Menanam Kebaikan Menuai Ranumnya Buah Kehidupan

 

“Keajaiban akan mengalir kepada Anda,
ketika Anda telah menjadi Diri yang selalu melakukan yang terbaik tanpa syarat..”

 

Pahala Itu bersifat Elektrik

Tidak ada yang menyangkal bahwa aliran listrik akan berhubungan satu sama lain, siapapun yang menyentuhnya akan merasakan strum yang mengalir hingga ke sumber listriknya. Sifat elektrik listrik ini yang terjadi pada tindakan positif ataupun negatif-baik maupun jelek. Siapapun yang mengikuti atau menyentuh aliran elektrik kebaikan atau kejelekan maka ia akan merasakan getaran kebaikan dan kejelekannya itu dan mengalirkannya hingga ke sumbernya. Karena sifatnya yang elektrik maka sikap hati-hati untuk setiap kata-kata, tindakan, keyakinan terhadap sesuatu adalah langkah pasti untuk menggunakannya secara tepat. Ketika aliran listrik digunakan untuk menyalakan lampu, maka ia akan memberikan manfaat yang luar biasa, terangnya lampu terangi kita menikmati alam semesta, menikmati tontonan televisi yang memberikan informasi positif pun menghibur. Sebaliknya ketika aliran listrik digunakan secara negatif, ia bisa menjadi sebab ataupun pemicu kecelakaan bahkan ledakan luar biasa yang mampu membunuh dan memporakporandakan keadaan. Semua itu menjadi pilihan, menggunakannya sebaik mungkin atau pun tidak akan menjadi sebab atas akibat yang ditimbulkannya. Menggunakan arus listrik sebaik mungkin menjadi satu pilihan dari sekian pilihan, ketimbang membiarkan, membuang dan menyalahgunakannya. Sekali lagi, karena kata-kata, tindakan, akhlak itu sifatnya yang elektrik maka hati-hati adalah langkah pasti untuk menggunakannya secara tepat. Banyak sekali yang tidak kita ketahui bahwa kita telah menanam kebaikan dan keburukan atas tindakan kita. Kebaikan yang tak terasa misalnya, tanpa disadari jika dari kata-kata dan tindakan kita di ikuti bahkan di tiru orang lain, maka hal itu menjadi simpanan yang takkan lenyap bagi kita kelak dimana pahala perbuatan mereka itu secara elektrik akan sampai pada kita sebagai sumber penyebar kebaikan itu sendiri. Begitu pula dengan tindakan jelek, kata-kata ataupun tindakan kita ketika diikuti secara elektrik akan mengalirkan akumulasi noktah-noktah hitam yang menggumpal hingga ke sumbernya, hingga ia pun tersumbat, terbakar, konslet atau meledakan-menghancurkan dirinya sendiri kelak. Sifat elektrik listrik inilah yang menandai mengalirnya pahala kebaikan dan kejelekan seseorang sampai kapanpun dan berapa pun orang yang mengikutinya.

 

Berpikir dan Bertindak yang Menguntungkan Orang Lain

Kita lihat cara kerja alam yang selalu memberikan kelimpahan. Sebulir padi bisa menghasilkan seratus bulir padi lagi. Petani PIR bahkan harus membuang setengah dari buahnya untuk menjaga agar dahannya tidak patah dan mendapatkan panen yang terbaik. Ketika anda membantu orang lain, sebenarnya anda sedang membantu diri sendiri. Jalan menuju hidup yang berlimpah bagi anda yang mengerti konsep memberikan mafaat bagi orang lain. Karena rasul pun bersabda, sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Jadi,  Jika anda berpikir untuk memberi kepada orang lain maka orang lain akan berpikir untuk memberi kepada anda.

 

Peluang Tindakan Baik dan Buruk

Dalam konteks berbuat baik dan buruk, Allah Swt. berfirman: “Man ja-a bi al-hasanati fa lahu asru amtsaliha wa man ja-a bi assayyi`ati fa la yuzza illa mislaha wa hum la yudzlamun”; “Siapa saja yang datang membawa amal kebaikan maka baginya memperroleh (pahala) sepuluh kali lipat dari amal kebaikannya dan siapa saja yang datang dengan membawa amal keburukan maka dia tidak akan mendapatkan balasan kecuali sama dengan amal keburukanya itu dan mereka tidak dizalimi”. (Al An’am [6]:160)

 

Inilah menariknya alasan Allah Swt. untuk senantisa berakhlak seperti akhlak Tuhan, berbuat kebaikan seperti halnya kebaikan atas rahmat tuhan yang diberikan kepada seluruh makhluknya. Marilah kita sedikit berhitung secara matematis meskipun berbicara kebaikan bukanlah berbicara matematika, sekadar sedikit gambaran betapa peluang kebaikan itu selalu memberikan ruang yang lebih positif ketimbang kerburukan. Misalnya, kalau lima puluh kali kita melakukan perbuatan, itu artinya kita berpeluang lima puluh kali kita melakukan kebaikan dan lima puluh kali melakukan keburukan, maka kita mempunyai kemungkinan mendapatkan ganjaran dari Allah Swt. Untuk peluang kebaikan Lima puluh di kali sepuluh pahala kebaikan menjadi 500 pahala kebaikan, sedangkan peluang kejelekan lima puluh dikali satu ganjaran kejelekan menghasilkan 50 ganjaran kejelekan, artinya dari 50 tindakan, kita berpeluang mendapatkan 450 pahala kebaikan (500 pahala kebaikan-50 ganjaran kejelekan = 450). Artinya keberanian untuk melakukan tindakan jauh lebih penting daripada berdiam diri, karena peluang itu selalu berpihak kepada kebaikan selama niat kita secara internal selalalu di orientasikan pada kebaikan itu sendiri. Kalau kita tidak melakukan apa-apa karena kita takut berbuat salah, takut menyinggung perasaan, takut dikatakan menyimpang, takut begini, dan takut begitu, maka nilainya adalah nol. Dan di akhirat kelak, ada satu tempat dipinggiran surga yang diperuntukan bagi orang-orang gila dan bayi yang mati, nilainya nol. Tidak ada yang layak dihisab, sehingga letaknya dipinggiran surga.

Dalam salah satu hadits dan Alquran bahwa satu kebaikan itu akan berlipat menjadi 700 kali lipatnya bahkan tak terhingga.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasululloh saw., bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dari Tuhannya Tabaraka Wata’ala, “sesungguhnya Allah mencatat amal baik dan perbuatan buruk. Kemudian Allah merinci perbuatan-perbuatan tersebut. Barang siapa berniat melakukan perbuatan baik, lantas ia tidak merealisasikan niat tersebut, maka Allah mencatat sebuah kebaikan yang sempurna baginya. Barang siapa yang berniat melakukan sebuah perbuatan baik, lantas ia merealisasikan niat baik itu, maka Allah mencatat sebanyak sepuluh kebaikan baginya – sampai tujuh ratus kali lipat, dan sampai kelipatan yang banyak. Jika seseorang berniat melakukan keburukan. Lantas ia tidak merealisasikan niat tersebut, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna baginya. Dan jika ia berniat melakukan sebuah perbuatan buruk, lantas ia merealisasikan niat buruk tersebut, maka Allah mencatat satu keburukan. (HR. Bukhori, Muslim, dan Tirmidzi (Nashif Vol. V hal 211).

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (Al Baqarah [2] : 261).

Perhatikan baik-baik, perhitungan matematis di atas hanya sebuah logika sederhana agar mudah dipahami dan diterima oleh pikiran manusia. Sementara makna kebaikan satu kali lipat saja dalam  pandangan Tuhan tak dapat terdefiniskan oleh pemahaman manusia, dikarenakan begitu luas dan tak terhingganya rahmat satu kebaikan dalam perhitungan Tuhan. Misalnya, tatkala mata kita jernih mampu melihat, kita merasakan betapa kita bisa menikmati pemandangan alam, berjalan, mengendarai dengan jelas dan banyak yang lainnya. Bayangkan mata kita buta atau sakit saja sehari seperti kelilipan pasir atau nyamuk apa yang kita rasakan. Sungguh begitu pedihnya. Itu baru satu kebaikan Tuhan, Tuhan memberinya mata yang dengannya kita bisa menikmati perjalanan hidup. Belum lagi tangan, hidung, telinga, otak, akal, hati, harta dan banyak lagi yang lainnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: