Al ‘Ashr

Al ‘Ashr
(Surat ke  – 103; 3 ayat)

Bismillahhirrahmânirrahîm
(Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

1.  Demi masa.
2.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3.  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Wa al ‘Ashri (demi masa – ayat 1). Allah bersumpah dengan masa, yakni dengan bentangan masa yang abadi berikut peristiwa-peristiwa di dalamya, peristiwa-peristiwa yang terjadi bersamanya berikut penyebabnya yang tak lain dari bentangan masa itu (dahr). Manusia pada umumnya menisbatkan berbagai perubahan kondisi dan situasi pada waktu, dan menyangka waktu sebagai penyebab hakiki yang sangat mengesankan bagi akal-akal mereka. Tidak ada yang membinasakan kami kecuali masa (dahr), padahal penyebab hakiki pada hakikatnya adalah Allah, seperti dikatakan Rasulullah saw., “Janganlah engkau mencela masa, karena Allah swt., sesungguhnya adalah masa.” Beliau berkata demikian karena ingin menggunakan Allah, karena Dia selalu menempatkan sifat dan perbuatanNya di dalam lokus masa itu.

Inna al Insâna la fî khusrin (sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian – ayat 2). Allah bersumpah bahwa sesungguhnya orang terhijab oleh masa dariNya benar-benar merugi. Itulah manusia yang rugi karena “modal hartanya” yang tak lain adalah cahaya fitrahnya, petunjuk dasar dari kesiapan primordial (azali), dengan memilih kehidupan dunia, berbagai kelezatan yang  fana, terhijab oleh kehidupan dunia dan masa, menyia-nyiakan hal-hal abadi untuk hal-hal fana.

Illa alladzîna âmanu (kecuali orang-orang yang beriman – ayat 3) kepada Allah dengan keimanan ‘ilm al yaqîni, dan mereka tahu tidak ada penyebab hakiki kecuali Allah, mereka lepas dari hijab masa. Dan mereka mengerjakan amal-amal saleh (wa ‘amilu al shâlihât – ayat 3) yang abadi, berupa keutamaan-keutamaan dan kebaikan. Jelasnya, mereka beruntung dengan bertambahnya cahaya kesempurnaan atau cahaya fitrah (primordial) yang merupakan modal hartanya. Wa tawâ shau bi al haqq (dan mereka saling menasihati supaya menaati kebenaran – ayat 3) yang tetap abadi berupa tauhid dan keadilan. Tegasnya, tauhid dzâti, sifat berupa tauhid dan perbuatan, karena sesungguhnya Allah semata yang abadi. Wa tawâ shau bi al shabr (dan mereka saling menasihati supaya menetapi kesabaran – ayat 3) bersamaNya dan atas dasarNya dari segala sesuatu selainNya dengan keteguhan dan istiqamah.

Bisa pula kata al ashr dalam ayat pertama (wa al ashr) adalah kata benda yang berarti “perasaan”, diambil dari kata kerja “memeras dan menyaring”. Jadi, ayat pertama berarti: Demi “perasaan” Allah terhadap manusia dengan ujian, perjuangan ruhani (mujâhadah), riyadhah sampai muncul manusia pilihan (dari “perasaan” itu).

Sesungguhnya manusia “ampas” yang hanyut di dalam hijab fisik itu sungguh merugi. Kecuali orang-orang yang memiliki ilmu dan amal, saling menasihati dengan kebenaran yang tetap tak lain adalah keimanan yaqînî yang bisa menyaring manusia “ampas” seisinya. Dan mereka saling menasihati untuk bersabar atas “perasaan” dengan ujian dan riyadhah. Karena itu Rasulullah saw., bersabda: Ujian tunduk pada para nabi, kemudian para wali, kemudian yang sejenisnya dan yang sejenisnya.” Beliau juga bersabda: “Ujian adalah salah satu cambuk Allah yang dengannya Dia mengarahkan hamba-hambaNya kepadaNya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: