Hembusan udara lembutmu ibu

Selepas shalat jum’at, harap gembira menghembus menusuk dada dengan lembut bak tiupan angin sepoi-sepoi menelisik sekujur tubuh, kibaskan gerah hilangkan lelah. Hembusan udara yang lembut, selembut sentuhan hati sang ibu yang selalu rela dan ikhlas melayani dan meninabobokan kerewelan mulutku, kekasaran tingkahku, kekerasan kepalaku, keinginan dengan segudang permintaan pun makian yang tak pernah disadari hal itu terjadi berulang-ulang hingga kini. Tanpa sadar, kata maaf terlontar dibenak tiba-tiba dalam duduk hening tatap semesta nan seksama. Hanya saja kerap kali kata maaf di mulut menghapiri, pun terbata tak mampu berkata-kata bak pintu yang terkunci rapat tatkala bersua dengan ibu didepan mata. Maafkan aku, bisikan udara hembuskan ditelinga sujudku menguatkakku tuk berterima kasih untukmu karena kau kini hadirkanku dalam satu titik kesempurnannya. Dulu kau teteskan air mata, asuhku dengan ketulusanmu  hingga dewasa pun sisakan aliran itu dalam tanyamu siapa cinta setiaku yang kelak kan  bawa ke surga, namun kini ku hanya berharap kau ibu harus hirup udara dengan nafas segarmu, di ujung batas usiamu yang semakin berkurang. Tetesan mu itu alirkan air mata darahku tak henti-henti, menjadi-jadi bangkitkan bulu pori-pori menegak setegak hati yang selalu menari-nari dengan suara suci hadiahkan bakti suci untuk mu, hanya untukmu. Belum 1% pun ku berterima kasih, kalau pun nyawa korbankan untukmu hingga hancur  melebur bersama pasir pun tetap tak berharga di hadapanmu bak  hadiahkan arang dalam kemuliaan kristal hatimu, meski begitu tak surutkanku tuk tetap terjaga dalam kata-laku gerak pikir hatiku hanya karenamu, sekadar doa dan tangisan bayi mungilmu yang kini sudah hampir lepas usia berharap semoga saja satu titik di huruf kasih mu seduhkan air madu di lautan surganya, satu huruf di kata suci mu jadikan samudera fitrah kalamnya. Satu kata di kalimat teduhmu hamparkan seluruh rahmatnya. Satu kalimat di paragraf sempurnamu kokohkan semesta dirimu dalam satu cintanya. Tengadahku buat sang penggenggam tuk raih keridlanmu ibu karena ku takut murkamu hadapkanku pada murkanya, kini ku ikatkan partikel-partikel hati semesta alam dalam sujud simpuh sampaikan harap mengudara, tiupkan doa selembut sutera bersama rahman-rahimnya untukmu ibu:

Tuhanku Ya Rahman, yang Maha mencurahknan rahmat kasih sayang kepada seluruh wujud. Wahai Tuhan Yang engkau cakup segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, nampak rahmatMu pada setiap butir wujud di alam raya ini, Kami tidak melihatnya kecuali sekelumit. Ya Allah, kami membaca tanda-tanda rahmatMu yang menjadikan kami tertarik menuju kehadiratMu serta menenangkan hati kami dengan keluasan kasih sayangMu. Maka ya Allah, perlihatkanlah mata hati kami cahaya keadilanMu serta keagungan anugerahMu. Wahai Ar Rahman Wahai Tuhan Allah yang mencurahkan kasih. Wa Shallallahu ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala ‘Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam

Tuhanku, RahmantMu kepada makhluk membuktikan kepada kami keluasan surga, maka hati kami menjadi tenang bahwa Engkau Maha Pengasih terhadap seluruh alam. Engkau suka rahmat, karena itulah sifatMu, Ya Allah Tuhan kami. Kami wajar memperolehnya karena kesalahan dan kekurangan melimpah, maka Ya Allah sebarluaskan rahmatMu sehingga mata hati kami dengan rahmatMu itu menjadi tenang. Kemudian, semoga shalwat/rahmat dan kasih sayang tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan sahabat beliau. Amiin

==inspiring rahman rahim asmaul husna==

Terimakasihku tuk hembusan udara lembutmu ibu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: