Sejarah Hypnosis

A. Dari kekuatan Magis sampai Trance[1] Setiap Hari

 

Sejarah hipnosis dipenuhi dengan misteri. Di satu sisi, hipnosis layaknya seperti  bernapas, bahwa  hipnosis adalah sifat yang melekat dan universal, bersama dan dialami oleh semua manusia di sepanjang peradaban manusia. Di sisi lain, sejak awal kemunculannya Hipnosis sendiri tidak pernah berubah, tetapi pemahaman dan kemampuan kita untuk mengembangkan dan mengontrolnya telah berubah cukup mendalam. Ini menunjukan bahwa sejarah hipnosis adalah sejarah tentang perubahan dalam persepsi.

Pada abad ke-21, masih ada orang yang memahami hipnosis sebagai suatu bentuk kekuatan gaib. Mereka percaya bahwa hipnosis sebagai suatu mukzijat yang dapat digunakan untuk melakukan atau mengontrol pikiran, inilah pandangan yang seolah menjadi konsensus yang berlaku selama berabad-abad. Sejarah mencatat, ritual dan praktik yang terlihat sangat luar biasa seperti hipnotis dari perspektif modern, “melalui penyembuhan” dari teks Veda Hindu sampai teks magis dari Mesir kuno. Praktik-praktik ini cenderung dimaksudkan untuk tujuan magis atau religius, seperti ramalan atau berkomunikasi dengan dewa-dewa dan roh. Sangat penting untuk diingat, bahwa apa yang kita lihat sebagai kekuatan gaib (okultisme) merupakan pembentukan ilmiah dengan tujuan yang sama persis seperti ilmu pengetahuan modern – menyembuhkan penyakit manusia dan meningkatkan pengetahuan.

Dari sudut pandang Barat, waktu yang menentukan dalam sejarah hipnosis terjadi di abad 18 (bertepatan dengan Pencerahan dan Age of Reason). Di antaranya Karya Franz Mesmer  sebagai perkembangan terakhir yang baik tentang  hipnosis “gaib” dan sebagai perkembangan pertama dari sudut pandang “ilmiah”. Mesmer adalah orang pertama yang mengusulkan dasar rasional untuk efek hipnosis. Meskipun kita sekarang tahu bahwa gagasan tentang “animal magnetism” yang ditransfer dari penterapis kepada pasien melalui cairan eterik misterius, itu harus berdasarkan ide-ide ilmiah yang berlaku saat itu, sesuai dengan teori gravitasi Isaac Newton.

Mesmer juga yang pertama untuk mengembangkan metode yang konsisten untuk hipnosis, yang kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya. Praktek tersebut masih bersifat sangat ritual. Mesmer sendiri, misalnya, menyukai untuk melakukan induksi massal dengan cara pasien dihubungkan dengan tali, agar “animal magnetism” dapat tercapai. Ia juga gemar berdandan jubah dan bermain musik dengan harmonika kaca. Sejak itu, citra populer tentang hipnotis sebagai sosok karismatik dan mistis telah hilang.

Tak pelak, ini perangkap magis menyebabkan kejatuhan Mesmer, dan untuk waktu yang lama, hipnotisme adalah suatu yang berbahaya bagi siapa saja yang menjadikan hipnosis sebagai karir utama. Namun demikian, fakta yang kuat menunjukan bahwa hipnosis tetap bekerja, dan pada abad ke-19 ditandai dengan adanya seseorang yang ingin memahami dan menerapkan efek hipnosis. Ahli bedah dan dokter seperti John Elliotson dan James Esdaille telah merintis penggunaannya dalam bidang medis, dengan mempertaruhkan reputasi mereka untuk melakukannya, sementara peneliti seperti James Braid  mulai memformulasi pandangan tentang mesmerisme, yang mengungkapkan kebenaran fisik dan biologis pada fenomena jantung. Berkat ketekunan dan usaha mereka, pada akhir abad hipnosis diterima sebagai teknik klinis yang valid, dipelajari dan diterapkan di universitas-universitas besar dan rumah sakit.

Tren ini terus berkembang hingga abad ke-20, meskipun dalam beberapa hal, hipnosis menjadi terpenjarakan oleh kehormatannya sendiri, karena menjadi terperosok dalam perdebatan akademis tak berujung tentang “state” atau “non-state”. Teka-teki ini mempertanyakan apakah hipnosis memiliki, dasar fisik yang nyata, atau tidak? – Akhirnya terbukti menjadi agak jelas. Pergeseran penting yang terjadi di tempat lain, namun. Pertama-tama, pusat gravitasi hipnotis pindah dari Eropa ke Amerika, di mana semua terobosan yang paling signifikan dari abad ke-20 berlangsung. Kedua, hipnosis menjadi fenomena yang populer, sesuatu yang semakin tersedia bagi orang awam, di luar laboratorium atau klinik. Pada saat yang sama, gaya hipnosis berubah, dari instruksi langsung yang dikeluarkan oleh seorang tokoh otoriter (warisan dari hipnotisme karismatik) kepada gaya yang lebih langsung dan permisif dari trance induksi, berdasarkan pola bahasa halus persuasif. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pekerjaan terapis seperti Milton H. Errickson.

Lebih penting lagi, mungkin, hipnosis menjadi semakin praktis, dan dianggap sebagai alat yang berguna untuk mengurangi tekanan psikologis dan membawa perubahan besar dalam berbagai situasi. Tema ini terus dipertahankan sampai hari ini. Kemajuan dalam ilmu saraf dan citra otak, bersama dengan karya psikolog Inggris Joe Griffin dan Ivan Tyrrell yang terkait hipnosis yakni Rapid Eye Movement (REM), juga telah membantu menyelesaikan perdebatan “state / non-state”, membawa hipnosis dan trance hipnosis ke ranah pengalaman sehari-hari. Pada saat yang sama, sifat kesadaran “normal” lebih baik dipahami sebagai serangkaian kondisi trance yang kita masuk ke dan keluar dari semua waktu.

Selanjutnya, sejarah hipnosis adalah seperti mencari sesuatu yang terlihat jelas selama ini, dan sekarang kita bisa melihat untuk apa itu – sebuah fenomena universal yang merupakan bagian tak terpisahkan dari menjadi manusia. Masa depan hipnosis akan sepenuhnya menyadari potensi luar biasa dari kemampuan hipnotis kita secara alami.

 

[1] Kondisi hypnosis yakni kondisi seseorang yang lebih mudah menerima sugesti-saran atau informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: