahkan memarahi anak semata wayangnya sejak bayi mungil hingga beranjak remaja lalu dewasa selain dekapkan rahimnya korbankan jiwa raga dalam tetesan air mata harap bahagia, hanya itu air mata bahagia. Yang terkadang sesekali terlupakan bahwa hingga detik ini ia, air mata ibu yang berdarah-darah itu telah wujudkan raga dalam kesempurnaan jiwa tiada tara. Air mata ibu yang selalu sucikan hati lumatkan kotoran diri. Karena keridloan sang ibu itu penanda ridlo sang penggenggam air mata itu kelak. Air mata itu selalu hadir dalam suka pun duka, sungguh sempurna.

Tak salah bila kita SELAMI air mata yang senantiasa pancarkan cahaya atom-atom kehidupan yang mengalir bak butiran-butiran kristal di lautan luas dalam sujud syukur penuh deru. SALAMI air mata tuk hangatkan senyawa dua raga yang senantiasa sabarkan jiwa hilangkan sepi dalam sunyi, hadirkan tawa dalam suka. SULAMI air mata yang selalu tanamkan rindu surga bak tenunkan benang sutera dalam campuran geliat rona wajah ceria iman semesta raya.

Tibalah di kamar dengan serakan kitab kehidupan alias buku-buku produk peradaban yang belum sempat tertata rapi setelah di lempar sana-sini mencari jawab tanya sesaki kepala, atau malah sesekali menjadi bantal setia penghangat dinginnya malam selimuti diri dalam kelam. Air mata itu pun mengendap, mengering bak tanduskan tanah padang pasir dalam gersang. Tanah yang menjadi tempat kelahiran manusia sehingga hidup gentayangan dalam reka warna, cita rasa, dan bentuk rupa yang beragam semarakan semesta raya. Tanah yang tat kala hujan tiba, selalu bersyukur karena ia akhirnya dapat merasakan seduhan manisnya air madu surga tuk suburkannya, hilangkan gersang sempurnakan alam sampai alirkan air itu melalui urat-urat nadinya hingga dirasakan akar-akar pohon yang merambat sekuat ikatan kimia menjadikannya semesta bertautan dalam reaksi kimia yang begitu setimbang, tanah pun meminumnya tanpa ragu hingga reda menghentikannya. Tanah yang setiap detik, menit, jam, hari selalu terinjak-injak tanpa sakit, ia tetap bersabar menahan dan menyanggah ratusan, jutaan, miliaran, bahkan triliunan beban yang menempel di pundak permukaannya, dengan lapang dada sang tanah menerima dan menjalaninya tanpa keluh kesah. Hanya saja pongahnya manusia, dalam kelakar tawa tunjukan kekuasaannya seolah ilmu pengetahuan yang dikuasainya merajai semesta tanpa batas lupakan sang tanah dengan tanpa berpikir lebar ia hancur leburkan tanah dalam sekejap disulapnya menjadi gedung-gedung bertingkat, pabrik-pabrik dibangun hasilkan kepulan asap yang dikeluarkan dari cerobong atau bahkan aliran limbah sisa-sisa gilasan produk tanpa ragu di buang, tanah pun basah kuyup bermandikan limbah. Sungguh tak ada yang peduli padaku kata ‘tanah’. Tanah seolah tak ada harganya, murah bak sampah, runtah yang berserakan disana-sini di sudut kota tanpa raut muka yang tampakkan pucat dalam duka. Sekali kutunjukan energi tanahku, ku goyangkan sedikit semesta ini, gempa pun terjadi diamana-mana, hempaskan penghuni bumi dalam retak tercacah menjadi partikel-partikel atom yang berhamburan tanpa ikatan. Tanah di bumi luas ini pun tunjukan kedahsyatannya bahwa manusia yang pongah itu tak ada apa-apanya. Inilah balasan yang sesungguhnya. Aku ini tak diam, aku pun mampu berbicara lantang, kata tanah. Kalau lah manusia mampu melapangkan dadanya selapang tanah menghamparkan dirinya di permukaan bumi, begitu damai semesta ini bercengkrama, menjalin ikatan kimia kokohkan semesta dalam tunggal, sempurnakan syukur dalam tenang bak setimbangkan reaksi kimia di bumi hingga enggan menghancurkan dirinya dalam sembur. Karena sesungguhnya, syukurnya manusia itu untuk kesempurnaannya sendiri, sedangkan serakah dan kufurnya  tak mengurangi kekayaan dan kemuliaan sang penggenggam tanah.

Tak terasa, kopi hangat pun surut bermuara di samudera perut, malam pekat pun memaksa gelindingkan tubuh dalam tanah busa berbalut sarung tipis, mata pun merapat heningkan malam sunyi dalam senyap.

=semesta kimia=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: