1] Sukses dengan Membaca Alam Semesta #

 

2. Berpikir; melahirkan kearifan dan kebijaksanaan

 

Esensi akal tampaknya terletak pada kemampuan
untuk mengetahui kapan harus berpikir dan bertindak cepat,
dan tau kapan harus berpikir dan bertindak lambat.
=Yale Robert J. Stenberg= 

 

Bagaimana Larry Page dan Sergey Brin berpikir sehingga melahirkan google, search engine yang luar biasa dahsyatnya yang secara praktis mampu memberikan informasi dengan kecepatan sepersekian detik ketimbang menggunakan alat-alat digital lain. Bagaimana Mark Zuckerberg berpikir  sehingga melahirkan jejaring sosial (face book) yang begitu luar biasa peminatnya akhir-akhir ini. Bagaimana Nabi Yusuf berpikir sehingga ia menjadi seorang penasihat raja yang bijaksana?  Bagaimana Nabi Ibrahim berpikir dalam pencarian Tuhannnya melalui perenungan berpikirnya terhadap penciptaan alam semesta sehingga ia sampai pada kesimpulan pencipta yang Maha Agung, Bagaimana Rasulullah berpikir sehingga seluruh perkataan dan tindakannya diikuti dan dijadikan pijakan dalam kehidupan manusia di seluruh alam. Bagaimana cara berpikir mereka semua sehingga melahirkan kesuksesan luar biasa?

Apakah sesungguhnya berpikir itu? Edwar De Bono, (2007: 24) mengatakan bahwa berpikir adalah “keterampilan mental yang memadukan kecerdasan dengan pengalaman.” Hubungan antara kecerdasan dengan kemampuan berpikir mirip dengan hubungan antara mobil dan pengendaranya. Sebuah mobil yang hebat bisa jadi dikendarai dengan buruk. Sedangkan mobil yang tak begitu hebat mungkin saja dikendarai dengan baik. Kehebatan si mobil adalah potensi untuk mobil itu; sama seperti kecerdasan juga merupakan potensi. Keterampilan mengendari menentukan bagaimana mobil itu dipakai. Keterampilan berpikir menentukan bagaimana kecerdasan digunakan.

Sekali lagi, kecerdasan hanyalah suatu potensi. Agar potensi itu dapat digunakan sepenuhnya, kita perlu mengembangkan keterampilan berpikir. Tanpa keterampilan itu, potensi yang kita miliki tidak sepenuhnya keluar. Berpikir merupakan kegiatan yang sangat alami -setiap orang normal pasti bisa melakukannya. Tak heran bila kebanyakan orang tidak merasa perlu mengembangkan kemampuan berpikirnya. Padahal berpikir adalah sebuah keterampilan-bukan sekedar bakat alami-yang harus dilatih dan dikembangkan. Latihan keterampilan berpikir ini akan mengembangkan kemampuan bakat alami yang dimiliki, bahkan yang tak berbakat pun jika keterampilan berpikirnya di latih secara ulet dan tekad yang kuat akan melahirkan kesuksesan luar biasa. Presiden Amerika Serikat yang ke-300, Calvin Coolidge, pernah berkata, “Nothing in the world can take the place of persistence. Talent will not; nothing is more common than unsuccessful men with great talent. Genius will not; unrewarded genius is almost a proverb. Education will not; the world is full of educated derelicts. Persistence, determination alone are omnipotent.” (tak ada satu pun di dunia ini yang bisa menggantikan keuletan. Bakat  pun tak akan; bertebaran kita lihat orang-orang gagal yang berbakat luar biasa. Kejeniusan juga tidak; jenius yang tidak dihargai hampir menjadi peribahasa. Pendidikan pun tidak; dunia ini dipenuhi oleh pengangguran intelektual. Keuleten, tekadlah yang paling menentukan. Keuletan  dan tekad itulah salah satu keterampilan berpikir.

Sementara di era global sekarang ini, satu aspek  media teknologi mampu memfasilitasi kebutuhan praktis manusia, sisi lain  telah menggeser cara berpikir manusia yang lebih praktis pula bahkan mirisnya, bagi sebagian orang bahwa kesuksesan itu dapat diperoleh dengan cara yang singkat, jalan pintas atau dalam bahasa sederhananya, “siapa berpikir dan bertindak cepat, dialah yang lebih dahulu dapat”. Meskipun kecepatan berpikir tak sepenuhnya keliru, karena ia bisa saja mencapai suatu target dalam waktu yang lebih singkat, hanya saja kecepatan yang tinggi tanpa visi yang jelas, alih-alih sampai pada tujuan malah kehilangan arah yang tak berujung. Ia berhenti pada satu titik, yang ia sendiri tak tahu berada dimana. Seperti halnya dalam menulis, Ide akan lebih deras mengalir kalau kita terlatih, bukan semata-mata jam terbang. Meskipun jam terbang yang tinggi memudahkan kita dalam menuangkan gagasan, tetapi tanpa secara sadar untuk selalu berusaha menulis yang lebih baik, tingginya jam terbang hanya memberi kita fluence (Kelancaran). Kita dapat menulis dengan cepat dan lancar, hanya tanpa greget dan harmoni, kosong tak berisi. Karena kecepatan atau lebih cepat bukanlah jawaban final dari sebuah tindakan, tetapi kecepatan mesti di ikuti dengan keheningan batin atau kekuatan jiwa sehingga melahirkan hasil yang bermakna. Karena sesungguhnya, kesuksesan sejati menyangkut soal kecepatan dan waktu untuk merenung, laju dan kesabaran, aksi dan inspirasi, kini dan nanti. Itulah cara berpikirnya orang-orang berakal. Maka tak keliru kalau, psikolog Yale Robert J. Stenberg mengatakan bahwa Esensi akal tampaknya terletak pada kemampuan untuk mengetahui kapan harus berpikir dan bertindak cepat, dan tau kapan harus berpikir dan bertindak lambat. Ini artinya bahwa arah atau visi selalu menyertai proses berpikir dan tindakan yang dilakukan, sehingga langkah pasti di setiap gerak lambat maupun cepatnya berakhir sesuai dengan yang diharapkan tanpa kehilangan arah. Sehingga, setiap orang mesti berusaha untuk tahu sebelum mereka mati, mereka lari dari apa, kemana dan mengapa?

Jika secara seksama kita perhatikan, banyak sekali yang terjebak dengan kalimat berpikir dan bertindak cepat! Semangat kerja, hingga lupa waktu. Hal ini semakin menampakkan apa yang oleh para psikolog dinamai perilaku “Tipe H”. Huruf “H” itu untuk hurried (gegas), hostile (ganas), dan Humourlless (gersang). Kita begitu bergegas, kita tidak punya waktu untuk hadir. Kita begitu ganas karena takut kalah cepat, kita akhirnya merasa tersisih. Dan kita begitu gersang, kita lupa untuk menikmati saat ini, atau bahkan saat kapanpun. Kita kehabisan jalan pintas dan kita benar-benar tersesat. Dan yang bisa kita pikirkan hanyalah bagaimana agar kita lebih cepat lagi. “Sebuah kebiasaan ironis manusia adalah kita berlari semakin cepat ketika kita kehilangan arah”, ungkap Psikolog Rollo May.

Oleh karena itu, M. Fauzil Adhim mengatakan, “cara berpikirlah yang sangat menentukan keunggulan anak-anak kita. Apakah mereka yang memimpin masa depan, ataukah masa depan yang mendikte kehidupan mereka. Tugas kita mengajarkan cara berpikir kepada mereka. Satu di antaranya yang menarik adalah cara berpikir yang di ajarkan Tuhan melalui proses berpikir yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. dalam pencarian Tuhannya melalui fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Bagaimana Nabi Ibrahim berpikir secara maksimal menggunakan kekuatan akalnya (rasionya) sehingga ia sampai pada kesimpulan pikirannya yang mengagumkan dalam pencarian Tuhannya. Kisah Pencarian Tuhan ala Berpikir Nabi Ibrahim ini layak menjadi sebuah standar pencarian Tuhan bagi ummat manusia di sepanjang massa.

Ketika malam Telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inikah Tuhanku?”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada apa-apa yang tenggelam (la uhibbu al ‘afiliin).” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inikah Tuhanku?”. tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku (yang aku cari) tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inikah Tuhanku?”, Ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya Aku menghadapkan wajahku (diriku) kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan hanif (kecenderungan kepada agama-ketundukan akal yang benar) dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (QS.Al An’am [6[:76-79).

 

Pertama-tama ketika Ibrahim melihat (sebuah) bintang, “inikah Tuhanku:” ketika bintang tenggelam ia berkata, “Aku tidak suka kepada apa-apa yang tenggelam (la uhibbu al ‘afiliin).” Dalam analisis benak Ibrahim, Tuhan mustahil tenggelam. Analisis inilah yang menjadi keyakinan pokok dalam pemikiran Ibrahim.

Lalu ketika bulan tenggelam, Ibrahim berkata dengan perkataan yang berbeda dengan ucapan ketika bintang tenggelam; “sesungguhnya jika Tuhanku (yang aku cari) tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Maha suci Tuhan, disini kita bisa tahu bagaimana analisis Ibrahim sampai kepada Tuhan yang sebenarnya masih ia cari. Disini Ibarahim menyadari bahwa Tuhan yang entah apa, entah siapa, yang sedang dicarinya itu, pasti akan memberikan petunjuk kepadanya untuk sampai kepada keimanan dan keyakinan yang benar; keimanan yang bukan menyebah “sesuatu yang tenggelam”.

Lalu Ibrahim melihat matahari. Ia berkata, “Inikah Tuhanku? Ini lebih besar lagi”. Sampai disini Ibrahim mendapati sesuatu yang cahayanya begitu terang. Akan tetapi, karena patokan Ibrahim adalah Tuhan mustahil tenggelam, tatkala matahari itu juga tenggelam, Ibrahim pun sampai pada keyakinan yang benar akan Tuhan. Ibrahim yakin bahwa Tuhan bukan bintang, bulan ataupun matahari, mengingat semua benda tersebut dapat tenggelam. Dengan lantang Ibrahim berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku terlepas dari apa yang kalian persekutukan. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (diriku) kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif (kecondongan kepada kepasrahan total kepadaNya), dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” Dalam analisis Ibrahim, Tuhan adalah pencipta langit dan bumi!.

Perhatikan ketajaman mata hati mendahului proses berpikir yang dilakukan oleh Nabi Ibrahmi, ini artinya dalam proses berpikir selalu disertai kekuatan spiritual (menghadirkan kekuatan jiwa yang menggerakan semua peristiwa), sehingga kebijaksanaan dari buah pikirannya dalam membaca fenomena yang terjadi sesuai dengan yang diharapkan, tidak menjadikannya kehilangan arah. Oleh karena itu ciri kedua dari orang yang mengaku dirinya ulul albab adalah selalu berpikir dengan disertai kejernihan spiritual disetiap tindakannya sehingga melahirkan kearifan dan kebijaksanaan hidup.

Sesunguhnya, jika kita mentafakuri alam ini dengan pikiran jernih, kita akan menemukan bahwa alam semesta bagaikan bangunan rumah yang menyediakan berbagai perlengkapan yang sempurna. Langit ditinggikan seperti atap, bumi dihamparkan seperti lantai, bintang-bintang ditaburkan seperti lampu, dan barang-barang di perut bumi ibarat kekayaan yang terpendam. Semua itu di siapkan dan di sediakan untuk kepentingan alam itu. Sementara itu, manusia ibarat pemilik rumah yang  dianugerahi segala isinya. Berbagai jenis tumbuhan disediakan untuk memenuhi kebutuhannya dan bermacam-macam hewan diberikan untuk menopang kehidupannya. Apakah kita termasuk orang yang berpikir? Hadirkanlah ketajaman batin di setiap proses berpikir yang dilakukan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: