Etika Plato

Etika Plato bersifat intelektual dan rasional. Dasar ajarannya ialah mencapai budi baik. Budi ialah tahu. Tujuan hidup manusia adalah memperoleh kesenangan hidup dan kesenangan hidupnya diperoleh dengan pengetahuan. Menurut Plato, ada dua macam budi. Budi Filosofis dan budi biasa.[1] Sasaran budi filosofis adalah dunia gaib, sedangkan sasaran budi biasa adalah keperluan materil untuk hidup di dunia ini. Menurut Plato, jiwa murni sangat rindu kepada dunia asalnya, dunia gaib. Dunia inilah yang hendak dicapai.[2] Plato menyadari bahwa untuk mencapai dunia asalnya, manusia akan banyak menghadapi rintangan dan hambatan. Materi merupakan penghalang terbesar, dan meskipun ia dapat disingkirkan, namun penghalang itu tidak dapat dihilangkan seluruhnya, karena wujud manusia sangat terbatas. Dengan kemampuan intelektual yang dimilikinya, manusia begitu, manusia dapat mengatasi hambatan yang terdapat pada diri sendiri, namun tugas ini sangat berat. Manusia harus berjuang membebaskan fakultas rasionalnya dari pengaruh jasad yang bertentangan antara baik dan buruk. Dari sinilah, menurut  Plato, munculnya teori etika.[3]

Manusia cenderung pada segala bentuk kebaikan bagi dirinya, tetapi manusia sering gagal melihat kebaikan. Pada umumnya manusia bekerja keras untuk memperoleh kekayaan, reputasi tinggi, dan kekuasaan. Ketika manusia berhasil mencapai keinginan ia akan mencari keinginan yang lain begitu seterusnya. Manusia tidak mengenal puas. Dengan memperturutkan hawa nafsunya, manusia cenderung berbuat jahat; untuk mengatasinya, manusia dituntut untuk bersikap bijak dalam memilih; untuk dapat menentukan  dengan bijak, manusia harus memahami ide tentang yang baik. Dengan begitu, orang dapat menjatuhkan pilihan yang tepat.[4]

Menurut Plato, baik ialah adanya keselarasan antara wujud sesuatu dengan tujuan diciptakannya. Manusia yang baik ialah yang mampu menyelaraskan kekuatan-kekuatan yang ada pada dirinya. Pada diri manusia terdapat unsur yang berbeda-beda, dan manusia pada umumnya terjatuh pada pengaruh unsur negatif. Tugas manusia adalah membersihkan pengaruh negatif yang  ada dalam dirinya. Perbedaan hakiki antara manusia dan hewan terletak pada kapasitas untuk apa ia diciptakan.[5]

Plato memiliki empat konsep kebaikan utama yang dapat diterapkan, baik sebagai individu maupun masyarakat. Keempat  kebaikan itu ditentukan oleh tiga daya alami yang dimiliki manusia, yaitu rasional (rational), emosi  (the spirited of emotional), dan hawa nafsu (appetitive).[6]Rasional berpusat di kepala, emosi pusatnya di dada, sementara hawa nafsu pusatnya di perut.[7] Keempat kebaikan yang dimaksud ialah : Pertama, mawas diri (temperance, iffah), yaitu menjaga harkat dirinya dari perbuatan rendah. Sikap ini timbul dari kemampan menyeimbangkan unsur rasio dengan unsur hewani (keinginan hawa nafsu). Meskipun hawa nafsu penting bagi eksistensi manusia, namun ia harus dipandu oleh rasio agar tidak melampaui wewenangnya dengan merampas fungsi unsur lainnya.[8] Kedua, keberanian (courage, syaja’ah). Sikap ini timbul unsur emosi. Sikap berani sangat penting bagi manusia, karena ia berperan sebagai pembangkit semangat dalam melakukan aktivitasnya. Seperti halnya nafsu, emosi juga harus dipandu dan dikontrol oleh rasio.[9] Ketiga, kebijaksanaan (wisdom, Hikmah). Sikap ini timbul dari unsur rasio. Rasio harus mampu mengontrol dua unsur lainnya. Oleh karena itu, rasio bertugas mencari pengetahuan tentang Yang Baik. Tugas ini meliputi pemahaman terhadap manusia dan hubungannya dengan alam. Jika rasio berhasil menjalankan fungsinya, manusia mampu memilih keputusan-keputusan yang tepat.[10] Keempat, keadilan (justice, ‘adl). Sikap ini timbul dari kemampuan menggabungkan ketiga unsur sekaligus. Keadilan merupakan bentuk kebaikan sosial yang harus dipedomani oleh setiap anggota masyarakat. Plato menegaskan, keadilan harus ditegakkan, baik keadilan individual maupun masyarakat. Menyerahkan tugas kepada pakar sesuai dengan keahlian dan kewenangannya adalah keadilan. Manusia tidak dikatakan adil jika masih dikuasai oleh emosi dan nafsu, Negara tidak dinamakan Negara adil jika kepemimpinan Negara diserahkan kepada mereka yang bodoh dan tidak terdidik.[11]

Manusia hanya  dapat mengaktualkan ketinggian sosialnya dalam pergaulan sesama anggota masyarakat dengan memberi kontribusi terbaiknya bagi Negara dan kesejahteraan sesamanya. Kepuasan tertinggi timbul dari kesadaran bahwa pekerjaan hanya dapat dilaksanakan secara maksimal bila digarap oleh ahlinya.[12] Tiap orang memiliki bakat masing-masing. Pekerjaan yang tidak dikerjakan oleh ahlinya akan membahayakan dirinya dan orang lain.[13] Menurut Plato, kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang mengantarkan manusia menjadi bijak, berani, mawas diri dan adil. Kebaikan tertinggi dalam kehidupan ini ialah mengharmonikan antara yang ideal dengan kenyataan, yakni mewujudkan keadilan, keberanian, kebaikan dan kebijaksanaan melalui petunjuk rasio. Kebahagiaan tertinggi terletak dalam kehidupan yang mengarah pada kebaikan tertinggi dan merenungkan ide-ide yang paling tinggi.[14]


[1]     Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani. Hlm. 106.

[2]     Ibid.

[3]     Charles H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philospophy, hlm. 23.

[4]     Ibid.

[5]     Ibid.

[6]     Ibid.

[7]     Fuad Hassan, Pengantar Filsafat Barat, Hlm. 23.

[8]     Ibid.

[9]     Ibid., hlm. 24

[10]    Ibid.

[11]    Ibid.

[12]    Ibid.

[13]    M.M. Sharif, “Greek Thought”, dalam M.M Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, hlm. 93.

[14]    Charles H. Patterson, Cliff’s Course Outlines: Western Philospophy, hlm. 24.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: