Lambang Sebagai Bentuk Pernyataan

Dibagian sebelumnya, Dengan sengaja saya telah membahas Cassirer segera setelah membahas tinjauan psikologi kedalaman tentang religi primitif, karena Cassirer menyediakan kemung­kinan yang sama sekali lain dan yang pada hakikatnya bebas untuk mendekati jenis­jenis lambang, yang dianggap begitu penting oleh Freud dan Jung. Cassirer memberi kepada kita suatu titik tolak yang baru: manusia menyatakan diri dalam lambang-­lambang. Cara menyatakan diri ini mempunyai arti yang fundamental. Dalam hal ini manusia tidak berdiri sendiri. Juga binatang menyatakan diri—seperti kita—dengan cara yang bisa dimengerti oleh pihak lain. Hal ini sendiri sudah merupakan hal yang menarik. Kita dapat mengerti cara binatang-binatang lain menyatakan diri, khu­susnya binatang-binatang yang menyusui. Dari ekspresinya, kita melihat apakah me­reka marah, bersenda-gurau atau takut, dan teman-temannya sejenis juga melihatnya. Juga binatang menyatakan diri. Ia selalu menyatakan diri. Tetapi ada satu hal yang binatang tidak dapat melakukannya, yang manusia bisa melakukannya, yaitu berbohong. Bahkan untuk berbohong pun sulit. Berbohong, berbohong yang baik, adalah sulit. Bohong pun sulit diingat; sering bohongnya ketahuan, karena memperbaiki cerita bohongnya. Tetapi bohong juga memperjelas bahwa manusia tidak begitu saja mengungkapkan dirinya; ia juga berusaha untuk merahasiakannya, berusaha agar kelihatan lain daripada yang sebenarnya. Ia juga berhasil, tetapi jarang berhasil sepenuhnya. Soal mengungkapkan diri terletak begitu dalam, hingga manusia berkali-kali—seperti yang dikatakan orang—kelihatan belangnya. Sikap bermuka dua ternyata dari perilakunya.

Kalau lambang itu dilihat dari sudut ini[1], maka penting lambang-lambang tersebut acara grossomodo dibagi dalam tiga kategori. Dalam skala kejernihan dan kejelasan terdapat lambang-lambang matematika, fisika, dan kimia paling atas. Mereka hanya mempunyai satu arti, diuraikan secara cermat, bersifat internasional, salah paham tidak diperbolehkan. Mereka benar-benar merupakan abstraksi, dipertimbangkan dan dipikirkan masak-masak dan mendalam, hasil perundingan dan diskusi internasional dan dalam proses diskusi itu dimurnikan dan diperjelas.

Perkataan, artinya bahasa sehari-hari, adalah lain. Perkataan bisa jelas, tetapi juga bisa tidak jelas, kabur, atau membingungkan. Bahasa mengenal homonim dan sinonim, pengertian yang jelas di samping pernyataan yang kabur. Tetapi itu dapat dimengerti. Bahasa mencerminkan pengalaman hidup spontan sehari-hari. Bukan kehidupan yang dirasionalisasi, yang dipikirkan secara mendalam dari a sampai z, Tetapi suatu kehidupan yang langsung berkaitan dengan pengalaman normal. Dalam kehidupan seperti itu ada sejumlah hal yang mendapat penuh perhatian dan konsentrasi. Dan mengenai hal itu setiap orang dapat berbicara dalam bahasa yang terang dan sangat tepat. Masih jauh lebih banyak lagi hal yang diterima tanpa perhatian dan hanya setengah diketahui. Hal-hal itu tidak sepenuhnya kita abaikan; hal-hal tersebut diketahui secara kabur tanpa sesuatu apa pun yang dapat diperbuat terhadap hal itu dan dengan satu dan lain cara yang tidak mencolok. Itu adalah pengalaman-pengalaman, yang karena kekaburannya, karena kurangnya perhatian yang diberikan terhadap hal itu tergolong dalam suasana perasaan, artinya tergolong hal yang ada, tetapi yang tidak dapat dikemukakan secara tepat, karena juga tidak diamati secara tepat. Semuanya terdapat dalam sifat perkataan itu sendiri. Perkataan, setidak-tidaknya banyak perkataan, tidak hanya menyampaikan pengertian murni, tetapi juga membangkitkan perasaan-perasaan, mensugestikan suatu suasana. Dapat juga dikatakan sebagai berikut: perasaan itu dikitari lingkaran arti sekunder. Itu pun pengalaman kita sehari-hari. Satu titik tertentu mendapatkan perhatian kita yang sungguh-sungguh, tetapi di sekitar itu terletak bidang yang luas penuh dengan perasaan-perasaan yang tetap kabur (dapat juga dikatakan: arti-arti yang tetap setengah disadari) yang menciptakan iklim di mana terjadi pengalaman yang lebih terpusat dialami dan sepenuhnya disadari, dan di mana dirasakan adanya berbagai tekanan sampingan yang kecil.

Akhirnya, di bawah di anak tangga kejernihan yang paling bawah kita dapatkan lambang-lambang impian, penyakit syaraf, dan mitos. Jelaslah bahwa lambang­lambang itu merupakan pernyataan—dan di sini saya mengutip Jung—dari suatu soal yang sulit dirumuskan dan tidak sepenuhnya diketahui. Mereka membawa tanda­tanda yang jelas tentang pergumulan motif-motif yang saling bertentangan dalam diri manusia, tentang usaha manusia menghindari pemecahan suatu dilema dengan melenyapkannya, tentang kebutuhan manusia untuk mengungkapkan pengalaman yang telah sangat menggoncangkannya, tetapi inti-intinya tidak bisa dikemukakan­nya dengan kata-kata yang jelas, karena ia tidak berhasil memahami situasi itu atau karena ia—seperti halnya dalam impian—tidak mampu mengendalikan dan menge­rahkan pikiran-pikirannya.

Dari sudut ini terdapat kemungkinan yang sama sekali lain dalam mendekati permasalahan religi di satu pihak dan impian dan penyakit syaraf di lain pihak. Dalam bidang ini belum terdapat banyak kemajuan. Memang ada kesulitan-kesulitan yang belum cukup dipelajari. Orang memang suka dan banyak berbicara tentang ekspresi dan kemungkinan ekspresi, tetapi ekspresi, walaupun perlu dan bagi manusia merupakan kebutuhan yang fundamental, tunduk pada pembatasan teknis. Memang sudah lazim bahwa banyak yang tidak berhasil mengungkapkannya dengan tepat. Hal itu juga merupakan masalah penguasaan bahasa. Yang satu sudah tentu lebih mampu dalam penguasaan bahasa daripada yang lain, dan kekurangan dalam hal kejernihan dan ekspresi tidak selalu kesalahan itu terletak pada kurang jernihnya pemikiran. Cukup banyak orang yang tahu benar masalah yang dipersoalkan, namun mengemukakannya dengan kata-kata yang tidak tepat. Juga pembatasan-pembatasan teknis itu harus diperhitungkan yang hanya dapat diatasi sepenuhnya oleh para seniman,

Penguasaan bahasa yang kurang atau lebih baik dari pembicara juga bukan satu­satunya pembatasan yang harus dihadapi. Yang lebih penting ialah bahwa kata-kata dan kalimat-kalimat kita adalah model-model bentuk yang diberikan oleh bahasa kepada kita. Bahasa bukannya tak terbatas dalam jumlahnya dan juga bukannya tak terbatas dalam penggunaannya. Menciptakan model-model baru adalah kejadian yang langka. Model baru adalah suatu penciptaan. Dewasa ini banyak dibicarakan tentang daya cipta manusia, tetapi itu biasanya hanya omong besar. Sebenarnya yang dimaksudkan ialah manusia mampunyai daya inventif, tetapi itu suatu hal yang sama sekali lain soalnya. Penciptaan model-model baru adalah peristiwa yang jarang terjadi, terutama di bidang bahasa, kalau kata baru itu dibutuhkan, maka kata dipinjam dari bahasa lain.

Kesulitan-kesulitan yang dialami manusia dengan alat-alat komunikasinya tidak pernah bisa menjadi alasan untuk menunda saja penyelidikan tersebut sampai kita mempunyai.pengertian yang lebih baik tentang pembatasan bentuk-bentuk ungkap­an seperti ungkapan yang muncul dalam mitos atau impian dan penyakit syaraf. Sebaliknya, pembatasan-pembatasan itu merupakan bagian dari keterangan mengenai keanehan bentuk-bentuk ungkapan. Demikianlah halnya dengan mitos mengenai isi kesadaran, yang bertentangan dalam batin, kabur atau menakutkan, dan kebanyakan dari isi kesadaran tiga-tiganya sekaligus tidak bisa jernih, karena hakikatnya memang keruh. Karena itu banyak hasil dari penyelidikan psikologi kedalaman yang digunakan secara leluasa. Ambivalensi dalam pemikiran dan perbuatan manusia dengan cara ini dapat dimengerti sebagai ungkapan angan-angan dan pengalaman­pengalaman yang saling bertentangan, tanpa terjebak dalam penanganan mitologi ilmiah sebagai Oedipus-complex dan kastrasi atau perwujudan pola dasar yang diliputi rahasia. Kompleks-ayah, umpamanya, sekarang menjadi lambang yang jelas untuk mengungkapkan situasi di mana cinta dan benci, kepercayaan dan perlawanan saling bergulat untuk diutamakan.

Secara metodologi cara pendekatan ini penting karena dengan demikian kesulitan-kesulitan yang merupakan akibat dari dugaan dapat diterobos bahwa mitos berasal dari bahan-bahan purba, pada model-model yang tetap, yang entah dari mana mitos itu dimasukkan. Kenyataan bahwa mitos itu dimasukkan dari luar, kurang penting, daripada jawaban terhadap pertanyaan, apa yang diungkapkan orang dengan mitos-mitos itu. Pertanyaan itu memungkinkan pendekatan mitos yang dipandang­nya sebagai ungkapan kebudayaan dimungkinkan, artinya sebagai ekspresi yang dikenyam atau dialami, yang cocok dalam kerangka kebudayaan yang bersangkutan dan karenanya ekspresi yang disebabkan oleh kebudayaan itu, yang harus dapat ditetapkan dalam rangka kebudayaan itu dari bahan-bahan kebudayaan itu sendiri

[1] Dalam hal ini lambang-lambang seni tegas-tegas dikecualikan. Pembicaraan kelompok lambang yang luas ini akan membawa kita terlalu jauh dari pokok persoalan kita yang sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: