[3] Genius dengan Penglihatan “Mata”

 

 

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,
lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat
memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat
mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,
tetapi yang buta, ialah hati yang ada di dalam dada”.
(QS. Al Hajj [22]:46)

 

 

 

Kita seringkali mendengar orang dewasa berkata, “lagu klasik ini terdengar nikmat sekali”, “suasana di pantai ini enak sekali” Atau “betapa sedap memandang gadis cantik dengan rona wajah yang begitu menawan”. Kata nikmat, sebagai fungsi dari indra pengecap di digunakan untuk medeskripsikan indra pendengaran, atau kata enak atau sedap sebagai fungsi dari indra pengecap digunakan untuk mendeskripsikan indra penglihatan. Inilah yang disebut dalam bahasa Indonesia, gaya bahasa atau mazas sinestesia sebagai salah satu salah satu mazas perbandingan. Sinestesia adalah majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Kemampuan sinestesia unik seperti inilah yang dimiliki oleh orang dewasa. Hal serupa terlihat pada surat cinta tuhan (Al quran) di atas, “bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”. Kata buta sebagai fungsi dari indra penglihatan dipakai untuk mendeskripsikan kekuatatan serta ketajaman rasa “hati”, sungguh luar biasa uniknya.

Keunikan layaknya mazas tersebut pun dimiliki pula oleh seorang bayi, dengan sedikit berbeda. Keunikan pada bayi terjadi karena adanya gelombang listrik yang terpicu di bagian otak sehingga bayi dapat melihat suara, mendengar warna, beberapa riset otak yang merekam aktivitas listrik pada daerah thalamus (yang mengurusi suara), retina, cortec auditorik, dan cortec visual menunjukan adanya gelombang listrik yang terpicu. Mekanismenya, Ketika bayi melihat sesuatu, maka informasi itu berjalan melalui retina mata menuju bagian pendengaran di thalamus, lalu masuk ke cortec visual di kulit otak. Di kulit otak ini, cortex visual dan cortec auditorik memiliki hubungan sarafi (Taupik Pasiak, 2007:48). Sehingga apa yang dilihat bayi bisa langsung berkoneksi dengan otak pendengaran sehingga bayi mampu mendengar apa yang dilihatnya seperti warna atau apapun objek yang dilihatnya. Begitu pula apa yang di dengarnya langsung berkoneksi dengan otak visualnya sehingga bayi mampu melihat apa yang didengarnya. Kemampuan ini, normalnya hilang ketika seorang menjadi dewasa. Sementara, kemampuan paranormal yang dimiliki sesorang mungkin berkaitan dengan kemampuan ini yang masih tertinggal hingga dewasa.

Keunikan inilah sesuatu hal yang sampai saat ini misterius, meski mekanismenya tergambarkan di atas karena begitu kompleksnya kerja cerdas otak yang dimiliki manusia, sebagai mana dituturkan Edelman (1992), “Di usia muda, bagian visual otak secara misterius membagi medan visual menjadi bentuk, warna, gerakan, lokasi dan sebagainya, dan entah bagaimana memadukan semuanya untuk memberikan pemandangan tentang dunia yang sangat terkelola tanpa salah menafsirkan fitur dari objek yang satu dengan fitur dari objek yang lain” . Kebanyakan proses pemilahan ini terjadi di sekelompok sel dalam thalamus. Akson-akson dari sel-sel tersebut membentang sampai korteks visual dari lobus oksipital dan bagian dalam lobus temporal, tempat terjadinya interpretasi sadar.

Korteks visual primer pada setiap belahan otak terdiri dari 2500 modul; setiap modul mengandung kira-kira 150.000 neuron; semua neuron dalam satu modul merespon satu fitur khusus, seperti frekuensi cahaya, orientasi garis, warna, tekstur (Guenther, 1998). Sebagai contoh, neuron-neuron tertentu yang terkait dengan modul “warna” merespon warna merah, yang lain merespon warna biru, dan sebagainya. Klaster neuron sekunder memproses gerakan, bentuk (“lingkaran” atau “segiempat”), dan objek secara utuh (“truk” atau “kursi”). Jika kerusakan terjadi pada klaster “gerakan”, penderita menjadi tidak mampu mengamati objek yang sedang bergerak. Mobil, air, dan semua hal yang bergerak tampak diam. Jika wilayah yang memproses objek utuh rusak, penderita mungkin gagal mengenali objek khusus, seperti jari-jarinya sendiri; kondisi ini disebut Finger agnosa (Johnson & Myklebust, 1967).

Menurut teori terkemuka tentang persepsi visual, apa yang dipahami oleh seseorang bukan representasi langsung atau akurat dari realitas, tetapi sebuah penyempurnaan “rapi” didasarkan pada kesimpulan tidak sadar yang dibangun oleh pengharapan dan persepsi masa lampau (Guenther, 1998).

Disini terlihat pesan yang begitu sempurna, bagaimana kita selalu berhati-hati memberikan informasi positif  baik berupa objek gambar atau pun tindakan [akhlak] atas kata-kata baik yang di contohkan kepada anak-anak, sehingga pelajaran baik bagi anak di masa kecil menjadi pelajaran berharga di masa depannya, karena apa yang dilihat dan didengarnya meski tidak di ikuti pada waktu itu tetapi akan direkam secara sempurna di memori otak dalam waktu lama .

 

Semesta kimia;
untuk saudara kecilku, lihatlah sesaatu dengan kacamata indahmu

One Response to “[3] Genius dengan Penglihatan “Mata””

  1. Terimakasih sangat berguna sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: