Akselerasi Kecerdasan; Memori Otak

Manusia adalah makhluk cerdas yang menjadi bagian integratif
dari sistematika kecerdasan universal yang sempurna
-Sir Freud Hoyle-

 

Jika analisis dari berbicara-sendiri dan mediasi menimbulkan
perubahan dalam sistem pemikiran dan keyakinan seseorang,
memori dikonstruksi untuk merangkum perubahan itu.
-Barbara K Given-

 

Sudah tak asing lagi bila kita mendengar, ketika orang yang ditanya berkata, “wah lupa lagi dech”, kemudian orang lain berkata sayang sekali memori anda lemah sekali, atau ketika komputer yang anda nyalakan itu bekerja sangat lambat, anda akan berkata, “pantas saja memorinya (RAM) kecil”, sementara kapasitas data informasi yang dimuat begitu banyak. Lebih parah lagi kalau saja memori pada komputar itu tidak berfungsi (tidak aktif), maka dipastikan komputer itu tidak akan mampu beroperasi. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika memori di otak kita yang sesungguhnya melekat di otak kita tetapi tidak berfungsi. Alangkah ruginya otak sebagai super raksasa, super canggih dari semua jenis komputer yang tercipta di seluruh dunia, tidak dapat digunakan, hanya karena memorinya lemah atau memorinya mengalami kerusakan yakni tidak aktif, dengan kata lain tidak teraktivasinya jaringan neuron di otak. Siapapun orangnya yang mampu mengoperasikan super canggih komputer tersebut, tentunya mau tidak mau harus meng-upgrade kembali memori yang  sudah ada sehingga akselerasinya menjadi meningkat. Hal itu pun terjadi pada proses belajar mengajar, pada kenyataannya anak-anak di sekolah prestasinya menurun bukan hanya sekadar karena anak malas belajar atau lebih senang bermain daripada belajar, melainkan disebabkan karena kerusakan memori di otaknya sehingga tidak bekerja optimal. Lalu bagaimana memperbaiki memori otak kita yang mengalami kerusakan tersebut? Bagaimana caranya kita dapat meng-upgrade memori otak kita sehingga berpeluang mengakses seluruh data yang tersimpan dari pengalaman masa lalu atau pun sekarang sehingga mampu menangkap peluang informasi dan tindakan penting di masa depan?

Apabila kita melihat sebuah permainan yang menakjubkan seperti sirkus, sulap, games, atau ketika kita melihat tayangan komedian di televisi seperti Overa Van Java atau Bukan Empat Mata. Semuanya mampu memberikan “perhatian” lebih, fokus kita pun beralih terhadapnya secara all out, pikiran kita merasa tenang, tertawa riang tanpa beban, masalah pun semua hilang seketika. Fokus sekaligus rileks terjadi sekaligus. “Perhatian” yang menyenangkan itulah yang mampu mengalihkan dan mengaktifkan memori otak kita sehingga bekerja untuk merespon sesuatu. Bagaimana sesuatu itu mampu memberikan “perhatian” khusus sehingga mampu mengalihkan fokus, itulah yang menjadi kata kuncinya. Bagaimana para pimpinan memberikan “perhatian” kepada para karyawannya serta layanan yang memuaskan pelanggannya. Bagaimana orang tua mampu memberikan “perhatian” kepada anak-anaknya, bagaimana guru mampu menciptakan dan memberikan “perhatian” lebih kepada siswa-siswi, sehingga menjadi lebih tertarik dan teralihkan fokusnya pada proses pembelajaran. Di bagian otak, tepatnya korpus Amigdala – tempat penyimpanan memori emosi-, cirus cingula dan hipokampus – tempat penyimpanan memori kognitif- bahu membahu mengatur “mood” seseorang manusia agar hari-harinya terasa indah. Sehingga hormon atau zat kimia cinta di otak terbentuk. Hormon yang terlibat dalam proses munculnya rasa cinta tersebut adalah oksitosin, vasopressin dan feniletilamin (Taufik Nur Azhar, 2007:87). Hormon cinta inilah yang menstimulasi otak kita untuk merespon “perhatian” positif yang diberikan oleh seseorang sehingga mengaktifkan memori emosi dan memori kognitif otak kita. Perhatian tidak bisa dipisahkan dari memori, karena perhatian selektif dan berlanjut bergantung pada memori aktif dan tersimpan untuk memberi makna pada informasi (Sergeant, 1996).

Lalu apa sesungguhnya memori itu?

Seorang ahli fisika dan biokimia inggris, Francis Crick (1994) menggambarkan memori sebagai “refresentasi internal” atau –versi neuron yang terstruktur dan terkode- dari lingkungan eksternal dan internal (dunia individual) yang bisa secara potensial memandu perilaku. Tidak ada satupun daerah penyimpanan untuk catatan masa lampau, tetapi fisiologi pembelajaran dan pengingatan mencerminkan perubahan yang terjadi terhadap neuron yang terlibat dalam persepsi, bahasa, perasaan, gerakan dan sebagainya. Dengan demikian memori bukanlah sebuah “benda”, melainkan proses aktivasi jaringan neuron (Hobson, 1994). Menurut teori konstruktivitas, otak secara spontan “menyelaraskan” diri dalam respons terhadap pengalaman dengan mengubah kekuatan koneksi antar neuron. Meskipun demikian, sekarang kita tahu bahwa tidak ada jaringan neuron yang secara khusus ditugasi untuk menyimpan catatan pengalaman tertentu (Guenther, 1998).

Bagaimana aktivasi jaringan neuron atau akselerasi memori otak ini menjadikan otak kita super genius, sehingga belajar menjadi lebih mudah?  Memori otak bekerja untuk jangka pendek sekaligus jangka panjang. Seperti apakah itu? be continuee….!

semesta kimia;
untuk saudara kecilku,
aktifkan memorimu dengan berfokus
pada hal positif yang kamu sukai every time

One Response to “Akselerasi Kecerdasan; Memori Otak”

  1. Terimakasih mas Jamil… artikel yang menarik. Memang cinta membuat segalanya jadi indah. Otak kita lebih suka mengenang hal-hal yang indah.

    saya tunggu lanjutannya.. salam kenal ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: