Spiritualitas dan Agama 3a

 

3. Spiritualitas dan Agama

 

Penyelidikan pendidikan spiritual tidak dapat mengabaikan pertanyaan yang rumit dari agama. Isu ini menjengkelkan karena dalam konteks masyarakat yang semakin sekuler dan pluralis, ambiguitas tingkat tinggi melingkupi kedudukan agama dalam masyarakat secara keseluruhan dan dalam pendidikan pada khususnya. Setelah beberapa catatan awal tentang sifat agama dan kedudukannya di sekolah, bab ini mengidentifikasi dan membongkar lima tanggapan yang berbeda (kontras) dengan klaim beragama (religius) bahwa keprihatinan spiritual utama kita harus diarahkan pada Tuhan, atau pada beberapa bentuk realitas transenden. Realitas transenden tersebut adalah ateisme sekuler, fundamentalisme, ortodoksi tradisional, liberalisme religius dan radikalisme teologis. Karena bab ini menganggap tidak ada keterlibatan resmi sebelumnya dengan studi agama, spesialis Pendidikan agama dapat memilih untuk menyaring melalui bagian-bagian tertentu dengan cukup cepat.

Agama dan Pendidikan

Keistimewaan utama dari kecenderungan orang modern menuju sekularisasi telah menjadi privatisasi keyakinan religius. Artinya dalam dunia plural,  individu  dengan taat memegang kebebasan untuk percaya apapun yang mereka suka, asalkan mereka tidak mengizinkan komitmen pribadinya mengganggu secara berlebihan ke dalam ruang publik. Sebagian besar dari kita akan mentolerir seorang rekan kerja dengan keyakinan religius yang kuat, dan bahkan mungkin memiliki kekaguman terhadap mereka, tetapi hanya jika kita dapat menikmati kenyamanan waktu istirahat kita dari ketakutan bahwa percakapan akan terus menerus dimanipulasi seputar agama. Norma privatisasi religius ini secara jelas bertentangan dengan fakta bahwa agama menikmati – melalui Ibadah Bersama, Pendidikan religius dan pendidikan spiritual lintas-kurikuler – transparan dan kedudukan yang tidak dapat disangkal publik dalam kurikulum. Ketegangan berikutnya sering menghasilkan kebencian di antara para guru, menyebabkan upaya rahasia untuk memperkuat aturan tak tertulis dari privatisasi religius dengan secara sengaja melangkah ke sisi masalah religius. Namun ada alasan bagus mengapa guru peduli dengan pendidikan spiritual harus menelan pil pahit dan bergulat secara serius dengan pertanyaan religius.

  • Agama adalah dimensi penting dari spiritualitas (Religion is a crucial dimension of spirituality) – Asumsikan sejenak bahwa klaim Islam adalah benar, bahwa Allah memang menciptakan dunia dan mengungkapkan kehendak-Nya bagi manusia dalam Al Qur’an. Oleh karena itu hanya umat Islam, yang kepedulian utamanya berakar pada penyerahan diri kepada kehendak Allah, dapat mengklaim memiliki spiritualitas yang sepenuhnya otentik. Perhatian utama dari non-Muslim, apakah ditujukan kepada ateisme, agnostisisme atau keyakinan religius alternatif, secara sederhana salah. Demikian pula, kehidupan spiritual dari semua orang religius tidak lebih dari ilusi, secara efektif terlepas (dislokasi) dari sesuatu urutan yang sebenarnya, jika ateis benar dalam menolak keberadaan segala bentuk realitas transenden. Yang penting di sini adalah bahwa pertanyaan tentang komitmen religius bersifat universal dan tidak dapat dihindari, dan tidak bisa hanya diperlakukan sebagai ekstra opsional terbatas pada penganut religius. Ateisme dan agnostisisme hanya sebanyak tindakan keyakinan (faith) sebagai komitmen beragama positif, dan apa pun sikap kita mengadopsi agama – entah itu positif, negatif atau tidak terlalu berkomitmen – pasti akan memiliki implikasi fundamental yang tak bisa diabaikan bagi kehidupan spiritual dan keprihatinan tertinggi kita. Karena itu kita tidak mampu untuk mengeluarkan (bracket out) isu-isu religius ketika menghadiri pendidikan spiritual.

 

  • Agama adalah dimensi yang tak bisa hindarkan dari sekolah (Religion is an inevitable dimension of schooling) – Tidak mungkin untuk mengabaikan fakta bahwa agama pada umumnya, dan Kristen khususnya, terus memainkan peran penting di sekolah: sistem pendidikan kita didasarkan pada kemitraan antara negara dan Gereja yang didirikan di Inggris; peningkatan jumlah sekolah memiliki dasar keberagamaan; Pendidikan Agama merupakan mata pelajaran wajib, dan hukum menjelaskan bahwa Ibadah Kolektif tidak dapat direduksi menjadi sekadar kumpulan murid dan pegawai untuk tujuan pastoral atau administratif, tetapi harus – paling tidak di bawah keadaan normal – menjadi kegiatan khas beragama (religious). Apakah kita suka atau tidak, agama sudah mendarah daging dalam sistem pendidikan kita, dan akibatnya sangat penting bahwa guru mengembangkan tanggapan profesional yang sesuai dengan masalah-masalah  yang baru muncul.
  • Agama adalah isu kontroversial dalam komunitas Sekolah (Religion is a controversial issue within the school community) – Dalam pengalaman saya, sebagian besar guru menempati jalan tengah antara keyakinan ekstrem yang penuh semangat dan ateisme militan. Banyak juga yang menerima bahwa agama adalah masalah yang perlu penanganan, tetapi mereka merasa tidak memiliki pengetahuan, keterampilan dan wawasan untuk melakukannya dengan sukses. Naluri untuk ‘membiarkan apa yang telah baik’ (leave well alone) sering menciptakan kekosongan (vacuum) yang  dieksploitasi oleh mereka yang memisahkan religius-sekuler secara ekstrim dengan kekerasan. Hasilnya bisa menjadi kombinasi suntikan kebencian dan kebingungan ke dalam inti dari kehidupan spiritual sekolah. Hanya respon pendidikan yang sesuai dengan fakta bahwa agama adalah masalah kontroversial dalam komunitas sekolah harus ada keterlibatan profesional dan edukatif dengan isu-isu, karena menutup mata hanya akan berfungsi untuk memperburuk situasi yang tidak sehat.

Kegiatan

  • Mencatat sikap Anda sendiri terhadap agama.
  • Apakah Anda menggambarkan diri Anda sebagai seorang ateis, agnostik atau orang yang percaya? Mengapa?
  • Apakah Anda setuju dengan kasus yang diuraikan di atas bahwa agama harus memiliki kedudukan umum di sekolah justru karena ini adalah masalah yang kontroversial?

Mengeluarkan dimensi religius dari spiritualitas, bukan pilihan pendidikan yang layak. Akibatnya, penting bahwa kita mengembangkan pemahaman tentang berbagai pilihan spiritual yang mengalir dari keyakinan beragama (religius). Perhatian kita tidak secara langsung berhubungan dengan fenomena agama, dan tidak ada upaya untuk menguraikan kepercayaan dasar dan praktek tradisi keberagamaan dunia. Sebaliknya, mengambil petunjuk dari pemahaman kita tentang spiritualitas sebagai tujuan akhir, fokus pada identifikasi berbagai klaim kebenaran tentang hakikat realitas tertinggi  yang berasal dari agama. Presentasi berikut menguraikan lima reaksi dasar dengan klaim kebenaran hakiki yang dibuat oleh agama-agama dunia. Ini tidak mengklaim untuk menjadi sempurna, tetapi hanya menawarkan sampel yang representatif dari tanggapan terhadap isu kebenaran religius dalam masyarakat kontemporer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: