Hikmah Keilahian dalam Firman Tentang Adam – 3

Ketahuilah, jika benar dikatakan bahwa sesuatu berkaitan dengan manifestasi yang mula-mula dalam bentuk yang memulai, maka jelas bahwa Allah memberikan perhatian pada apa yang diasali sebagai sebuah pertolongan untuk pengetahuan  tentangNya, dan diktakan dalam Al Quran bahwa Dia akan menjelaskan tanda-tandaNya di dalamnya. Jadi, Dia menegaskan bahwa pengetahuan tentang diriNya dirujuk pada pengatahuan diri kita sendiri. Kapan pun kita mengasalkan setiap kualitas kepadaNya, kta sendirilah yang menjadi wakil dari kualitas itu, kecuali ia merupakan kualitas dari Wajib al Wujûd. Karena kita mengatahuiNya melalu diri kita sendiri dan diri kita sendiri, kita menisbatkan kepadaNya semua yang dinisbatkan pada diri kita sendiri. Karena alasan inilah, wahyu-wahyu ilahi datang kepada kita melalui mulut-mulut para penafsir (Nabi-Nabi), karena Dia menggambarkan diriNya kepada kita melalui kita. Jika kita mempersaksikanNya, maka kita mempersaksikan diri kita sendiri dan ketika Dia melihat kita, maka Dia sebenarnya melihat DiriNya sendiri.

Tidak diragukan bahwa, kita sebagai individu-individu dan jenis-jenis adalah banyak., dan bahwa meskipun wakil-wakil dari sebuah Realitas tunggal, kita secara terbatas mengetahui ada sebuah faktor yang membedakan satu individu dari yang lainnya, tetapi karena itulah, keragaman tidak akan implicit ada di dalam Yang Mahaesa. Dengan cara yang sama, meskipun kita menggambarkan diri kita sendiri sebagaimana Dia menggabarkan DiriNya Sendiri, namun berbeda antara Dia dan kita. Faktor ini adalah ketergantungan eksistensi kita kepadaNya, yang didalam kasus kita, sepenuhnya berasal dariNya, karena kita diturunkan, sementara Dia bebas dari semua ketergantungan apa pun. Jadi, Dia berhak disebut Mahaesa tanpa permulaan, yang berbeda dari semua yang terdahulu atau prioritas, yang berawal dari noneksistensi. Sebab, meskipun Dia adalah Yang Pertama, prioritas temporer tidak bisa dinisbahkan kepadaNya. Jadi, Dia juga disebut Yang Terkahir, meskipun Dia adalah Yang Awal dalam pengertian wujud eksistensi yang ditetapkan pertama kali. Dia tidak bisa disebut Yang Terakhir dalam pengertian ini, karena wujud kontingen tidak mempunyai akhir, tidak terbatas. Dia hanya disebut Yang Akhir dalam pengertian bahwa semua Realitas, meskipun Realitas itu dinisbatkan kepada kita, adalah milikNya, sebagaimana PrioritasNya secara esensial berada dalam FinalitasNya.

Juga, ketahuilah, bahwa Realitas menggambarkan DiriNya sebagai Yang Lahir dan Yang Batin (Tampak dan Tidak tampak). Dia menciptakan Kosmos sebagaimana juga membentuk sebuah alam gaib dan alam inderawi, sehingga kita bisa memahami Yang Batin melalui aspek gaib kita, dan Yang Lahir melalui aspek inderawi kita.

Dia juga menisbatkan kepada DiriNya keridlaan dan kemurkaan, dengan harapan dan keridhaanNya. Dia juga menggambarkan DiriNya sebagai Wujud yang memiliki keindahan dan kemuliaan, seraya menciptakan kita dengan menggabungkan pesona kemuliaan, seraya menciptakan kita dengan menggabungkan pesona kemuliaan dan kedekatanNya, dan seterusnya, dengan semua sifat dan NamaNya. Dia mengungkapkan polaritas kualitas ini dalam Al Quran, sebagaimana menjadikan tanganNya dicurahkan untuk menciptakan Manusia Sempurna, yang mengintegrasikan dalam dirinya semua Realitas Kosmik dan manifestasi individual mereka.

Kosmos adalah alam indrawi – yang halus dan kasar – dan KhalifahNya adalah gaib. Karena alasan inilah, Penguasa (Allah) terhalangi, karena Realitas menggambarkan DiriNya sebagai wujud yang tersembunyi dalam hijab-hijab kegelapan, yang merupakan bentuk-bentuk alamiah, dan dengan hijab-hijab cahaya, yang merupakan ruh-ruh halus. Kosmos terdiri dari yang kasar dan yang halus, serta di dalam kedua aspek ini, hijab menutup Realitas sejatinya sendiri. Karena Kosmos tidak merasakan Realitas sebagaimana  Dia merarakan DiriNya sendiri, maka tidak juga dapat ia diselubungi, dengan mengetahui dirinya berbeda dengan penciptaan dan tergantung kepadaNya. Memang, ia tidak mempunyai andil dalam kekayaan Realitas,  demikian juga ia tidak mencappai hal itu. Dalam pengertian ini, Realitas tidak pernah dikenal, dengan wujud kosmik, melalui cara apa pun, karena wujud asali tidak memiliki andil dalam Kekayaan.

Allah menyatukan polaritas kualitas ini hanya pada Adam, untuk membuat satu distingsi atasnya. Kemudian, Dia mengatakan kepada Iblis: “Apa yang menghalangi bersudjud kepada makhluk yang Aku ciptakan dengan kedua tanganKu?” Apa yang mencegah Iblis adalah fakta bahwa manusia memadukan dalam dirinya dua mode : Kosmos [yang berawal] dan Realitas [yang mengawali dan orisinil], yang merupakan kedua tanganNya.

Adapun Iblis, dia hanya bagian dari Kosmos dan tidak mempunyai bagian di dalam Sintesis ini, lantaran keutamaan Ādam sebagai Wakil. Dia tidak memanifestasikan, dia bukan Wakil, dan dia tidak terdiri dari tanggung jawab independen yang diperlukan atau dia tidak mampu memenuhi semua kebutuhan ini, dia tidak akan menjadi Wakil. Pendek kata, Kewakilan (Kekhalifahan) hanya terpenuhi dalam Manusia Sempurna.

Bentuk lahiriahnya, Dia susun dari realitas-realitas dan bentuk-bentuk kosmik, sementara bentuk batiniahnya, Dia susun untuk menyesuaikan dengan bentuk DiriNya Sendiri. Jadi, dia mengatakan dalam Hadis Qudsi, “Aku adalah pendengaran dan penglihatanNya dan bukanlah, “Aku adalah mata dan telingaNya”, untuk menunjukan perbedaan antara dua bentuk, yang bisa dipahami dan tidak bisa dipahami. Demikian juga, Dia implicit dalam setiap wujud kosmik, sesuai dengan Realitas esensial yang termanifestasikan dalam wujud yang membutuhkannya, dengan menjadikannya dipahami sehingga wujud lain tidak memperoleh sintesis ini. Hanya dengan kebajikan dari Sintesis ini, sehingga dia adalah superior [dibandingkan dengan semua wujud lain].

Jika tidak demikian, maka Realitas menembus semua wujud sebagai bentuk dalam bentuk kualitatifnya, dan jika hal itu bukan untuk Realitas – Realitas yang dapat diketahui, tidak ada penentuan esensial yang akan dimanifestasikan dalam wujud-wujud individual. Jadi, ketergantungan Kosmos terhadap Realitas dalam eksistensinya adalah sebuah faktor yang esensial.

Semua tergantung [kepada yang lain], yang tidak ada tidak tergantung,

Ini adalah kebenaran murni, kita membicarakannya dengan jelas,

Jika aku menyebutkan Yang Esa, Mahakaya, Independen,

Anda akan mengetahui Siapakah yang aku tuju.

Semua terikat dengan semua, tidak ada jalan keluar

Ikatan ini, jadi pikirkan secara hati-hati apa yang aku katakan.

Sekarang anda berhubungan dengan hikmah yang terdapat dalam pembentukan badaniah Ādam, bentuk lahirnya, sebagaimana Anda berhubungan dekat dengan pembentukan spiritual Ādam, bentuk batinnya, yaitu, bahwa dia dalah Realitas (berkenaan dengan yang terakhir) dan dia adalah makhluk (berkenaan dengan yang pertama). Anda juga belajar untuk mengetahui tingkatan sebagai bentuk sintesisnya di mana dia mendapatkan Kekahlifahan ilahi.

Ādam adalah jiwa tunggal, sehingga esensi spiritual tunggal yang menjadi asal-usul manusia itu diciptakan sebagaimana firmanNya: “Wahai Manusia, takutlah pada Tuhan yang telah menciptakan darinya pasangan, sehingga dari mereka berdualah lahir banyak laki-laki dan perempuan”. Kalimat “Takutlah pada Tuhanmu” berarti “Jadikanlah diri lahiriah kamu perlindungan untuk Tuhanmu yang merupakan Realitas batin kamu, yang merupakan Tuhan kamu, perlindungan untuk diri lahiriah kamu.”

Semua penciptaan (amr) meliputi kecaman (negasi) dan pujian (afirmasi), sehingga perlindunganNya berkaitan dengan kecaman sebagai wujud relative dan menjadikan Dia perlindungan Anda berkenaan dengan pujian, sebagai wujud yang diidentifikasikan dengan Realitas Ādam, sehingga Anda adalah orang yang bertindak dengan tepat dan memiliki pengetahuan.

Jadi, Dia, Yang Mahatinggi dan Mahaagung, menyebabkan Ādam melihat semua yang Dia tempatkan di dalam dirinya, dan memegang dia di tanganNya (aktif dan pasif; esensial dan formal), di dalam Tangan pertama, Kosmos dan di dalam lainnya, Ādam dan benihnya, yang menguraikan tingkatan-tingkatannya.

== be continue …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: