Spiritualitas Perspektif filosofis 2d

 

Stratifikasi Realitas

Fisika, kimia, biologi, psikologi, antropologi, sosiologi, sastra, seni, musik dan agama hanyalah beberapa cara-cara beragam dimana kita belajar untuk memahami realitas. Jelas ada hirarki bekerja di sini, karena tanpa realitas yang dijelaskan oleh fisika dan kimia tidak akan ada realitas yang dieksplorasi oleh seni, musik dan agama. Namun, keberadaan seperti hirarki tidak berarti sebuah reduksionisme di mana tingkat yang lebih tinggi diinterpretasikan oleh tingkat yang lebih rendah: kreativitas artistik, misalnya, akan salah dipahami jika kita mencoba untuk mereduksi ke bentuk behaviorisme biologis. Seperti Michael Polanyi mengamati, ‘hal itu tidak berarti merepresentasikan kehidupan dalam istilah fisika dan kimia seperti akan menafsirkan   grandfather clock (jam besar yang berdiri di lantai) atau sonnet shakespeare  dalam istilah fisika dan kimia’ (1958, hal 382.). Sebaliknya, tingkat interpretasi yang berbeda tampak paling baik sebagai sesuatu yang saling melengkapi satu sama lain.

Kesatuan Fakta dan Nilai

Bagi Bhaskar domain dari nilai memiliki realitas ontologis sebanyak dunia fakta. Dia menulis ‘saya juga tidak berpikir bahwa objek ilmu pengetahuan menanduskan realitas. Sebaliknya, mereka hanya memberikan pendapat atau pandangan tertentu terhadap realitas, justru memilih dengan tepat keleluasaan dan kekuatan penjelasannya’ (Bhaskar, 1993, hal 15.). Hal itu berakibat adanya keterbukaan dasar untuk kemungkinan mengatasi perbedaan modern antara fakta dan nilai dan dengan demikian memulihkan realisme moral, estetika dan agama. Ada kemungkinan bahwa eksplorasi realitas yang dilakukan oleh seniman, ilmuwan, filsuf dan teolog akan mengungkapkan bahwa nilai tidak hanya konstruksi manusia belaka, tetapi agak melekat dalam realitas yang  sangat terstruktur.

Kebijaksanaan

Realisme kritis berusaha untuk bergerak melampaui polarisasi akal dan perasaan, logika dan emosi, rasa dan kepekaan orang modern. Polanyi menggambarkan ‘pengetahuan pribadi’ di mana akal, emosi dan pengalaman praktis bergabung dengan kesadaran fisiologis dan mental diam-diamnya untuk menghasilkan alat yang efektif yang mampu menjelajahi struktur yang kompleks dari realitas. Kebijaksanaan tersebut disimpulkan dalam ajaran transenden Bernard Lonergan: “Be attentive. Be intelligent. Be reasonable. Be responsible’” (“Jadilah penuh perhatian. Jadilah cerdas. Jadilah masuk akal. Jadilah Bertanggung jawab’) (Lonergan, 1973, hal. 53).

Kesatuan Pengetahuan

Realisme kritis menempuh jalur antara kepastian mutlak dan relativisme mutlak: kita dapat memperoleh pengetahuan tentang realitas, tetapi pengetahuan tersebut akan selalu menyatu (be contingent), selalu terlibat dalam proses perjuangan untuk pemahaman yang lebih dalam, selalu membuka untuk wawasan baru. ‘Meskipun ada keyakinan yang dapat dibenarkan dan ada kemajuan, tidak ada teori akhir, tidak mudah untuk revisi dan perbaikan’ (Collier, 1994, hal. 23). Seperti Polanyi katakan, dengan kesatuan rasionalitas tersebut saya bisa ‘berpegang teguh pada apa yang saya yakini benar, walaupun aku tahu menurut pikiran itu mungkin salah’ (1958, hal. 214).

Implikasi spiritual dari realisme kritis sangat mendalam, karena menunjukkan bahwa kita tidak hanya bebas untuk membangun pribadi kita sendiri dari nilai-nilai tertinggi, dan bukannya harus memungkinkan identitas spiritual kita dibentuk oleh perkembangan hubungan kita dengan realitas obyektif yang secara inheren bermakna.

 

Kegiatan

  • Gunakan hasil dari empat tugas yang ditetapkan sebelumnya pada bab ini untuk menyusun sebuah catatan tentang kedudukan filosofis Anda, yang menunjukkan sejauh mana ia menarik aspek materialisme, romantisisme, pos-modernisme dan realisme kritis.
  • Bagaimana kedudukan filosofis ini membantu membentuk dan menginformasikan pemahaman Anda tentang makna dan tujuan tertinggi kehidupan?
  • Apakah keterangan yang diberikan materialisme, romantisisme, pos-modernisme dan realisme kritis memberikan kepedulianmu pada sikap spiritual masyarakat luas, rekan profesional Anda, sekolah Anda sebagai sebuah institusi dan siswa Anda?

 

Ringkasan

Bab ini telah mengidentifikasi empat kecenderungan filosofis yang dominan dalam budaya modern, masing-masing menawarkan kesempatan spiritual yang khas;

  • Materialisme mengusulkan bahwa masalah dasar spiritual kita harus mengalir dari fakta bahwa realitas tertinggi terbatas pada fakta kasar dari kebebasan nilai semesta fisik kita.
  • Romantisisme menunjukkan bahwa nilai tertinggi kita akan selalu tergantung pada pengalaman tertentu tentang realitas kita sendiri.
  • Pos-modernisme mendorong kita untuk merangkul kebebasan untuk membuat dan menciptakan kembali tentang nilai-nilai spiritual kita.
  • Realisme kritis menunjukkan bahwa kebenaran di luar sana, menunggu untuk ditemukan, dan bahwa nilai-nilai spiritual kita harus sesuai dengan nilai-nilai yang melekat dalam realitas.

2 Responses to “Spiritualitas Perspektif filosofis 2d”

  1. HASAN BASRI MUCHTAR, S.H., M.SC. Says:

    Ontologi realisme kritis Bhaskar didasarkan pada tiga bidang atau dimensi yang terstratifikasi: real, aktual, dan empirik. Dapatkah Bapak memberikan saya contoh pembedaan tersebut dalam konteks kebijakan negara? Terima kasih.

  2. HASAN BASRI MUCHTAR, S.H., M.SC. Says:

    Ontologi realisme kritis Bhaskar didasarkan pada tiga bidang atau dimensi yang terstratifikasi: real, aktual, dan empirik. Dapatkah Bapak memberikan saya contoh pembedaan tersebut dalam konteks kebijakan negara? Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: