Al Kâfirûn

Al Kâfirûn
(Surat ke  – 109; 6 ayat)

Bismillahhirrahmânirrahîm
(Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

1.  Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
2.  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3.  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4.  Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5.  Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Qul ya ayyuha al kâfirûn (Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!” – ayat 1), yang menutupi cahaya kesiapan ruhani mereka –yang suci – dengan kegelaan sifat-sifat jiwa dan efek-efek tabiat rendah; sehingga mereka terhijab dari Al Haqq oleh selainNya.

Lâ a’budu mâ ta’budûn (Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah – ayat 2). Maksudnya, aku tidak akan pernah menyembah apa yang kau sembah selamanya, sementara aku menyaksikan Al Haqq dengan penyaksian Dzâti. Aku tak akan pernah menyembah apa yang kamu sambah berupa tuhan-tuhan yang diciptakan oleh hawa nafsumu, yang direka oleh khayalanmu dan dibentuk oleh akal-akal rendahmu karena keterhijabanmu.

Wa lâ antum ‘âbidûna mâ a’bud (Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah – ayat 3) selamanya. Kamu tetaplah kamu, kamu tetaplah berada dalam keterhijabanmu. Karena orang-orang yang dikunci hatinya dengan karatan selalu enggan untuk mengatahui Al Haqq.

Wa la ana ‘âbidun mâ abadtum (Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah – ayat 4). Sejak dulu, pada masa-masa aku dibimbing dengan kesiapan awal fitrahku, yakni kesiapan diri yang masih suci semata. Ini semua lantaran sempurnanya kesiapanku sejak azali dan orientasi kesiapan fitrah itu kepada Al Haqq dan kurangnya kesiapanmu sejak azali.

Wa lâ antum âbiduna mâ a’bud (dan kamu tidak perrnah [pula] menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah – 5). Sesuai dengan kesiapan yang kurang sempurna itu, kamu tdak pernah menjadi penyembah yang aku sembah. Jadi, kamu tak mungkin menyembah Tuhan yang aku sembah sesuai dengan fitrah, karena kekurangan fitrahmu secara esensial.

Kesimpulannya, kompromi yang kamu inginkan, yakni Tuhanku menjadi tuhanmu dan tuhanmu menjadi Tuhanku, padahal aku telah mencapai kesempurnaanku (kesiapan ruhani tingkat lanjut), dan kamu terhijab, maka kompromi itu mustahil baik sekarang maupun yang akan datang. Bahkan kompromi ini sudah mustahil sejak aku masih dalam kesiapan awal, karena hukum-hukum itu sendiri sejak azali tidak akan pernah berubah. Ini, sekali lagi karena sempurnanya kesiapan awalku dan kurangnya kesiapanmu. Maka ini semua adalah untuk menutup kemungkinan adanya kompromi itu, baik di waktu yang akan datang maupun sejak azali, entah dalam hal sifat ataupun Dzat (Tuhan). Sebab sudah sejak azali kalau kompromi itu mustahil.

Lakum Dinukum  (Bagimu agamamu – ayat 6) berupa penyembahan terhadap tuhan-tuhanmu. Wa liya dîn (Dan bagiku agamaku – ayat 6) berupa penyembahan terhadap Tuhanku. Tegasnya, karena kompromi di antara kita mustahil, maka aku biarkan kamu menganut agamamu. Karena itu, biarkanlah aku memeluk agamaku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: