Tarian Agung Semesta

Paradigma Tarian Agung

The universe is a harmonious whole, each creature is but a note,a shade of a great harmony, which man must study in its entirety and greatness,lest each detail should remain a dead letter.
—Johann Wolfgang von Goethe[1]

Alam semesta adalah suatu kesatuan yang harmonis, setiap ciptaan hanyalah sebuah catatandalam sebuah naungan harmoni yang besar. Manusia harus mempelajari keseluruhan dan kebesarannya supaya setiap detail harus tetap menjadi huruf mati.
—Johann Wolfgang von Goethe—

Sebuah landasan baru dari keinginan tak tertahankan manusia untuk menempatkan dirinya dalam keberhasilan secara menyeluruh yang muncul dari ilmu pengetahuan. Paradigma Tarian Agung (The Great Dance image), sebuah metafora kosmologis baru yang berasal dari gagasan kuno Harmoni Dunia yang akan mengganti “paradigma jarum jam” (“clockwork image”) terdahulu. Apa implikasinya? Kenapa hal itu bisa membantu manusia menerima ide-ide baru seperti evolusi, keacakan, ireversibilitas, pentingnya informasi, sungguh-sungguh dengan konsepsi alam semesta sebagai sebuah sistem kompleks, yang terbuat dari sistem-sistem yang kompleks?

Paradigma Baru Tentang Dunia

Ide-ide kita tentang sifat dunia fisik sangat dipengaruhi oleh kemajuan terbaru ilmu pengetahuan. Kedudukan pokok kemajuan ilmu pengetahuan sedang dimulai melalui gagasan baru, terutama mengenai evolusi biologi, munculnya keteraturan, chaos deterministik, kode genetik, dan seterusnya. Akibatnya, konsepsi baru mengenai dunia ini mengambil bentuk dan janji-janji yang sangat menarik, karena akan memperbaiki atau bahkan bertentangan dengan spesialisasi kita saat ini; memang, gejala ini menunjukkan kemungkinan pintu masuk bersama gagasan-gagasan yang beragam seperti musik abad pertengahan tentang lingkungan, ruang waktu Einstein dan ireversibilitas intrinsik dari proses alami.[2]

Dalam mencoba untuk menguraikan ciri-ciri utama dari konsepsi baru tersebut, seseorang harus menggunakan beberapa analogi dan perbandingan. Untuk memahami rancangan dan operasi umum benda yang sangat besar dan rumit seperti seluruh kosmos, kenyataannya pikiran manusia membutuhkan proses analogi dengan sesuatu berdasarkan pengalaman pribadi langsung, apa yang biasa disebut “metafora kosmologis”.

Metafora kosmologis yang telah mendominasi ilmu pengetahuan sejak zaman Galileo dan Newton sampai ke masa kita walaupun semakin memperlihat kesulitan yang meningkat, yang disebut “paradigma jarum jam”. Menurut metafora tersebut, alam semesta digunakan untuk pertimbangan, sebagaimana Robert Boyle (1627-1692) mengatakan,

“Seperti jam langka,… segala sesuatu dibuat sangat terampil yang terencana bahwa mesin mengatur pergerakan segala sesuatu yang bekerja berdasarkan desain pencipta”.[3]

Para Filsuf menyebut “Paradigma jarum jam” tersebut sebagai “mekanistik-deterministik” dalam memandang dunia. Hari ini, ilmu pengetahuan harus menerima kemungkinan dan pengaturan sebagai konsep kunci untuk memahami dan memprediksi fakta-fakta, dan metafora kosmologis yang lain tampak lebih konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang alam semesta material. Ini adalah paradigma “Great Dance”. Paradigma ini diperkenalkan pada awal peradaban oleh para penyair dan para penulis, paradigma ini juga dicintai oleh para astrolog dan ahli-ahli Tarot karena berkaitan dengan Platonis dan tradisi abad pertengahan; tetapi paradigma  tersebut baru sekarang bisa menembus penghalang penelitian ilmiah yang paling canggih dan sulit dimengerti. Mungkin, paradigma yang paling signifikan dalam literatur ilmiah baru-baru ini telah diperkenalkan oleh ahli matematika-fisika bernama John Archibald Wheeler, pendiri dalam bidang fisika teori yang disebut geometrodinamik. Menolak gagasan tatanan universal yang diungkapkan dengan kata kosmos (yang dia sebut universe [alam semesta]), Wheeler menulis:

“Dunia: sebuah keberagaman eksistensi? Ya. Alam semesta? Tidak. Minuet [komposisi musik-peny]? Bagaimana untuk tetap harmonis, menarik, dan memenuhi unsur-unsur keindahan. Masih belum semuanya, sementara kita melihat dan tahu bahwa tidak ada hal seperti minuet, tidak ada kepatuhan dengan presisi sempurna untuk sebuah pola, hanya perbedaan bentuk dan ukuran individu-individu mengejar rencana yang berbeda dari gerakan dengan akurasi yang berbeda”.[4]

Setidaknya fisikawan lain bernama Fridtjof Capra telah menyebutkan secara eksplisit Cosmic Dance dalam pikiran agama-agama Timur, khususnya Tarian Shiva.[5]

Bagaimanapun, point yang paling penting adalah pernyataan-pernyataan penjelasan lain tentang paradigma tarian dapat ditemukan di luar literatur ilmiah. Dalam buku klasiknya tentang kartu Tarot, Oswald Wirth mengatakan sesuatu yang paling kuat dari “Greater Trumps” — XXI, Dunia tersebut :

“Ketika mendapat perintah yang lebih baik, kita akan melihat realitas dengan cara yang tidak terlalu baik. Dunia adalah tarian berputar terus-menerus di mana tidak ada yang diam: segala sesuatu berubah terus-menerus karena gerakan yang menghasilkan berbagai hal. Konsep ini kembali ke zaman prasejarah. Para Tarot terinspirasi oleh gagasan ini selama puluhan ribu tahun. Ketika mereka menunjukkan dewi kehidupan yang berjalan di dalam karangan bunga, seperti tupai yang memutar roda”.[6]

Mungkin, penyair terbesar abad kedua puluh bernama TS. Eliot (1888-1965) mengungkapkan ide yang sama dalam bukunya “Four Quartets”. Bertentangan dengan apa yang fisikawan Wheeler tunjukkan dalam gambaran minuet-nya, Eliot bahwa dalam tarian dunia harus ada beberapa prinsip keteraturan dan beberapa aturan, seperti halnya ada invariant-invarian dalam teori-teori fisik. Ia mengisyaratkan hal ini ketika menulis:

 “Satu titik di dunia masih berputar, baik yang berupa fisik maupun bukan; baik ‘dari’ maupun ‘menuju’; dalam satu titik ada tarian, tetapi baik berhenti maupun bergerak. Dan jangan menyebutnya kepastian, karena di sana ada masa lalu dan masa depan yang bersatu; baik pergerakan ‘dari’ maupun ‘menuju’, begitu pula pendakian atau penurunan. Kecuali titik yang masih titik, tidak akan ada tarian dan hanya ada tarian”.[7]

Sebuah penjelasan yang lebih eksplisit tentang “Tarian Agung” yang ditawarkan oleh Charles W. Williams (1886-1945), seorang sarjana yang sangat dikagumi oleh TS. Eliot:

“Bayangkan bahwa segala sesuatu yang eksis merupakan bagian dalam pergerakan Tarian Agung—semuanya; elektron, semua hal yang tumbuh dan membusuk, semua yang tampak hidup dan yang tidak hidup, manusia dan binatang, pohon dan batu, segala sesuatu yang berubah dan tidak ada yang tidak berubah. Perubahan—itulah yang kita ketahui tentang tarian abadi; hukum dalam sifat alami berbagai hal—merupakan ukuran tarian; mengapa ada perubahan yang cepat dan lainnya terjadi perlahan-lahan; mengapa ada yang berupa kecelakaan dan ada perubahan yang tak terhitung; mengapa ada orang bersifat membenci dan mencintai, serta tumbuh dalam kelaparan; dan mengapa ada kota yang telah berdiri berabad-abad tetapi dapat terjatuh dalam seminggu; mengapa roda terkecil dan terkuat di dunia berputar; mengapa darah mengalir, jantung berdetak, dan otak bergerak; mengapa tubuh Anda ditegakkan oleh pergelangan kaki dan Himalaya berakar pada bumi—cepat atau lambat, terukur atau tak terhingga, di mana pun semuanya tak akan ada kecuali berupa tarian. Jika Anda sakit, tarian akan menyembuhkanmu; jika sehat, tarian akan tetap menjagamu. Pengobatan merupakan tarian: hukum, agama, musik, dan puisi—semua ini adalah cara menceritakan gerak terkecil diri kita yang sudah dikenal sesaat sebelum benar-benar hilang dalam proses yang tidak dapat terulang tersebut”.[8]

Bagian ini dapat dipahami sebagai pengakuan validitas argument-argumen astrologi, namun sebenarnya hal itu mengisyaratkan implikasi ilmiah dari tarian dunia. Memang, pernyataan Williams dalam paradigma tarian sangat tepat untuk membantu pikiran kita menjelajahi tempat dan pentingnya ilmu dalam mengkonsepsi dunia secara intelektual, estetika, dan etika. Apa yang membuatnya begitu? Mengapa seorang fisikawan seperti John Wheeler merasa tertarik kepada Tarian Agung, yang mungkin tidak tahu dan tidak suka tulisan-tulisan Charles William? Kenapa hal itu harus diterima oleh orang-orang dari zaman kita yang secara sadar akan masalah-masalah baru seperti hubungan manusia dengan lingkungannya yang tidak menyerah untuk menghasilkan esoterisme dan magic, tetapi masih percaya pada ilmu pengetahuan sebagai jallan menuju kebenaran.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini seseorang harus mempertimbangkan secara lebih mendalam sejak awal penyelidikan ilmiah terhadap kosmos yang telah menjadi bagian manusia, pada saat yang sama berimplikasi terhadap paradigma Tarian Agung. Meskipun ada kajian lain dengan tujuan sama, refleksi lebih dibutuhkan untuk memahami pentingya ilmu pengetahuan sebaik manusia secara umum melalui Weltanschauung—cara melihat dunia—yang diringkas oleh paradigma Tarian Agung. Kita harus memberikan perhatian khusus terhadap pandangan baru “harmoni dunia”, termasuk di dalam paradigma ini.


[1]     Pernyataan di atas dapat ditemukan di: Goethe’s Werke: Herausgegeben in Auftrage der Großherzogin Sophie von Sachsen: IV Abtheilung: Goethes Briefe: 6. Band: Weimar: 1. Juli 1782–31. December 1784.

[2] .   I. Prigogine dan I. Stengers, La nouvelle alliance (Paris: Gallimard, 1979); I. Prigogine dan I. Stengers, Entre le temps et l’éternité (Paris: Flammarion, 1992).

[3]     R. Boyle, dikutip oleh Donald MacKay dalam sampul The Clockwork Image (London: Inter-Varsity Press, 1974). Tidak ada referensi dalam buku MacKay tersebut. Selengkapnya dapat dilihat di: R. Boyle, De hypothesis mechanicae excellentia et fundamentis considerationes quaedam, amico propositae, (London: Herringman, 1674).

[4]     J. A. Wheeler, “World as System Self-Synthetized by Quantum Networking,” IBM Journal of Research and Development 32 (1988): hal 4–15.

[5]     F. Capra, The Tao of Physics (New York: Wildwood House, 1975).

[6]     O. Wirth, Les Tarots des Imagiers du Moyen Age (Paris: Claude Tchou, 1966). Tidak mengherankan bila tradisi Barat mengenai Tarian merujuk kepada zaman Helenistik, khususnya Plotinus.

[7]     T. S. Eliot, Four Quartets, “Burnt Norton,” II, dalam The Complete Poems and Plays 1909–1950 (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1971), hal 119.

[8]     C. W. Williams, The Greater Trumps (Grand Rapids, Michigan: W. B. Eerdmans, 1976), hal 94–95.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: