Dialog Sains – Filsafat dan Agama

Bertanya tiada akhir. Sains-filsafat-agama  mengurai!
dari awal hingga akhir, sampai pada batas yang tak terbatas.
Inipun menyisakan pertanyaan makna.
Bertanyalah pada Yang tiada akhir.
Pertanyaannya, bagaimana? mengapa?
sains, filsafat maupun agama akhirnya
berusaha memperoleh keyakinan atas kebenaran.
Akhir, keyakinan pun sebuah pertanyaan?

– Yang Tersembunyi –

Pencarian Makna

“Dialog konseptual antara filsafat dan teknologi sama sekali tidak bersifat eksklusif. Dengan cara tertentu dialog itu bersumber dari hidup sehari-hari dan berhubungan dengannya. Lagi pula kedua disiplin tersebut senantiasa diuji oleh pertemuan dengan ilmu-ilmu saintifik.[1]

 Meskipun masih banyak terdapat perdebatan di antara para ahli sains dan para filsuf mengenai isu-isu yang ditengarai di depan, namun benarlah bahwa pertanyaan-pertanyaan yang disajikan para ilmuwan berdasarkan aktivitas saintifik mereka merangsang terus-menerus permasalahan makna.[2]

..Sains pada akhir abad ke-20 dan abad ini mengorientasikan kita secara baru kearah masalah makna dan suatu pertanyaan tentang sebuah transendensi. Itu adalah sebuah perubahan radikal, dibandingkan “saintisme” abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, itu juga merupakan suatu langkah besar sekali ke arah suatu relasi yang relevan antara sains, filsafat dan Agama sesudah relasi itu didominasi oleh suatu separatism yang mandul.[3]

Sains merupakan fakta makna, kecenderungan untuk melihat proyek besar dalam fakta makna menjadikan para ilmuwan beralih dari fakta makna ke suatu sumber makna atau ke sebuah intelegensi yang menciptakan, merupakan suatu lompatan besar yang hanya bisa di benarkan lewat sebuah refleksi filosofis sejati.

Ilmu pengetahuan menurut Imam Syafei[4] diletakan dalam dua dimensi, yaitu dimensi struktural dan dimensi Fenomenal. Pada dimensi struktural, apa yang disebut ilmu pengetahuan haruslah mengandung unsur-unsur: objek sasaran untuk diteliti yang disebut gegenstand, dan gegenstand ini dipertanyakan terus menerus tanpa mengenal titik henti, alasan dan tata-cara tertentu dalam mempertanyakan gegenstand tersebut, untuk kemudian hasil-hasilnya disusun dalam satu kesatuan sistem. Pada dimensi fenomenal, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, yaitu kelompok elit yang dalam kehidupannya sangat penuh kaidah-kaidah ilmiah: yaitu universalisme, komunalisme, dis-interestedness, dan skeptisme yang terarah dan teratur (organized scepticism), disamping ilmu pengetahuan itu menampakkan diri sebagai proses dan sebagai produk.

Istilah ilmu dalam epistemologi Islam mempunyai kemiripan dengan istilah science dalam epistemologis Barat. Lingkup sains hanya mencakup bidang empiris. Sedangkan Ilmu memiliki kriteria sains sebagai pengetahuan sistematis dan terorganisasi. Hal ini menunjukan bahwa lingkup Ilmu tidak hanya pada bidang-bidang empiris (sains), tetapi juga non empiris seperti matematika dan metafisika. Al-Farabi dan Ibn Sina mengungkapkan bahwa, ada objek-objek ilmu yang secara tegas terkait dengan materi dan gerak, tetapi ada juga yang pada dirinya tidak bersifat fisik, tetapi terkadang masih berkaitan dengan benda-benda fisik, dan ada entitas-entitas yang secara niscaya tidak berhubungan dengan materi dan gerak. Objek-objek matematika berkaitan dengan objek-objek kategori kedua, yaitu entitas yang pada dirinya tidak bersifat fisik, tetapi terkadang masih berkaitan dengan benda-benda fisik dan gerak. Begitu pula objek-objek metafisika juga memiliki status ontologis yang sah.

Filsafat merupakan induknya pengetahuan. Hal ini mengisyaratkan bahwa sains pun pada awalnya menginduk padanya. Sejarah mencatat bahwa filsafat muncul sebagai reaksi kritis Socrates, yang di ikuti muridnya Plato dan Aristoteles di Yunani dalam menyikapi sarjana Yunani yang menamainya sebagai kelompok Shofis yaitu orang bijak atau berilmu tapi mereka tidak meyakini adanya kebenaran-kebenaran pasti, juga menafikan adanya sesuatu yang benar-benar diketahui secara pasti, berpola pikir menolak mentah-mentah kebenaran diluar pikiran manusia. Mereka adalah pengajar-pengajar profesional dalam (seni) retorika dan debat. Filsafat yang berarti cinta kebijaksanaan, pada waktu itu digunakan sebagai lawan dari sophistry (ke-sofisan atau kerancuan berpikir), dan memuat seluruh ilmu hakiki (real science) seperti fisika, kimia, kedokteran, astronomi, matematika dan teologi.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa Ilmu hakiki tersebut mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ada kekeliruan bepikir yang direduksi oleh kaum agama (Islam khususnya) tentang ilmu yakni mereduksi konsep ‘ilm yang semula berarti “semua pengetahuan” (empiris dan non empiris seperti matematika dan metafisika) menjadi “pengetahuan agama”. Ziauddin Sardar[5] mengungkapkan bahwa para ulama mereduksi konsep ‘ilm tersebut dengan membangun seperangkat kriteria yang sangat ketat dalam meyampaikan ‘ilm. Pertama, pengetahuan tentang Alquran dan semua yang terkait dengannya, termasuk pemahaman tentang sastra Arab dan penguasaan mendalam tentang aturan-aturan Alquran dan semua pembagiannya, hubungannya satu sama lain dan kaitannya dengan sunnah (kehidupan Nabi Muhammad). Kedua, menghafal Alquran dan mengetahui peanfsiran masing-masing ayat dari para fukaha klasik. Ketiga, penguasaan hadis Nabi, termasuk hafal sedikitnya 3000 hadis lengkap dengan rangkaian perawinya (isnad)Keempat, pengetahuan mendalam tentang hukum Islam, termasuk tentang keputusan para fukaha terdahulu tentang materi dan praktik keagamaan. Para ulama menegaskan bahwa hanya mereka yang memenuhi kriteria tersebut yang dipandang mampu melakukan ijtihad (penalaran independen dan rasional) sehingga layak berperan sebagai penyampai pengetahuan baru. Hal ini berdampak merugikan terhadap kebudayaan Islam. Dari konsepnya yang bersifat umum dan distributif, ‘ilm menjadi sebuah gagasan yang eksklusif dan akumulatif; dari sebuah gagasan yang memberdayakan semua lapisan masyarakat menjadi yang mengakumulasikan otoritas dan kekuasaan di tangan sekelompok orang terpilih-biasanya mereka yang memiliki pengetahuan agama dan ingatan kuat. Praktis “pintu ijtihad” pun tertutup, maka ijtihad pun melahirkan taqlid (peniruan buta).

Secara spesifik dapat terlihat bahwa terdapat hubungan yang erat antara sains [pengetahuan tentang fenomena empiris], filsafat dan agama. Secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Proses berpikir dalam mencari fase kebenaran dalam filsafat dilalui dengan cara deduksi tetapi sangat spekulatif berdasarkan penalaran logis. Berbeda halnya dengan sains, kebenaran dicari lewat metode induksi. Sesuatu dikatakan benar dan nyata apabila dapat terukur [positivistik], tidak ada yang ‘Ada’ selain materi [materialistik] pada kebanyakan fenomena dapat direduksi, sangat mekanis dan adanya kekuatan generalisir serta abstraktif [empiristik]. Bagi sains, hal-hal yang berbau metafisik adalah hanya omong kosong belaka, sedangkan bagi filsafat ada kualitas metafisik yang ultimate dan transenden. Sedangkan kebenaran dalam Agama [din] pada dasarnya bersandar pada wahyu. Bersandar pada wahyu berarti bersandar pada otoritas dari penerima wahyu [Nabi] sebagai utusan Tuhan yang terpercaya. Itulah sebabnya ilmu-ilmu agama disebut ‘naqli’ [transmitted] bukan ‘aqli’ [rasional]. Namun, pemahaman terhadap dalil naqli [quran dan sunnah] itu pun tetap dengan mengoptimalkan kemampuan ‘aql’ yang dimaknai dengan din [ketundukan berpikir] dalam menafsirkannya. Hal ini memperlihatkan bahwa filsafat sebagai aktivitas bepikir bisa dicari pemaknaannya dengan dîn, sedangkan Islam bisa dijelaskan dengan menjelaskan Islam secara maknawi, bukan lembagawi[6]. Apakah Ad-dîn Al-Islâm? dîn secara bahasa menunjukan kata benda abstrak, berbentuk masdar dari dana yadinu, tetapi dapat pula diberikan pemaknaannya menjadi kata kerja, dan itu sah menurut ilmu nahwu, dalam Alfiyah Ibnu Malik, “wadun ilahiyun saiqun lidzawi al-‘uquli ash-shalihati ila ma hua khairun lahum fi dunyahum wa akhiratihim (ketentuan-ketentuan Tuhan yang mendorong siapapun yang berakal untuk berbuat sesuatu yang baik bagi mereka di dunia dan diakhirat). Sehingga Ad-dîn itu berarti “ketundukan berpikir”, dan Islâm adalah pasrah total kepada-Nya. Sehingga Ad-dîn Al-Islâm adalah filsafat Islam itu sendiri sebagai satu paradigma berpikir dan beramal, berilmu dan beramal. Maka sebenarnya filsafat itu tidak ada, kalau adapun menyesatkan atau tak membawa “kesempurnaan” Spiritual, yang ada adalah filsafat Islam (bentuknya jadi naat manut kalau dalam ilmu nahwu: al-falsafah al-islamiyah atau falsafah islamiah).

Atribut apapun yang di sandang serta dapat memacu terhadap sebuah proses ketundukan berpikir atau falsafah seperti pemahaman terhadap sains misalnya harus dipahami sebagai sebuah ketundukan berpikir yang dibarengi dengan nilai-nilai Islami.  Penamaan terhadap sains seperti sains marxis, sains rusia hanya menunjukan sains sebagai sebagai sebuah aktivitas berpikir yang hanya dinisbahkan pada kerangka berpikir atau sudut pandang seseorang seperti marx atau orang rusia, sedangkan universalisme sains itu sendiri mesti bersifat meyeluruh artinya kecenderungan-kecenderungan pengungkapan terhadap sains mesti mengarah kepada hal-hal yang baik, meskipun sains itu sendiri tidak menghendaki baik dan buruk atau bersifat netral. Sehingga sebenarnya pemahaman lebih mendalam akan sains mesti di pahami sebagai sebuah ketundukan berpikir yang sarat akan nilai-nilai Islami dan etika moral atau dengan kata lain dipahami dalam kerangka filsafat Islam. Tanpa ada pretensi dan tendensi apapun secara komprehensip penggunaan istilah filsafat sains Islam perlu [kalau bukan harus] mendapat pemaknaan lebih dalam sehingga batasan, serta cakupannya lebih terarah. Filsafat, sains dan agama, inilah jalan meretas pencarian makna keyakinan atas kebenaran.


[1] Louis Leahy, 13

[2] Louis Leahy, 29

[3] Louis Leahy, 99

[4]     Imam Syafi’ie. Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-quran, ‘Telaah dan Pendekatan Filsafat Ilmu’. Edisi Pertama, Yogyakarta: UII Press, 2000.Hal:

[5]     Ziauddin Sardar. Serpihan Essay Islam Posmodernism, and Other Futures: A. Ziauddin Sardar Reader karya Sohail Inayatullah dan Gail Baxwell (eds). London-Sterling Virginia: Pluto Press, 2003. [Terjemahan: R. Cecep Lukman Yasin & Helmi Mustofa. Kembali Ke Masa Depan: Syariat sebagai Metodologi Pemecahan Masalah. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, Cetakan I, 2005.Hal:167]

[6]     Fauz Noor. Semesta Sabda. Yogyakarta. Cetakan I, Pustaka Sastra ELKiS, 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: