Hikmah Keilahian dalam Firman Tentang Adam – 2

Semua Nama yang membentuk Cintra Tuhan memanifestai dalam formasi manusia sehingga informasi ini menempati tingkat di mana ia meliputi dan menggabungkan semua eksistensi. Karena alasan inilah, Allah menegaskan argument konklusifnya terhadap para malaikat (karena protesnya terhadap perintahNya untuk bersujud kepada Adam). Jadi, perhatikan! Sebab, Allah memperingatkan Anda dengan contoh lain, dan pikirkan secara hati-hati, sejak kapan seseorang tertuduh disalahkan. Karena malaikat tidak memahami penghambaan esensial yang dituntut oleh Hadirat Realitas. Sebab, tidak satu pun yang mengetahui tentang Realitas di mana dirinya sendiri implisit di dalam Esensi, dari Realitas.

Para malaikat tidak memperoleh kelengkapan Adam, dan tidak memahami Asma ilahi karena asing bagi mereka, dengan mana mereka mengaungkan dan menyucikan Realitas. Mereka juga tidak menyadari bahwa Tuhan mempunyai Asma yang mana mereka tidak mengathui apa-apa dari Asma itu, dan dengan nama mereka tidak bisa mengagungkanNya, juga tidak bisa menyucikanNya dengan penyucian penuh terhadap Adam. Kondisi dan keterbatasan mereka seperti ini, kata mereka, berkaitan dengan pembentukannya, “Akankah Engkau akan menciptakan seseorang yang akan berbuat jahat di dalamnya?” Artinya, pemberontakannya, yang dengan tepat mereka tunjukan sesuatu, karena apa yang mereka katakana tentang Ādam sama-sama menunjukan secara tidak langsung akan sikap mereka sendiri terhadap Realitas. Tetapi, karena fakta bahwa perkembangan mereka sendiri menentukan keterbatasan pengetahuannya ini, mereka tidak akan mengatakan apa yang mereka katakan mengenai Ādam; tetapi mereka tidak menyadari hal ini.

Jika mereka memang mengetahui diri-diri esensial merreka sendiri, mereka akan mengetahui keterbatasan mereka, dan jika memang demikian, mereka telah terserap oleh pengungkapan mereka yang salah. Di samping itu mereka tidak akan tertahan dalam keberatan mereka dengan meminta perhatian pada pengagungan kepada Allah, sebagai iman juga halnya penyucian terbatas mereka.

Ādam mengabadikan Asma ilahi sedangkan malaikat tidak. Tidak juga mereka mengagungkan Tuhan (Rabb) mereka dengan Asma ini. Atau, dengan Asma ini, mereka tidak memuliakan transendensiNya, sebagaimana yang dilakukannya oleh Ādam.

Ādam menguraikan seluruh persoalan ini pada kita, sehingga kita bisa memikirkannya dan belajar darinya tentang sikap yang tepat terhadapNya, dan agar kita tidak memamerkan sedikit wawasan atau pemahaman terbatas individu yang mungkin kita sadari. Bahkan, bagaimana kita bisa mengklaim sautu hal berkenaan dengan suatu realitas yang tidak kita alami dan tidak kita ketahui, tanpa rela menampakkan diri kita sendiri di tertawakan? Perintah ilahi yang berkenaan  dengan malaikat ini adalah  salah satu jalan di mana Realitas mendidik hambaNya yang beradab, wakil-wakilNya.

Marilah kita kembali kepada Hikmah ini. Ketahuilah bahwa universal-universal (al umûr al kulliyah), meskipun mereka bukan eksistensi individual yang tidak tersentuh dalam dirinya sendiri, namun dirasakan dan diketahui dalam pikiran; ini pasti. Mereka jselalu tidak mengejawantah berkenaan dengan eksistensi individu, ketika menentukan pengaruh-pengaruhnya terhadap semua eksistensi semacam ini; memang eksistensi individual tidak lebih daripada perwujudan lahiriah kita terhadapnya, yaitu universal-universal. Di dalam dirinya sendiri, mereka selalu bisa dipahami. Mereka mengejawantah sebagai wujud-wujud individual, dan mereka tidak mengejawantah sebagai sesuatu yang dipahami secara murni. Setiap eksistensi individu tergantung pada universal-universal, yang tidak pernah bisa dipisahkan dari intelek (‘aql), demikian juga mereka tidak eksis secara individu dengan cara semacam ini, sehingga merekatidak lagi bisa dipahami. Apakah wujud individual ditakdirkan secara temporer atau tidak, hubungannya di dalam kedua kasus ini, adalah satu dan sama. Namun, wujud universal  dan individual mempunyai prinsip penentuan  yang sama sesuai dengan tuntutan realitas-realitas esensial dari wujud individual, misalnya, dalam hubungan antara pengetahuan dan yang mengetahui, serta kehidupan dan yang hidup. Kehidupan adalah sebuah realitas yang dipahami, sebagaimana juga pengetahuan, masing-masing bisa dibedakan dari yang lain.

Jadi, berkaitan dengan Realitas, kita bisa mengatakan bahwa Dia mempunyai kehidupan dan pengetahuan, dan juga bahwa Dia hidup dan mengetahui. Ini juga kita katakana terhadap manusia dan para malaikat. Realitas pengetahuan selalu tunggal, sebagaimana juga dengan realitas kehidupan, dan hubungan masing-masing dengan yang mengetahui dan yang  hidup tetaplah selalu sama.

Berkaitan dengan pengetahuan Realitas, kami mengatakan bahwa ia bersifat abadi, sementara pengetahuan manusia, kami katangan kontingen (muhdis). Kemudian, pertimbangkan bagaimana kelengkapan pada determinan membawa sesuatu dalam realitas yang dapat dimengerti yang bersifat kontingen dan pertimbangkan pula kesalingtergantungan universal-universal dan eksistensi individual. Karena, sekalipun pengetahuan menetapkan seseorang yang mempergunakannya sebagai wujud yang mengetahui, demikian juga wujud yang digambarkan, menentukan pengetahuan sebagai kontingen dalam hal orang yang mengetahui kontingen, dan abadi dalam hal Wujud Yang Abadi, keduanya menentukan dan ditentukan.

Selanjutnya, meskipun universal-universal dapat dimengerti, mereka tidak memiliki eksistensi riil, hanya ada sejauh ketika mereka menentukan wujud-wujud yang ada, sebagaimana mereka sendiri ditentukan dalam setiap hubungan dengan eksistensi apa saja. Karena mengejawantah dalam eksistensi individual, mereka mengakui wujud – dalam suatu pengertian – ditentukan, tetapi mereka tidak mengakui partikularisasi atau pembagian, dan ini tidak mungkin. Dengan sendirinya, mereka hadir dalam masing-masing hal yang mereka kualifikasikan, sebagaimana humanitas hadir dalam setiap wujud manusi, selagi tidak dipartikularisasikan atau dibagi sesuai dengan jumlah wujud individual, dimana mereka termanifestasikan, yang tetap secara murni dapat dimengerti.

Oleh karena itu, jika ditegaskan bahwa ada sebuah interelasi antara yang mempunyai eksistensi individual dan yang tidak mempunyai, yang terakhir sebagai hubungan-hubungan noneksisten, keterhubungan antara satu wujud individual, dan uang lain adalah lebih bida dipahami, karena paling tidak, mereka sama-sama mempunyai eksistensi individual, sementara pada contoh yang pertama tidak ada unsur yang menyatukan.

Ditegaskan bahwa yang mula-mula (yang mempunyai awal) tergantung sepenuhnya pada yang menghasilkannya, karena kemungkinannya. Eksistensinya secara keseluruhan berasal dari sesuatu yang lain dari dirinya sendiri, hubungan, dalam kasus ini sebagai salah satu ketergantungan. Oleh karena itu, niscaya bahwa yang merupakan dukungan eksistensi awal seharusnya secara esensial dan dengan sendirinya, menjadi dirinya, memenuhi dirinya sendiri dan tidak tergantung pada yang lain. Inilah yang memberikan eksistensi dari Wujud esensialnya sendiri pada ekeistensi independen, dengan cara ini kejadian berkaitan dengannya.

Selanjutnya, karena yang pertama, lantaran esensinya, membutuhkan yang terakhir (dependen), maka yang terakhir, dalam pengertian  tertentu mempunyai wujud yang pasti. Juga, karena ketergantungan dari mana ia mengejawantah implicit di dalam esensinya sendiri, maka ia mula-mula menyesuaikan dengan semua Asma dan sifat-sifat asal-usul, kecuali Wujud Yang Wajib (Wajib al Wujûd), yang tidak dimiliki oleh eksistensi awal, karena dengan wujud pasti itulah ia sepenuhnya berasal dari yang lain dari dirinya.

== be continue …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: