Weltanschauung

Apakah Weltanschauung Berguna?

Ada tanda-tanda batas usia kita, usia yang hanya digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis yang dianggap penting, mungkin mendekati akhir usia, bukan akhir yang mulia, tetapi hanya akhir. Sebuah pendekatan baru untuk masalah-masalah yang terus-menerus menimpa manusia belum ditemukan, tetapi satu hal yang pasti: laki-laki dan perempuan pada hari-hari sekarang telah lelah, karena selalu dipaksa berpikir mengenai kebutuhan alat praktis dan kesejahteraan materiil. Mereka telah menyaksikan kegagalan tidak hanya ideologi materialistik, tetapi juga gagalnya upaya mengurangi permasalahan-permasalahan negara yang “belum berkembang” terhadap kekurangan barang-barang materi. Pada saat agama telah menghilang dari sebagian besar masyarakat Barat, kebanyakan dari orang-orang Barat menyadari bahwa ada perbedaan antara manusia dan binatang ternak. Meskipun, pada suatu waktu kita mungkin merasa iri atas kehidupan sapi yang menyenangkan, yang menghabiskan waktu mereka di padang rumput yang segar dan dilindungi dari bahaya apapun. Kenyataannya kita bukanlah sapi. Kita lebih seperti domba yang tidak bergembala: sebuah metafora yang yang terjadi hari ini, tetapi seperti dua ribu tahun lalu, Tidak berarti bahwa kita hanya seperti binatang lainnya tetapi bahwa—meskipun dengan standar hidup yang lebih tinggi — Kita merasakan kehilangan. Hal itu berarti, kita tidak bisa memahami kehidupan dan alam semesta tempat kita hidup.

Bahkan, ketika tidak dapat atau tidak berani mengatakan dalam berbagai kata-kata, kita akan kehilangan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan abadi—“Apakah manusia? Darimana dia datang? Kemana dia pergi? Siapa yang tinggal di bintang-bintang?”[1]—yang banyak intelektual modern menganggapnya tidak penting; dan bagi kita: video game, obat-obatan, ergonomi, horoskop, atau sekte-sekte pseudo religius merupakan sebaik ilmu pengetahuan dan agama, meskipun fakta-fakta berlimpah tentang ukuran tak terbatas dari ketidakbahagiaan dan penderitaan yang disebabkan oleh kepercayaan dalam segala hal dan tidak mempercayainya pada waktu yang sama. Kita adalah domba tanpa gembala, karena kita tidak cukup memiliki prinsip-prinsip dasar yang membangun jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang berkaitan dengan makna kehidupan.

Masyarakat Barat telah mengalami “dilema eksistensial” ini selama beberapa abad. Sekarang dan sekali lagi, peran gembala diambil oleh intelektual tertentu yang berpikir bahwa ketidakbahagiaan manusia bisa dihapus dengan hanya menekan manifestasinya. Mereka yang percaya bahwa mereka dapat menyembuhkan orang-orang dari keraguan eksistensialnya dengan meyakinkan mereka bahwa keyakinan naluriah pada kebenaran, keadilan, dan kecantikan merupakan “epiphenomena” patologis; dan bahwa ketidakbahagiaan mereka berasal dari “tabu” yang melarang mereka untuk menikmati kesenangan materi secara bebas dalam hidupnya. Para intelektual ini sungguh populer antara tahun 1950 dan 1970, ketika kemajuan potensial dan actual dalam ilmu medis membuat orang tidak takut terhadap konsekuensi kesehatan yang melanggar “tabu” tertentu; tetapi ada keraguan mendasar apakah anak-anak mereka tidak menjadi korban pertama dari pandangan mereka yang terlalu sederhana. Menjadi seorang gembala—dan, suka atau tidak, semua orang terpelajar memainkan peran sebagai gembala setidaknya terhadap keluarga mereka sendiri—harus mempertimbangkan setiap manusia lainnya, bukan sebagai sepotong mesin yang mengharuskan fungsinya berdasarkan ideologi orang lain.

Apa relevansi hal tersebut dengan metafora kosmologi? Jawabannya dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan para ilmuwan besar abad ketujuh belas. Itu adalah masa Galileo Galilei, Rene Descartes, dan Blaise Pascal,[2] ketika paradigma dunia yang menempatkan manusia dan bumi sebagai pusat semesta telah digantikan oleh paradigma heliosentris Copernicus tentang tata surya, pada saat “paradigma jarum jam” muncul pertama kali. Banyak yang telah ditulis tentang Galileo dan perubahan-perubahan pribadinya; sangat sedikit yang dikatakan tentang krisis eksistensial yang dibawa oleh revolusi Copernican. John Donne (1573-1631) menulis komentar terkenal secara tepat tentang hal ini:

Dan filosofi baru menjadikan semua ragu,
Unsur api dikeluarkan; matahari dan bumi menghilang…
Semua nya terpotong-potong, semua koherensi pergi[3]

Respon yang paling signifikan bagi ilmu pengetahuan zaman kita adalah Blaise Pascal, seorang ilmuwan besar dengan pemikiran paling modern yang mampu merancang kalkulator mekanis pertama kali. Salah satu “pemikirannya” menunjukkan secara luas bahkan hal itu yang menciptakan ilmu pengetahuan baru yang terasa bahwa ada sesuatu yang begitu besar telah hilang, dengan keruntuhan gambaran sebelumnya tentang alam semesta:

Dalam pertimbangan kebutaan dan penderitaan manusia, dalam memandang alam semesta membuat bodoh dan manusia bila tanpa cahaya, bagian kiri hanya untuk dirinya sendiri, di luar dirinya seperti hilang di sudut alam semesta. Tanpa mengetahui yang ditempatkannya di sana, bahwa dia datang untuk melakukan apa, apa yang akan terjadi ketika mati, tidak mampu mengetahui apapun, saya menjadi ketakutan; seperti terjadi pada seorang pria yang ditinggalkan tidur di sebuah pulau terpencil dan mengerikan, ketika terbangun dia tidak tahu sedang berada di mana, dan tanpa ada alat  untuk melarikan diri. Dengan demikian saya heran, Bagaimana mungkin bahwa kita bisa mengatasi rasa putus asa karena keadaan sangat sengsara?[4]

Mari kita meringkas. Banyak pemikiran-pemikiran yang berpengaruh saat ini mempertahankan bahwa Homo sapien bukanlah hewan yang sangat khusus, tetapi seperti halnya  ikan paus, burung camar, dan cacing. Dia adalah salah satu solusi yang memungkinkan evolusi ditemukan untuk “survival of the fittest”; dan ia harus mengikuti “pengendali alami”. Filsuf Amerika yang bernama John Dewey (1859-1952) mengungkapkan kepercayaan bahwa “otak merupakan organ utama dari jenis perilaku tertentu, bukan untuk mengetahui dunia”.[5] Bahkan pemberian bahwa pandangan kita masih menghadapi faktan yang kita hanya seperti setiap spesies hewan yang berbeda dari lainnya dalam karakteristik khusus tertentu, juga spesies manusia memiliki karakteristik-karakteristik khas, tidak sedikit yang menginginkan kebenaran, keadilan, dan keindahan. Manusia terus mencari nilai di mana-mana dan mereka secara naluriah melihatnya sebagai segi-segi dari gagasan umum yang sama: harmoni yang misterius, koherensi antara semua hal dan proses, dan cahaya-cahaya di cakrawala untuk pilihan dari kehidupan biasa setiap hari.

Apapun penjelasannya, kenyataan bahwa kesehatan psikologis kita mengharuskan bahwa kita harus percaya adanya pola umum segala sesuatu di alam semesta yang sesuai, dan pola ini dicirikan oleh hukum dan peraturan, ilmiah, dan moral. Dengan kata lain, untuk menghindari rasa kehilangan identitas, maka diperlukan suatu konsep yang holistik sebagai acuan praktis secara mendasar: Weltanschauung.

Tentu saja, untuk sebagian besar orang—termasuk yang berpendidikan tinggi—konsep ini tidak dapat dipenuhi oleh spekulasi filosofis yang abstrak. Kenyataannya kita meminta dengan tegas penggunaan kata German, yang tidak umum dalam pembicaraan English dunia, karena istilah  “World View” menyarankan sebuah teori yang secara eksplisit harus sadar akan dunia sepenuhnya. Sekarang, buruh miskin mungkin saja memiliki Weltanschauung, tetapi jangan terlalu banyak berharap dirinya memiliki pandangan dunia. Oleh karena itu, gambaran acuan memungkinkan untuk mendapatkan setidaknya aturan untuk sifat umum perasaan yang diperlukan secara psikologi. Hal ini, yang terpenting bagi kita Weltanschauung harus istirahat—seperti yang sudah terjadi dengan sistem Ptolemeus tentang dunia—dalam deskripsi alam semesta yang ditempatkan dalam gambaran yang lazim, yaitu sebuah “metafora kosmologi”.[6]


[1]     Bentuk pertanyaan-pertanyaan abadi penyair Jerman Heinrich Heine (1797-1856) dalam puisi “Fragen” (Pertanyaan). Puisi ini dapat ditemukan di H. Heine, Buch der Lieder (1827) (Munich: Kindler, 1964).

[2]     Masing-masing meninggal pada tahun 1662, 1650, 1662.

[3] J. Donne, Anatomy of the World (1612), hal 205-207, 213. Dari J. Donne, Liriche sacre e profane: Sacred and Profane Poems, Edisi berbahasa Inggris dan Italia diterjemahkan oleh G. Melchiori (Milan: Mondadori, 1983).

[4]     B. Pascal, Pensées (New York: E. P. Dutton, 1958), hal 393.

[5]     J. Dewey, Creative Intelligence (New York: H. Holt & Co., 1917), hal 36.

[6]     Signifikansi konsep metafora dengan begitu banyak referensi tentang paradigma “Jarum Jam” di bahas oleh H. Blumenfeld, Paradigmen zu einer Metaphorologie (Paradigms for a science of metaphors), vol. VI dari serial Archive für Begriffgeschichte (Bonn: H. Bouvier and Co., 1960).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: