Ernst Cassirer (1874-1945)

Lambang Sebagai Bentuk Pernyataan :

  1. Ernst Cassirer (1874-1945)

Adalah berguna untuk sekali-sekali melihat arti lambang dalam cahaya lain yang lebih terang daripada cahaya psikoanalisa. Untuk itu kita lebih tepat membaca Ernst Cassirer yang karyanya terdiri dari tiga jilid Die Philosophie der symbolischen Formen (Falsafah dari Bentuk-bentuk Lambang) yang telah memberikan pengaruh yang lama dan mendalam baik terhadap linguistik maupun terhadap etnologi. Jilid pertama dari karya ini, De Taal, terbit pada tahun 1923; jilid II, Het mythische Denken terbit tahun 1925; dan jilid III, Phaenomenologie der kennis, terbit tahun 1929. Suatu terjemahan dalam bahasa Inggris (Philosophy of Symbolic Forms) terbit pada tahun 1953 (Yale Univ. Press) dan dicetak ulang pada tahun 1957.

Cassirer bukan seorang psikolog, tetapi seorang filsuf neo-Kantian yang mempelajari pemikiran secara ilmu alam. Latar belakang pemikirannya ialah persoalan hubungan antara tanggapan pancaindera dan pengetahuan. Pernyataan tersohor dari Kant, bahwa pengetahuan tanpa persepsi oleh pancaindera adalah kosong, persepsi oleh pancaindera tanpa pengetahuan adalah buta, menandai arah awal dari penyelidikannya, yang merupakan suatu penyelidikan ke arah cara dipersatukannya kedua hal itu menjadi pengetahuan. Jawabannya ia dapatkan dalam lambang, yang merupakan tindakan yang benar-benar mencipta dari semua pengetahuan, karena lambang-lambang bukanlah penggambaran yang diberikan secara pasif, tetapi dibuat oleh kecerdasan intelek. Ada berbagai jenis lambang dan ia banyak membahas lambang-lambang ilmu pasti. Matematika, ilmu alam, dan ilmu mekanika akan tidak berdaya sama sekali tanpa lambang-lambang itu. Juga kimia sepenuhnya dinyatakan dalam lambang-lambang. Tetapi tidak hanya ilmu eksakta bekerja dengan lambang-lambangnya yang khas, setiap kata pun adalah lambang.

 

Lambang mewakili suatu soal tertentu. Juga seni dan mitos berlandasan lambang­lambang, yang memiliki sifatnya sendiri yang khas. Pengetahuan, bahasa, seni dan mitos semuanya mewakili fungsi-fungsinya tersendiri, yang masing-masing membuat lambang-lambangnya sendiri. Lambang-lambang itu membantu mempertahankan suatu arti dan memungkinkan arti itu digunakan kalau orang menghendakinya. Suatu lambang adalah sesuatu yang secara prinsip berbeda daripada suatu isyarat. Isyarat itu operasional, ditangani dalam situasi tertentu, umpamanya cahaya hijau atau—pada binatang—suatu seruan tertentu, umpamanya satu seruan yang memberi­tahukan kepada mereka, bahwa ada bahaya mengancam. Lambang itu beda. Lambang-lambang itu memungkinkan untuk menangani, membicarakan, atau memikirkan soal yang digambarkan itu juga di luar kehadiran soal itu sendiri. Lambang-lambang menunjuk ke suatu soal. Hal ini paling jelas didemonstrasikan oleh sejarah Helen Keller, anak bisu tuli dan buta, yang semula di bawah pimpinan Miss Sullivan sulit belajar bahwa soal-soal tertentu dapat digambarkan, dinyatakan oleh huruf-huruf yang dicorat-coretkan di tangan. Kemudian pada suatu pagi di dekat pompa ia tiba-tiba mengetahui bahwa semua mempunyai nama dan sejak saat. itu ia lari dari barang yang satu ke barang yang lain untuk menanyakan namanya. Itulah permulaan dramatis dari peralihannya menjadi manusia. Lambang mempunyai arti. Dengan lambang barang bisa digunakan.

Itu jelas sekali berlaku bagi lambang-kata. Kata tidak digunakan secara pasif. Dalam penggunaan yang berangsur-angsur, kata itu mendapatkan hidupnya sendiri yang otonom, yang artinya tumbuh di dalamnya. Ada kata yang hampir setiap orang mengetahui artinya, tetapi isinya tidak bisa dibuat cukup jelas dengan suatu definisi. Semuanya merupakan pengertian yang dinamakan elementer seperti cinta dan kecantikan. Hal itu tidak dapat diterangkan, tetapi bisa membangkitkan pengertian untuk itu, sehingga orang yang diajak bicara pada suatu saat mengatakan: ya, sekarang saya mengerti. Soal mengerti juga bukan soal menangkap sesuatu yang pasif, tetapi soal aktif menyetujui.

Perkataan bukan hanya menyatakan sesuatu, tetapi juga manusia menyatakan dirinya sendiri dalam perkataan itu. Dengan alat-alat ekspresi lain perkataan itu menjadi lebih bernuansa: intonasi dan gerak anggota badan termasuk di dalamnya. Tidak salah kalau psikologi modern menggolongkan bahasa pada alat-alat ekspresi. Dalam bahasa, manusia memberi bentuk kepada dunia dan kepada pengalamannya dan melalui bahasa ia dapat melestarikan pengalaman itu. Ia berpikir dalam bahasa, walaupun hanya untuk sebagian.

Dengan panjang lebar Cassirer membicarakan perkembangan bahasa. Perkem­bangan mitos berjalan sejajar dengan perkembangan bahasa, tetapi sayang dalam menangani hal itu, Cassirer menempuh skema sejarah perkembangan yang tidak banyak membuat kita menjadi lebih arif. Kemudian dalam ikhtisar singkat tentang pemikirannya yang dimuat dalam buku An Essay on Man yang terbit pada tahun 1944, sekurang-kurangnya sebagian telah dilepaskan. Dalam karyanya yang belakangan ini ia membuat sketsa tentang mitos sebagai pernyataan dari kesatuan hidup, di mana kenyataan dialami sebagai kenyataan yang hidup, yang baik atau yang jahat, yang menolong atau yang mengancam, di mana manusia adalah satu; suatu tema yang hanya digambarkan secara skematis dan yang untuk saat sekarang kurang penting dibandingkan dengan kenyataan, bahwa manusia menyatakan dirinya dalam lambang-lambang: dalam perkataan, dalam mitos, dan juga dalam seni, di mana ia menemukan pernyataan yang murni dari dorongan hatinya sendiri untuk bebas menciptakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: