Spiritualitas Perspektif Filosofis 2c

 

Post-modernisme


Filosofi dari Pos-modernisme telah memainkan peran penting dalam budaya di akhir abad kedua puluh (Woods, 1999). Untuk filsuf pos-modern, ancaman terbesar bagi kebebasan kita berasal dari meta-narasi. Bagi Jean-François Lyotard, yang pertama kali memperkenalkan istilah tersebut ke dalam perdebatan filosofis, meta-narasi merupakan pandangan dunia luas yang mengklaim untuk menjelaskan seluruh realitas (Lyotard, 1984). Pandangan dunia tentang agama, materialisme dan romantisisme semua tergantung pada meta-narasi. Dalam dunia pos-modern baik Allah, dunia material, ataupun pengalaman langsung kita tidak dapat memberikan jawaban akhir untuk kondisi manusia. Seperti penjelasan tertinggi tentang realitas tidak dapat diakses pada kita, baik karena keterbatasan kemampuan kita untuk memahami, atau hanya karena realitas merupakan kekacauan yang melekat pada dirinya sendiri. Agenda spiritual utama pos-modernitas adalah memungkinkan kita untuk melakukan hal berikut:

  • Mendekonstruksi semua meta-narasi yang mengancam untuk menjerat kita dalam ilusi.
  • Merayakan kebebasan kita untuk menjelajah melalui taman bermain budaya pos-modern di mana segala sesuatu diperbolehkan;
  • Secara terus menerus membuat dan menciptakan fiksi spiritual pribadi kita sendiri;
  • Secara imajinatif mengikuti pilihan, kecenderungan dan keinginan pribadi kita.

Pos-modernisme tidak terkait untuk menciptakan kebenaran baru, tetapi untuk memaksimalkan kebebasan kita melalui dekonstruksi kebenaran-semu yang dihadapi dalam meta-narasi, terutama yang berlaku bagi materialisme dan romantisisme. Meta-narasi ini memiliki akar dalam pencarian modern untuk keamanan yang telah mengangkat kesadaran manusia ke pusat realitas, apakah dalam bentuk materialisme yang rasional atau pengalaman romantisisme. Foucault bersikeras bahwa kita harus ‘meninggalkan semua wacana yang pernah mendorong kita kepada kekuasaan kesadaran’ (1991, hal 202.). Modernitas, jauh dari puncak prestasi manusia, tidak lain adalah “lipatan sesaat dalam struktur pengetahuan”, konsekuensi dari kebutuhan “untuk berpikir rasional manusia, pemberi otonomi hukum moralnya sendiri” (Norris, 1987, hal. 221). Gambar kemanusiaan yang dibangun oleh dunia modern adalah fiksi yang ditakdirkan untuk dihapus seperti “gambar wajah lembut pada pasir di tepi laut” (Foucault, 1989, hal. 387).

Jacques Derrida menolak (i) asumsi teologis bahwa kata-kata dapat merangkum kehendak yang dinyatakan Allah, (ii) asumsi materialistis bahwa bahasa memberi nama pada objek-objek dalam dunia fisik, dan (iii) asumsi romantis bahwa ‘kata-kata adalah simbol dari pengalaman mental’ (Derrida, 1976, hal. 11). Ketika membaca sebuah teks tidak patut untuk bertanya apakah kata-kata datang dari Allah, apakah menggambarkan realitas dengan akurat, atau apakah mereperesentasikan pengalaman penulis mereka dengan baik. Untuk Derrida, kata-kata tidak dapat menjadi label baik objek ‘ilahi’, ‘fisik’ atau ‘mental’, hanya saja mereka menghubungkan dengan kata lain di jaringan (web) bahasa yang tidak pernah berakhir. Akibatnya kita bebas untuk menjelajahi jaringan bahasa tanpa perlu mencari bacaan yang otoritatif atau resmi (kanokial)[1] dari teks yang kita hadapi. Kita harus belajar untuk merayakan kebebasan membaca teks secara imajinasi dan responsif, memanfaatkan seperti itu yang kita inginkan, sesuai dengan keinginan dan kecenderungan kita sendiri.

Kegiatan

  • Buatlah daftar kekuatan dan kelemahan dari pos-modernisme dan menggunakannya sebagai dasar untuk mengembangkan pertimbangan respon Anda sendiri terhadap pandangan dunia materialistik.
  • Gunakan jurnal untuk merekam contoh sikap post-modern dalam pertemuan sosial biasa, di media, di ruang staf, sekitar sekolah dan di kelas.
  • Sejauh mana pos-modernisme merupakan dimensi penting dari nilai-nilai spiritual masyarakat kontemporer?

Menurut Richard Rorty, seperti pos-modern, kebebasan menuntut kita berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebebasan dan toleransi liberal jika kita ingin menghindari pemaksaan asumsi kita sendiri pada orang lain. Dia mendefinisikan liberal sebagai ‘orang yang berpikir bahwa kekejaman adalah hal terburuk di dunia’ (1989, hal. Xv). Untuk Rorty, itu adalah cinta meta-narasi kita dengan kekuatan otoriter dan klaim kebenaran eksklusif mereka, yang merupakan penyebab utama kekejaman di dunia. Pencarian modern untuk kepastian dan keamanan telah membawa kita kepada kebiasaan memaksakan keyakinan dan nilai-nilai pada orang lain. Sikap imperialistik tersebut harus diatasi dengan penerimaan ketidaktahuan ironis kita jika kita ingin menghindari kekejaman. Rorty menunjukan kemampuan orang menghidupi visi “Liberal ironis” tersebut, seseorang ‘yang menghadapi kemungkinan atau keyakinan yang paling sentral pada dirinya sendiri’ dan telah ‘meninggalkan gagasan bahwa keyakinan sentral dan keinginannya ini merujuk kembali ke sesuatu di luar jangkauan waktu dan kesempatan’ (ibid.).

Pos-modernitas menawarkan agenda spiritual yang sangat asli, emansipasi yang menjanjikan dari meta-narasi agama dan sekuler serta kesalahan tirani menjadi perhatian utama untuk kebenaran mutlak. Sebaliknya hanya perhatian utama kita yang harus menjadi konstruksi ironis dan merekonstruksi identitas spiritual kita sendiri sesuai dengan perasaan, naluri, dan kecenderungan diri kita sendiri.

Realisme Kritis

Realisme kritis, yang cepat muncul sebagai serangan balik (counter) yang signifikan dengan apa yang banyak terlihat sebagai ekses dogmatis pos-modernitas, menetapkan untuk menghindari ‘alternatif dari irasionalisme dan konsepsi realitas positivistik’ (Collier, 1994, hal. Ix). Ini menegaskan sebuah realitas obyektif yang ada secara independen dari kemampuan kita untuk mengalaminya, sebuah dunia yang ‘terstruktur, berbeda dan berubah’ (Bhaskar, 1993, hal. 4). Realitas ontologis ini bukan sesuatu yang kita bebas untuk berimajinasi, melainkan merupakan ‘suatu kebenaran yang unik … menunggu untuk ditemukan, dan menyediakan standar untuk jenis kesalahan’ (Gellner, 1974, hal. 48).

Realisme kritis memiliki sedikit waktu untuk pos-modernitas, yang diperlukan untuk menjadi dasar yang tidak masuk akal (incoherent) dalam mengedepankan ‘klaim kebenaran’ mengalahkan diri sendiri bahwa semua klaim kebenaran adalah tidak sah. Dalam asumsi bahwa tidak ada cara menilai antara alternatif pandangan dunia, pos-modernisme sebenarnya melegitimasi segala bentuk keyakinan, dan sebagainya menjadi meta-narasi yang “memberikan izin (lisensi) setiap dan apapun bentuk dari dogmatisme” (Collier, 1994, hal 14.).

Romantisisme, dengan keyakinannya bahwa kita tidak bisa melewati di luar pengalaman kita tentang realitas tertentu dan menghadapi dunia sebagaimana adanya dalam dirinya sendiri, dengan cara yang sama juga ditolak oleh realisme kritis. Hal ini tidak menjadi alasan bahwa pengalaman pribadi kita selalu benar, dan adalah mungkin untuk membuat informasi serta penilaian sah antara persepsi yang berlawanan tentang realitas. Hal ini, menurut realisme kritis, seluruhnya tepat untuk membedakan sains dari astrologi, dan untuk mengadili antara manfaat relatif sastra Jane Austen dan Jeffrey Archer.

Mereka yang menyangkal hak non-Afrika Selatan mengkritik pembedaan ras, atau dari ketidaktelitian mengkritik psikoanalisis atau dari manusia mengkritik feminisme, atau orang-orang tak beriman mengkritik teologi, yang hanya mengekspos keburukan hati nurani intelektual mereka sendiri. (1994, hal. 18)

 

Kegiatan

  • Buatlah daftar kekuatan dan kelemahan realisme kritis dan menggunakannya sebagai dasar untuk mengembangkan pertimbangan respon Anda sendiri terhadap pandangan dunia materialistis.
  • Gunakan jurnal untuk merekam contoh sikap kritis realistis dalam pertemuan sosial biasa, di media, di ruang staf, sekitar sekolah dan di kelas.
  • Sejauh mana realisme kritis merupakan dimensi penting dari nilai-nilai spiritual masyarakat kontemporer?

Masalah utama materialisme adalah kecenderungannya untuk menyederhanakan dunia dengan mereduksinya yakni dengan jumlah dari pengalaman empiris kita. Roy Bhaskar, membandingkan realisme permukaan (surface realism) dari empirisme dengan realisme kedalaman (depth realism) dari realisme kritis, mengamati bagaimana eksplorasi ilmiah dan realitas humanistik telah mengungkapkan struktur yang mendasari bagian dalam yang nyata meskipun tidak secara langsung dapat diakses dengan pengalaman indera kita. ‘Jika kita dapat … mencicipi hidrogen dan oksigen dalam air, kita tidak perlu untuk memisahkan mereka dengan elektrolisis‘ (1993, hal. 31).


[1] Menurut Undang-undang gereja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: