Paradigma Cartesian-Newtonian

Dalam Dictionary of Philosophy[1] paradigma didefinisikan sebagai seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah. Donny Gahral Adian.[2] mendefinisikan paradigma sebagai: Pertama, kerangka konseptual untuk mengklasifikasi dan menerangkan objek-objek fisikal alam. Kedua, patokan untuk menspesifikasi metode yang tepat, teknik-teknik, dan instrumen dalam meneliti objek-objek dalam wilayah yang relevan. Ketiga, kesepakatan tentang tujuan-tujuan kognitif yang absah. Sedangkan Ritzer[3], mendefinisikan paradigma-nya Kuhn bahwa paradigma adalah gambaran fundamental mengenai masalah pokok dalam ilmu tertentu. Paradigma membantu dalam menentukan apa yang mesti dikaji, pertanyaan apa yang mestinya diajukan, bagaimana cara mengajukannya, dan apa aturan yang harus diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh. Paradigma adalah unit konsensus terluas dalam bidang ilmu tertentu dan membantu membedakan satu komunitas ilmiah (atau subkomunitas) tertentu dari komunitas ilmiah yang lain. Paradigma menggolongkan, menetapkan, dan menghubungkan eksemplar, teori, metode, dan instrumen yang ada di dalamnya

Adanya perubahan-perubahan temuan atas penelitian ilmuwan dalam perkembangan ilmu pengetahuan menuntut adanya perubahan paradigma. Sejak massa Copernicus, Kepler, Galileo, Bacon, Cartes, yang mencapai titik puncaknya pada massa Newton sehinga melahirkan paradigma Cartesian- Newtonian yang bersifat revolusioner. Rangkaian perubahan paradigma terlihat seperti yang terjadi pada perubahan paradigma dari Geosentris menjadi Heliosentrsis oleh Galileo, perubahan paradigma dari mitos menjadi logos oleh Thomas Kuhn, yang menjadi titik pangkal lahirnya sejarah peradaban dunia berdasakan perubahan paradigmanya. Dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions, Kuhn mengemukakan bahwa perubahan paradigma menyebabkan para ilmuan berbeda memandang dunia kegiatan risetnya[4]. Revolusi sains terjadi ketika asumsi-asumsi teoritis mampu memberikan perubahan yang mendasar terhadap kemapanan sains dan sains yang mapan ketika terjadi perubahan revolusioner menjadi sains normal.

Perubahan paradigma ini sebenarnya dapat berlangsung dalam tahap ‘messo’ dan ‘makro’ masyarakat, artinya perubahan berlangsung secara sporandis-meski tidak utuh ditingkat masyarakat yang luas.[5]  Pada corak dan jenis kedua ini, perubahan berlangsung dalam wacana perkembangan ilmu pengetahuan. Secara historis, perubahan paradigma dalam tahap makro menurut M. Saefudin[6] berlangsung dalam tiga fase: 1) Tahap Ilmu mitis-intuitif. Pada fase ini, bangunan ilmun moral dan seni berlangsung dalam tahap sintesis. Fase ini berlangsung pada tahap Plato dan kawan-kawannya di Yunani; 2) Tahap ilmu rasional-empiris. Pada fase ini ilmu dianggap netral, bebas nilai, dan bebas mitis. Fase ini berlangsung di abad pertengahan. Abad enlighment [pencerahan] dimana norma-norma agama dibongkar, disingkirkan dan dijauhkan dari perkembangan sains; 3) Tahap ilmu rasional intuitif. Kebutuhan ilmu dapat didekati secara falsafi dari segi apa [ontologi], bagaimana [epistemologi], dan untuk apa [aksiologi]. Inilah tahap baru yang konsepnya sendiri belum mapan. Inilah yang terjadi di abad postmodernisme, abad konrtemporer manusia sekarang ini.

Husain Heryanto[7] mengungkapkan bahwa paradigma mengandung dua komponen utama, yaitu parinsip-prinsip dasar dan kesadaran intersubjektif. Prinsip-prinsip dasar itu adalah asumsi-asumsi teoritis yang mengacu pada sistem metafisis, ontologis, dan epistemologis tertentu. Sedang kesadaran intersubjektif adalah kesadaran kolektif terhadap prinsip-prinsip dasar itu yang dianut secara bersama sedemikian sehingga dapat melangsungkan komunikasi yang memiliki frame of reference yang sama.

Pentingnya penggunaan paradigma dalam menanalisis kompleksitas pandangan mikrokosmik itu di dasarkan antara lain karena: Pertama, kesulitan yang berat dalam menemukan kaidah-kaidah yang telah menjadi pedoman bagi tradisi-trradisi sains yang normal. Kedua, yakni yang sebenarnya penyebab yang wajar bagi yang pertama, berakar dalam sifat pendidikan sains. Ketiga, paradigma-paradigma itu menjadi pedoman riset dengan memberi contoh langsung maupun melalui kaidah-kaidah yang diringkaskan. Keempat, terjadi revolusi-revolusi kecil maupun revolusi-relvolusi besar, bahwa beberapa revolusi hanya menyangkut anggota-anggota sub spesialisasi profesi dan bahwa bagi kelompok demikian, penemuan gejala yang baru dan tak terduga pun bisa revolusioner.

Sementara itu, penggunaan nama Cartesian-Newtonian didasarkan pada tiga pertimbangan pokok. Pertama, bahwa Descartes dan Newton merupakan dua tokoh sarjana yang paling besar pengaruhnya terhadap pembentukan sains dan peradaban modern. Peristiwa-peristiwa monumental seperti Revolusi Ilmiah [Scientific Revolution], Revolusi Industri, dan Abad Pencerahan tidak terlepas dari pengaruh pemikiran kedua tokoh modern ini. Kedua, kedua tokoh ini dapat mewakili filsafat dan sains modern. Jika Descartes dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern, maka Newton dijuluki sebagai tokoh pembangun sains modern dengan mazhab kosmologi dan fisika klasik Newtonian yang berpengaruh besar terhadap dunia modern hingga sekarang. Ketiga, keinginan memfokuskan pembahasan kepada pemikiran ontologis dan epistemologis Descartes serta kosmologi Newton yang banyak memiliki titik singgung dan kesamaan prinsip-prinsip.

Pada tataran praktis, pandangan Cartesian-Newtonian menimbulkan problem-problem global seperti krisis ekologi, dehumanisasi, dan konflik-kekerasan yang akut. Sedangkan pada tataran teoritis, pandangan ini tidak mampu lagi memberi penjelasan dan pemaknaan terhadap fenomena-fenomena yang muncul dalam perkembangan sains mutakhir, seperti teori relativitas, teori kuantum, teori chaos, evolusi-kreatif, dissipative structures, teori sibernetika dan self-organization, psikologi Gestalt atau psikologi humanis-eksistensialis, dan tentunya, terlebih lagi, teori-teori sosial budaya yang sudah terlebih dahulu menolak pandangan positivistik.


[1]     Husain Heriyanto. Paradigma Holistik; Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan menurut Shadra dan Whitehead. Jakarta: Teraju, 2003.Hal:28.

[2]     Donny Gahral Adian. Menyoal Objektivisme Ilmu Pengtahuan, ‘Dari David Hume sampai Thomas Kuhn’. Bandung: Cetakan I,  TERAJU, 2002.Hal:86.

[3]     (Donal J. Golfman, 2000:A-13)

[4]     Thomas S. Kuhn. The Structure of Scientific Revolutions. The University of Chicago Press, 1962. [Terjemahan: Tjun Surjaman. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000.Hal:109].

[5]     Cecep Sumarna. 2005:61.

[6]     Ibid. Hal:62.

[7]     Husain Heriyanto. Paradigma Holistik; Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan menurut Shadra dan Whitehead. Jakarta: Teraju, 2003.Hal:29-31.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: