Pesona Kebun Fairuz

Diceritakan bahwa dulu pernah ada seorang raja yang naik ke atas istananya. Ia mengamati lingkungan istana dari atas. Tiba-tiba pandangannya terantuk pada seorang wanita yang kebetulan juga sedang berada di atas rumahnya. Letak istana dengan rumah wanita itu sangat berdekatan. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, raja segera bertanya kepada salah seorang pengawalnya, “Milik siapa rumah ini?”

“Tuan rumah ini milik pelayanmu, Fairuz,” jawab pelayannya.

Raja bergegas turun dengan perasaan galau. Hatinya terselimuti dengan rasa cinta pada wanita yang ia lihat. Jiwanya juga telah ditutupi dengan rasa sayang kepadanya. Ia lantas memanggil Fairuz.

“Fairuz.”

“Saya, Tuan.”

“Antarkan surat ini ke negara tetangga, lalu tunggu balasannya.”

Fairuz menerima surat itu dan membawanya pulang ke rumah. Ia menyembunyikan surat itu di bawah bantalnya sewaktu tidur. Keesokan harinya, ia pamit kepada istrinya untuk melaksanakan perintah raja. Ia tak sadar dengan rencana yang di susun raja.

Mengetahui Fairuz sudah berangkat, raja bergegas pergi ke rumahnya secara sembunyi-sembunyi. Ia mengetuk pintu secara perlahan. “Siapa?” tanya istri Fairuz.

“Aku raja, majikan suamimu?”

Istri Fairuz membuka pintu dan mempersilahkan duduk, ia kemudian bertanya, “Untuk kepentingan apa, Tuan kemari?”

“Aku hanya berkunjung,” jawab raja.

“Aku berlindung dari Allah dari kunjungan ini. Aku tidak melihat ada sisi baiknya sama sekali.”

“Brengsek! Aku adalah raja, majikan suamimu. Aku kira kau mengenalku.”

“Aku mengenalimu, Tuan. Aku juga tahu bahwa kau adalah raja kami. Akan tetapi, orang-orang terdahulu pernah bersenandung:

Aku akan meninggalkan airmu tanpa bunga
Sebab banyak sekali orang yang mengambilnya
Tatkala seekor lalat jatuh di atas makanan
Kuangkat tanganku dan aku ingin memakannya.
Jangan sampai makanan lezat jatuh ke dalam air
Jika seekor anjing telah menjilatnya
Orang mulia pulang dengan perut kosong
Ia tidak mampu bersaing dengan orang bodoh”

“Betapa indahnya bait-bait ini, Tuan.”

Katakan pada orang yang selalu merindukan kita.
Kemudian juga pada pengkhianat yang tak pantas dijadikan teman
Demi Allah, Selamanya takkan ada orang yang berkata
Bahwa seekor singa menikmati sisa makanan yang sudah busuk

“Tuan, kau mendatangi tempat minum anjingmu untuk meminum sisanya,” lanjutnya setelah melantunkan bait-bait di atas.

Raja malu mendengar ucapan ini. Ia buru-buru pulang sampai lupa memakai sandalnya. Sementara itu, ditengah perjalanan Fairuz merasa kehilangan surat yang di bawa. Setelah diingat-ingat, ia baru sadar bahwa ia meletakan surat itu di bawah bantal. Tanpa berpikir panjang, segera ia kembali pulang, segera kembali pulang untuk mengambil surat tersebut. Fairuz tiba di rumahnya beberapa saat setelah raja keluar. Ia sangat terkejut melihat sandal raja yang ketinggalan. Hatinya bingung dan pikirannya kacau. Ia sadar bahwa sejatinya raja mengutusnya pergi supaya ia bisa mewujudkan rencana yang telah ia susun. Ia diam dan tak berbicara sama sekali. Ia mengambil surat itu lalu bergegas pergi untuk menyampaikan suat itu pada orang yang dituju.

Setelah menunaikan tugas, Fairuz segera kembali menghadap raja. Ia mendapatkan uapah sebesar 100 dinar. Fairuz tidak langsung pergi kerumahnya, melainkan pergi ke pasar dan membeli sejumlah hadiah untuk istrinya. Setelah dirasa cukup, ia pulang dan memberikan semua itu kepada isterinya. “Pergilah ke Rumah orang tuamu.”

“Untuk apa?” tanya istrinya.

“Aku menerima hadiah dari raja. Aku ingin agar kau memperlihatkannya kepada keluargamu,” jawab Fairuz.

“Dengan senang hati.”

Wanita itu segera berangkat memenuhi permintaan Fairuz. Ia pergi ke rumah orang tuanya membawa oleh-oleh yang dibeli dari hadiah raja. Seluruh keluarganya gembira dengan kunjungannya itu. Ia tinggal di rumah orangtuanya dalam jangka waktu yang teramat panjang. Fairuz sudah melupakannya sama sekali. Karena tak kunjung dijemput, saudara wanita itu datang menemui Fairuz. “Fairuz! Ceritakan padaku mengenai penyebab kemarahanmu, atau kuajukan kau ke pengadilan,” kata iparnya itu.

“Aku tak pernah takut diajukan kepengadilan. Sebab aku tidak pernah melalaikan kewajibanku padanya,” tantang Fairuz.

Fairuz kemudian diajukan ke pengadilan. Saat itu, hakim sedang duduk berbicara dengan raja. “Tuan hakim agung,” kata ipar Fairuz memulai pengaduannya, “semoga Allah mengukuhkan kedudukanmu.” Tuan, Aku pernah meminjamkan sebuah kebun pada orang ini. Kebun itu sangat subur, pagarnya rapat, air sumurnya tawar dan nikmat, dan buahnya ranum-ranum. Dia nikmati buah-buahannya, dia rusak pagarnya, dan ia kotori air sumurnya. ”

“Katakan pembelaanmu?” kata hakim sembari menatap Fairuz. “Benarkah dia telah meminjamkan sebuah kebun sebagaimana yang ia katakan?”

“Benar, tapi sekarang aku ingin mengembalikan kebun itu,” jawab Fairuz.

“Mengapa?” tanya hakim lagi.

“Sungguh, Tuan, aku mengembalikan kebun itu bukan karena tidak menyukainya lagi”. Tapi karena suatu hari ketika aku datang ke kebun itu, aku mendapati bekas kaki seekor singa. Aku takut singa itu menerkamku. Jadi, kuputuskan untuk menjauhi kebun itu demi menghormati singa tadi,” jawab Fairuz.

Mendengar keterangan ini, raja yang tadi terlihat bersandar, bangkit meluruskan duduknya dan berkata, “Fairuz, kembalilah ke kebunmu dengan aman dan tenang. Singa itu sama sekali tidak mengotorinya. Ia hanya lewat sebentar dan keluar lagi tanpa mendapatkan apa-apa. Demi Allah, kebunmu tidak hanya indah, lebih dari itu, pagarnya juga sangat kuat, sehingga pohonnya terpelihara. Aku belum pernah melihat kebun sebaik yang kaumiliki.”

Fairuz kemudian pulang ke rumahnya dengan senang. Ia kembali hidup bersama istrinya seperti sedia kala. Tak seorang pun yang tahu kejadian yang sesungguhnya. Termasuk hakim tadi.

=Abdul Muhsin Bin Usman Ababathin=
“Musamarat Al-Ashab fi Mu’anasat Al-Ahbab [Lelucon 1001 Malam; cerdas, jenaka dan Bijak]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: