al Farabi

Muhammad bin Nuhammad bin Tarkhân abû Nasr al Fârâbi,[1] lahir di Wasij dekat Fârâb, di kawasan mâ warâ’a an nahr (Transoxiana) pada tahun 258 H./870 M. Beliau meninggal pada tahun 339 H./950 M. Biografi al Fârâbi tidak diketahui dengan pasti, sebab ia tidak menulis biografinya sendiri seperti halnya filsuf lain. Namun demikian, biografi al Fârâbi masih dapat dijumpai pada karya Ibn Khalikan, Wafayât al ‘A’yân, sekalipun menurut sebagian ahli terdapat kelemahan yang pelu dikaji ulang. Dari data yang terhimpun menunjukan bahwa al Fârâbi  berasal dari keluarga keturunan Turki, anak seorang jenderal, dan ia pernah menjadi hakim.[2]

Pendidikan dasar al Fârâbi dimulai dengan mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan bahasa, yang meliputi al Quran, hadits, tafsir, fiqih, bahasa Arab, Persia, dan Turki. Ia juga belajar matematika, falsafah, dan melakukan pengembaraan untuk belajar ilmu-ilmu lain. Sejak muda hingga dewasa, al Fârâbi bergelut dengan dunia ilmu. Ia mengunjungi Baghdad dan belajar kepada ahli logika, Abû Bisyr Matta Ibn Yûnus dan kepada Yuhanna bin Khaylan di Harran. Atas nasihat keduanya, al Fârâbi mendalami ilmu logika dan dia juga mempelajari filosofi Aristoteles. Diceritakan bahwa al Fârâbi membaca de Anima Aristoteles sebanyak 200 kali, dan membaca Physics sebanyak 40 kali.[3] Al Fârâbi dijuluki Guru Kedua. Selama 20 tahun tinggal di Baghdad, al Fârâbi tertarik pada pusat kebudayaan di Aleppo, tempat berkumpulnya tokoh-tokoh kesohor di lingkungan Istana Saif ad Daulah al Hamadânî.[4] Kecerdasan dan kemahiran al Fârâbi itulah yang membawanya ke lingkaran Istana. Ibn Khalikan mengatakan, al Fârâbi adalah filsuf muslim terbesar yang tidak ada bandingannya dalam kajian sains dan falsafah. Sistem filosofinya, berupa sintesis dari Platonisme, Aristotelianisme dan sufisme.[5] Diceritakan bahwa al Fârâbi mengunjungi Mesir dan bermukim di Syria hingga meninggal pada tahun 339 H. 950 M.

Hasil karya al Fârâbi bisa diklasifikasikan ke dalam logika dan non-logika. Dalam bidang logika, ia memberi komentar-komentar terhadap bagian dari Organon-nya Aristoteles,[6] menulis pengantar terhadap logika serta menulis tentang ringkasan llogika.[7] Sedangkan karya al Fârâbi yang non logika adalah tentang ilmu politik, etika, ilmu alam, psikologi, metafisika dan matematika. Dalam bidang politik al Fârâbi meringkas tulisan Plato yang bertitel The Laws; dalam bidang etika ia mengomentari Nicomachean Ethics nya Aristoteles; ilmu alam dengan mengomentari Physics, Meteorology, de Caelo et de Mundo dan on the Movement of the Heavenly Spherenya Aristoteles; dan dalam bidang psikolog, ia mengulas komentar Alexander Aphrodisias tentang jiwa (de Anima). Selain itu, al Fârâbi juga memiliki tulisan-tulisan lain yang masih berkaitan dengan tema tentang jiwa namun bersifat mandiri (bukan ulasan ataupun komentar atas karya tokoh lain), di antaranya adalah tulisan al Fârâbi tentang jiwa (on the soul); tentang daya jiwa (on the power); tentang kesatuan dan satu (unity and the one), dan tentang ‘aql dan ma’qûl (the intelligence and intelligible). Dalam disiplin metafisika al Fârâbi menulis makalah tentang substansi (substance), waktu (time), ruang dan ukuran (space dan measure), dan kekosongan (vacuum). Dalam bidang matematik, dia mengulas al Majasta nya Ptolemy. Selain karya-karya itu, al Fârâbi juga menulis ulasan tentang persoalan Euclid.[8] Pada abad X dan XI M., karya-karya al Fârâbi beredar di Timur dan Barat. Sebagaimana diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan Latin, dan bahkan ke dalam bahasa Eropa modern hingga mempengaruhi sarjana-sarjana Yahudi dan Kristen.[9] Banyak Filsuf Barat terpenaruh oleh filosofinya, seperti Albert the Great dan Thomas Aquinas. Mereka berdua adalah tokoh-tokoh yang sering mengutip pemikiran al Fârâbi. Falsafah politik al Fârâbi sejalan dengan Spencer dan Rousseou, sedangkan metode deduktif al Fârâbi seperti Spinoza.

Pemikiran falsafi al Fârâbi menjadi dasar pijakan bagi Ibn Sinâ. Harmonisasi yang dilakukan al Fârâbi terhadap falsafah dan agama dapat diselesaikan  dengan tepat, dan bahkan ditambah dengan unsur tasawuf falsafi yang dikembangkannya. Secara garis besar, terdapat lima objek kajian filosofi al Fârâbi: Pertama masalah ontology; Kedua, masalah metafisika teologis; Ketiga, masalah konsep kosmologi yang berkenaan dengan tori emanasi; Keempat masalah jiwa rasional, dan Kelima, masalah falsafah politik.[10]


[1]  De Lacy O’leary, Arabic Thought and Its Place in History, hlm. 143.

[2] Ibrahim Madkour, “Al Fârâbi”, dalam M.M. Syarif (ed), A. History of Muslim Philosophy, Vol. I, hlm. 451.

[3] Ian Richard Netton, Allah Transcendent, hlm. 100. Lihat juga De Lacy O’leary, Arabic Thought and Its Place in History, hlm. 144.

[4]     M. Saeed Sheikh, Studies in Muslim Philosophym, hm. 75.

[5] Ian Richard Netton, Allah Transcendent, hlm. 99. Lihat juga M. Saeed Sheikh, Studies in Muslim Philosophym, hm. 75.

[6]     Organon Aristoteles terdiri atas the isagoge of porphyry; the categories, al maqûlât; the hermeneutica, al îbârah, at tafsîr; the analytica Priora, al qiyâs I; the analytica Posteriora, al burhân; the topics, al jadal; the sophistica elenchi, al maghâlith; the rhetorica, al khitâbah; the poetics, dan asy syi’ir.

[7]     De Lacy O’leary, Arabic Thought and Its Place in History, hlm. 146.

[8]     Ibid.

[9]     Ibrahim Madkour, “Al Fârâbi”, dalam M.M. Syarif (ed), A. History of Muslim Philosophy, Vol. I, hlm. 454.

[10]    Ibid., hlm. 77

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: