2] Sukses dengan Membaca Diri


Mengenal orang lain itu kecerdasan,
mengenal diri sendiri itulah kearifan sejati
= Lao Tzu =

Agar bisa menemukan dirimu saat berkaca,
bersihkan dirimu dari debu dan karat
= Pepatah Sufi =

 

Tujuanmu Mengenal “Password” Diri Sendiri

Siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya, begitulah para sufi menyebutnya. Pengenalan dan pengetahuan akan diri sendiri menempati posisi yang sangat penting dikalangan para sufi, sehingga disejajarkan dengan pengetahuan atau pengenalan akan Tuhan. Tahu diri = Tahu Tuhan. Begitu tinggi kedudukan pengetauhan diri ini. Tak ada satu pengetahuan pun di dunia ini yang sejajar dengan pengetahuan tentang Tuhan.

Apa yang menjadikan pengetahuan diri ini menempati posisi yang sangat tinggi. Hal ini dapat dipahami karena pengetahuan diri sendiri merupakan ukuran, standar atau patokan untuk orang lain. Mengenal orang lain itu kecerdasan, mengenal diri sendiri itulah kearifan sejati, begitulah Lao Tzu berujar. Sebelum mencubit orang lain, cubitlah diri sendiri, karena orang lain akan merasakan sakit yang sama dengan yang  anda rasakan. Begitu pula jika Anda mencintai atau mengasihi orang lain, jadikanlah diri sendiri sebagai ukurannya. Rasulullah Muhammad saw., bersabda, “Cintailah saudaramu layaknya engkau mencitai dirimu sendiri.” Dalam pergaulan dan kehidupan sosial, diri sendiri seringkali luput untuk disertakan sebagai ukuran. Banyak dari kita yang lupa diri, atau tak tahu diri saat bergaul dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga banyak orang yang merasa sakit, teraniaya dan sengsara karena ulah kita. Diri kita adalah cermin bagi orang lain, dan orang lain merupakan cermin untuk kita mengaca.

Lalu bagaimana agar kita mampu melihat diri kita di cermin. Pepatah sufi mengatakan, Agar bisa menemukan dirimu saat berkaca, bersihkan dirimu dari debu dan karat. Debu dan karat pada cermin adalah tabir. Oleh karenanya, kamu harus membersihkannya, setelah bersih kamu dapat melihat dan menemukan siapa dirimu sebenarnya. Debu dicermin itu ibarat katarak yang ada di mata hatimu. Semuanya harus dibersihkan agar kamu bisa melihat dan merasakan dirimu yang sebenarnya. Bukalah tabirnya, disana ada rahasia yang siap kamu gunakan. Rahasia yang membuatmu dapat meraih apapun yang kamu inginkan. Rahasia itu hanya untukmu karena orang lain tentulah memiliki paswordnya sendiri. Jika ada yang tidak beres, yang tidak selayaknya pada orang lain, bertanyalah pada diri sendiri, carilah dan ingatlah password dirimu sendiri, mungkinkah ketidakberesan itu karena kita tidak peduli, karena kita mementingkan diri sendiri, atau karena kita lupa sendiri.

Mengetahui password adalah kunci awal untuk mengetahui pengetahuan lainnnya, bisa anda bayangkan jika password komputer yang anda miliki anda lupa, dapat dipastikan anda tidak akan dapat menggunakannya. Jika password itu benar-benar lupa maka yang anda lakukan adalah mereset ulang komputer tersebut artinya set ulang diri anda, memulainya dengan jiwa yang bersih sehingga anda dapat menemukan password baru yang benar-benar sejati dan mampu menggunakannya untuk mendapatkan pengetahuan yang sesungguhnya. Password diri itu bernama Tujuan, Visi, Mimpi, Self Image (citra diri), sehingga mampu mengeluarkan potensi diri dari dalam keluar, karena sesungguhnya sukses itu mempotensikan diri dari dalam keluar (in-Out).

 

Pasword In-Out itu adalah Tujuan-Visi-Mimpi

Seluruh ciptaan Allah, semua gejala semesta, dan setiap gerak di dunia adalah al Kitab yang menggambarkan kekuasaan Allah dan menjadi petunjuk nyata bagi manusia yang ingin dan berusaha memahaminya, menggunakan potensi rasionalnya untuk mengabstraksikan seluruh tanda-tanda itu dalam praktik kehidupan sehari-hari. Alam semesta adalah kitab, begitu pula pada diri manusia, yang bisa di baca, ditafsirkan dan di eksplorasi seluruh potensinya sehingga benar-benar menunjuki manusia pada jalan yang benar.

Menanamkan kekuatan diri dalam menetapkan tujuannya-visinya-mimpinya sebagai pribadi sukses sebagaimana di contohkan Nabi Yusuf As., adalah langkah awal yang mampu menghantarkan pada kesuksesan yang sesungguhnya. Ini terlihat dari dari kekuatan Nabi Yusuf untuk membuktikan apa yang di mimpikannya. Ketika kecil Nabi Yusuf as. pernah bermimpi yang begitu luar biasa, mimpinya itu kelak menjadi impian yang ingin ia buktikan di masa depan. Nabi Yusuf  As. menceritakan mimpinya kepada Ayahnya yakni Nabi Ya’kub As., “Ayah, aku bermimpi melihat sebelas planet, matahari dan bulan bersujud kepadaku.” Ayahnya, Ya’kub menjawab, “Jangan kau ceritakan mimpimu kepada saudaramu, karena mereka akan melakukan reka perdaya. Sungguh setan merupakan musuh yang nyata bagi manusia.” [QS. Yusuf :2-5]

Ketika Yusuf menyampaikan impiannya kepada Ayahnya Ya’kub, ia telah menyadari betul bahwa impiannya bisa tercapai dan ia miliki kapasitas atau potensi diri yang memadai untuk mencapai impiannya itu. Dalam kesulitan yang menghimpit, ia menyadari bahwa dirinya adalah singa yang menunggu kekuatannya disadari. Langkah-langkah yang ditempuh Yusuf untuk mencapai impiannya merupakan langkah-langkah yang terencana, senantiasa diarahkan pada visi dan impian yang telah ditanam dalam dirinya.

Tentukan masa depan macam apa yang anda inginkan, itulah langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi Yusuf As. dalam menjalani hidupnya. Nabi Yusuf adalah contoh nyata dari Tuhan untuk dijadikan contoh bagi seluruh ummat manusia di bumi pertiwi, kisah sukses Nabi Yusuf ini telah teruji dan terjamin kebenarannya karena Nabi Yusuf As. mampu mengalahkan dan melewati masa-masa sulit perjalanan hidupnya hingga meraih kesusksesan yang diabadikan oleh Allah Swt dalam surat cintanya Alquranul Karim. Pribadi sukses Nabi Yusuf As. ini terlihat sebagaimana Rumi dalam Matsnawinya, mengisahkan percakapan Nabi Yusuf As. yang kala itu telah sukses sebagai tangan kanan, penasihat ekonomi dan bendahara Raja Mesir yang bercengkrama dengan sahabat di masa kecilnya, dalam keakraban reuni pribadi tersebut, sang sahabat bertanya kepada Yusuf:

“Bagaimana rasanya saat kamu tahu bahwa saudara-saudaramu iri, dan merencanakan sesuatu atas dirimu?”

Yusuf menjawab, “Aku seperti singa berkalung rantai. Tak merasa hina karena dirantai, dan aku tidak mengeluh. Aku menunggu dayaku sendiri.

Lalu bagaimana saat kau berada dalam sumur, kemudian di penjara?”

“Seperti bulan yang masih sabit, namun tahu saat purnamanya. Seperti mutiara sangat kecil dalam wadah tempat menumbuk ramuan obat. Mutiara itu tahu ia akan menjadi cahaya di mata manusia. Seperti butir gandum di tanah, lalu tumbuh, kemudian di panen, setelah itu masuk ke penggilingan, lalu dibuat roti, kemudian dikunyah untuk menjadi inti terdalam manusia. Ia hilang dalam cinta, seperti kidung yang dilantunkan para penggarap tanah, pada malam seusai menabur benih.”

Lihat kepercayaan diri dari Nabi Yusuf As., dalam bahasa sederhananya “just wait and see”, bukankah semuanya menjadi serba mungkin bagi orang yang percaya?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: