[2] Genius Berbicara-Berbahasa dengan Mendengar

“sesungguhnya dalam kemampuan berbicara yang baik
terdapat kekuatan sihir”
– Al Hadits –

 

 

Pada keadaan tertentu, ketika kita mendengarkan orang yang berceramah atau berpidato dengan begitu piawai dalam menyampaikan kata-kata sehingga kita terpesona serta terpukau oleh keindahan kata-katanya, terkagum-kagum dengan kefasihan retrorikanya dalam menggunakan bahasa, di lain kesempatan kita pun dibuat terpintal-pintal penuh tawa hanya oleh beberapa kalimat yang di olah dengan bahasa humor  yang begitu memikat. Kita serasa baru mendengar beberapa menit padahal 2 jam berlalu begitu saja, hanya sekedar mendengarkan pidato atau ceramah dengan gaya bicara dan bahasa yang luar biasa menakjubkan yang mampu menyihir siapapun yang mendengarnya. Sehingga sepenggal hadits di atas menisbahkan kata-kata dalam menggunakan bahasa atau pembicaraan yang baik layaknya sebuah kekuatan sihir.

Bagaimana kecakapan berbicara atau berbahasa menjadi sebuah kekuatan dahsyat? Apakah setiap orang mampu serta berhak mendapatkannya? Sementara sebagian orang untuk mengungkapkan beberapa kata saja begitu sulitnya. Apa sebenarnya yang terjadi di benak kita, di pikiran kita, di otak kita??

Kemampuan berbicara ini menunjukan kecakapan berbahasa yang terkait langsung dengan kemampuan mendengar. Luar biasanya kemampuan berbahasa ini bisa diperoleh anak usia dini dengan kecepatan dan daya serap yang luar biasa tanpa mengenal batas informasi apa yang di dengarnya yang kelak menjadikan kekuatannya dalam berbicara atau berbahasa di kemudian hari. Benarkah? Pinker (1997) percaya bahwa perkembangan bahasa didasarkan pada pelatihan genetik yang memungkinkan belahan otak kiri otak mengembangkan bahasa sejalan dengan kematangan anak. Modul-modul untuk perkembangan bahasa, seperti daerah wernicke untuk memahami pembicaraan, dan daerah broca untuk memproduksi pembicaraan, secara genetik direkayasa untuk berkembang sejalan waktu berdasarkan input linguistik. Tetapi jauh, sebelum daerah broca berkembang ada yang menarik dengan input yang di dengar oleh seorang bayi, seperti yang diungkapkan Taufik Pasiak (2007:52) bahwa pada otak, bagian yang bernama area wernicke yang terletak di bagian samping kepala berkembang lebih dahulu daripada area broca. Bayi sejak kecil sudah bisa memahami pembicaraan orang tuanya karena bagian otak di area wernicke merakam semua informasi yang didengarnya. Kata-kata yang didengar bayi, akan direkam di area wernicke yang merupakan area otak yang menjadi gerbang pertama untuk memaknai rangsangan verbal.

Setelah memahami bahasa yang di dengarnya pada area wernicke, lalu tahapan selanjutnya pada area broca bahasa yang di dengarnya di olah, di proses sedemikian rupa disesuaikan banyak dengan informasi yang di perolehnya. Tiga hal yang terjadi pada anak-anak yang menerima input linguistik ekstensif: 1] daerah bahasa mereka berkembang dengan kecepatan lebih tinggi; 2] perbendaharaan bahasa mereka berkembang lebih cepat ketimbang mereka yang  input linguistiknya terbatas; dan 3] di kemudian hari mereka memperoleh nilai lebih tinggi dalam tes-tes kecerdasan (Diamond, 1998). Bunyi pembicaraan dimulai sebagai erangan, tangisan, rabanan, dan berkembang menjadi bunyi getar, kecupan, dan deklik ketika bayi meracaukan bahasa dunia dalam bunyi-bunyian acak, tak berarti, dan tidak disengaja. Celoteh yang memenuhi harapan budaya di kuatkan dan berkembang menjadi swa-kelola bahasa. Ketika celoteh tidak sesuai dengan bunyi yang diharapkan dan gagal menghasilkan peningkatan, tubuh belajar mengontrol apa yang disuarakan,  (Goerner, 19914 dalam Barbara K. Given, 2007: 198).

Sehingga banyaknya informasi bunyi kata, baik ataupun buruk yang di terima, akan akan menjadi bank kosakata bagi si anak yang akan  mempengaruhi cara berbahasa di usia dewasa. Sehingga merangsang otak anak dengan memberinya banyak kata baru yang positif setiap hari dengan banyak berbicara secara rutin sehingga kecakapan pendengarannya menjad maksimal.

Pada usia 10 bulan hingga 1 tahun, bayi bisa mengucapkan kata yang bisa dikenali dengan memproduksi bahasa dari budayanya sendiri. selama masa perkembangan ini, anak-anak mampu mempelajari banyak bahasa, tetapi sejalan dengan usia, sel-sel “dipermanenkan” untuk bahasa yang paling sering di dengar. Kecerdasan kita untuk memproduksi bunyi-bunyian yang tidak ditemukan dalam bahasa ibu menurun sejalan dengan usia (Barbara K. Given, 2007:200). Bahkan menariknya kemampuan berbahsa ini ternyata dipengaruhi oleh kebiasaan frekuensi bunyi yang didengar oleh bayi menjadi tumbuh lebih kuat di usia dewasanya. Bayi yang baru lahir punya kemampuan untuk menyerap kisaran luas frekuensi dari 160 sampai 16000 Hz. Saat mereka tumbuh besar, telinga mereka menjadi terbiasa untuk mendengar frekuensi dan ritme dari lidah pribumi mereka. Kemudian pada usia 6 tahun, wilayah frekuensi menjadi tetap (tidak berubah lagi). Enam tahun adalah titik krusial. Sekali anak mencapai usia ini, jaringan saraf untuk mendengar dalam bahasa ibu telah benar-benar terbentuk, dan tidak mungkin diubah lagi. Seperti bahasa jepang misalnya, lebih banyak menggunakan wilayah frekuensi 1.500 Hz, bahasa inggris wilayah frekuensinya antara 2.000 dan 12.000 Hz. Inilah yang membuat orang jepang kesulitan untuk belajar bahasa inggris. Bukan karena mereka bodoh, tetapi mekanisme pendengaran mereka yang tidak cocok untuk menangkap bunyi bahasa inggris. Bayi dan balita berbakat linguistik karena mereka tidak mempunyai penghalang wilayah frekuensi (Makoto Sichida, 2009:122). Artinya pada masa bayi, anak mempunyai peluang luar biasa untuk belajar bahasa asing, bahasa apapun yang di informasikan atau di dengar olehnya. Sehingga memperbanyak bunyi positif kepadanya sejak bayi akan mempengaruhi kemampuan berbicara atau berbahasa di masa mendatang. Belajar untuk memahami dan bicara bahasa murni merupakan masalah mekanisme mendengar (Makoto Sichida, 2009:123). Sehingga, meski agak rumit untuk dipelajari orang dewasa karena frekuensi yang di dengar sejak kecil sudah di permanenkan, hal itu bukan berarti mustahil karena masalahnya adalah mekanisme mendengar kita mesti di sesuaikan dengan kebiasaan frekuensi yang di dengar itu sendiri, artinya kemampuannya meningkatkan kekuatan pendengaran yang baik akan tumbuh menjadi sebuah kekuatan berbicara dan berbahasa yang baik.

Kenapa berbahasa ini menjadi penting? Karena bahasa sangat memainkan peranan di era informasi. informasi yang berkembang dari luar terkait langsung dengan bahasa yang digunakan. Bahkan konon katanya, siapa yang menguasai informasi dialah yang menguasai dunia. Peran bahasa dalam penyebaran atau reproduksi budaya tidak diragukan; bahasa mengikat adat-istiadat budaya yang bertahan dari generasi ke generasi dan menjadi pemeran utama dalam interaksi manusia. Namun, bahasa yang dipelajari anak-anak masih bergantung pada budaya lokal hubungan sosial mereka, yang memengaruhi cara mereka mengasimilasikan dan menyebarluaskan adat istiadat budaya. Karena bahasa menghubungkan banyak budaya, dan budaya yang berbeda memiliki sudut pandang berbeda tentang apa yang dianggap pantas dalam ritual, prinsip dan agama, maka bahasa menimbulkan sekaligus memecahkan konflik (Barbara K. Given, 2007:203).

Kemampuan berbicara-berbahasa  inilah yang kelak akan mampu menguraikan berbagai ide-ide kreatif yang luar biasa. Karena, banyak orang yang menemukan bahwa berbicara akan mengikat pikiran. Berbicara kurang lebih adalah kecakapan sensorik yang memerlukan kerja sama yang sangat baik antara jutaan otot muka, lidah, mulut, dan mata, dan juga memerlukan semua propioseptor pada muka. Berbicara memungkinkan kita untuk mengatur dan menyusun pikiran (Jalaluddin, 2007:119).

 

semesta kimia,
buat saudara kecilku, mendengarlah dengan efektif kelak kau berbahasa-berbicara dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: