Fungsikan Akal-Hatiku “Satukan Tauhidmu”

“nanti malam, boleh saya datang ke tempatmu”, sore itu ketika hujan turun deras sahabatnya nelp. Boleh jawabnya. Telp pun ditutupnya, lalu melanjutkan aktivitasnya membetulkan komputer yang sedang rusak alias tidak nyala. Komputer yang menjadi teman kesehariannya mengekspresikan perjalanaan detik hidupnya atau diari yang mampu berinteraktif secara proaktif melalui jejaring face book atau blognya meskipun terkadang ia isi dengan tulisan yang sedikit ngawur, namun tetap sedikit menyentuh hati (harapnya). Komputer sebagai produk zaman yang menjadi kitab suci peradaban modern hingga dalam bentuknya yang paling kecil, sejenis hand phone telah mampu mengakses informasi yang nun jauh disana menjadi dekat sedekat kekasih yang selalu hadir di benak melampau ruang dan waktu nan sejuk hiasi hati. Sesaat terkadang kita pun dibuatnya marah tatkala komputer atau hand phone itu tak mampu lagi mengakses internet karena koneksi yang terputus, terlebih jika komputer itu rusak. Kita menyebutnya mati,, mati,, ya mati. Mati tak lain adalah tidak berfungsinya unsur-unsur atau komponen yang mengintegrasikannya menjadi satu kesatuan system yang mampu bekerja maksimum. Satu saja komponen itu terputus dari sekian ratus komponen yang saling sengkarut akan mempengaruhi jalannya system sehingga tidak berfungsi maksimal. Begitu pula tatkala kita memakai motor atau mobil kemudian mogok alias tidak nyala, kita menyebutnya mati atau tak hidup, mungkin karena bensinnya habis, businya jelek, mesinnya rusak, atau bagian chasis dan kelistrikannya tidak berfungsi. Ketika system itu berfungsi maka dengan tegas kita menyatakan bahwa komputer, hp, motor, mobil itu hidup. Atau dalam wujud yang benar-benar tampak hidup sekalipun seperti tumbuhan atau hewan, tumbuhan dikatakan mati ketika batang, ranting, daun tak lagi tumbuh menjadi lebih besar atau hewan tak lagi mampu bergerak.
Begitu pula manusia dikatakan mati ketika ruhnya meninggalkan jasadnya, hanya saja manusia lebih kompleks dari yang dibayangkan. Setelah mati pun manusia masih dianggap hidup tatkala meninggalkan berbagai kebaikan yang dilakukan selama hidupnya didunia. Bahkan kelak dibangkitkan kembali setelah kematian dan akan hidup kekal. Padahal tak hanya manusia, semua wujud di dunia ini kelak akan mendapatkan kehidupannya kembali dan akan mendapati balasannya masing-masing. Namun dari semua itu, manusia adalah sebaik-baiknya makhluk yang diciptakan dengan berbagai kompleksitasnya, dia tumbuh, bergerak, bahkan mampu menggerakan yang lain.

Manusia diberikan anugerah yang luar biasa yakni akal dan hati. Dimana manusia mampu berbicara, melihat, meraba, merasa, dan melangkah, yang semuanya digerakan oleh akal dan hati yang menjadi system utuh penanda berfungsinya kesempurnaan hidup manusia. Akal yang mempengaruhi cara pikir manusia dalam melakukan tindakan atas berbagai pilihan yang Nampak pun tak nampak. Akal yang kelak menjadi penanda kualitas kesempurnaan manusia atas tindakannya. Maka tidak salah jika Imam Ali kw mengatakan bahwa tidak ada kewajiban beragama bagi seseorang yang tidak berakal, Laa Diina liman La Aqla Lahu. Karena yang tidak memaksimalkan akalnya tak jauh berbeda dengan orang gila yang hidup tanpa dibebani tugas apapun, tak ada kewajiban beribadah apalagi beragama. Tak berakal berarti tidak berfungsinya seluruh struktur saraf dalam system manusia secara utuh, sehingga ia menjadi mati dalam wujud yang hidup. Inilah yang menjadi ciri beda utama mati-hidupnya manusia. Semua menjadi pilihan manusia itu sendiri. Akan tetapi, fitrah hati manusia selalu membisikan kita untuk selalu berbuat baik. Bicaranya sampaikan kata petuah kebijaksanaan, penglihatannya tembuskan pandang ke masa depan terangkan pedoman sempurnanya, sentuhannya raba semua kerikil-kerikil yang kelak menghadang, perasaanya cicipi pahit manis jamuan surganya, langkahnya sempurnakan  perjalanan gerak laku-pikir ikuti petunjuknya. Itulah yang disebut gerak hati yang lembut yang menuntun akal menjadi lebih sempurna, yang mampu mencapai ketajaman ruhani dan melahirkan cahaya suci. Karena selain itu ada pula hati yang qasat, yakni hati yang buta. Adapun hati yang lembut adalah hati yang bercahaya. Itulah yang dimaksud hati dalam Alquran yang dapat berfungsi sebagai “akal”.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang ada di dalam dada”. (QS. Al Hajj [22]:46)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf [7]:179).

Berfungsinya akal dan hati menjadi penanda utama sempurnanya hidup manusia. Sehingga dunia makrokosmos (semesta raya) dan mikrokosmos (semesta diri) akan terintegrasi dan melahirkan perubahan peradaban kearah yang lebih baik dan menyatu dengan berbagai kompleksitasnya ketika semuanya mampu berfungsi secara sempurna dalam menjalankan semua mekanisme secara bijaksini disini dan bijaksana untuk kelak disana. Dari diri-hati menyatu dalam peradaban yang utuh. Peradaban, ya peradaban.

Secara universal, dalam Islam, esensi peradaban Islam adalah tauhid atau pengesaan Tuhan, tindakan yang menegaskan Allah sebagai yang Esa, pencipta yang mutlak dan transenden, penguasa segala sesuatu, tutur  Ismail Raji Al Faruqi.  Tauhid adalah yang memberikan identitas pada peradaban islam, yang mengikat semua unsur nya bersama-sama dan menjadikan unsur-unsur tersebut suatu kesatuan yang integral dan organis yang kita sebut peradaban. Dalam mengikat atau menyatukan unsur-unsur yang berbeda tersebut, esensi peradaban (tauhid) membentuk mereka dengan cetakannya sendiri agar saling selaras dan saling mendukung. Tanpa harus mengubah sifat-sifat mereka, esensi tersebut mengubah unsur-unsur yang membentuk suatu peradaban, dengan memberikannya ciri baru (perubahan) sebagai bagian dari peradaban. Perubahan itu dikatakan kecil jika mempengaruhi bentuknya dan perubahan itu radikal jika mempengaruhi fungsinya; karena fungsilah yang merupakan relevansi unsur peradaban dengan esensinya. Oleh karena itu, hidup matinya peradaban ini akan nampak jelas dari berfungsinya perubahan seisi semesta raya ini secara integral. Memaksimalkan keberfungsian kualitas sistem semesta diri, semesta raya sehingga bersatu dengan yang satu, itulah tauhid. Berfungsinya esensi tauhid dalam kehidupan ini menjadi penanda hidup-matinya peradaban semesta ini. Bahagianya jika sang penggengam fungsikan akalku, hujamkan gerak hatiku dalam kata laku dan yakinku Laa Ilaaha Illaalah, satukanku dalam tauhidmu di setiap detik kuasamu.

=semesta kimia=
161010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: