[1] Genius dengan Sentuhan “Tangan”; taktil dan taktual

Sentuhan melepaskan ketegangan dan stress.
-Barbara K. Given-

“sangat menakjubkan betapa banyaknya informasi
yang bisa dikomunikasikan melalui sebuah sentuhan.
Indra lain memiliki organ yang bisa anda fokuskan,
tetapi sentuhan ada dimana-mana”
-Tiffany Field-

 

 

Tentang sentuhan, para pengguna bahasa inggris menggunakan dua  kata yang bisa saling menggantikan ketika berbicara tentang sentuhan: Tactile (taktil) dan tactual (taktual). Sebenarnya taktil merujuk pada perasaan disentuh; merasakan angin bertiup menyentuh kulit, merasakan tangan seseorang di bahu kita, dan sebagainya. Taktual adalah tindakan menyentuh dan menggarap, biasanya dengan tangan (Barbara K. Given, 2007:256).

==

Sering kali kita melihat bahkan semua orang sudah paham, ketika bayi dan batita yang diabaikan akan menangis, berteriak, menarik diri atau menunjukan perilaku “buruk” lain untuk memperoleh perhatian dari orang dewasa yang akan menyentuhnya-meskipun sentuhan itu kasar dan kejam. Sentuhan, kata Ackerman, “meyakinkan bayi bahwa semuanya nyaman; sentuhan sepertinya memberikan isyarat kepada tubuh untuk berkembang secara normal” (Barbara K. Given, 2007:258).

Sentuhan yang positif, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang akan memberikan rangsangan baik di otak dalam waktu jangka panjang. Begitu pula sebaliknya sentuhan kasar memberikan efek negatif pada otak di masa depan.  Taufik Pasik (2007:50) menuturkan bahwa pada masa bayi di bawah usia 3 tahun, ada bagian otak yang bernama Hippocammpus – tempat penyimpanan memory kognitif jangka panjang- belum terbentuk sempurna. Sedangkan Amygdala –tempat penyimpanan memory emosi- relatif sudah terbentuk sempurna saat lahir. Itu dikarenakan semua kejadian di bawah usia 3 tahun sangat sulit di ingat (secara kognitif) oleh anak, akan tetapi secara emosional ia mampu menyimpannya secara lama, sekalipun responsnya tidak sadar, amygdala mampu menyimpan rangsangan emosional itu dengan baik.

Oleh karena itu, sangat disayangkan apabila sentuhan yang diberikan itu sangat kasar, sebab sentuhan emosional tersebut akan disimpan dengan baik serta “koneksi saraf abnormal akan menjadi permanen jika semakin diperkuat dan penguatan mengarah pada perkembangan otak dan perilaku yang abnormal dan tidak efektif, yang bertahan seumur hidup (Alkon, 1992; Gazzaniga, 1992). Jadi perilaku menyimpang dan membangkang memang bisa digunakan untuk menarik perhatian, tetapi perilaku seperti itu menggerakan jaringan saraf yang menjadi “terprogram” untuk memperoleh sentuhan dan interaksi sosial negatif. Baik Harlow maupun Alkon percaya bahwa jaringan saraf yang pertama kali dikembangkan akan menjadi jaringan saraf yang paling banyak dipakai ketika organisme itu sedang terdesak atau tertekan; karena itu, bentuk sentuhan yang diterima dalam masa-masa kritis menata panggung untuk pengalaman seumur hidup seseorang (Barbara K. Given, 2007:268).

Saya atau anda akan merasa bangga yang luar biasa di pikiran anda dengan senyum kecil di bibir anda ketika mendapat tepukan bahu, punggung atau jabatan tangan dari guru, atau orang yang anda hormati, dari orang tua, kakak, saudara atau pun teman sejawat sambil berkata “tindakanmu benar-benar luar biasa”. Secara tidak langsung sentuhan orang tersebut telah memberikan kehangatan dan memberikan kekuatan pada kita untuk merespon rasa nyaman tersebut. Menurut Scanhanberg, sentuhan “sepuluh kali lebih kuat daripada kontak verbal atau emosional, dan sentuhan memengaruhi hampir semua hal yang kita lakukan. Tidak ada indra lain yang lebih merangsang ketimbang sentuhan,” kita selalu mengetahui hal itu, tetapi kita tidak menyadari bahwa sentuhan memiliki dasar biologis”. Para peneliti sekarang tahu bahwa jenis rangsangan taktil tertentu pada kulit mengirimkan pesan kepada otak yang merangsang pembentukan oksitosin dan endorfin. Oksitosin memperkuat ikatan antara ibu dan bayi, sedangkan endorphin –peptide yang berkaitan dengan opiate- menimbulkan perasaan nyaman (Sylwester, 1995).

Anak-anak dengan kebutuhan sentuhannya tidak terpenuhi di rumah atau  di sekolah memproduksi hormone stres, seperti kortisol[1], yang tidak hanya membuat otot-otot tegang, tetapi juga mengurangi kemampuan otak untuk berfokus dan belajar (Hannaford, 1995). Anak-anak dan orang-orang dewasa yang menderita karena kurang memperoleh rangsangan taktil kehilangan peluang untuk menghasilkan zat kimia otak –endorfin- yang menjadi pengikat antarindividu dan menghasilkan rasa nyaman di ruang kelas. Dengan demikian orang tua harus menyediakan stimulasi sentuhan tidak hanya untuk siswa pra sekolah dan anak-anak sekolah dasar, tetapi juga remaja, dan di antara mereka sendiri. Jika mereka tidak melakukan itu, kecenderungan otak untuk disentuh akan tetap tidak terpuaskan. Zat kimia stress merusak kemudian diproduksi bisa menghambat pembelajaran bahkan keruskan otak (Restak, 1993/1994). Dengan demikian, pembelajaran taktil (sentuhan) di usia dini akan melekat kuat dan tidak bisa diubah pembelajaran baru, dan mengawali bentuk perilaku  negatif atau positif yang memengaruhi semua system pembelajaran otak (Alkon, 1992; Goleman, 1995; LeDoux, 1996).

Sementara pada pembelajaran taktual, proses belajar “melibatkan sebagian besar otak, termasuk sebagian besar “jalur motor” (motor strip, yang berfungsi kontrol motor), disamping jaringan saraf kompleks yang menghubungkan mata, tangan dan serebelum. Sebaliknya, beberapa anak memiliki koordinasi tangan-mata yang lemah dan kesulitan menggunakan otot-otot kecil untuk memegang pensil atau menulis. … Karena untuk semua anak-baik yang kikuk maupun terkoordinasi baik- menyentuh dan menggarap objek (taktual) merupakan batu pertama untuk perkembangan mental selanjutnya, seperti memahami arah (di atas, di bawah, diseberang, melalui, mengitari), kedalaman, bentuk, tekstur, berat dan volume. Karena banyak anak yang lebih suka mempelajari informasi baru dengan tangannya ketimbang menggunakan input sensor lain, maka sudah selayaknya guru mengerahkan waktu untuk menerjemahkan informasi menjadi pembelajaran praktis dan kinestetik demi kepentingan mereka. Selama para pelajar taktual bisa menangani informasi yang harus dipelajari, mereka akan lebih sukses mempelajarinya (Barbara K. Given, 2007 : 271).

 

Semesta kimia,
buat saudara kecilku, jadikan sentuhan “tangan” mu secara positif.


[1] Kortisol adalah satu dari kelompok glukokortikoid yang disekresi oleh kelenjar-kelenjar adrenalin ketika dalam keadaan tertekan. Kortisol (hidrokortison) adalah jenis hormone tersebut yang jumlahnya paling berlimpah; kortisol meningkatkan kadar gula darah untuk menciptakan energy yang dibutuhkan sebagai respon terhadap ancaman; “meningkatknya kortisol dibarengi dengan menurunnya pembelajaran, memori dan perhatian (Hannaford, 1995 h.162)

2 Responses to “[1] Genius dengan Sentuhan “Tangan”; taktil dan taktual”

  1. informasi rujukannya donk… bermanfaat banget nih tulisannya buat aku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: