3. Bersyukur; hadirkan kesuksesan dalam kuatnya keyakinan

sukses membaca alam semesta bagian 3


berfokus pada kekurangan
jadikan diri dalam kecurangan,
berpikir berlebih tuk berbagi
jadikan hati semakin jernih dalam heningnya kebenaran,
karenanya hadirlah sabar dan syukur
sebagai pengokoh kuatnya keyakinan

=sajak tarian agung semesta, jamiludin=

 

Hari ini, begitu banyak keajaiban alam semesta yang dapat kita saksikan dengan mata telanjang, terlebih teknologi yang semakin canggih membuktikan berbagai hal yang semula dianggap mustahil. Manusia dengan keberagaman sifat, karakter dan kemampuannya dalam menjadikan alam ini lebih berguna menjadi kunci yang tak terbantahkan sebagai makhluk berakal sehingga mampu melahirkan hal-hal tak terduga yang luar biasa mencengangkan. Namun, sedikit sekali orang yang memosisikan dirinya dalam cara pikir yang positif, dalam cara pikir yang berlebih. Mereka selalu berfokus pada kekurangan, bagi yang merasa dirinya “miskin” tak sedikit orang yang berkeluh kesah dengan keberadaannya dalam menghadapi realitas dunia modern yang serba praktis pun dianggapnya mahal, tak ada ruang baginya untuk menikmati kemegahan dan kemewahan dunia ini, sementara bagi orang yang merasa “kaya” malah mengeksploitasi alam semesta ini sebagai alat untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan kesenangan hidupnya, ini bukanlah bentuk keserakahan tapi ini adalah kekayaan melimpah yang harus dinikmati sepuasnya, ungkapnya. Bagi yang merasa “bodoh” ia menjadi bulan-bulanan tak karuan, hidupnya bergantung pada kebijakan dan perintah orang lain tanpa tau arah yang dijalaninya. Ia terperosok dalam perjalanan tak berujung yang tak menentu tanpa target dan tujuan yang jelas, ia telah mati dalam kehidupanya sendiri, sementara bagi orang yang merasa “cerdas” kekuasaan dan kejeniusannya malah menjadikan semesta ini sebagai kapal untuk berlayar mengarungi samudera dalam mencari harta karun untuk memperkaya dirinya sendiri. Saya cerdas, saya berkuasa itulah jerih payah saya, ia lupa siapa di balik semua yang menjadikannya berdiri kokoh dalam kegagahannya hari ini. Bagi orang yang merasa “sakit” ia selalu beralasan tak mampu melakukan aktifitas secara baik karena ketakberdayaannya, sementara bagi orang yang merasa “sehat” ia melakukan kegiatan sesuka hati tanpa ia sadari bahkan karena kekuatan tangannya ia mampu melahirkan karya luar biasa, kekokohan kakinya mampu menyangga badannya tetap berdiri tegak, ketajaman matanya hingga mmapu melihat benda-benda kecil sekalipun bahkan satu-satunya penerang yang menuntunnya berjalan, kepekaan hidungnya dalam menghirup udara segar membedakannya dari bau busuk yang menyengat, biibir dan mulutnya hingga mampu berkomunikasi secara sempurna dengan sesama manusia. Semua seolah biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. padahal jika ia kehilangan satu mata saja untuk melihat, atau kaki untuk berjalan, ia akan merasakan sungguh luar biasa kesehatan dan kesempurnaan diri yang dimilikinya itu.

Dari semua itu, kalaulah kita mau jujur pada diri sendiri, sesungguhnya tak ada jurang pemisah antara miskin-kaya, bodoh-cerdas, sakit-sehat. Adalah cara berpikir yang selalu berfokus pada kekurangan lah yang menjadikan orang itu selalu bernilai negatif. Cara berpikir yang berfokus pada kekuarangan inilah yang menjadikan orang miskin terjermus pada kemiskinan terus-menerus, menjadikan orang kaya terjerumus pada keserakahan yang meluap-luap bak harimau yang hendak menerkam mangsanya, menjadikan orang bodoh tak pernah berpikir progresif hanya menunggu dan menunggu, menjadikan orang kaya lupa akan dirinya, menjadikan orang sakit merintih dalam keterpurukannya, menjadikan orang sehat bergagah-gagah dalam kelakar kekuatannya. Cara berpikir kekurangan inilah yang menjadi kunci kehancuran dalam menyikapi seluruh aspek kehidupan ini. Yang sering terlupakan oleh kita adalah bahwa sesunguhnya manusia diciptakan oleh Tuhan dalam wujud yang paling sempurna, tidak dalam bentuk kekurangan sedikitpun. Tuhan pun berfirman; laqad khalaknal insaana fi ahsani takwiim. Sesungguhnya kami telah mencitpakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At Tiin [95]:4). Ini artinya bahwa kita diciptakan sempurna sehingga mengharuskan kita untuk berpikir lebih, tidak berpikir kekurangan. Berpikir positif tidak berpikir negatif. Berpikir lebih dan berpikir positif inilah yang akan mampu menerima, menggerakan dan memaksimalkan segala potensi dalam berbagai aktifitas dan keberadaan  seperti apapun secara lebih sempurna. Selalu optimis, berpikir jauh kedepan menatap masa depan dengan senyuman. Membuka cara pikir kita terhadap semua yang dijalani dengan penuh kesungguhan karena itulah yang akan memberikan ruang dan jalan yang lebar bagi kita, serta menambah keberlimpahan yang tak terduga. Cara berpikir lebih untuk berbagi, cara pikir positif untuk senantiasa menerima dan menggunakan nikmat apapun secara lebih baik itulah yang dalam agama di sebut dengan syukur. Bahkan Tuhan pun memberikan Jaminan bahwa siapa saja yang bersyukur maka Tuhan akan menambah nikmat yang lebih luar biasa tak terduga, sebaliknya siapa yang kufur maka siksaan yang pedih yang kelak didapatkannya. Waid taadzana rabbukum lain syakartum la azidannakum walain kafartum inna ‘adzabi la syadiiid. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim [14]:7).

Apa sesungguhnya syukur itu? Hakikat syukur adalah menampakkan nimat antara lain menggunakannnya pada tempatnya serta sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya; juga menyebut-nyebut pemberinya dengan baik. Pakar Bahasa ar Raghib al Asfahani menulis mufradatnya bahwa kata syukur mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya kepermukaan.” Kata ini  berasal dari kata Syakara yang berarti membuka, sehingga ia merupakan lawan dari kata Kafara yang berarti menutup, yang juga berarti melupakan nikmat Allah dan menutup-nutupinya/ tidak mensyukurinya (Quraish Shihab : 17).  Karena rasa syukur ini tiada lain adalah untuk kebaikan dirinya sendiri bukanlah untuk Tuhan karena Tuhan Maha Kaya dan tidak membutuhkan atas segalanya.

Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.” (Dalam QS Luqman (31): 12)

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Maha kaya (tidak membutuhka sesuatu) lagi Mahamulia” (QS An-Naml [27]: 40)

Abdullah Al Anshari berkata, “Ibadah yang  kita lakukan adalah nikmat Allah yang harus disyukuri. Kesyukuran pada nikmat juga merupakan nikmat yang harus kita syukuri. Adakah nikmat Allah yang kita syukuri ?” Syukur yang sebenarnya adalah “mengakui bahwa diri kita tidak mampu bersyukur kepada Allah”. Syukur dalam tingkat yang paling rendah, kata syaikh Abdurrahman Al Harawi, adalah engkau meneriman dan menggunakan nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Kerelaanmu atas pemberian Allah yang seadanya adalah bentuk lain dari syukur dalam tahap paling rendah. Bentuk syukur paling rendah adalah engkau mengucapkan terima kasih kepada Allah melalui lisan. Kemudian engkau lanjutkan dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan fungsinya. Tingkatan syukur yang pertengahan adalah engkau meyakini bahwa nikmat yang engkau terima bukan balasan atas ibadahmu kepada Allah. Namun, nikmat tersebut benar-benar anugerah yang  murni dariNya. Kemudian, tingkat syukur yang paling tinggi adalah engkau mengakui tidak dapat mensyukuri nikmat yang engkau terima.

Suatu ketika Nabi Daud as bermunajat kepada Allah. Dalam munajatnya dia berkata, “Ya Allah, bagaimana syukur yang sebenarnya? Sebab, jika aku dapat bersyukur kepadamu, syukurku adalah nikmat lain darimu.” Allah swt berfirman kepada Daud as., “Jika engkau mengetahui dan mengakui bahwa syukur adalah nikmat dari Ku, engkau benar-benar telah bersyukur kepadaKu.

Dari uraian sebelumnya tentang dzikir dan pikir terlihat jelas bahwa objek dzikir adalah Allah, sedang objek pikir adalah makhluk-makhluk Allah berupa fenomena alam. Ini berarti pengenalan kepada Allah lebih banyak di dasarkan kepada kalbu, sedang pengenalan alam raya oleh penggunaan akal, yakni berpikir. Akal memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan dzat Allah, karena itu dapat di pahami sabda Rasulullah saw, yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim melalui Ibnu Abbas, “berpikirlah tentang makhluk Allah, dan jangan berpikir tentang dzat Allah.”

Mendahulukan dzikir atas pikir karena dengan dzikir mengingat Allah dan menyebut-nyebut nama dan keagunganNya, hati akan menjadi tenang, dan dengan ketenangan pikiran akan menjadi cerah bahkan siap untuk memperoleh limpahan ilham dan bimbingan Ilahi. Banyaknya dzikir dan tajamnya berpikir akan senantiasa melahirkan rasa syukur terhadap apapun yang terjadi, dengan mengatakan ““…“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia…”.

Manusia yang membaca lembaran alam raya, niscaya akan mendapatkan keagungan dan kesempurnaanNya. Rasa syukur sebagai penutup atas dzikir dan pikir yang dilakukannya akan mampu menghadirkanNya dalam kuatnya keyakinan. Sekali lagi, membaca alam semesta, janganlah semata membaca akan tetapi, bacalah alam semesta serta merenungkannya secara seksama dengan  selalu berdzikir, berpikir dan bersyukur atas semesta ini akan mendekatkan kita pada kesuksesan di dunia pun di akhirat.

Bersyukur Ala Nabi Sulaiman Karena Kekayaanya

Bersyukur Ala Nabi Ayub Karena Rasa Sakit yang Dideritanya

be continue…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: