2. Al Quran Sebagai Argumentasi Puncak Tuhan

 

Kul falillaahilhujjatulbaaligah falau syaa a lahadakum ajmaiin.
Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah (Argumen) yang jelas lagi kuat;
Maka jika dia menghendaki, pasti dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”.
(Al An’am [6] : 149).

 

 

Ketika manusia terbius asmara, mereka senantiasa berusaha keras untuk mengekspresikannya dengan suara hati dan bahasa yang begitu memesona bak syair seorang pujangga untuk menaklukan pujaan hatinya, tatkala ia tak mampu melakukannya maka ia pun mengutip berbagai syair indah entah tentang nyanyian jiwa manusia atau pun tarian hati senandungkan suara ilahi dalam diri yang tak lain adalah hasil karya agung para pujangga ternama yang tak mereka ragukan lagi. Ketika seorang terpelajar menyelesaikan studinya, mereka menulis karya tulis ilmiahnya dengan mengutip berbagai kesimpulan para ahli sebagai referensi untuk mengkaji penelitiannya lebih lanjut. Kutipan-kutipan itu adalah mutiara kata ataupun syair yang begitu indah sekaligus syarat makna serta nilai ketelitian, kearifan dan kebijaksanaan para pelakunya. Kata-kata mutiara ataupun syair yang diungkapkan oleh seorang saintis, filosof, ataupun para sufi tersebut adalah puncak dari pemikiran dan perenungannya dalam menyelami dunia kehidupannya. Puncak berarti kedudukan tertinggi. Ketika olah pikir dan olah rasanya mampu menyingkap keagungan rahasia misteri pencariannya, maka ia berada pada posisi puncak pemikirannya, puncak kebijaksanaan emosionalnya, ataupun puncak kearifan spiritualnya.

Laptop (note book) yang  saya gunakan untuk menulis ini adalah hasil dari pemikiran dan penelitian para pakar tekhnologi atas berbagai komponen yang terkait sehingga mewujud sebuah produk digital yang mampu memberi kemudahan bagi seluruh penggunanya. Laptop adalah salah satu puncak hasil dari sekian banyak pemikiran dan penelitian manusia dalam bidang teknologi. Maka bagi manusia secara umum, memelihara dan mengggunakan laptop itu sehingga melahirkan karya-karya lain yang lebih berguna bahkan bisa jadi melahirkan pemikiran puncak lainnya lebih baik, daripada memikirkan kerumitan yang luar biasa bagaimana komponen laptop itu dibuat. Begitu pun dengan karya-karya tekonologi lainnya.

Petuah yang disampaikan dokter bagi para pasiennya adalah puncak dari analisis kritisnya terhadap berbagai penyakit yang menyebabkan si pasien berpenyakit, sehingga dokter menyarankan dengan memberikan resep kesembuhan berupa obat dan catatan kecil atas makanan  dan minuman yang diperbolehkan selama menjalani perawatan. Sebagai pasien, kebanyakan mereka tanpa ragu menjalani seluruh proses pengobatannya, tanpa harus mempertanyakan bagaimana proses berpikir si dokter sehingga menyimpulkan dan menyarankan obat tertentu untuk di minum. Melaksanakan seluruh petuah kebaikan sebagai puncak tertinggi analisisnya lebih utama ketimbang meragukannya.

Begitu pula ketika para filosof atau para ahli sufi sebagai puncak pemikiran dan perenungannya menelurkan berbagai karya yang luar biasa agungnya dalam mengintegrasikan berbagai problematikan kehidupan. Memahami dan menerima kemudian mengamalkan petuah bijaksana para ahli lebih baik ketimbang meragukannya. Mereka berusaha keras menyediakan atau bahkan memberikan kemudahan bagi para generasinya tanpa harus terlibat langsung dari kerumitan mereka jalani. Para filosof misalnya mereka memberikan tahapan-tahapan perjalanan yang harus dipelajari, atau para sufi, mereka menyediakan dan memberikan pemahaman akan maqam-maqam yang harus dijalani oleh para pengikutnya untuk sampai pada maqam tertingginya. Menjalani tahapan-tahapan atau maqam-mawam yang telah disediakan lebih baik ketimbang membiarkannya dan melewatkannya begitu saja. Karena itu berarti, memahami dan menjalani puncak pemikiran dan perenungan mereka berarti kita ikut dengan cepat mengetahui apa yang telah mereka baca dan mereka lakukan. Kekuatan pikiran manusia saja sudah mampu melahirkan buku-buku dan kitab-kitab yang dijadikan rujukan oleh masyarakat secara luas. Melalui karya terbesarnya, ihya ululmuddin misalnya, sufi besar Al Ghazali berusaha memahami agama secara lebih integratif dengan mengawinkan pendekatan “jalur kanan” (yang dianut oleh kalangan sufi) dengan pendekatan jalur kiri (yang  dianut oleh kalanga fiqh). Bahkan kitab itu dijadikan rujukan ulama-ulama besar. Itu baru hasil pemikiran dan karya besar manusia, yang terkadang dianggap orisinil. Padahal tak ada satupun karya manusia yang benar-benar luar biasay tanpa meniru. Orang melukis alam raya karena sebelumnya pastilah pernah melihat hal yang menjadi objek lukisnya, orang membuat motor, mobil, kapal, karena orang sudah benar-benar melihat contohnya dalam wujud lain yang serupa. Orang-orang bersyair pastilah karena ia telah membaca dan memahami syair lain yang semisal, orang menulis karena ia membaca tulisan wujud lain yang ia lihat untuk dituliskan. Karya hasil tiruan manusia saja sudah begitu menakjubkan bahkan mampu menghipnotis para pengikutnya. Bagaimana dengan karya-karya yang benar-benar orisinil, dilahirkan dan diciptakan tanpa ada yang serupa sebelumnya. Adakah yang benar-benar orisinil?

Kalau manusia mampu menciptakan dan melahirkan karya sebagai buah pemikiran dan perenungan puncaknya. Maka bahasa yang digunakan manusia untuk berargumentasi dalam merepresentasikan kefasihan akalnya adalah karya manusia yang tertinggi. Bahasa sebagai satu media komunikasi langsung antara pelaku (komunikator) dan lawan bicara atau penerima (komunikan), dan tulisan sebagai hasil sebuah pemikiran adalah media tak langsung antar penulis dan pembaca. Dan kita begitu mengakui bahkan menjalankan seluruh karya sebagai hasil penelitian mereka. Maka, Al quran sebagai kalam Tuhan, pastilah luar biasa? Mempercayai dan melaksanakannya jauh melampaui kemuliaan kita ketimbang mempertanyakannya tanpa mengamalkan sebaik-baiknya. Kenapa seperti itu? Karena tak ada satupun “bahasa kitab – Al Quran” yang di Firmankan Tuhan sebagai tiruan atas sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Apabila kita telaah lebih dalam “Berjumpa” dengan Tuhan adalah salah satu puncak tertinggi sebagai wujud kecintaan khalik terhadap makhluk dan makhluk terhadap khalik, seperti halnya percakapan Tuhan dan Makhluk secara langsung yang terjadi pada Nabi Musa As. “wakallamallahu muusa takliima” ..dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung (sebenar-benarnya percakapan).” (QS. An Nisa [4]: 164).  Atau sebagaimana Nabi Muhammad saw berbicara langsung dengan Allah swt ketika mi’raj. Sementara Al Quran adalah kitab bacaan dalam bahasa tulisan yang menjadi media komunikasi tak langsung antara khalik dengan makhluknya yang disampaikan melalui utusanNya yakni Muhammad saw., untuk bisa dipahami oleh manusia secara menyeluruh. Al Quran itulah “bahasa dan Suara” Tuhan yang menunjukan argumentasi puncaknya dalam memberikan penjelasan, memberikan pemahaman, memberikan petunjuk, memberikan jawaban seluruh persoalah yang dihadapi manusia di dunia.

Apa sesungguhnya  Al Quran itu?

Qur’an, secara bahasa dapat pula  berarti “bacaan”, sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti seperti ini, firman Allah SWT dalam Q.S.Fushshilat (41) ayat 3: “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.”

Adapun dari segi istilahnya, Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut,  AlQur’an adalah Kalamullah yang merupakan mu’jizat yang ditunjukan kepada nabi Muhammad SAW, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan dijadikan membacanya sebagai ibadah. Adapun Muhammad ‘Ali ash-Shabuni mendefinisikan bahwa “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad  penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas”

Al Quran merupakan Mukjizat Tuhan yang dikemas dalam karya manusia yang tertinggi, tetapi dengan orisinalitas yang tak tertandingi. Al Quran adalah ucapan Tuhan, maka hanya dia sang pemilik ucapan yang memahami sepenuhnya.. (QS 3:7). Al Quran mutlak benar, atau termasuk ma’lum min al din bil al dharurah (sesuatu yang sudah sangat jelas/aksiomatik dalam agama). Namun, tafsiran manusia terhadapnya tidak benar-benar semutlak al Quran-ibarat tafsiran tentang alam yang tidak  pernah menjangkau hakikatnya.

Al Quran yang kita kenal pada dasarnya merupakan susunan huruf, kata dan kalimat yang bisa menjadi realitas hanya jika pembaca secara aktif menafsirkannnya. Ia membumi hanya jika diciptakan kembali oleh pembaca. Ibaratnya, pengarang hanya menulis separuh buku, sementara separuh lainnnya harus diselesaikan oleh pembaca sendiri. Sebab, gagasan menjadi diam ketika ditulis dan bersuara lagi ketika dibaca. Maka, nasib pesan al Quran bergantung pada kepala, hati dan tangan pembaca, sesuai dengan daya kemampuan dan tingkatan pemahaman mereka.

Karena ayat tanjiliyah (al Quran) bersifat singkat dan padat, statis dan terbatas, namun selalu benar dan tanpa keraguan di dalamnya (la raiba fiih), maka yang kita perlukan adalah penjabaran dan penjelasan (metode deduksi). Ijtihad, yang merupakan penjabaran teks lebih lanjut adalah  suatu keharusan pada setiap zaman, karena peristiwa yang muncul dari satu zaman ke zaman  lain. Jika Al Quran yang berisi nilai-nilai moral universal tersebut tidak digali dan dikaji dengan baik untuk menjawab realitas sosial yang terus berubah, maka al Quran akan menjadi diktum yang tidak efektif atau hanya akan menjadi dokumen sejarah. Namun, bahasa sangat rawan untuk menimbulkan kerancuan, padahal bahasa pula wahana yang digunakan bagi firman Tuhan. Oleh karena itu, metodologi yang konsisten dan tepat harus digunakan secara cermat dan efektif untuk mengembangkan dan lalu memilih satu atau beberapa tafsir. Al Quran dzu wujuhin muhtamilatin fahmiluhu ‘ala ahsan al wujuh (Al Quran itu memiliki beberapa kemungkinan makna, maka jelaskanlah ia sesuai dengan makna yang terbaik).

 

Seperti pada uraian sebelumnya bahwa bahwa Al Quran adalah Standar Operasional Prosedur dalam menjalani hidup bagi siapa saja yang menjalaninya sehingga ia akan berada pada jalan yang lurus dan berbahagia dunia dan akhirat. Jika Al quran itu sebagai SOP maka tentunya harus mampu menjawab seluruh permasalahan mendasar seluruh pertanyaan ummat. Jika Al Quran itu adalah kalam Tuhan, maka Al Quran adalah Argumen Puncak Tuhan dalam hal apapun yang harus dijadikan argumentasi puncak oleh ummat manusia dalam menjawab seluruh persoalan hidup di dunia ini. Oleh karena itu, memahami segala kandungan Al Quran merupakan perintah Allah swt., sebagaimana dapat dipahami dari firmanNya:

“Kitaabun anjalnaahu ilaika mubaarakun liyaddabbaruu aayatihi waliyatadzakkara ulul albaab”, Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya (ayatihi) dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berpikir (ulul albab). (QS. As Shaad [38]:29)

Quraish Shihab menjelaskan makna ayah dalam tafsirnya Al Misbah sebagai berikut:

Al Quran yang dibaca atau yang perwujudannya berupa “kata-kata” merupakan kumpulan ayat (tanda) atau symbol yang tampak. Akan tetapi, pada hakikatnya ia tidak terpisah oleh “sesuatu yang lain” yang tidak tampak. Memahami ayat (tanda) itu seharusnya mengantar kepada memahami apa yang ditunjukan oleh tanda tersebut dan yang tidak tampak itu. Alam semesta merupakan ayat (tanda atau symbol) yang tampak, yang seharusnya mengantarkan kepada sesuatu yang tidak tampak, yaitu sang Pencipta; Allah swt. Alam semesta berserta fenomenanya adalah “buku besar” yang terbuka lebar untuk dibaca guna menghantarakan kepada pengetahuan tentang Penciptanya serta penyesuaian diri dengan hokum-hukum yang ditetapkan Tuhan atasnya.

Al Quran adalah ayah yang harus dipahami guna menghantarkan kepada penggetahuan tentang Tuhan dan penyesuaian diri dengan hukum-hukum yang ditetapkan di dalamnya. Dengan demikian, baik Al Quran maupun alam raya adalah ayat-ayat atau tanda-tanda. Dan karena Al Quran maupun alam raya bersumber dari Allah Yang Maha  Sempurna, pasti indah adanya. Hal ini ditemukan dan dirasakan oleh mereka yang menekuninya. Dan karena keindahan alam raya yang sedemikian memesona, maka tidak sedikit ayat-ayat Al Quran yang memperingatkan agar manusia tidak terpengaruh olehnya. Karena, bila terpengaruh oleh keindahan, maka ia akan terpukau dan terpaku pada symbol-simbol tersebut dan tak lagi mampu menangkap makna yang dikandung oleh simbol tadi.

Al Quran juga sangat indah dalam susunan redaksinya. Indah pula terdengar ketika dialunkan. Namun, semua itu hanya ayat atau tanda serta bukti bahwa ia bersumber dari Allah swt. Seseorang hendaknya jangan hanya terpukau oleh keindahan tersebut, tetapi ia harus dapat memahami dan mengamalkan pesan-pesan yang dikandung oleh redaksi-redaksi yang indah tersebut, serta apa yang terdapat dibalik kata-kata itu. 

“Apala yatadabbaruna al quraana walau kaana min ‘indi gairillahi lawajaduu fiihihtilafan katsiira”, Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (an Nisa [4] : 82).

Demikian penting upaya memahami dan merenungkan kandungan ayat-ayat Al Quran, demi mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga darinya. Dan bahwa kebangkitan atau kemajuan ummat Islam, baik secara sendiri-sendiri atau secara  bersama-sama, sesungguhnya sangat tergantung pada sejauhmana mereka berpedoman dan berpegang teguh pada petunjuk-petunjuk, ajaran-ajaran dan aturan-aturan serta norma-norma yang mencakup segala aspek dan segi kehidupan manusia.

Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu, (QS. Al Maidah ; 48)

Salah satu, bukti yang menunjukan bahwa Al Quran adalah kalam Allah bukan buatan Muhammad saw., bahkan Muhammad saw., pun menanatang seluruh makhluk untuk membuat yang seperti Al quran jika memang ia mampu menyaingi dan menandingi keagungan Al quran baik ditinjau dari segi ketinggian gaya bahasanya, makna dan pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya, mereka pasti tidak akan sanggup membuatnya sekalipun di antara mereka terdapat para ahli bahasa. Sebagaimana Allah berfirman:

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Al Israa [17] : 88).

Sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin-pemimpin dan ahli sastra Arab yang mencoba-coba meniru-niru Alquran itu bahkan ada yang mendakwakan dirinya sebagai seorang Nabi, seperti Musailimah Al-Kazzab, Tulaihah, Habalah bin Kaab dan lain-lain. Tetapi semua mereka itu gagal dalam usahanya itu bahkan mendapat cemooh dan hinaan dari masyarakat. Sebagai contoh, ialah apa yang telah dibuat oleh Musailamah Al Kazzab yang dianggapnya dapat menandingi sebagai ayat-ayat Alquran, ia membuat ayat yang yang dianggapnya melebihi keunggulan Al Quran:

أيها الضفدع بنات ضفدعين أعلاك في الماء وأسفلك في التراب
Artinya: “Hai katak (kodok), anak-anak dari dua katak, bagian atas engkau di air dan bagian bawah engkau di tanah”.

Para ahli menyatakan bahwa perkataan Musailimah itu tidak ada yang mengandung sesuatu pengertian. Di antara yang memberi komentar itu ialah Al Jahiz, seorang sastrawan Arab yang termasyhur, beliau berkata: “Saya tidak mengerti apakah gerangan yang menggerakkan jiwa Musailimah menyebutkan katak (kodok) dan sebagainya itu, alangkah buruknya gubahan yang dikatakannya sebagai ayat Alquran yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.

Kita bisa melihat bagaimana manusia berargumentasi untuk menandingi ketinggian dan keagungan Al quran, tak mampu menunjukan nilai yang berguna sedikitpun. Karena Al quran adalah argumentasi puncak Tuhan yang sudah tertulis dengan jelas serta bersifat universal untuk bisa dipahami oleh seluruh ummat di dunia sehingga mampu memberikan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya,  begitu luar biasa ‘ajaibnya’ Alquran ia melintasi ruang waktu serta terplihara di sepanjang masa.

salah satu, keajaiban Al Quran adalah bahwa ia menghasilkan pengetahuan ke setiap pikiran sesuai dengan kapasitas dan tingkat inteleknya. Ia memberi pikiran itu yang dapat memuaskannya. Jadi kita dapat menemukan orang tua buta huruf cukup puas dengan mendengar al Quran yang dibacakan. Orang-orang terpelajar memperoleh kecukupan dan kepuasan dari membacanya atau mendengarnya sampai pada  penjelasannya yang penuh makna. Orang-orang yang sangat terpelejar menemukan hal-hal ajaib yang menantang dan merangsang pikiran dan pemikiran mereka,” ungkap Mutawalli Al Sya’rawi.

Kemampuan akal dan hati manusia dalam memahami Al Quran sebagai sarana mencapai kualitas sempurna serta mendapatkan petunjuknya itulah yan menjadi harapan semua. Berkata sebaik-baiknya perkataan sebagaimana perkataanNya yang baik, dan berakhlak lah sebagaimana akhlak Tuhan. Karena perkataan dan akhlak Tuhan itulah sebaik-baiknya contoh yang harus diteladani sebagai hujjah kita dalam beragama berbangsa dan bernegara.

Kul falillaahilhujjatulbaaligah falau syaa a lahadakum ajmaiin. Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah (Argumen) yang jelas lagi kuat; Maka jika dia menghendaki, pasti dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”. (Al An’am [6] : 149).

 

3. Mengakses Energi Al Quran sebagai Energi Tuhan dalam Kecepatan membaca

Be continue…!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: