Pengantar Filsafat Kimia 1

Filsafat Kimia 

Pendahuluan

Tampaknya filsafat kimia muncul baru-baru ini. Sejak awal 1990-an filsuf dan ahli kimia mulai bertemu di berbagai negara untuk membahas persoalan filsafat kimia – pada awalnya dalam kelompok-kelompok nasional yang terisolasi tetapi segera penguatan pertukaran secara internasional melalui pertemuan rutin dan publikasi dari dua jurnal (Hyle and Foundations of Chemistry) yang ditujukan untuk filsafat kimia. Sementara formasi sosial memang merupakan fenomena baru yang masih berlangsung. Topik filosofis memiliki sejarah lebih lama lagi bahwa dalam beberapa kasus mendahului kimia.

Seseorang bahkan bisa berpendapat bahwa filsafat alam Yunani kuno dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan kimia secara mendalam tentang unsur dasar di alam semesta dan tentang bagaimana memberikan alasan untuk berbagai materi yang terbatas  dan perubahannya yang menakjubkan, misalnya; air menjadi padat atau gas; kayu berubah menjadi api, asap, dan abu; perubahan batu menjadi logam; makanan berubah menjadi tubuh manusia; atau bahan-bahan tertentu mengkonversi tubuh yang sakit kedalam tubuh yang sehat. Bahkan ada tradisi filsosofis yang hampir terus-menerus berfokus pada pertanyaan tersebut. Karena filsafat alam Aristoteles yang dipusatkan pada teori unsur-unsur, berpengaruh jauh sampai abad ke-18, itu memberikan dasar bagi beberapa filsafat kimia. Physician (arts) sangat teliti melakukan perubahan materi yang diinginkan di laboratorium, khususnya alkimia dan metalurgi yang terlibat jauh dalam memikirkan masalah-masalah metafisika dan metodologis dari yang tidak hanya kimia modern tetapi juga kemunculan metode eksperimental, seperti kemunculan Francis Bacon, tokoh berpengaruh yang populer. Meskipun abad ke-17 membawa perpecahan fundamental dalam ilmu pengetahuan matematika dan eksperimental serta banyak filsuf terkenal yang cenderung kearah tradisi matematika, diskusi filosofis tentang kimia tidak berhenti saat itu. Misalnya, Kant setidaknya dalam karya anumerta nya, menulis secara ekstensif tentang kimia, seperti yang dilakukan Hegel, Schelling, dan khususnya Engels, “dialektika materialisme” yang kemudian mengilhami generasi filsuf abad ke-20 di negara-negara komunis untuk merefleksikan kimia. Ahli kimia  abad ke-19 dan ke-20 yang luar biasa, dari Liebig sampai Duhem, Ostwald, dan Polanyi yang sangat terlibat dalam persoalan filosofis, meskipun pengaruh mereka secara bertahap memudar saat filsafat ilmu memantapkan dirinya sebagai cabang yang tergantung pada filsafat pada abad ke-20.

Khususnya di negara-negara berbahasa Jerman dan Inggris filsafat ilmu secara profesional menjadi hampir secara eksklusif berfokus pada tradisi matematika, dengan topik favorit dalam statistik, logika matematika, teori relativitas, dan mekanika kuantum. Sementara pekerjaan mereka tanpa ragu sepenuhnya dicrurahkan untuk fisika teoretis, mereka keliru menganggap ini bidang penelitian khusus untuk menjadi teladan atau mewakili semua ilmu. Selain negara-negara komunis, yang situasinya berbeda mungkin hanya di Perancis, tempat dua filsuf  kimia yang terlatih yakni Émile Meyerson dan Gaston Bachelard, yang paling berpengaruh dalam membentuk épistémologie dan filsafat ilmu Perancis. Bagaimanapun di kebanyakan negara, kesenjangan yang ditinggalkan oleh filsuf ilmu pengetahuan sebagian besar diisi oleh ahli kimia dan ahli sejarah ilmu pengetahuan, seperti Kuhn yang mengembangkan teorinya tentang perubahan paradigma pada model revolusi kimia. Fokus yang sempit dari filsuf ilmu pengetahuan profesional hanya perlahan membuka, khususnya melalui filsafat gerak biologi sejak tahun 1970. Filosofi lain dari ilmu-ilmu khusus diikuti segera, salah satunya adalah filsafat kimia.

Pada bagian ini saya tidak akan mencoba mengulas semua karya masa kini dan masa lalu dalam filsafat kimia[1] karena topik yang terlalu beragam dan banyak membutuhkan latar belakang pengetahuan kimia yang rinci. Sebaliknya, saya membahas empat isu yang bersama-sama bisa berfungsi sebagai pengantar filsafat kimia dan sekaligus memberikan gambaran tentang ruang lingkupnya. Empat hal, yang dipilih sehingga mereka membangun satu sama lain dan mengilhami pemikiran lebih lanjut dan yang tentunya pilihan atas pertanyaan pribadi yang mendasar adalah: Apa yang kimia Pelajari? Apakah kimia dapat direduksi ke fisika? Apakah ada batas fundamental untuk pengetahuan kimia? Apakah penelitian kimia netral secara etika?


[1]     Lihat review artikel Schummer 2003 a & 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: