1] Sukses dengan Membaca Alam Semesta


Alam semesta dapat menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan
asalkan kita dapat membuka diri terhadapnya
=James Redfield=

 

Memandang dan Membaca alam semesta yang begitu luas, menimbulkan berbagai decak kagum yang luar biasa. Rasulullah Muhammad saw, tersungkur dalam sujud dengan linangan air mata penuhi rasa takjub tatkala mendengar ayat penciptaan semesta, “Sesunggunya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (ulul albab)” (QS. Ali Imran [3]:190). Sampai-sampai Rasul pun bersabda, “celakalah orang yang membaca ayat ini hanya semata membaca, dengan tidak memperhatikan kandungan didalamnya.” seperti yang dikisahkan ibnu Mardawaih melalui atha’ juga Aisyah ra, dalam tafsir ibnu katsir. Subhanallah. Rasulullah Muhammad saw, dengan begitu sempurna menajamkan olah rasanya untuk mengingat (dzikir) pada Tuhan dan analisinya yang begitu akurat dalam memaksimalkan daya pikirnya untuk memikirkan keagungan alam semesta. Maka tak salah kalau Michael H. Hart menjadikan sosok Muhammad saw, sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah di antara seratus tokoh berpengaruh, yang mencapai kesuksesan puncak pada level religius dan sekuler.

Membaca Alam semesta dengan seksama akan membukakan ketakjuban yang luar biasa atas berbagai keajaiban fenomena semesta raya. Alam semesta adalah sebuah buku besar yang siap untuk di baca. Ia menyajikan berbagai “bahan” yang siap di olah dan di bentuk menjadi sebuah racikan berharga bagi siapa saja yang mau dan mampu menggunakan “akal” dan pengetahuannya. Beberapa ilmuwan yang menjadikan alam semesta sebagai salah satu bahan bacaan telah melahirkan kesuksesan yang luar biasa, diantaranya tokoh ilmuwan Barat seperti, Newton seorang tokoh revolusioner sains modern, Einstein sebagai tokoh ilmuwan besar dengan teori relativitasnya, Stephen W. Hawking sebagai tokoh tersohor di dunia yang masih hidup hingga sekarang dengan teori of everything nya, atau tokoh Muslim seperti, Al Biruni sebagai peletak dasar sains modern, Jabir Ibn hayyan sebagai bapak Kimia Modern, Ibn Sina sebagai perintis dunia kedokteran, Al Khawarijmi perintis Al Jabar dan Logaritma, Althusi sebagai konseptor observatorium dll. Mereka semua adalah sebagian kecil dari orang-orang sukses di dunia yang menjadikan alam semesta sebagai salah satu buku bacaan dalam mengisi perjalanan hidupnya. Mereka semua adalah orang-orang sukses yang telah melahirkan konsep-konsep, teori-teori dengan hasil temuan dan eksperimennya dalam analisis daya pikirnya untuk selalu memikirkan keagungan alam semesta. Tak hanya berhenti sampai disitu, bagi kita bagaimana alam semesta ini sebagai sebuah buku bacaan yang terhampar luas mampu memberikan ruang untuk menjadikan kita sukses tak hanya di dunia tapi juga di akhirat karena kita adalah orang-orang yang berakal [ulul albab], seperti dipesankan oleh Rasulullah Muhammad saw di atas, “celakalah orang yang membaca ayat ini (QS. Ali Imran [3]:190) hanya semata membaca, dengan tidak memperhatikan kandungan didalamnya”.

Prof Dr. Quraish Shihab memaknai Ulul Albab sebagai orang-orang yang memiliki akal yang murni. Kata Al Albab adalah bentuk jamak dari Lubb yaitu saripati sesuatu. Kacang, misalnya memiliki kulit menutupi isinya. Isi kacang dinamai lubb. Ulul Albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan berpikir. Yang merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah swt.

Siapakah sesungguhnya yang disebut dengan orang-orang berakal (ulul Albab)? Tuhan menjawab dalam firmanNya: “(yaitu) orang-orang yang berdzikir (mengingat) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran [3]:191).

 

1. Berdzikir; memurnikan kebeningan hati

Dalam Islam, seluruh amal ada batas-batasnya. Misalnya amalan puasa, kita hanya diwajibkan untuk menjalankannya pada bulan ramadhan saja. Demikian pula amalan haji, kita dibatasi waktu untuk melakukannya. Menurut Imam Al Ghazali, hanya ada satu amalan yang tidak dibatasi yaitu dzikir. Dalam Al Quran dikatakan, “Berdzikirlah kamu kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya” (QS. Al Ahzab [33] : 41). Dalam amalan-amalan lain selain dzikir yang diutamakan adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya. Yang penting baik tidaknya amal, bukan banyak tidaknya amal itu. Kata sifat untuk amal adalah ‘amalan shaliha bukan amalan katsira. Tapi khusus untuk zikir, Al Quran memakai kata sifat Dzikran Katsira, bukan Dzikran Shaliha. Betapapun jelek kualitas dzikir kita, kita dianjurkan untuk berdzikir sebanyak-banyaknya. Karena dzikir harus kita lakukan sebanyak-banyaknya, maka tidak ada batasan waktu untuk berdzikir. Oleh karena itu, ciri pertama yang mengaku dirinya ulul albab senantiasa berdzikir di setiap keadaan baik ketika berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring.

Perhatikan, kalimat “berdzikir sebanyak-banyaknya” menunjukan bahwa seseorang harus mengingat Tuhan secara berulang-ulang. Bagaimana Tuhan mengajarkan kita cara luar biasa dalam membangun kalimat positif secara berulang-ulang sehingga pengulangan kata dzikir ini mampu menembus alam bawah sadar kita. Pengulangan kata positif itulah yang disebut afirmasi, yang akhir-akhir ini merebah di kalangan hypnoterapi yang disebut dengan self-hypnosis. Self-hypnosis ini sebagai salah satu cara membangun keyakinan diri (self-belief) dan kekuatan mental seseorang hingga mencapai kesuksesan sesuai dengan yang diafirmasikannya. Maka dzikir pada level yang lebih tinggi adalah salah satu cara afirmasi dalam membentuk kekuatan  jiwa serta kebeningan hati. Karena pada dasarnya hati setiap manusia itu bening, lalu tugas kita adalah bagaimana mengembalikan kebeningan hati kita setelah sekian lama berbagai pikiran, perasaan dan tindakan negatif mengotorinya. Maka dzikir yang banyak adalah salah satu jawabannya. Seperti halnya air bening dalam gelas yang terkena setetes tinta hitam, maka berubah pula warna air itu menjadi hitam. Untuk mengambalikan air yang terkena tinta itu menjadi bening kembali maka dibutuhkan air bening baru yang lebih banyak untuk dicampurkan. Sekali lagi, untuk menghilangkan satu tetes tinta hitam saja dibutuhkan air bening baru yang begitu banyak. Hal ini berarti untuk mengeluarkan atau menghapus satu noktah hitam [dosa atau kesalahan] di dada ini dibutuhkan dzikir sebanyak-banyaknya, hingga noktah itu hilang dan menjadikan hati tetap bening kembali. Kondisi Air yang bening atau hati bening seperti ini yang oleh Prof. Quraish Shihab disebut dengan kondisi Ikhlas. Menurutnya ikhlas adalah mengeluarkan sesuatu dari sesuatu yang bukan esensinya. Air itu adalah hati kita. Air atau hati itulah esensi, tinta hitam sesuatu yang bukan esensi, sementara dzikir adalah tindakan yang mampu mengeluarkan pengotor dari beningnya hati itu sendiri. Kebeningan hati inilah yang kelak menyingkapkan kemampuan membaca berbagai aktivitas kita dengan mata hati dari cahaya Ilahi yang terang. Bahkan ketika kita sedang mencari anugerah Allah, bekerja mencari nafkah, kita tak boleh meninggalkan dzikir, sehingga seluruh aktivitas kita mendatangkan kesuksesan atau keberuntungan. Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung (Al Jumuah [62]:10).

Begitu penting dan bernilainya dzikir untuk dilakukan, menjadikan orang yang tidak berdzikir dikategorikan sebagai orang munafik. “dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (An Nisa [4]:142). Jadi, salah satu ciri orang munafik itu adalah orang yang sedikit berdzikir.

Dalam praktiknya, dzikir seperti apa yang dapat dilakukan dalam mengiringi dan tanpa mesti menghentikan seluruh aktivitas keseharian kita? Sederhananya, dzikir bisa diklasifikasikan berdasarkan apa yang kita baca. Menurut Abu Atha’ Al Sukandari, dzikir dapat dikelompokan menjadi dzikir yang berisi pujian kepada Allah swt., misalnya subhanallah (maha suci Allah), Al Hamdulillah (Segala Puji Bagi Allah), Laaa ilaha Illallah Huwa Allahu Akbar (tidak ada  Tuhan selain Allah dan Allah Maha Agung), tapi ada juga dzikir yang berisi doa kepada Allah swt. Misalnya, rabbana atiina fi dunnya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzaba an naar. Dzikir pun bisa berisi percakapan perasaaan kita kepada Allah. Dzikir seperti itu disebut Munajat. Orang yang sudah mencapai maqam tertentu, selalu berdzikir dengan bermunajat.

Kalau kita perhatikan secara seksama, tak hanya manusia, seluruh alam semesta berdzikir kepada Allah dengan cara tasbihnya mereka yang tak pernah kita pahami. Sesungguhnya alam semesta mengajarkan kepada manusia agar selalu ingat kepada Allah. Spirit dzikir inilah yang diajarkan Tuhan melalui alam semesta kepada manusia. Sebagaimana firmannya; “Maha suci dan Maha tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Al Israa [17] :44).

Spirit dzikir diatas tidak lain adalah kekuatan spiritual atau kekuatan jiwa yang diajarkan Tuhan kepada kepada seluruh makhluk terlebih manusia agar selalu menyerrtakannya dalam seluruh rangkaian aktivitas kehidupan kita di dunia, dalam bekerja, belajar, membaca dan merenungkan alam semesta ini sehingga mendatangkan keberuntungan dan kesuksesan di dunia maupun akhirat.

Karena sesungguhnya, dil luar kecerdasan otak, sikap mental yang baik dan kekuatan motivasi, faktor yang sangat berperan dalam membangkitkan kehebatanmu adalah kejernihan spiritual. Bila sedang shalat, Ali bin Abi Thalib tidak lagi merasakan beratnya segala kesusahan dunia. Ketika menantu Nabi saw., ini terkena anak panah, ia mendirikan shalat dan minta agar anak panah itu dicabut pada saat ia sedang khusyuk dalam shalatnya. Benarlah anak panah itu disabut dan Ali  Bin Abi Thalib seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Kisah ini menggambarkan pada kita bahwa kondisi Ruhani kita  berpengaruh sangat besar terhadap ketajaman otak, kekuatan fisik, dan kecemerlangan pikiran kita. Seperti halnya seorang penulis fiksi, menulis fiksi hanya dengan mengandalkan kekuatan imajinasi, akan menyerap energy yang lebih besar, butuh ketenangan untuk menuangkannya, dan meminta daya tahan yang cukup tinggi.

Ketajaman dan kejernihan spiritual (ruhiyah) kita berpengaruh terhadap kuat tidaknya pemikiran kita atas apa yang dibaca. Untuk menelurkan proses berpikir kreatif yang utuh, kekuatan spiritual sangat mempengaruhinya. Imam Bukhori setelah melakukan penelitian secara seksama, mendalam dan ekstra teliti, mengharuskan dirinya melakukan shalat istikharah setiap akan menuliskan satu hadits. Bila Allah memberi petunjuk bahwa hadis itu sebaiknya di tulis, barulah Imam Bukhori menuangkannya dalam tulisan. Begitulah setiap hendak menuliskan satu hadits, ia selalu melakukan shalat istikharah. Hasilnya Shahih Bukhori menjadi kitab yang insya Allah paling berkah dan sampai hari ini menjadi rujukan yang paling dipercaya.

Imam Malik yang terkenal dengan kitab Muwaththa nya, memiliki kisah lain. Bila orang datang hendak meminta fatwa, Imam Malik bisa segera keluar untuk menemui. Tetapi, bila ada yang datang hendak belajar hadits, Imam Malik memerlukan diri untuk mandi terlebih dahulu. Hadits merupakan perkataan yang agung sehingga Imam Malik memerlukan diri untuk menyucikan jiwa sebelum menyampaikan.

Apa yang dilakukan Imam Bukhari dan Imam Malik adalah gambaran bagi kita bahwa sebelum melakukan aktivitas, menghadirkan kejernihan spiritual dengan selalu mengingat (berdzikir) kepada yang Maha suci, menjadi langkah awal dalam menemukan dahsyatnya hati dalam menghasilkan kekuatan ‘membaca’ yang mengalir dengan deras dan semangat menggebu menghadang penghalang yang ada.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: