Kosmologi Plotinus

Menurut filosofi Plotinus, alam semesta bukanlah ciptaan Tuhan, melainkan limpahan dari Tuhan melalui proses emanasi-emanasi. Tujuan akhir dari semua wujud ialah terserap kembali ke dalam Tuhan, tempat asalnya. Sifat Tuhan adalah di luar jangkauan pemahaman manusia. Menurut ajaran Plotinus, ada tiga tahap proses emanasi dan reabsorsi yang berbeda. Reabsorsi atau remanasi sendiri merupakan tujuan setiap jiwa. Menurut Plotinus, ada tiga tahap penyatuan kembali manusia dengan Tuhan: Pertama, melakukan amal saleh; Kedua, berfilsafat, dan Ketiga, dengan jalan mistik.[1] Selain persoalan teologis dan komologis juga mengembangkan ajaran tentang etika.

Ajaran Plotinus terfokus pada tiga kajian inti, yakni Tuhan (The One), akal (Intellect), dan Jiwa (soul). Tuhan adalah sumber wujud melalui emanasi. Dia merrupakan objek yang tak terpahami dan semuanya bergerak menuju kepadaNya.[2] Tuhan dan materi adalah dua kutub utama alam semesta. Tuhan sebagai kekuatan aktif dan alam sebagai penerima pasif. Materi tidak mempunyai realitas hakiki (mumkin al wujud) dengan sendirinya, dan hanya ada satu prinsip tertinggi, yaitu Tuhan (Wajib al Wujud). Tuhan adalah Satu, Esa, dia tidak dapat dibagi-bagi. Yang Satu adalah sumber segala wujud yang ada, tetapi bukan merupakan bagian.[3]

Tuhan tidak memiliki kehendak dan intelegen, sebab Dia tidak dibatasi oleh kebodohan dan hasrat. Tuhan tidak bebas atau pun terikat. Menyifati Tuhan dengan sifat-sifat tertentu tidak mudah. Dia transenden pada semua wujud terbatas. Tuhan melebihi manusia dalam berpikir. Berpikir adalah sesuatu yang tidak terelakan sebagai wahana untuk sampai ke pintu gerbang penyucian. Berpikir juga merupakan awal menuju dunia mistik dan menyatu dengan Tuhan.[4] Alam semesta merupakan emanasi Tuhan, seperti tungku dan cahaya yang memancar dari pusat api: semakin dekat ke api, semakin terang cahaya dan sinarnya, dan sebaliknya, semakin jauh dari sumber api maka cahaya dan sinarnya pun menjadi kurang. Bahkan jika jarak dari api semakin jauh dan menjauh maka panas dan cahaya pun akan hilang sama sekali, dan begitulah gambaran hubungan antara makhluk dengan Tuhannya.[5]


[1]     Harun Hadiwijono, Seri Filsafat Barat 1. Hlm. 69.

[2]     Charless H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philosophy.  Hlm. 50.

[3] D.A. Rees, “Platonism and the Platonic Tradition”, dalam Paul Edwards (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, hlm. 337.

[4]     Ibid.

[5]     Charless H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philosophy.  Hlm. 50.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: