3] Sukses dengan Membaca Firman Tuhan

 

1. Al Quran sebagai SOP Kehidupan

 

Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk
kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira
kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh
bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.
(Al-Isra’[17]: 9 ).

 

Memfungsikan Akal dan Hati

Bagaimana sebuah perusahaan besar mampu melakukan rangkaian kinerjanya dengan sempurna bahkan seluruh sistemnya yang kita anggap rumit bagi mereka menjadi terlihat mudah, rapih, teratur, sederhana, sehingga proses pengaturannya menjadi lebih terarah untuk sampai pada target dan tujuan dengan jelas dan tepat. Bagaiamana sebuah tata pemerintahan yang begitu kompleks mampu menjalankan seluruh rangkaian aktivitasnya dengan begitu sempurna sehingga intruksi dari atasan sampai ke bawahan tersampaikan dengan cepat. Bahkan dalam hal yang lebih aplikatif sekalipun, seperti teknologi komputer, robot, mobil, motor atau hasil proses digital lainnya mampu berfungsi dengan sangat baik, padahal semua komponennya yang sangat kecil bekerja dengan begitu rumit.

Komputer sebagai produk digital yang menjadi kitab suci peradaban modern hingga dalam bentuknya yang paling kecil, sejenis hand phone telah mampu mengakses informasi yang nun jauh disana menjadi dekat sedekat kekasih yang selalu hadir di benak melampau ruang dan waktu nan sejuk hiasi hati. Sesaat terkadang kita pun dibuatnya marah tatkala komputer atau hand phone itu tak mampu lagi mengakses internet karena koneksi yang terputus, terlebih jika komputer itu rusak. Kita menyebutnya mati,, mati,, ya mati. Mati tak lain adalah tidak berfungsinya unsur-unsur atau komponen yang mengintegrasikannya menjadi satu kesatuan system yang mampu bekerja maksimum. Satu saja komponen itu terputus dari sekian ratus komponen yang saling sengkarut akan mempengaruhi jalannya system sehingga tidak berfungsi maksimal. Begitu pula tatkala kita memakai motor atau mobil kemudian mogok alias tidak nyala, kita menyebutnya mati atau tak hidup, mungkin karena bensinnya habis, businya jelek, mesinnya rusak, atau bagian chasis dan kelistrikannya tidak berfungsi. Ketika system itu berfungsi maka dengan tegas kita menyatakan bahwa komputer, hp, motor, mobil itu hidup. Atau dalam wujud yang benar-benar tampak hidup sekalipun seperti tumbuhan atau hewan, tumbuhan dikatakan mati ketika batang, ranting, daun tak lagi tumbuh menjadi lebih besar atau hewan tak lagi mampu bergerak. Begitu pula manusia dikatakan mati ketika ruhnya meninggalkan jasadnya, hanya saja manusia lebih kompleks dari yang dibayangkan. Setelah mati pun manusia masih dianggap hidup tatkala meninggalkan berbagai kebaikan yang dilakukan selama hidupnya didunia. Bahkan kelak dibangkitkan kembali setelah kematian dan akan hidup kekal. Padahal tak hanya manusia, semua wujud di dunia ini kelak akan mendapatkan kehidupannya kembali dan akan mendapati balasannya masing-masing. Namun dari semua itu, manusia adalah sebaik-baiknya makhluk yang diciptakan dengan berbagai kompleksitasnya, dia tumbuh, bergerak, bahkan mampu menggerakan yang lain.

Manusia diberikan anugerah yang luar biasa yakni akal dan hati. Dimana manusia mampu berbicara, melihat, meraba, merasa, dan melangkah, yang semuanya digerakan oleh akal dan hati yang menjadi system utuh penanda berfungsinya kesempurnaan hidup manusia. Akal yang mempengaruhi cara pikir manusia dalam melakukan tindakan atas berbagai pilihan yang Nampak pun tak nampak. Akal yang kelak menjadi penanda kualitas kesempurnaan manusia atas tindakannya. Maka tidak salah jika Imam Ali kw mengatakan bahwa tidak ada kewajiban beragama bagi seseorang yang tidak berakal, Laa Diina liman La Aqla Lahu. Karena yang tidak memaksimalkan akalnya tak jauh berbeda dengan orang gila yang hidup tanpa dibebani tugas apapun, tak ada kewajiban beribadah apalagi beragama. Tak berakal berarti tidak berfungsinya seluruh struktur saraf dalam system manusia secara utuh, sehingga ia menjadi mati dalam wujud yang hidup. Inilah yang menjadi ciri beda utama hidup dan matinya manusia. Semua menjadi pilihan manusia itu sendiri. Akan tetapi, fitrah hati manusia selalu membisikan kita untuk selalu berbuat baik. Bicaranya sampaikan kata petuah kebijaksanaan, penglihatannya tembuskan pandang ke masa depan terangkan pedoman sempurnanya, sentuhannya raba semua kerikil-kerikil yang kelak menghadang, perasaanya cicipi pahit manis jamuan surganya, langkahnya sempurnakan  perjalanan gerak laku-pikir ikuti petunjuknya. Itulah yang disebut gerak hati yang lembut yang menuntun akal menjadi lebih sempurna, yang mampu mencapai ketajaman ruhani dan melahirkan cahaya suci, karena sebaliknya yang tidak menggunakan akalnya dengan baik maka padanya tertanam hati yang qasat, yakni hati yang buta. Adapun hati yang lembut adalah hati yang bercahaya. Itulah yang dimaksud hati dalam Alquran yang dapat berfungsi sebagai “akal”.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang ada di dalam dada”. (QS. Al Hajj [22]:46)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf [7]:179).

Berfungsinya akal dan hati menjadi penanda utama sempurnanya hidup manusia. Sehingga dunia makrokosmos (semesta raya) dan mikrokosmos (semesta diri) akan terintegrasi dan melahirkan perubahan peradaban kearah yang lebih baik dan menyatu dengan berbagai kompleksitasnya ketika semuanya mampu berfungsi secara sempurna dalam menjalankan semua mekanisme secara bijaksini disini dan bijaksana untuk kelak disana. Dari diri dan hati menyatu dalam peradaban yang utuh.

Secara universal, dalam Islam, esensi peradaban Islam adalah tauhid atau pengesaan Tuhan, tindakan yang menegaskan Allah sebagai yang Esa, pencipta yang mutlak dan transenden, penguasa segala sesuatu, tutur  Ismail Raji Al Faruqi.  Tauhid adalah yang memberikan identitas pada peradaban Islam, yang mengikat semua unsur nya bersama-sama dan menjadikan unsur-unsur tersebut suatu kesatuan yang integral dan organis yang kita sebut peradaban. Dalam mengikat atau menyatukan unsur-unsur yang berbeda tersebut, esensi peradaban (tauhid) membentuk mereka dengan cetakannya sendiri agar saling selaras dan saling mendukung. Tanpa harus mengubah sifat-sifat mereka, esensi tersebut mengubah unsur-unsur yang membentuk suatu peradaban, dengan memberikannya ciri baru (perubahan) sebagai bagian dari peradaban. Perubahan itu dikatakan kecil jika mempengaruhi bentuknya dan perubahan itu radikal jika mempengaruhi fungsinya; karena fungsilah yang merupakan relevansi unsur peradaban dengan esensinya. Oleh karena itu, hidup matinya peradaban ini akan nampak jelas dari berfungsinya perubahan seisi semesta raya ini secara integral. Memaksimalkan keberfungsian kualitas sistem semesta diri, semesta raya sehingga bersatu dengan yang satu, itulah tauhid. Berfungsinya esensi tauhid dalam kehidupan ini menjadi penanda hidup-matinya peradaban semesta ini.

Mengamalkan Al quran sebagai SOP Kehidupan

Apa yang menjadi panduan atau pedoman umum sebagai petunjuk pelaksanaan sebuah perusahaan, sebuah pemerintahan, semua produk digital, sehingga semua sistemnya berfungsi secara sempurna? Panduan atau pedoman kinerja sehingga semua sistemnya berfungsi dengan baik itulah yang disebut dengan standard operating prosedur (SOP) atau porsedur operasional standar (POS) yang diciptakan secara sempurna manusia itu sendiri. Satu saja rangkaian prosedurnya terlewati maka seluruh proses menjadi tak berfungsi sempurna atau bahkan mati. SOP inilah yang menjadi pedoman umum atau petunjuk yang wajib dijalankan oleh semua komponen baik dari pekerja sampai dengan direktur sehingga menghasilkan keteraturan yang menjadikan managerial tampak lebih terorganisir.

Apa sesungguhnya SOP atau POS tu? Prosedur operasi standar  (standard operating procedure, SOP) atau kadang disingkat POS, adalah suatu set instruksi  yang memiliki kekuatan sebagai suatu petunjuk atau direktif. Hal ini mencakup hal-hal dari operasi yang memiliki suatu prosedur pasti atau terstandardisasi, tanpa kehilangan keefektifannya. Setiap sistem manajemen kualitas yang baik selalu didasari oleh POS. (http://id.wikipedia.org).

Kalau SOP perusahaan, pemerintahan, produk-produk digital diciptakan dan dirumuskan oleh manusia, Lalu SOP apa yang menjadi panduan atau pedoman hidup atau petunjuk manusia itu sendiri dalam menjalani kehidupannya sehingga lebih teratur dan terarah. Maka pastilah SOP bagi manusia tidak diciptakan oleh manusia itu sendiri, tetapi haruslah sesuatu yang lebih sempurna darinya dengan kata lain SOP bagi seluruh ummat manusia adalah SOP yang diciptakan dan difirmankan langsung oleh Allah swt sebagai pemelihara dan penguasa semesta alam yakni kitab Suci Al Quran. Al Quran sebagai kitab petunjuk bagi manusia ditegaskan oleh Allah swt dalam firmannya:

“Dzaalikal kitabu laa raiba fiihi hudallilmuttaqiin”. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS Al-Baqarah [2]: 2). “Haadzaa Bashaairu linnasi wa hudawwarahmatun likoumiyyu’kinuun”. Al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS Al-Jaatsiyah [45]:20).

Menjadilan Alquran sebagai sumber pedoman hidup memberikan jaminan kepada siapapun yang meyakini dan menjalaninya sebagai sebab bagi kemuliaan manusia itu sendiri, sebaliknya siapapun yang berpaling berpaling dari petunjuk Alquran, maka Allah akan memberikan kesempitan dalam kehidupannya.

“Laqad anzalnaa ilaikum kitaaban fiihi dzikrikum afalaa ta’kiluun.” Sesungguhnya Telah kami turunkan kepada kamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS Al-Anbiyaa [21]: 10). “Wa man a’rada ‘an dzikrikum fainna lahu ma’iisyatan dhonkan wa nahksyuruhu yaumal kiyaamati a’maa.” Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.  (QS Thahaa [20]:124)

Al Quran memuat seluruh tata aturan kehidupan di dunia, baik ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan ilmu pengetahuan sendiri. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa Al-Qur’an merupakan seperangkat aturan hidup, memberikan porsi yang luar biasa besarnya bagi perkembangan manusia terutama dalam memfungsikan akal dan hatinya.  Isyarat ilmiah dalam al-Qur’an, merupakan salah satu aspek I’jaz al-Qur’an yang lazim dikenal dengan i’jaz ‘ilmy. Bagimana kita bisa memahami hubungan dan isyarat ilmiah dalam al-Qur’an. Pendapat Quraish Shihab layak untuk kita cermati dengan baik bahwa melihat isyarat ilmiah dalam al-Qur’an bukan berarti dengan melihat  misalnya adakah teori relativitas atau bahasan tentang angkasa luar, tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan  atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang sudah mapan? dengan kata lain meletakkan al-Qur’an pada sisi social psychology (psikologi sosial) dan bukan pada sisi “history of scientific progress” (sejarah perkembangan ilmu pengetahuan” (Quraish Shihab:41).

Berangkat dari pemikiran di atas, para mufassirin memposisikan al-Qur’an sebagai kitab hidayah (petunjuk)  yang di dalamya mengandung isyarat-isyarat ilmiah, untuk selanjutnya merangsang manusia untuk mengembangkan dan menganalisisnya lebih jauh lewat observasi dan penelitian. Untuk memberi arah pada observasi dan penelitian ilmiah inilah al-Qur’an meletakkannya dalam kerangka memperkuat keimanan seseorang. Karena itu, logis kalau al-Qur’an melabelkan ilmu pengetahuan pada kadar dan tingkat keimanan seseorang. Di sinilah bertemunya isyarat ilmiah al-Qur’an dengan perintah iqra’ yang sejak pertama diperintahkan Allah kepada Muhammad SAW. Berkaitan dengan pemikiran di atas, Muhammad Isma’il  Ibrahim, (42-43) menyebutkan bahwa maksimalisasi peran akal dan kecintaan ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberagamaan sekaligus keimanan seseorang.  Ismail menyebutkan bahwa dalam melihat hal ini, ia harus diletakkan  dalam kerangka pencarian kebenaran dan kedekatan pada sang Pencipta, serta harus bersesuaian dengan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Hal ini menguatkan penjelasan Firman Tuhan sebagai lanjutan dari kata Iqra yakni menyertakan nama tuhan yang menciptakan (bismi rabbikalladi khalak) (QS al -Alaq [96]:1) sebagai kerendahan kita untuk selalu mendapatkan rahmat dan ridlahnya.

Kesalahan terbesar bagi manusia adalah pandangan kita yang tidak dapat melihat dan menggunakan cahaya Al Quran itu, disebabkan mata dan hati kita tertutup rapat dari petunjuk Al-Qur’an, cahaya semesta alam yang secara tidak langsung berarti kita tidak menyertakan Tuhan atau bahkan mengingkari Tuhan dalam seluruh rangkaian aktivitas kehidupannya. Ibnul Qayyim dalam karyanya “Al-Fawa’id” berkata: “Setelah manusia berpaling dan anti bertahkim (menjadikan sebagai undang-undang) kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Rasulullah saw dan berkeyakinan bahwa keduanya tidak cukup dan bahkan mereka lebih mengutamakan pendapat akal, analogi (qiyas), istihsan dan pendapat syaikh, maka hal itu menimbulkan kerusakan di dalam fitrah suci mereka, kegelapan di dalam hati mereka, kekeruhan di dalam pemahaman, dan kedunguan di dalam akal mereka, semua kondisi tersebut telah menyelimuti mereka sampai pada kondisi bahwa anak-anak dididik dalam keadaan dan kondisi seperti itu sedangkan orang-orang yang dewasa menjadi makin tua di atasnya.

Hal ini meyakinkan pada kita yang tak dapat diragukan lagi bahwa Al Quran adalah standard operating procedure (SOP) yang menjadi petunjuk sempurna sekaligus cahaya penerang alam semesta dalam menuntun kehidupan manusia untuk menjadi lebih baik. Bagi siapapun yang mengamalkannya akan mampu membukakan tabir kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.  Sehingga manusia mampu menikmati perjalanan hidupnya secara lebih tenang dan penuh gembira.

“Inna Haadal Quraana yahdii lillatii hiya aqwamu wa yubassyrul muu’miniina alladziina ya’maluuna assholihaati anna lahum ajran kabiiran”. Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Al-Isra’[17]: 9 ).

 

 

2. Al Quran Sebagai Argumentasi Puncak Tuhan

Kul falillaahilhujjatulbaaligih falau syaa a lahadakung ajmaiin.
Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah (Argumen) yang jelas lagi kuat;
Maka jika dia menghendaki, pasti dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”.
(Al An’am [6] : 149).

Be continue…!

 

 

3. Mengakses Energi Al Quran sebagai Energi Tuhan dalam Kecepatan membaca

Be continue…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: