Muhammad Rasulullah Saw.,

 

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1]..
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi
dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.[2]
(QS. Al Ahzab [33] :56)

 

Bulan-Bulan Kehamilah Aminah Mengandung Rasulullah Saw.,[3]

Aminah ra., memberitahu, “Saat itu bulan Rajab, Aku mengandung Muhammad. Pada malam hari suatu makhluk tiba-tiba masuk keruanganku. Aku tidak pernah melihat  makhluk ini sebelumnya. Raut wajahnya rupawan. Aku gemetar ketakutan, jantungku berdebar. Ia menunjuk kepada janinku dan mengucapkan salam penghormatan.

“Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan di limpahkan kepada engkau hai Muhammad. Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan dilimpahkan engkau hai ahmad.” Aku bertanya, “Siapakah engaku?” Kemudian makhluk tersebut lenyap dari pandangan mata sambil berkata, “Aku adalah Adam – bapak umat manusia. Aku datang untuk mengucapkan selamat kepadamu. Berita baik dan berita bahagia untukmu hai Aminah. Engkau akan membawa serta kekasih Tuhan – putra mahkota Muhammad.”

Pada suatu hari, di bulan kedua Sya’ban. Suatu makhluk yang bercahaya tiba-tiba hadir lagi dihadapanku. Menunjuk kepadaku dan kepada janin di dalam rahimku, ia mengucapkan :

“Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan dilimpahkan kepada engkau dan keluarga.”

Dalam ketakutan aku bertanya:

“Siapakah engkau?” ia menjawab, “Jangan takut Aminah, aku adalah Nabi Idris, datang untuk mengucapkan selamat kepadamu. Hai Aminah kau sedang mengandung seorang Nabi yang rupawan, seorang Rasul Agung.” Setelah mengucapkan selamat, makhluk itu sirna dari pandangan mata.

Di bulan ketiga kehamilanku, suatu makhluk yang cahayanya tajam ke dalam hatiku. Mengucapkan salam dan selamat, “Duhai yang terjaga, semoga kedamaian, kesejahteraan dilimpahkan kepada engkau. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada engkau, ‘duhai yang berjubah.”

Aku bertanya, “siapakah engkau?” Ia sirna dari tapuk pandangan dan berkata, “Aku Nabi Idris. Selamat bagi kamu wahai Aminah. Kau sedang membawa serta pemimpin seluruh Rasul; Nabi yang dijunjung tinggi dan agung, mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan oleh Allah yang Maha Rahmah kepadanya.

Di bulan keempat, tiba-tiba hadir lagi sesosok makhluk, berkulit hitam, rupawan dan memancarkan cahaya keridlaan. Ia melihat jauh ke sanubariku dan ia menunjuk kepada bayi dalam rahimku dan memberi salam.

“Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahtaraan dilimpahkan kepada engkau.”

“Jangan takut Aminah, selamat engkau mengandung seorang Nabi terpuji; pembimbing agung yang memperoleh kemenangan.”

Di bulan kelima, muncul lagi di hadapanku suatu wujud indah dan sempurna, raut wajahnya dipagari cahaya cemerlang. Pandangannya menikam ke dalam hatiku, menunjuk kepada janinku. Ia mengucapkan salam.

“Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan di limpahkan kepada engkau, wahai hiasan para Rasul. Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan dilimpahkan kepada engkau, wahai kunci segala  Nabi.” Aku bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Wujud tersebut menjawab, “Aku adalah Nabi Hud. Aku diutus untuk mengucapkan selamat kepada engkau disertai berita baik. Selamat bagi engkau Aminah. Kau sedang membawa Nabi terpuji; dicintai Tuhan; Pembimbing yang murah hati dan dermawan.” Kemudian wujud cahaya tersebut sirna dari pandangan mata.

Di bulan keenam, wujud bercahaya hadir lagi di hadapanku. Ia memandang jantungku, menunjuk kepada bayi dalan rahimku dan mengucapkan salam.

“Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan di limpahkan kepada engkau, Ya Rasulullah. Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan dilimpahkan kepada engkau; Duahai yang Dikasihi Allah.” Aku bertanya, “Siapakah engkau?” Cahaya tersebut sirna dari pandangan mata dan berkata, “Aku adalah kerabat baik Tuhan – Nabi Ibrahim a.s. Aku diutus membawa serta berita baik. Engkau tengah mengandung Nabi yang agung; Rasul terakhir yang mempunyai keindahan dan ketuusan.”

Dalam bulan ketujuh suatu peristiwa berlangsung sekali lagi, yang di dalamnya aku menyaksikan wujud rupawan. Ia memandang tajam ke dalam hatiku, menunjuk kepada anak dalam rahimku dan mengucapkan  salam.

“Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan dilimpahkan kepada engkau, ya Rasulullah. Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan kepada engkau duhai Pilihan Tuhan.” Aku mengajukan pertanyaan, “Siapakah engkau?” Ia menjawab dan menghilang. “Aku Nabi Ismail datang mengucapkan selamat dan berita baik. Selamat Aminah, engkau membawa serta Nabi yang lembut hati. Seorang Rasul yang garis Nasabnya kukuh; fasih berbahasa; ahli dalam berbagai bidang.

Di Bulan kedelapan, aku dipanggil sesosok makhluk. Posturnya tinggi dan raut wajahnya memancarkan cahaya cemerlang. Ia memandang ke dalam hatiku, menunjuk kepada bayi di dalam rahimku dan mengucapkan selamat.

“Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan dilimpahkan keppada engkau dan kepada kekasih Allah. Mudah-mudahan kedamaian dan kesejahteraan dilimpahkan kepada engkau, Ya Rasulullah yang tangguh.”

Aku bertanya, “Siapakah engkau wujud yang bercahaya?”

“Aku adalah Musa a.s. Berita baik dan selamat bagimu wahai Aminah. Engkau sedang mengandung Rasul terakhir; pemimpin keturunan Adam. Nabi yang kepadanya Al Quran di wahyukan.” Kemudian cahaya tersebut sirna.

Di Bulan kesembilan, satu wujud lain tampak di hadapanku. Busananya terbuat dari wol dan raut wajahnya bercahaya. Ia memandang ke dalam hatiku, menunjuk kepada anak di dalam rahimku dan mengucapkan selamat.

“Mudah-mudahan kedamaian dan kesejateraan di limpahkan kepada engkau, Ya Nabi Allah. Mudah-mudahan kedamaian dan kesejateraan dilimpahkan kepada engkau Ya Rasulullah.” Ketika aku hendak bertanya, wujud suci tersebut menjawab, “Aku adalah ‘Isa putra Maryam. Aku adalah juru selamat yang di utus  untuk membawa berita baik. Selamat bagimu wahai Aminah. Anda tengah mengandung seorang yang dicintai Tuhan, menjadi rahmat bagi semesta alam. Bersiap-siaplah, karena waktu melahirkan sudah dekat.” Kemudian ia sirna dari pandangan mata.

Demikianlah, Aminah r.a. mengetahui berita baik tentang kelahiran yang mulia Muhammad. Tahun-tahun ketika Aminah mengandung Muhammad. Kala itu musim paceklik yang luar biassa di Makkah. Angin kencang menyapu bersih daratan. Tetapi, ketika Nabi saw., berada dalam Rahim Ibunya, Allah memberi penduduk Makkah rasa damai dan tenang. Angin mereda dan hujan turun. Ketenangan pikiran penduduk pullih dan mereka memperoleh kebahagiaan kembali. Bangsa Arab bahkan menyebut tahub tersebut “Tahun Berlimpah”.


[1] Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Muhammad.

[2] Dengan mengucapkan perkataan seperti: Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai nabi.

[3] Syaikh Muzaffer Ozak, Irshad Wisdom of A Sufi Master. The Idol Of the Universe.H.150-156

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: