Plato


Plato (427 – 347 SM) adalah murid Socrates dan guru Aristoteles. Ia banyak menuangkan pikirannya dalam bentuk dialog. Ada sekitar 26 dialog yang dapat dijumpai sampai sekarang.[1] Plato berasal dari kalangan bangsawan Athena. Nama kecilnya adalah Aristocles, sementara nama Plato sendiri merupakan gelar karena ia memiliki dada bidang, jidat lebar, dan juga atlet sukses, dan ternyata gelar Plato lebih mengena dan pas baginya.[2] Sebagai bangsawan, Plato memperoleh pendidikan gaya Athena yang mengutamakan mental melalui falsafah, seni dan sastra.[3] Pada usia belasan, ia masuk militer selama dua tahun. Setelah itu Plato menjadi murid setia Socrates, dan Socrateslah tokoh yang paling berpengaruh terhadap Plato daripada tokoh-tokoh lain.[4] Setelah gurunya meninggal akibat diracun oleh pemerintah Athena, Plato berkelana selama 12 tahun.[5] Ia pergi ke Megara, dan Italia Selatan. Hasilnya, ia berkenalan dengan falsafah Pythagoras, Heraclitus, dan para Filsuf dari Elea.[6] Setelah kembali ke Athena, Plato mulai mengajar di Akademia yang ia dirikan pada tahun 387 SM.[7] Akademia Plato tampil sebagai pusat kajian falsafah dan matematika selama 800 tahun, kemudian di tutup oleh Kaisar Justinius pada tahun 529 M.[8] Penutupan itu menandai berakhirnya periode falsafah Yunani dan memasuki babak baru, abad pertengahan.[9] Penutupan tempat-tempat pengajaran falsafah merupakan bencana dan lembaran gelap sejarah perkembangan intelektual di Eropa.[10] Namun pada saat yang sama, penutupan Akademia tersebut mendatangkan berkah bagi negeri lain yang menampung para pemikir yang lari dari Athena.[11]

Plato adalah Filsuf besar sepanjang sejarah. Pemikiran falsafinya masih tetap awet, lestari dan menjadi pedoman sebagaian besar pemikir sesudahnya. Hampir semua filosofi Plato terekan dalam sebuah dialog dengan para muridnya.[12] Metode dialog menjadi satu-satunya metode yang paling vital dalam penyampaian falsafahnya.[13] Sebenarnya Plato mengikuti metode dialog yang dirintis Socrates, gurunya. Filosofi Plato mengalami tiga masa perkembangan: Pertama, membahas tema-tema sentral, misalnya tentang mawas diri (charmides, temperance); persahabatan (lysis, friendship); keberanian (laches, courage); symposium (symposium); apologi (apology); republik (republic); dan Hukum (Laws). Kedua, membahas tentang teori bentuk (theory of form). Ketiga, membicarakan tentang metodologi, logika dan semantik.[14] Dialog-dialog Plato menjadi pondasi bagi kajian retorika Aristoteles.[15]


[1]     M.M. Syarif, “Greek Thought”.dakan M.M Syarif (ed), A. History of Muslim Philosophy, Vol. I, (Delhi: Low Price Publication, 1995),hlm. 93.

[2]     Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani. Cet III, (Jakarta: Tintamas & UI-Press, 1993), hlm. 87.

[3]     Fuad Hassan, Pengantar Filsafat Barat. Cet II (Jakarta: Pustaka Jaya, 2001), hlm. 29.

[4]     Charless H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philosophy. Vol I. 600 B.C. to 1600 A.D, (Lincoln, Nebraska: Cliff’s Note, 1970), hlm. 19. Lihat juga Robert Maynard Hutchins, Great Books of the Westerm World, No 7. Plato, (London: Encyclopedia Britannica, Inc., 1952), hlm. V-VI.

[5]     Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani. Hlm. 88.

[6]     Charles H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philospophy, hlm. 19.

[7]     Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani. Hlm. 90.

[8]     W.R. Inge, “Neo-Platonism”, dalam James Hasting (ed.), Encylopedia of Religion and Ethics, hlm, 308. Lihat juga D.A. Rees, “Platonism and the Platonic Tradition”, dalam Paul Edwards (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Cet. I, Vol. V, (Canada: Collier Macmillan, Inc, 1967), hlm. 336.

[9]     Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Cet. IV, (Jakata: Pembangunan, 1978), hlm. 73.

[10]    M.M. Sharif, “Greek Thought”, dalam M.M Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, hlm. 93.

[11]    Lihat Majid Fakhry, A Short Introduction to Islamic Philosophy: Theology and Mysticism, (Oxford: Oneworld, 1997), hlm 1 – 2.

[12]    Gilbert Ryle, “Platon”, dalam Paul Edwards (ed.), The Encyclopedia of Philosopphy, Cet I. Vol. V, (Canada: Collier Macmillan, Inc, 1967). Hlm. 319.

[13]    Charles H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philospophy, hlm. 20.

[14]    Gilbert Ryle, “Platon”, dalam Paul Edwards (ed.), The Encyclopedia of Philosopphy, Hlm. 319 – 320.

[15]    Ibid., hlm. 320.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: