Carl Gustav Jung (1875-1961)

Lambang Sebagai Bentuk Pernyataan :

  1. C.G. Jung (1875-1961)

Jung, seorang psikiater di Zurich, adalah rekan sezaman yang lebih muda dari Freud, yang untuk pertama kalinya berurusan dengan bahan yang berasal dari etnologi pada waktu yang sama dengan Freud. Ini ternyata dari bukunya Symbole der Wandlung yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1912 (cetakan keempat, cetakan yang diperbaiki, adalah dari tahun 1952; sebutan-sebutan di sini menunjuk kepada cetakan ini). Sebagai pengantar bagi pemikiran Jung dianjurkan membaca Die Beziehungen zwischen dem Ich und dem Unbewusten (1928) (Hubungan antara si-Aku dan yang tidak disadari). Tentang Jung: Dr. JolandeJacobi, De psychologie van C.G. Jung (Psikologi C.G. Jung), rangkaian Phoenix, Zeist 1963. Jung, dengan gayanya yang lebih terkendali dan kadang-kadang juga lebih luas daripada Freud, bagaimanapun mempunyai banyak persamaan dengan dia. Menurut Jung, dalam jiwa manusia dapat dibedakan lagi lapisan penting: yang disadari, yang tidak disadari secara pribadi (yang untuk sebagian dapat juga disebut yang di bawah sadar), dan yang tidak disadari secara kolektif. Yang tidak disadari secara pribadi mencakup apa yang tersedia langsung bagi manusia sebagai ingatan, sebagai sesuatu yang sama sekali atau setengah terlupakan, tertidur di dasar ingatannya, sisa dari pengalaman, dan juga semua isi kesadaran yang terdesak. Juga Jung memberikan penilaian penting kepada hal-hal yang terdesak.

Yang tidak disadari secara kolektif tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan kolektivitas. Ia terdiri dari apa yang menjadi pembawaan jiwa yang berupa bakat dan pengalaman yang diwarisi dari evolusi jenisnya, bukan isi kesadaran (Jung mengingkari ini dengan tegas) tetapi “suatu bakat pembawaan untuk (membentuk) wujud penggambaran yang sejajar, berturut-turut struktur-struktur jiwa yang universal dan identik” (Symbole der Wandlung, hlm. 260). Ia menyebut struktur­-struktur yang ada dalam apa yang tidak disadari archetype (pola dasar), yang ia perbandingkan, bukan dengan isi kesadaran, tetapi dengan pengertian biologis tentang pola perilaku. Perbandingan itu memperjelas bahwa yang dipersoalkan adalah pola reaksi naluriah, yang sebagai pola—Jung menyebutnya juga dominanten­—harus dibedakan dari wujud archetype (pola dasar) itu sendiri, terangsang oleh keseluruhan situasi jiwa, melalui yang tidak disadari secara pribadi muncul dalam impian dan bayangan. Pangkal pemikirannya ialah, bahwa antara yang disadari dan yang tidak disadari ada pengaruh timbal balik yang erat. Kalau dalam kehidupan yang disadari, manusia itu menghadapi konflik batin yang tidak ia pecahkan tetapi ditekannya, atau kalau ia memperkosa bakatnya sendiri dengan menyibukkan diri secara sepihak saja misalnya dengan kegiatan-kegiatan intelektual, maka yang tidak disadari itu bereaksi. Sebagai akibatnya dalam impian atau bayangan muncul gambaran pola dasar, dan pemunculan ini merupakan peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Penyebab dari gangguan jiwa tidak perlu selalu frustasi dari kehidupan seks. Istilah libido Freud digunakan oleh Jung, memiliki isi yang lebih luas, yaitu keseluruhan energi (rohani) manusia, “yang beroperasi di semua bidang kehidupan, kekuasaan, lapar, kebencian, seksualitas, religi, dan seterusnya, tanpa suatu nafsu yang khas” (Symbole der Wandlung, hlm. 225). Libido menimbulkan reaksi dari yang tidak disadari, yang sebagai pengendapan pengalaman seluruh umat manusia membangkitkan lambang-lambang, yang memberi peringatan kepada manusia dan yang juga dapat dilakukannya, karena lambang-lambang itu mempunyai nilai normatif. Manusia mengalami aktivitas lambang-lambang itu sebagai pengaruh kekuatan dari luar yang ada di atasnya, karena itu adalah lambang-lambang dari kenyataan di luar pengalaman manusia yang melampaui pengertian manusia sebagai individu. Yang tidak disadari itu berisi endapan dari seluruh prasejarah kehidupan manusia.

Yang tidak disadari ini berlapis dalam strukturnya. Bahan-bahan yang paling baru terletak di atas dan membangkitkan bayangan pola dasar dari datum yang lebih belakangan, lambang ayah dan lambang ibu.” Lapisan-lapisan yang lebih tua lebih sulit timbul dan dalam wajah yang lebih kabur. Maka gejala impian memberi alasan kepadanya untuk menyatakan, bahwa juga di sini yang phylogenese berulang dalam yang ontogenese. Tetapi itu tidak berarti bahwa pikiran impian dapat dianggap sebagai pikiran kekanak-kanakan, seperti anggapan Freud. Adapun ulangan-ulangan dari bayangan lama itu adalah bayangan yang dihasilkan oleh individu-individu dewasa, walaupun itu adalah individu-individu yang masih berinsang (Symbole der Wandlung, hlm. 37). Yang tidak disadari secara kolektif mempunyai hubungan dengan masa lampau proto-anthropoide dari manusia.

Tetapi juga masa lampau anthropoide memainkan peranan. “Dalam tahap perkembangan jiwa mereka yang lebih dini dan lebih dalam letaknya, di mana belum mungkin untuk melihat perbedaan antara mentalitas Semit, Hamit, atau Mongol, semua ras manusia mempunyai jiwa kolektif yang sama. Tetapi dengan timbulnya perbedaan ras timbul pula perbedaan-perbedaan hakiki dalam jiwa kolektif (baca: yang tidak disadari). Karena itu kita tidak dapat menerjemahkan jiwa ras asing begitu saja ke mentalitas kita sendiri tanpa memperkosa jiwa ras asing itu (Beziehungen, hlm. 54, catatan 1). Jadi ada perbedaan struktur antara mentalitas kita dan mentalitas orang-orang primitif. Orang-orang yang disebut primitif ini lebih daripada kita hidup dalam keadaan “ketidaksadaran dan dengan itu tidak terucapkan pemikirannya secara jelas (yang oleh Levy-Bruhl dinamakan ‘partisipasi mistik’)”. Dengan demikian orang-orang primitif tepat ditempatkan dalam jajaran pertumbuhan yang lebih rendah, sebab pertumbuhan jiwa manusia melangkah maju terus dari ketidaksadaran ke arah kesadaran. Jadi menurut Jung, kita telah melihat dalam apa yang disebut orang-orang primitif itu benar-benar orang-orang primitif yang dalam proses evolusi kurang jauh majunya daripada kita, juga dalam struktur jiwa mereka.

Secara teratur terjadi dugaan bahwa kehidupan jiwa orang-orang primitif itu dapat diterangkan dengan cara yang digunakan oleh Jung. Jelaslah, bahwa dengan cara demikian kita berada di jalan yang sesat. Usaha untuk mengerti gejala-gejala dari otak yang sama strukturnya dengan otak kita, dengan demikian telah dilepaskan dengan apriori. Siapa yang berbuat demikian, harus menyetujui kesimpulan, bahwa orang-orang primitif itu tidak mampu menerima pendidikan yang sama dengan pendidikan Barat atau bahkan yang sama dengan pendidikan yang bernilai sama dengan pendidikan Barat. Kesimpulan seperti itu dewasa ini tidak dapat diterima lagi, secara politik tidak, tetapi secara ilmu juga tidak. Pada hakikatnya kesimpulan itu berlandaskan salah paham. Jung juga menggunakan bahan yang berasal dari agama­agama asing dan primitif terutama untuk menerangkan pola dasar lambang-lambang dari impian, penyakit syaraf, dan bayangan. Kemudian, dari keterangan tersebut Jung menjelaskan kembali lambang-lambang tersebut sebagai hal yang regresif, yaitu gejala-gejala yang berada dalam keadaan yang lebih primitif lagi. Dasar dari pemikiran itu ialah pertimbangan, bahwa dalam impian dan seterusnya yang tidak disadari itu, pengaruhnya lebih besar dan karena itu pemikiran impian tersebut menggambarkan keadaan regresif, yang melalui argumentasi berlingkar dikukuhkan. Tetapi argumentasi itu tidak benar. Apa yang benar-benar telah dicapai oleh Jung ialah, bahwa ia memberi gambaran yang jelas mengenai banyak persamaan antara lambang-lambang impian dan banyak lambang yang muncul dalam pemikiran primitif. Tetap tidak terbukti bahwa persamaan itu merupakan petunjuk untuk membedakan hakikat antara orang-orang primitif dan orang-orang modern. Bukankah argumentasi itu dapat juga dibalik dan menyatakan bahwa persamaan antara lambang-lambang impian dan mitos (yang juga berasal dari impian atau bayangan) membuktikan tak adanya perbedaan yang mendalam antara primitif dan modern. Dan memang, lambang-lambang dari orang-orang primitif dapat diterang­ kan dengan cara yang berbeda sekali daripada cara yang digunakan oleh Jung. Sebaliknya juga cara menerangkan hal ini tidak begitu menarik bagi psikologi. Cara itu disertai invasi istilah dan penggambaran yang berasal dari mitologi dan mistik, yang tidak banyak memperjelas permasalahannya. Salah satu dari kesulitan itu ialah lambang-lambang itu menjadi produk dari tekanan yang tidak disadari dan begitu banyak artinya. Ular, umpamanya, bisa menjadi lambang kemaluan lelaki, kehidupan abadi, kejahatan, nafsu, dan kematian yang mengancam. Aneka-nilai dari lambang­lambang itu juga diketahui oleh Jung. Lambang katanya, bukanlah tanda dari suatu soal tertentu, tetapi pernyataan yang bisa mempunyai arti yang lebih dari satu. Mereka berkaitan dengan suatu soal yang sukar dirumuskan, artinya soal yang tidak sepenuhnya diketahui (Symbole der Wandlung, hlm. 205). Arti lambang-lambang itu hanya dapat dimengerti kalau orang mengenal seluruh petanya, artinya setelah banyak mengumpulkan dan menganalisa impian-impian dari orang yang bersangkut­an. Kalau orang menerapkan metode yang sama pada lambang-lambang dari religi­religi primitif—suatu hal yang tidak dilakukan oleh Jung—maka kesejajaran dengan lambang-lambang impian tidak menjadi hilang, tetapi kesejajaran itu mendapatkan arti yang sama sekali berbeda daripada arti yang didapatkan oleh Jung. Tetapi sekarang kita belum sampai di situ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: