Metafisika Aristoteles

Metafisika Aristoteles dalam terminologi Arab disebut mâ warâ’a ath thâb’’ah, atau al ilâhiyyat. Sesuai topik bahasan ini, maka pembicaraan mengenai metafisika dikaji di dalam kayra metafisika yang terdiri atas 14 buku, selaras dengan pembabakan yang dibuat oleh Andronicus dari Rhodes pada abad pertama sebelum Masehi. Buku ini merupakan karya paling popular di antara karya Aristoteles. Buku Metafisika ini sangat berpengaruh terhadap pemikiran para filsuf muslim pada masa awal dan pertengahan. Di dalamnya terangkum sejarah pemikiran manusia yang paling awal, sejak Thales (585 SM) hingga Plato (348 SM). Arsitoteles menamakan metafisika sebagai Falsafah Pertama (the Firt Philosophy, al Falsafah al Ula).[1] Hal ini karena investigasi ilmiah terfokus pada hal-hal yang partisan dari sesuatu, seperrti adanya beberapa pengelompokan suatu benda. Falsafah pertama membicarakan keberadaan tertinggi atau objek yang ada. Penggunaan metafisika mengisyaratkan bahwa subjek materiil dari penyelidikannya berada jauh di luar objek fisika. Bagi Aristoteles, metafisika merupakan suatu tujuan yang tidak dapat terelakan dari semua pengkajian.[2] Al Kindi dan al Balkhi – keduanya adalah guru dari al Amiri – mengikuti tradisi Aristoteles dan menamakan pengkajian metafisika dengan al Falsafah al ula, yang merupakan cabang metafisika yang paling agung dan menempati peringkat tertinggi.[3]

Menurut Aristoteles, pengetahuan bermula dari mengindra objek tertentu dan tanpa sadar terjadi proses pengelompokan ke dalam kelasnya masing-masing. Pengelompokan ini pada gilirannya berkaitan dengan aturan-aturan yang mengatur tabiatnya masing-masing. Aturan-aturan itu tidak terbatas pada kelompok terbatas, akan tetapi meluas ke tabiat alam semesta. Tahap akhir dari proses pengetahuan itu akan berakhir pada metafisika. Di sini timbul puncak pertanyaan, apa itu kebenaran, keindahan dan kebaikan? Termasuk di dalamnya pertanyaan investigatif mengenai waktu, ruang, sebab, materi, ruh, dan Tuhan. Daya pikir manusia memang terbatas dan tidak mungkin dapat mengetahui semuanya secara menyeluruh. Namun demikian manusia dapat membuat rambu-rambu kearah  sana, dan ini yang dilakukan oleh Aristoteles.[4]

Aristoteles mengemukakan konsep kesatuan bentuk dam materi. Jika persoalan mendasar yang ada dalam konsepsi Plato mengenai kosmos adalah bagaimana ide abadi yang spiritual bisa bersatu dengan materi fana maka menurut Aristoteles yang ada adalah yang konkret. Misalnya, manusia “ini” dan semua “itu”. Ide manusia tidak pernah ada dalam kenyataan.[5] Menurutnya, ide-ide tidak pernah akan terpisah dari elemen materiil yang didapati dalam bagian sesuatu. Setiap sesuatu yang nyata selalu merupakan penyatuan antara bentuk dan materi. Betul bahwa kita dapat memikirkan sesuatu itu terpisah, namun kedua-duanya tidak akan ada dan muncul dengan sendirinya, yakni Tuhan.[6]

Aristoteles lebih mengutamakan yang aktual. Usaha aktualisasi sesuatu dari potensi-potensi dan kekuatan mendorong bukan berasal dari materi secara mekanik, melainkan berasal atau melalui kekuatan dari tarik. Misalnya, biji tidak akan dapat tumbuh menjadi batang pohon itu sendiri belum ada sebelumnya. Seorang anak tidak akan tumbuh menjadi dewasa jika sosok manusia belum pernah ada sebelumnya. Tubuh mansia tidak akan berkembang masuk ke dalam jiwa jika jiwa sendiri tidak memiliki sifat menarik. Sekalipun wujud dari ide-ide tidak terpisah dari benda-benda, akan tetapi ia tetap nyata dan dapat menarik sesuatu untuk merealisasikan dirinya sendiri sesuai dengan kemungkinan-kemungkinannya. Doktrin yang lebih mengutamakan aktual memiliki konsekuensi penting bagi konsep ketuhanan Aristoteles. Artinya, Tuhan adalah satu-satunya bentuk murni (pure form).

Penggerak yang tidak Bergerak (The Unmoved Mover) merupakan konsepsi Tuhan menurut Aristoteles. Konsep ketuhanan ini tidak sama dengan konsep Tuhan menurut Plato atau konsepTuhan yang terdapat di dalam agama-agama besar dunia. Tuhan tidak memiliki kepribadian yang turut campur dalam urusan-urusan dunia, Tuhan juga tidak mengetahui dan peduli terhadap aktivitas manusia. The Enmoved Mover merupakan realitas Utama (Supreme Rality) yang beraksi terhadap alam semesta melalui kekuatan menarikNya. Dialah tujuan akhir dari semua gerakan makhlukNya. Tingkat makhluk terendah diberi potensi yang memungkinkannya dapat mengaktualisasikan dirinya ke bentuk yang lebih tinggi, bahkan dapat sampai berjumpa dengan realitas tertinggi dari segalanya.[7]

Aristoteles menggunakan beberapa sebutan untuk menanamkan Sang Wujud. Terkadang ia menggunakan istilah The Prime Mover, The First Cause, dan terkadang menggunakan The Form of Form. Penggerak Pertama adalah  Allah. Dial ah yang menyebabkan gerak abadi, Dia tidak digerakan, karena bebas dari materi. Allah adalah Aktus Murni (Actus Purus).[8] Kenyataan logis dari konsep semesta Aristoteles merupakan keniscayaan, sebab bentuk mesti mengaktualkan diri agar potensi yang ada dalam substansi dapat terwujud. Tiap wujud memiliki tingkatan tersendiri dari yang terendah ke tingkat yang lebih tinggi. Aristoteles menegaskan bahwa aktivitas Tuhan hanyalah berpikir dan berkotemplasi, oleh karena itu, tidak ada lagi aktivitas yang lebih tinggi daripada berpikir dan merenung.[9]


[1]     Charles H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philospophy, hlm. 33.

[2]     Ibid.

[3]     Ahmad Abdul Hakim Ghorab, al I’lam bimanaqib al Islam. (Kairo : Da al Katib al ‘Arabi li Ath Thaba’ah wa an Nasyr), hlm. 31.

[4]     Charles H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philospophy, hlm. 33.

[5] K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Cet XVIII, (Jakarta: Kanisius, 2001). Hlm. 14.

[6] Charles H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philospophy, hlm. 33.

[7] Ibid. hlm. 34

[8]     Ibid. hlm. 35

[9]     Harun Hadiwijono, Seri Filsafat Barat 1. Cet XIX. (Jakarta: Kanisius, 2002), Hlm. 66.

One Response to “Metafisika Aristoteles”

  1. Terima Kasih banyak atas atas pembagian ilmunya. Tuhan Memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: