Sukses Membaca Diri 2#

….. lanjutan

 

Pasword In-Out itu adalah Tujuan-Visi-Mimpi

Seluruh ciptaan Allah, semua gejala semesta, dan setiap gerak di dunia adalah al Kitab yang menggambarkan kekuasaan Allah dan menjadi petunjuk nyata bagi manusia yang ingin dan berusaha memahaminya, menggunakan potensi rasionalnya untuk mengabstraksikan seluruh tanda-tanda itu dalam praktik kehidupan sehari-hari. Alam semesta adalah kitab, begitu pula pada diri manusia, yang bisa di baca, ditafsirkan dan di eksplorasi seluruh potensinya sehingga benar-benar menunjuki manusia pada jalan yang benar.

Menanamkan kekuatan diri dalam menetapkan tujuannya-visinya-mimpinya sebagai pribadi sukses sebagaimana di contohkan Nabi Yusuf As., adalah langkah awal yang mampu menghantarkan pada kesuksesan yang sesungguhnya. Ini terlihat dari dari kekuatan Nabi Yusuf untuk membuktikan apa yang di mimpikannya. Ketika kecil Nabi Yusuf as. pernah bermimpi yang begitu luar biasa, mimpinya itu kelak menjadi impian yang ingin ia buktikan di masa depan. Nabi Yusuf  As. menceritakan mimpinya kepada Ayahnya yakni Nabi Ya’kub As., “Ayah, aku bermimpi melihat sebelas planet, matahari dan bulan bersujud kepadaku.” Ayahnya, Ya’kub menjawab, “Jangan kau ceritakan mimpimu kepada saudaramu, karena mereka akan melakukan reka perdaya. Sungguh setan merupakan musuh yang nyata bagi manusia.” [QS. Yusuf :2-5]

Ketika Yusuf menyampaikan impiannya kepada Ayahnya Ya’kub, ia telah menyadari betul bahwa impiannya bisa tercapai dan ia miliki kapasitas atau potensi diri yang memadai untuk mencapai impiannya itu. Dalam kesulitan yang menghimpit, ia menyadari bahwa dirinya adalah singa yang menunggu kekuatannya disadari. Langkah-langkah yang ditempuh Yusuf untuk mencapai impiannya merupakan langkah-langkah yang terencana, senantiasa diarahkan pada visi dan impian yang telah ditanam dalam dirinya.

Tentukan masa depan macam apa yang anda inginkan, itulah langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi Yusuf As. dalam menjalani hidupnya. Nabi Yusuf adalah contoh nyata dari Tuhan untuk dijadikan contoh bagi seluruh ummat manusia di bumi pertiwi, kisah sukses Nabi Yusuf ini telah teruji dan terjamin kebenarannya karena Nabi Yusuf As. mampu mengalahkan dan melewati masa-masa sulit perjalanan hidupnya hingga meraih kesusksesan yang diabadikan oleh Allah Swt dalam surat cintanya Alquranul Karim. Pribadi sukses Nabi Yusuf As. ini terlihat sebagaimana Rumi dalam Matsnawinya, mengisahkan percakapan Nabi Yusuf As. yang kala itu telah sukses sebagai tangan kanan, penasihat ekonomi dan bendahara Raja Mesir yang bercengkrama dengan sahabat di masa kecilnya, dalam keakraban reuni pribadi tersebut, sang sahabat bertanya kepada Yusuf:

“Bagaimana rasanya saat kamu tahu bahwa saudara-saudaramu iri, dan merencanakan sesuatu atas dirimu?”

Yusuf menjawab, “Aku seperti singa berkalung rantai. Tak merasa hina karena dirantai, dan aku tidak mengeluh. Aku menunggu dayaku sendiri.

Lalu bagaimana saat kau berada dalam sumur, kemudian di penjara?”

“Seperti bulan yang masih sabit, namun tahu saat purnamanya. Seperti mutiara sangat kecil dalam wadah tempat menumbuk ramuan obat. Mutiara itu tahu ia akan menjadi cahaya di mata manusia. Seperti butir gandum di tanah, lalu tumbuh, kemudian di panen, setelah itu masuk ke penggilingan, lalu dibuat roti, kemudian dikunyah untuk menjadi inti terdalam manusia. Ia hilang dalam cinta, seperti kidung yang dilantunkan para penggarap tanah, pada malam seusai menabur benih.”

Lihat kepercayaan diri dari Nabi Yusuf As., atau yang dalam bahasa sederhananya “just wait and see”, bukankah semuanya menjadi serba mungkin bagi orang yang percaya?

 

Pasword In-Out itu adalah Self Image (Citra Diri)

Di era teknologi informasi hari ini yang kian melesat, beragam produk modern karya cipta manusia tersaji dengan cepat bahkan hampir semua jenjang usia mampu mengkonsumsi informasi tersebut baik secara positif maupun negatif. Siapa yang tidak tahu dengan jejaring social media, seperti facebook, twitter, blogging, yahoo messanger, flicker dan banyak lagi yang lainnya. Kitab peradaban tersaji dengan lengkap, informasi pun mampu didapatkan secepat kilat. Bahkan Google seolah sudah menjadi mesin penjawab keluh kesah seluruh manusia di semesta raya. Di satu aspek peluang menjadikan cerdas terbuka dengan terang, namun pada aspek lain sikap pragmatis dari kebanyakan orang (kalau tidak seluruhnya) memanfaatkan bahwa belajar tak mesti serius karena cukup hanya dengan mengklik google, pertanyaan apapun terjawab sudah. Bahkan jejaring social media terlebih untuk jenjang anak-anak hingga remaja menggunakannya hanya untuk bermain-main hingga mereka lupa dengan belajar, lupa dengan apa kebutuhan hidup sesungguhnya, terlebih siapa dirinya sudah tak pernah tersentuh lagi. Padahal, Sembilan puluh persen kesengsaraan dunia berasal dari orang-orang yang tidak mengenal diri mereka sendiri, kemampuan, kelemahan moril dan bahkan kebajikan mereka yang sesungguhnya. Kebanyakan diri kita menjalani hampir seluruh hidup kita sebagai orang yang sama sekali asing terhadap diri sendiri, ungkap Sydney J. Harris. Kemampuan mengenal diri lebih dalam, itulah yang menjadi citra diri sesungguhnya.

1. Citra diri dan Persepsi

“Kita melihat segala sesuatu bukan sebagaimana mereka adanya melainkan sebagaimana kita adanya”, tulis Imanuel Kant. Citra diri anda merupakan lensa yang dengannya Anda memandang dunia. Jika Anda tidak bisa melihat diri Anda sebagai seorang yang sukses dalam suatu hal, Anda mungkin membisikan pada diri anda untuk berhenti mencoba, atau jika anda bisa melihat diri Anda berbakat dalam sesuatu, Anda mungkin menemukan segala macam kekuatan batin dan pertolongan dari luar. Seluruh keputusan anda didasarkan pada apa yang menurut anda pantas anda dapatkan.

2. Citra diri dan Keyakinan

Anda tidak melihat dunia yang objektif bagi Anda. Anda melihat apa yang Anda yakini. Anda melihat yang anda harapkan. Anda melihat apa yang anda takutkan. Baik orang sinis maupun optimis sama sama meyakini bahwa mereka melihat “kebenaran”, tetapi sebenarnya mereka hanya melihat apa yang paling mereka kenali. Jadi, seorang sinis melihat “peluang” sebagai pendahulu sebuah kekecewaan; sedangkan seorang optimis melihat “peluang” sebagai kesempatan untuk berpetualang. Keyakinan diri sesungguhnya merupakan pandangan pribadi Anda tentang apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika Anda mengubah keyakinan Anda, jagat peluang yang baru pun muncul.

Ralp Waldo Trine mengawali bukunya, In Tune with the Infinite, dengan sebuah pembuka yang menyatakan:

Orang yang optimis itu benar. Yang pesimis pun benar. Yang satu berbeda dari yang lain sebagaimana terang berbeda dengan gelap. Namun, keduanya benar. Masing-masing benar dalam sudut pandangnya sendiri, dan sudut pandang ini adalah penentu dalam kehidupan masing-masing. Sudut pandang itulah yang menjadi penentu apakah hidupnya penuh daya atau tiada daya, tenteram, atau sengsara, sukses atau gagal.

3. Citra Diri dan Isi Pikiran

Psikolog Albert Bandura adalah pioneer dalam penelitian tentang penerimaan diri dan kesuksean. Penelitiannya menunjukan bahwa, “orang yang memandang dirinya sangat efektif bertindak, berpikir,  dan merasa dengan cara yang berbeda dari orang yang memandang dirinya tidak efektif. Mereka menciptakan masa depan mereka sendiri, bukan meramalkannya.”

4. Citra Diri dan Komunikasi (Komunikasi adalah Respon)

Citra Diri Anda sangat mempengaruhi cara Anda berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Pada dasarnya setiap hubungan Anda dengan orang lain merupakan kepanjangan dari hubungan Anda dengan diri sendiri. “Keyakinan Anda pada orang lain dan keraguan Anda pada mereka, terkait erat dengan keyakinan dan keraguan Anda pada diri sendiri.” Tulis Kahlil Gibran, pengarang Sang Nabi.

5. Citra Diri dan Perilaku (Sikap)

Citra Diri Anda merupakan “penasihat internal Anda” yang membimbing anda untuk “melakukan atau tidak melakukan”. Citra Diri lah yang menimbang setiap situasi dan menyarankan Anda untuk mengambil suatu tindakan atau tidak bertindak.

Maxwel Maltz dalam bukunya, Psycho-Cybernetics, dia menulis:

Penemuan psikologi terpenting abad ini adalah penemuan tentang “citra diri”. Entah kita menyadarinya atau tidak, masing-masing kita membawa di dalam diri kita cetak biru mental atau gambaran tentang diri kita sendiri. Gambaran itu mungkin kabur dan tidak jelas dalam pandangan sadar kita. Pada kenyataannya, gambaran itu mungkin sama sekali tidak bisa dikenali secara sadar. Tetapi itu ada, lengkap sampai ke perinciannya yang terakhir… seluruh tindakan, perasaan, perilaku – bahkan kemampuan Anda-Konsisten dengan citra-diri ini. Pendeknya, Anda akan “bertindak sesuai” dengan apa yang Anda yakini tentang diri Anda.”

Akhirnya, sepenggeal syair  indah, Exchart Tolle layak untuk kita renungkan kembali dalam mengiringi penelusuran diri yang sesungguhnya

when you lose touch with inner stillness
you lose touch with yourself
when you lose touch with yourself
you lose your self in the world
your innermost sense of self
of who you are
is inseparable from stillness
this as the I am
that is deeper than name and form

Stillness Speaks; Exchart Tolle–

Comments are closed.

%d bloggers like this: